
Kedatangan Shanneta disambut dengan seruan geng emak gang senggol persis nyorakin jambret hape.
"Sanet! Ya Allah, sehat lu? Masih waras?"
"Katanya kaki lu patah? Tangan lu juga retak, leher lu ngga sekalian?"
"Katanya cuma elu yang selamet, ya ampun orang banyak dosa mah matinya lama,"
Apakah orang disini ngga pernah belajar ngaji sampe lidahnya ngga bisa bedain yang mana tsa yang mana sya, dari awal ia datang namanya berganti jadi Sanet, kurang t aja dia bakalan cosplay jadi dukun San(t)et.
"Sehat mpok, alhamdulillah udah gila!"
"Ngga cing, kalo leher patah gampang, masih ada leher botol buat gantiin!"
"Iya nyak, Allah masih sayang kasih idup biar tobat dulu,"
Tante Hana tertawa dengan klopnya Neta dan emak-emak geng senggol. Mental Neta emang mental beton, ngga sawan ketemu geng mamake dari tanah Tomang Raya.
Lain hal tante Hana yang hampir ngompol dengan pertemuan haru new member M T2R (Mak-emak Tanah Tomang Raya), Jaka hanya mengulas senyuman saja melihat Neta yang sudah bisa berbaur. Mungkin jika bukan Neta orangnya udah minta pulang lagi terus minta cerai punya tetangga solehat.
Walaupun akhirnya segambreng makanan menyambut kedatangan Neta, rasa kekeluargaan mereka begitu terasa.
"Ya Allah nyak banyak banget?!" Neta cukup terharu sekaligus ngiler saat nyak Epi membawa semangkuk gabus pucung, begitupun mpok Aya dengan cucur dan es dawet, belum lagi cing Anjar dengan semur jengkol dan sambel andalannya.
Tante Hana ikut nyumbang lalapan, kerupuk, sama ayam goreng, keripik lele.
"Takut elu sama Jaka belum masak, belum makan..."
"Masya Allah, makasih banyak!" jawab Neta berseru gembira, lumayan uang belanja hari ini aman, masuk kantong lagi!
Ia lantas menyerahkan pemberian para tetangganya pada Jaka yang sejak tadi mondar-mandir keluar masuk kontrakan kaya setrikaan, membawa masuk sisa barang bawaan Neta termasuk manggul alat DJ milik istrinya itu, entah apa faedahnya ia membawa itu ke kontrakan. Mungkin Neta mau buka la pack di kontrakan sambil dj'an, terserah apapun itu yang penting Neta bahagia. Sementara Neta sendiri duduk di teras lesehan bersama member M T2R lainnya sambil ngemil keripik lele yang dibawa tante Hana. Belum apa-apa mereka sudah buka forum silaturahmi, tak peduli Jaka bolak-balik ganggu pandangan, ataupun dilatari suara tukang us us goreng dan bakpau mini keliling.
"Udah lah, mulai sekarang elu jadi ibu rumah tangga aje. Biar tugas nyari duit si Jaka! Duit jatah dari si Jaka kurang?!" tembak cing Anjar bernada sengak, bukan ia marah atau kesal terhadap Neta, tapi emak-emak kalo ngomong suka ngegas kalo kebawa perasaan.
Jaka sebagai terduga, hanya diam saja menebalkan telinganya mendengar namanya jadi kambing hitam atas kejadian yang menimpa Neta.
"Kalo kurang gimana cing?" tanya Mpok Aya. "Disuruh minta ama cang Mu'in gituh?" tanya nya lantas membuat cing Anjar mendesis sinis.
"Ya engga gitu. Maksudnya belajar sama kite-kite biar tuh duit bisa cukup! Perempuan itu mesti pinter, gaji laki mesti cukup ampe nemu lagi amplop coklat bulan depan," jawabnya berpengalaman.
"Lah apa dikata gue cing, yang dapet jatahnya harian mana receh pula?" tanya Tante Hana sewot tak ingin kalah mengeluarkan pendapat, bang Togar hanya supir angkot yang pendapatannya harian bukan bulanan macam mpok Aya.
"Emang lu pikir gue pegawe kantor? Kan laki lu sama laki gue sekelas! Sama-sama supir angkot!"
"Ya bagus deh tuh receh, Han. Togar masih kasih lo makan, lah kalo kagak?! Mau makan apa lu sama si ntong," timpal nyak Epi, cara makan mak tuo yang satu ini agak sedikit mencong-mencong dan diku lum jika makan sesuatu yang keras entah karena giginya yang sudah ompong dan seringkali melengkapi kekurangan di usia senjanya itu dengan gigi palsu atau memang karena tren ku lum, his ap dan kunyah. Yang jelas Neta ingin sekali tergelak saat ini. Ternyata ada orang-orang absurd bin saravvv melebihi dirinya, dan disinilah ia terdampar, bersama wanita-wanita hebat itu.
"Makan nasi lah nyak. Masa makan rumput. Belum pernah aye denger orang ngga punya duit sampe makan rumput!" sahut cing Anjar, hingga menyemburlah tawa Neta kali ini.
__ADS_1
Kontrakan Neta tak pernah sepi kedatangan tamu, meskipun kebanyakan adalah tamu tak diundang.
"Kang!"
"Kang Jaka!"
Neta dan Jaka yang sedang menata barang bawaan menoleh kompak ke arah pintu, bahkan kini pintu rumah itu lebih banyak terbuka karena anak-anak Tarka selalu mondar-mandir datang untuk sekedar laporan ataupun meminta pertanggung jawabannya sebagai ketua Tarka.
Ruangan tengah sampai teras depan pun tak kalah menjadi sasaran berserakannya kertas karton atau papan sterofoam, bagan jadwal pertandingan futsal dan voli, belum lagi sederet acara dan lomba lainnya yang telah disusun mereka.
"Kamu tuh malah sibuk ngurusin beginian. Jam tidur kamu semakin berkurang, nanti sakit." Neta menyampaikan ke-kurang sukaannya, ia menumpukan dagu di bahu Jaka seraya melihat lelaki ini tengah menyusun jadwal.
Jaka menoleh ke samping membuat wajah keduanya tak berjarak.
"Aku punya vitamin disini," ia mendaratkan bibirnya di bibir Neta singkat dan kembali menatap pekerjaannya, "ini ngga lama kok, cuma sampe agustusan aja. Lagian bagianku cuma ngecek ginian doang sama ngobrol ke rw sama lurah."
"Ngga tiap hari, neng." Ia melirik jam di dinding yang sudah menunjuk pukul 5 sore.
"Kalo gitu aku tidur sebentar. Tolong bangunin aku magrib, kalo kebablasan." Pintanya beranjak dari duduk membuat Neta menarik badannya dan mengangguk.
Netranya mengikuti langkah Jaka masuk ke dalam kamar. Tak sampai 10 menit terdengar dengkuran halus dari sana pertanda Jaka sudah terlelap.
"Assalamu'alaikum. Kang!"
Neta berdecak, ia membuka pintu rumah dan didapatinya 2 gadis lumayan manis.
__ADS_1
Rahma yang awalnya tersenyum manis bak mau nyambut member BTS langsung merubah raut wajahnya menjadi tegak nan kaku,
"Mpok, kang Jakanya ada?" tanya Dwi tersenyum ramah.
"Baru aja tidur. Kalo mau kesini ntar aja udah magrib, ada perlu banget ya emangnya?" tanya Neta menghadang di gawang pintu.
"Iya mpok. Masalah Tarka," jawab Rahma to the point.
Neta berohria, tanpa berniat mengganggu tidur Jaka, "apa? Biar nanti aku sampein, kalo engga nanti aja abis magrib. Emangnya cuma a Jaka aja ya yang bisa dimintai tolong, bukannya bang Opik sama bang Rohmat juga Tarka ya?"
Rahma mengerutkan dahi mencoba menebak dan mendeskripsikan ucapan Neta, entah kenapa dari sisi manapun timbul rasa tak suka dan membandingkan dirinya sendiri dengan Neta, sekalipun ia tau itu salah.
"Ya udah mpok makasih!" tukas Rahma menarik Dwi untuk segera pergi tanpa berpamitan seperti salam sebelumnya.
"Aduh," keluh Dwi bergumam terkejut saat badannya terbawa Rahma yang menariknya kuat.
"Pelan-pelan Ma, kan udah gue bilang---kang Jaka tuh kayanya tidur, minta tolong bang Opik aja," ujar Dwi membuat Rahma menggerutu ketus, "biasanya juga kang Jaka fine-fine aja kok, ini tuh emang istrinya aja yang ngga mau kang Jaka ngurusin Tarka," cebiknya kesal. Sebenarnya ia sendiri tak tau kenapa ia begitu kesal saat ini, yang jelas saat ini ia begitu kesal saat berharap melihat Jaka namun malah Neta yang keluar. Dengan langkah tergesa ia masih berjalan menjauhi kontrakan Jaka dengan menggusur Dwi.
Neta memanjangkan leher ke arah perginya Rahma dan Dwi, "ditanya baik-baik juga, malah ngibrit! Apa gue kaya setan gituhh?" Neta menatap dirinya di cermin jendela kontrakan, tangannya terulur merapikan rambut dan mengusap kening, "becanda! Malaikat penjaga surga aja sampe turun karena mau ngapelin gue!" gumamnya tertawa renyah lalu masuk ke dalam.
"Aa, neng ikut bobo!" serunya.
.
.
.
.
.
__ADS_1