Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB# 54. AKANG JAKA IDAMAN WANITA


__ADS_3

"Kang Perjaka?!"


Senyuman selebar daun kelor, menambah manisnya wajah si wanita. Rambut yang ia cat blonde di sebagian surai yang tergerai mirip-mirip rambut jagung.


Mereka menoleh, termasuk Neta. Dahaga yang teraliri air dengan mineral tinggi seolah kembali kekeringan demi memuncaknya hawa panas dalam tubuh. Orang marah itu memang jarang berpikir jernih, bawaannya kaya banjir bandang, apapun yang menghadang dilibas mana keruh pula, begitupun otak dangkal Neta yang mendadak mirip luapan banjir bandang.


Jaka mengangguk singkat tanpa ekspresi berarti, persis saat bertemu dengannya untuk yang pertama kali.


"Jak. Shannet kenalin...ini---" dengan senyuman bahagia Opik berdiri di samping wanta ini.


Aura kelam mencekam memayungi area Jakarta dan sekitarnya, dari wajahnya saja terlihat jika Neta sebentar lagi akan meledak, meluluhlantahkan RW 09.


Neta menaruh botol kasar di tempatnya duduk sekarang, lalu ia berdiri dan menunjuk dengan tegas ke arah wanita yang dibawa Opik, Jaka cukup terkejut dengan reaksi Neta, beberapa saat ia terdiam hingga akhirnya Jaka mengu lum bibirnya.


"Oh! Jadi lo yang namanya---" ia sudah sewot dengan wajah menggebu-gebu, seperti siap untuk menerkam orang yang ada di depannya, Rawwrrrrr!


Ia mengangguk mantap, "iya bener kak! Gue Irma," ia tersenyum lalu beralih menatap Jaka kembali, "kang Jaka apa kabar?"


"Baik Ir," jawab Jaka singkat.


Neta mengerjap beberapa kali, menahan telunjuknya di udara, seketika luapan amarah itu tersapu ombak, berubah jadi malu. Jaka menurunkan telunjuk Neta membuat Neta mengerjap.


"Net, lo udah tau ini Irma?" tanya Opik membuat Neta tergagap, "ha?" ia tertawa garing, MENEKETEHE, penting gitu buat gue tau?! Siapa emangnya, anak presiden?! Neta menghembuskan nafasnya kasar dan mengusap jidatnya sendiri. Untung belum nyebut nama Alvi, kalo engga bisa malu 7 turunan. Neta menertawakan kebo dohannya sendiri dalam hati. Cemburu tuh emang bikin buta, buta mata hati dan pikiran.


Melirik Jaka yang berada di sebelahnya pun leher Neta berasa kaya udah dikunci mati saking malunya, Jaka menahan tawa sampai-sampai kulit pipinya pegal dengan melipat bibir, "neng cantik mau bilang dia siapa?" bisik Jaka.


Neta menoleh horor, meninggikan gengsinya, "ish! Mau bilang Icih!" sengaknya galak.


Jaka tersenyum geli, "cemburu ya?"


"Engga ya sorry, ngga ada kata cemburu di kamus hidupku!" pelototnya menggertakkan gigi, tangannya bahkan sudah mencubit keras lengan Jaka, sikapnya yang defensif ini membuat Jaka tak bisa untuk tak tertawa. Namun baru saja ia melepaskan tangannya dari lengan Jaka seorang lainnya ikut mendekat dan bergabung secara tiba-tiba nan mengejutkan.


"Ma, lo ninggalin ih, gue kan lagi ngobrol sama pak lurah!" badan bohay dengan leku kan tubuh yang aduhayyy, juga baju press body disertai potongan leher yang turun hampir memperlihatkan belahan dadha saat ia sedikit menunduk. Bulu mata anti badai bikin orang galfok, itu bulu mata apa talang banjir?!


Wanita itu terkejut melihat Neta, persis kaya lagi liat hantu, "OMG! DJ Amber?! Ini dj Amber kan? Gue ngefans banget sama DJ Amber!" serunya membuat semua yang ada disana terkejut termasuk Neta sendiri, tapi sejurus kemudian ia melirik ke samping Neta dimana Jaka berdiri.


Raut wajahnya lebih bahagia lagi melihat Jaka, "bang gahar, abang sampe segitunya minta aku manggung disini sampe undang dj Amber segala kesini buat aku?!" tanpa permisi tanpa aba-aba, wanita itu melewati Irma dan Opik begitu saja sampai bahu Opik tertabrak, "buset!" Demi memaksa bersalaman dengan Neta lalu menyusupkan tangannya tepat di lengan Jaka. Jaka sontak menjauh dan menepis tangan Alvi. Sepersekian detik Neta bak disosor kuda, apa-apaan nih?!


"Lo kenal Vi?" tanya Irma keheranan.

__ADS_1


"Tau lah! Dia dj Amber, yang kata gue dj keren di bar Mocaccino, sering duet sama artis ibukota!" ujarnya berseru.


"Waw, ternyata ngga salah kang Jaka undang kita kesini buat nanti acara puncak. Bisa ketemu dj handal, bisa dong kak...minta iringin kita nanti waktu manggung?!" pinta Irma pada Neta.


Berani bayar berapa, minta gue yang remix?! Batin Neta menghardik.


Opik bahkan sudah meringis melihat tingkah Alvi dan Irma ini, yang membuat Neta menaikkan alisnya sebelah, wajahnya tak sesewot tadi. Tapi bukankah raut kalem justru lebih menakutkan? Ngeri!


"Neng," Jaka mencoba menjelaskan tapi rupanya Neta punya caranya sendiri untuk menyadarkan Alvi, tangan Jaka yang sempat menyentuh lengan Neta ditepis oleh Neta sendiri.


Ia menarik senyumannya semanis mungkin pada Alvi, "kamu?!"


"Gue Alvi, kak Amber...by the way gue seneng liat lo kak kalo di Mocaccino. Lagu-lagu yang lo remix keren, bisa colab sama artis ternama," pujinya, tapi tentu saja Neta tak memperdulikan pujian itu, ia lebih tertarik dengan nama panggilan Alvi untuk Jaka.


"Oh oke, Alvi...nice to meet you sist!"


"Alvi, Irma, Shanneta ini istr---"


"Gue Shanneta Amber, dj yang diundang abang gahar sama Tarka rw 09 buat acara 17an nanti," potong Neta menyeringai ke arah Jaka.


"Iya kan abang gahar?!" mata Neta membeliak mencibir, padahal Jaka sudah menggelengkan kepalanya menegur.


"Unchhh! Thanks abang, abang emang paling ganteng!" ucapnya terang-terangan memuji Jaka di depan Neta, ia bahkan sudah berkali-kali berusaha menggapai lengan Jaka, namun Jaka menolaknya.


Diraupnya udara dengan rakus demi menetralisir perasaan hati yang sudah meledak namun sebisa mungkin tak ia tunjukkan. Udah nyosor-nyosor kegenitan sama hak milik seorang Shanneta Amber, oke kita tunjukkan cara menyadarkan yang elegan itu seperti apa?! Kalo cuma ngamuk-ngamuk di keramaian mah bikin malu diri sendiri! Neta tak mau nyungseb ke lubang yang sama. Seorang seperti Alvi bukanlah levelannya


Maka lihatlah betapa berkelasnya ngamuk ala Shanneta.


"Neng!" panggilan Jaka tak dihiraukannya, Neta masih saja berjalan tanpa berbalik.


"Neng, Shanneta!" Jaka mengejar Neta yang sudah ngibrit marah menjauhi keramaian menuju jalan pulang, tak peduli dengan rt 5, emak-emak M T2R atau pertandingan voli. Yang jelas ia sudah kepalang marah, meskipun Jaka sudah berusaha menghindar dan menolak Alvi mentah-mentah tadi, malahan lelaki itu ingin menjelaskan pada Alvi dan Irma tentang hubungan keduanya tapi tetap saja Neta terlanjur marah dengan sikap tak sopan Alvi barusan. Harga dirinya sebagai seorang istri terasa dihina. Dan ia tak suka itu, Neta dengan segala sifat keangkuhan dan keegoisannya tak terima. Ia marah---ia kesal! Ia ingin membalas dengan caranya sendiri. Ia bukan tipe manusia sabar dan pemaaf.


"Neng, jangan gini atuh neng! Biar kujelasin dulu," Jaka meraih tangan Neta yang sudah berusaha berjalan cepat tapi apa daya karena kakinya masih terasa ngilu jadi secepat apapun langkahnya pasti akan terkejar oleh Jaka.


"Kamu ya, di belakang aku kaya gitu!" Neta mencoba menepis tangan Jaka.


"Demi Allah neng, aku ngga ada undang Alvi. Aku ngga tau kalo di belakang, anak-anak ternyata undang dia."


"Ngga usah ngelak, kan yang ketuanya kamu! Masa ngga tau! Itu tadi apa! Dia sampe bilang kalo kamu yang undang dia, kamu sampe minta-minta dia datang kesini ngisi acara puncak." Neta tak peduli perdebatan mereka dilihat beberapa orang, sementara Jaka sudah gelisah.

__ADS_1


"Ikut aku pulang, kita ngomong aja di rumah, malu kalo disini." Tariknya di tangan Neta.


"Ngga usah pegang-pegang! Pokoknya aku mau jadi pengisi acara juga! Pengen liat sebagus apa artis andalannya abang gahar?!"


"Neng!" sentak Jaka dengan ekspresi datarnya.


"Apa?!" bentaknya tak kalah datar dari Jaka.


"Astagfirullahaladzim, si Opik nih!" gumamnya mengusap wajah kasar dan membawa Neta ke arah motornya berada setelah sebelumnya menelfon Opik dan Rohmat untuk menghandle acara hari ini.


"Awas kamu Pik. Saya berantem sama Neta, gara-gara kamu diam-diam undang Alvi kesini."


Di balik panggilannya Opik hanya bisa meringis meminta maaf, ia menggaruk tengkuknya panas, "waduhhh, ngapa jadi ribet gini urusannya, ck."


"Ayo naik," pinta Jaka, tapi Neta malah diam tak berniat naik ke atas motor, justru dengan bandelnya ia berjalan kaki.


"Allahu," desis Jaka menggumam. Marahnya Neta seperti sapuan tsunami, tak tau yang mana yang salah, semuanya ikut kena getahnya.


Jaka melajukan motornya pelan mengikuti Neta, ia melaju begitu pelan menyamai langkah Neta, wanita ini masih saja manyun, ketus tak mau melirik Jaka sedikit pun.


"Neng, dengerin dulu. Kalo kamu ngga percaya kita tanya Opik sama Rohmat yuk! Aku ngga mau dituduh gini, jadi panjang gini urusannya," ujar Jaka, Neta tetap bungkam.


"Neng, jangan kaya anak kecil gini atuh."


Neta menghentikan langkahnya lalu mendelik sinis pada Jaka, suasana hati yang sudah panas sejak awal ditambah kejadian begini dan mood Neta yang sedang anjlok akhir-akhir ini membuat semuanya semakin memburuk. Apa sih yang bikin cewek-cewek suka sama Jaka, si sawo mateng, dekil, plus culun ?! Neta mencebik kesal, si al! Tentu saja alasan yang sama dengan alasan Neta kenapa bisa mencintai Jaka. Karena kepribadian Jaka, Jaka memang tak terlalu tampan, tapi ia pun tak jelek. Jaka tidak kaya tapi ia bertanggung jawab dan selalu berusaha semampunya membuat siapapun akan terharu diperjuangkan olehnya, Jaka bukan ahli agama tapi ia berusaha untuk menjadi manusia beriman. Treatment yang Jaka berikan, yang bikin cewek-cewek klepek-klepek. Juga karakter kalem nan dingin bikin perempuan penasaran. Semua kesederhanaan yang dibalut kedewasaan nan bijak menjadi paket lengkap sosok Perjaka Barokah.


"Aku mau pulang!"


"Ya udah, kita ngomong di rumah. Naik, daripada neng cantik cape jalan kaki, nanti sakit lagi." bujuknya. Neta melihat Jaka dan menyipitkan mata, sementara otaknya menimbang-nimbang, naik---jangan, naik---jangan?!


Naik, gengsi.


Ngga naik, capek ah! Mau ngambek seribet ini! Batinnya bergelut.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2