Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB. # 65. AKU TAKUT BU


__ADS_3

Neta mengambil toples berisi bumbu perasa rumput laut diantara toples-toples besar bumbu, lalu menaburkannya ke dalam kerupuk kulit yang sudah di timbang sebelumnya, untuk kemudian mpok Aya merekatkan kemasan plastik tebal dengan merk dirinya sendiri.


"Rumput laut ukuran 200 gram 20 pack, mpok. Yang ori 40, kalo keju sama balado 15, buat kloter bank syariah. Pesenan yang ngecer udah di keranjang sana nanti tinggal dipisah-pisah aja," imbuh Neta, kini ia sedang melihat list pesanan di ponselnya, memang masih dalam skala kecil tapi lumayan buat tambah-tambah beli baju bayi.


"Udah deh Net, biar mpok aja yang kerjain. Elu diem aja," mpok Aya sudah menyuruhnya diam sejak tadi namun ternyata Neta sedang mengalihkan rasa sakitnya dari tadi.


"Ngga apa-apa mpok, masa mpok Aya sendirian yang kerjain." Ia berjalan ke arah dispenser dengan keringat mulai mengucur deras lalu tangannya beralih menyalakan AC, "panas ngga sih mpok? Kok panas ya?!" tanya nya mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah seraya memencet tombol remote AC, namun sebelah tangan lainnya sudah mengusap-usap bagian perut.


Jaka naik sejenak ke lantai atas, "mau dianter sekarang atau nanti?" Neta hanya memberikan anggukannya sebagai jawaban.


"Pudin udah di telfon mpok disuruh kesini, buat anter-anterin kerupuk?" tanya Jaka lagi.


"Udeh Jak, si Pudin udah otewe kesini." Mpok Aya mengangguk seraya memasukkan label merk tapi jelas telunjuknya sudah menunjuk-nunjuk Neta sebagai kode pada Jaka jika ada yang tak beres dengan Neta.


Kini mata legam itu menatap istrinya dimana ia sedang menyibukkan diri dengan minum dan ngorek-ngorek isi kulkas, entah apa yang ia cari.


Dihampirinya Neta disana, "lagi ngapain neng?"


Dengan wajah meringis Neta menggaruk kening yang sejak tadi berpeluh, "ini apa--- aku nyari es krim. Es krim tuh semalem masih ada kan? Sisa aku." Nafasnya mulai tak beraturan terkesan memburu seperti habis berolahraga. Berharap jika es krim dapat menenangkan perasaan dan mengalihkan rasa sakit.


"Neng kenapa?" tanya Jaka menyentuh bahu istrinya seraya menyeka keringat di pelipis dan leher.


Sentuhan itu meruntuhkan pertahanan Neta yang sejak tadi menahan rasa sakit dan takut sendiri, "perut aku mules, apa udah waktunya ya? Soalnya udah dari tadi pagi, aku pikir masuk angin atau mules biasa tapi sampe sekarang ngga sembuh-sembuh. Malah makin sakit," adunya kini sudah dengan mata yang berkaca-kaca, jujur saja rasa takut melahirkan semakin besar menggelayuti hatinya sekarang. Ia langsung menghambur memeluk Jaka.


"Neng, jangan panik....kalo emang udah waktunya dedek keluar ya udah, ikuti aja kaya kata bu bidan bilang. Bagus atuh dedek mau keluar, kan emang udah waktunya bulan ini..." Jaka mengusap lembut punggung istrinya, menularkan rasa tenang dan kekuatan tambahan untuknya.


"Net, kagak apa-apa...kagak usah takut, waktu mpok lahirin si Pudin juga kaya gitu, tapi insyaAllah selamat, sehat....jangan mikir macem-macem, kuat yok!"


Neta sudah meloloskan air matanya, ia menyerot air hidung yang sudah menumpuk mampet. Sedih saja rasanya, mendadak ia diliputi rasa sedih yang teramat, mengingat dosa-dosanya selama ini.


"Takut ngga selamat, takut aku ngga kuat!" gumamnya jelas di telinga Jaka.


"Eh, kenapa ngomongnya gitu? Jangan ngaco ah!" Jaka membawanya ke sofa, "apa yang kerasa?"


"Biasanya dipijitin pinggangnya Jak, coba!" mpok Aya mengesampingkan puluhan pack kerupuk kulit untuk menghampiri Neta.


"Mpok bikinin teh anget ya?!" tawar mpok Aya, Neta mengangguk.


"Sebentar, aku ke bawah dulu. Nitipin bengkel ke Opik!" ia melepaskan Neta sejenak lalu segera berjalan ke lantai bawah.


"Assalamu'alaikum!" Pudin datang dengan motornya.


"Kang!" ia menyapa Jaka dan Opik di depan.


"Ke atas aja Din," remaja itu naik ke lantai atas.


"Mpok, daerah mana aja nih?"


"Berisik lu, ntar dulu nanya-nanya nya. Ntar nyak kasih tau!" sahut ibunya membawa segelas teh manis hangat.


"Nih, diminum dulu! Awas tumpah, kuat nggak?" Neta mengangguk dan menerimanya.


"Mpok Neta kenapa nyak?" ia menarik kursi meja makan lalu dengan santainya membuka toples emping yang selalu ada disana, emping melinjo favorit Jaka jika sedang makan.


"Mau lahiran, nih udah nyak kasih alamatnya. Ngga usah banyak-banyak dulu," mpok Aya memberikan intruksi untuk Pudin.


"Oke, nyak. Bentar ini tanggung !" ujarnya menunjukkan segenggam emping yang ia ambil barusan.


"Udah! Elu datang-datang maen gegares aje!" sarkasnya.


"Ngga apa-apa mpok, kamu baru balik sekolah Din? Udah makan belum, suruh makan dulu deh mpok," titah Neta.


"Kagak usah Net, di rumah udah gue siapin makan kok."


"Udeh mpok, barusan makan dulu di rumah." Jawab Pudin.


"Oh iya mpok, buat ke rumah ibu pesenan kantor kak Syifa kan udah aku kardusin disana, nanti talinya minta akang," imbuh Neta ia menggigiti bibir bawahnya menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Iye, jangan jadi pikiran...lu tenang aja."


Jaka kembali naik ke atas, "akang itu nanti Pudin dikasih tali buat kardus pesenan kantor kak Syifa."


"Iya."


Jaka menarik laci di dapur dan mengambil tali tambang dan menaruhnya di atas meja terlebih dahulu agar tak lupa.


"Aku mandi dulu sebentar, nanti ke klinik," Jaka sudah menyambar handuk tapi yang ia lakukan adalah berjongkok di depan Neta dan mengusapi perutnya, "lancar lahirannya, selamat, sehat buat neng cantik sama dedek..."



Untung saja letak klinik bersalin terdekat jaraknya tak terlalu jauh dari ruko. Mobil merah itu kembali lagi ke ruko, Opik melongokkan kepalanya diantara motor yang tengah dikerjakannya.



"Kenapa balik lagi?"



Jaka keluar dan membuka pintu mobil bagian Neta, lalu memapahnya keluar, "masih pembukaan 4, masih agak lama."



"Aku ngga mau lama-lama di klinik. Bikin takut," keringat mengucur sebesar-besar biji jagung mengaliri deras wajah dan badan Neta.



Dering ponsel Neta tak berhenti sejak tadi, sepertinya Pudin memberitahukan kabarnya pada ibu.



"Ibu," gumam Jaka kemudian ia membawa Neta ke sofa, bukan untuk duduk melainkan Neta ingin berdiri dengan bertumpu memegang sandaran sofa depan tv.



Namun tak lama setelah itu suara mobil mas Syarif terdengar berhenti di depan ruko disusul suara ibu memanggil seraya naik ke lantai atas.




"Ibu?" gumamnya menatap mengernyit pada Jaka, "iya, ibu barusan nelfon pas udah deket sini,"



"Gimana, udah pembukaan berapa?" tanya nya menghampiri Neta, tangan ibu refleks memijat titik-titik yang menurut Neta adalah sumber terbesar rasa nyaman. Ibu memang tak diragukan lagi, dialah malaikat Tuhan untuk anaknya. Tau apa yang dirasakan, tau apa yang diinginkannya, padahal sejak tadi ia begitu sulit menjelaskan inginnya pada Jaka.



"baru 4," ringisnya.



"Udah diperiksain Jak, dimana?"



"Klinik Bunda Nanda, bu."



"Oh deket tuh bu dari sini," angguk Syifa, kakaknya yang baru saja menerima pesanan sekaligus pesan dari Pudin langsung saja tancap gas membawa ibu.



"Gimana neng rasanya? Dikasih obat pink sama dokter atau bidannya ngga?" Syifa ikut menghampiri dan mengusap perut Neta.

__ADS_1



Ia hanya mengangguk, "dikasih bun,"



"Eh, ada ibu...mpok!" sapa mpok Aya yang sejak tadi ada disana membantu pekerjaan Neta.



"Mpok, masih ngerjain pesenan?" tanya Syifa diangguki mpok Aya, "iye mpok. Biar selesai sekarang."



"Udah disiapin peralatan lahirannya Jak?" tanya ibu.



"Udah bu," Jaka bahkan sudah menaruhnya di mobil.



Neta mengatur nafasnya, semakin sini ia semakin merasa sesak, dan capek, rasa sakit dan mules yabg dirasa juga kian menjadi, "bu, maafin aku ya..." matanya telah kembali berair.



"Shuutt---" ibu menggeleng memeluk Neta, tangan-tangan yang mulai keriput mengusap penuh penekanan di pinggang memberikan pijatan refleksi.



"Aku banyak salah sama ibu, ternyata ngelahirin sesakit ini..." ucapnya terbata.



"Net," Syifa ikut mengusapi pucuk kepala adiknya itu.



Jaka memalingkan wajahnya mencoba sibuk dengan membawa nasi serta lauknya karena sesiang sampai sore ini Neta belum makan. Jangankan untuk makan, nyemil buah atau coklat seperti biasanya saja enggan. Mpok Aya pun ikut terharu bercampur sedih mendengarnya hingga memilih mengemas sisa pesanan dan memisah-misahkan sesuai nama konsumen.



"Aku sering bikin ibu marah, kesel. Padahal buat lahirin aku ke dunia aja ibu sampe kaya gini rasa sakitnya," ujarnya sesenggukan, air mata itu telah menganak sungai hingga netes-netes dari dagunya.



"Iya, ibu udah maafin kamu tanpa harus kamu minta. Ibu ikhlas lillahita'ala sakit buat lahirin anak se-soleha Neta, yang lancar nak...dikasih kuat sama Allah, selamat, sehat anak sama cucu ibu,"



"Aku takut bu," ucapnya mengadukan apa yang dirasakannya, ibu mengusap air mata yang telah banjir itu, "yakin kalo Allah ada sama kita."



"Neng, makan dulu ya. Sedikit aja," bujuk Jaka.



"Iya ih, makan dulu. Mau aku yang suapin apa suami kamu?" tanya Syifa.



"Mau sama ibu," jawab Neta.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2