
Sesuai janji, hari ini Jaka dan Neta menemui pihak bank, rekan kerja Syifa.
"Neng, tapi aku ngga bisa lama-lama, udah keseringan ijin sama ci Olin..." Neta hanya mengangguk manis dan bergumam saja menjawab ucapan suaminya, bukan karena ia masih marah namun ia tengah makan coklat.
"Gendut deh, udah ini! Pokoknya ingetin aku, besok minggu olahraga pagi!" sumpahnya di depan Jaka.
"Ngga apa-apa atuh, nanti tambah gemoy, tambah empuk," akui Jaka.
"Ngga tau sih, udah berapa hari ini eneg terus. Makanya mulut aku ngga berenti ngunyah makanan biar ngga eneg," jujur Neta, kali ini wanita itu menjepit bulu matanya dan memoleskan maskara.
"Kenapa? Maag?" tanya Jaka, Neta menggeleng tak mengerti, "ngga tau! Itu mpok Aya masak sambel ya, baunya sampe sini!" ia menjulurkan lidahnya yang tiba-tiba mengeluarkan daluva berlimpah, mendadak lidah dan hidungnya seperti dirasuki aroma paling membuat perut terkocok-kocok. Beginilah hidup mengontrak, aroma masakan dan masalah intern tuh berasa jadi milik bersama.
"Mau kubeliin obat atau ke dokter?" tanya Jaka.
"Ngga usah lah, lebay banget. Aku mah udah biasa! Lagian aku trauma sama dokter, terakhir ke dokter malah kena tuduh hamil!" gerutunya merapikan rambut untuk terakhir kalinya, sementara Jaka sendiri sudah siap sejak tadi, lelaki memang tak seribet perempuan, sat-set, sat-set kelar! Apalagi bagi dirinya yang tak banyak perintilan make up, cuci muka doang pake sabun muka, selebihnya cuma pelembab sachet yang penting ngga mengkilat pas kena cahaya lampu.
"Yuk!" Neta membereskan peralatan tempurnya.
"Neng tuh kebalik, giliran keluar dandan, giliran di rumah ngga---" cibir Jaka yang tak rela kecantikan istrinya berkali-kali lipat diperhatikan orang.
Neta menyunggingkan senyuman miring, "ya iyalah. Kamu yang ngaco, keluar mah dandan. Masa mau apa adanya kaya orang baru bangun tidur. Terus maksudnya ke mall dasteran kalo di rumah pake baju pesta gitu?"
Jaka mengangguk, "harusnya. Keluar pake baju kedodoran. Di rumah pake baju minim," Jaka menyeringai melihat reaksi meremehkan Neta.
"Dih, suka dibalik-balik gitu. Ngaco! Biar apa coba?! Biar diketawain sama orang?"
Jaka memajukan wajahnya tepat di samping wajah Neta yang mendadak ambigu karena sikap tiba-tiba ini.
"Biar gampang ku pelo rotin," bisiknya bikin merinding.
"Ck! Ihhh!" Neta sontak menjauhkan wajah dan badannya seiring Jaka yang tertawa renyah.
"Kardus!" sarkasnya melengos pergi duluan.
"Apa kardus?" tanya Jaka menyusul si neng cantik kemudian mengunci pintu.
"Karangan dusta!" balasnya ketus, ia menyobekkan bungkus permen dan melemparnya ke dalam mulut.
"Nanti pulangnya beli sop iga aja lah. Aku males masak, kecuali kalo kamu yang mau ya monggo---" Neta tak pernah kehabisan stok keinginan, selalu ada yang ia utarakan untuk Jaka turuti. Dan Jaka selalu menuruti selama itu wajar, normal dan manusiawi.
"Siap, buat neng cantik apa sih yang engga?!" kedipnya menggelikan saat sudah diatas motor, dan hal itu sukses membuat Neta menggidikkan bahunya sambil mencebik, "idihh---"
"JIJIK!" Jaka selalu meniru lalu setelahnya tergelak.
"Naik neng manis," goda Jaka kembali.
"Jangan kaya gitu kamu ih! Aneh tau ngga, kaya bukan kamu yang aku kenal," Neta mendorong rahang Jaka lalu duduk diatas motor yang ia juluki, si butut.
"Pahala neng," jawab Jaka melajukan motornya.
Mereka tidak datang dengan si butut, melainkan dengan si red jazzy. Meskipun terbilang dekat tapi demi sebuah kepercayaan dari surveyor dan pihak bank, si jazzy selalu bisa diandalkan.
Jaka mengemudikan sementara Neta melihat lokasi dari ponsel.
"Nanti dari depan belok kanan kayanya," ujar Neta dengan alis mengernyit fokus.
"Tau neng. Aku kan sering lewatin daerah ruko itu," balasnya menyalakan lampu sen sehalus mungkin.
Jazzy membawa keduanya keluar dari gerbang kampung, tak jauh memang. Hanya menempuh jarak 5 km saja keduanya sudah berada di depan sebuah perumahan, dimana deretan ruko baru buka berjejer rapi, dan beberapanya masih kosong belum ada yang memiliki.
__ADS_1
"Cocok nih! Udah gitu buka laundry," gumam Neta mentapukan pandangan dimana ruko yang sudah terisi memiliki usaha minimarket, salon dan apotik. Ia memang berpengalaman dengan orang perumahan, karena pernah ada diantaranya, ia sangat tau apa yang dibutuhkan disini.
Jaka melirik sekilas, *aamiin*. Ia ingat kalimat ci Olin di satu siang padanya dan Opik saat Jaka mengutarakan niatannya membuka bengkel, bak gayung bersambut, ci Olin mendukungnya meskipun ada syaratnya.
"Elu jangan keluar dari sini, Jak."
Lalu ia mengatakan suatu quotes tentang mencari pasangan, "pilihlah pasangan (perempuan) yang selalu mendorong kita untuk jadi manusia maju, bukan cuma terus-terusan berkembang (biak). Bukan masalah cantik, jago masak, atau jago di ranjang saja karena semua skill itu dapat diasah seiring usia pernikahan. Tapi prinsip dan pandangan yang ingin maju bersama, kadang tidak semua wanita punya. Manut memang harus, tapi bukan berarti pribadinya harus lemah juga, karena disaat si nahkoda goyah, maka bahtera sudah pasti akan karam di keterpurukan jika pasangannya hanya menggantungkan segala penghidupan pada nahkoda."
Lalu Opik menjawab, "ci! Ci Olin tuh lagi ngomongin rumah tangga apa kapal laut?!" sontak saja ia melempar gulungan kertas nota pada Opik.
Bangunan 2 lantai di depannya yang nanti akan menjadi tempat keduanya bernaung, membangun rumah tangga. Seorang berkemeja menghampiri bersama pihak pengembang.
"Pak Perjaka?!" sapanya menebak dan menyalami Jaka. Namun Neta mencebik kecut, "udah ngga perjaka lagi kaleee," ucapnya pelan yang hanya Jaka saja yang mengerti.
"Ini mbak Shanneta, adiknya Syifatun Sawalina?" Shanneta mengangguk.
"Mau langsung aja masuk ke dalem buat liat?" seorang lain memperlihatkan Ipad dengan video berdurasi pendek yang menunjukkan seluk beluk ruko yang akan ditempati berikut keunggulan yanh dimiliki.
Jaka dan Neta begitu seksama dengan penjelasan pihak pengembang lalu mengobrol ria dengan teman kaka Syifa, hingga tak terasa wakt bergulir begitu cepat.
"Maaf, saya ngga bisa lama-lama. Harus kerja," imbuh Jaka memutuskan untuk pamit.
"Rumah udah siap ditempatin, mau kapan?" tanya Neta.
"Abis acara 17an selesai ya neng. Biar nyantai beres-beresnya," Jaka begitu sibuk mengecek semua persiapan untuk acara puncak, minggu depan." balasnya mengusap pipi Neta.
"Kamu packing-packing aja barang-barang yang kira-kira ngga kepake seminggu ke depan. Jadi nanti ngga terlalu riweh pas mau pindahan."
Jaka menutup buku dan menaruh ponselnya menyudahi pekerjaan, kemudian ia beralih pada Neta yang sejak tadi nyemilin keripik. Ia baru sadar jika Neta memakai kaos miliknya.
"Kenapa pake kaosku? Kaos kamu mana? Udah pada di packing?" ia ikut mencomot keripik singkong berbumbu di toples plastik. Beberapa hari belakangan ini wanitanya selalu meminta makanan yang asin dan gurih kaya keripik.
"Ada. Ngga tau cuma aku yang ngerasa, atau emang iya ya. Kaos-kaos ku yang biasa kupake kok kerasa ngepas banget ya, ngga nyaman pokoknya, ngga semriwing gitu!" ujarnya mengernyit aneh.
"Ah masa? Efek ngemil terus kayanya neng!" cibir Jaka, keduanya malah lebih asik ngobrol hal yang kurang penting begini, membiarkan televisi yang ada di depan keduanya ngobrol sendiri.
"Nanti aku mau pake kaos kamu yang panitia Tarka aja ya, waktu acara puncak." Neta menaik turunkan alisnya, Jaka mengangguk pasrah, "terserah neng aja."
"Kamu udah ngobrol sama bang Sandi belum, kalo kamu mau resign?" tanya Neta.
Jaka menggeleng singkat, "belum," lengkungan bibirnya memperlihatkan jika masih santai-santai saja, Neta yang melihat jika Jaka terlalu selow menggeplak punggung tangan yang sedang masuk ke dalam toples keripik membuat potongan keripik yang sudah dijepitnya kembali jatuh ke dasar toples.
"Jangan diabisin!" galaknya sengit.
__ADS_1
Kembali Jaka menjepit salah satunya dan mengunyah hingga berbunyi kriuk-kriuk.
"Kamu tuh ih, kelewat santai! Bilang dari sekarang, bang Sandi tuh suka ribet kalo orang mau keluar, nunggu gajihan lah---nunggu nyari gantinya dulu, atau apalah!" ekor mata Neta selalu runcing tajam namun sexy.
"Iya nanti bilang neng," Jaka berdiri dari duduknya dan meregangkan otot-ototnya, "mungkin kamu gedean karena di rumah ngga pernah gerak, neng. Coba ikutan senam kaya ibu-ibu kalo hari minggu. Dulu katanya mau olahraga tiap minggu, cuma sekali doang abis itu udah." Kritik Jaka mengambil segelas air.
"Males ah, abisnya kalo abis lari pagi...suka ngiler liat jajanan di abang-abang, jadinya malah numpuk lemak lebih banyak lagi, larinya ngga seberapa pulangnya bawa lemak 2 kali lipat." Tangan Neta terulur meminta air minum yang sedang diteguk Jaka. Ia menutup toples dan berdiri menuju kamar, "Sini deh!" tariknya di tangan Jaka, hingga kini keduanya berada di depan cermin.
Neta kini mematut dirinya, ia berbalik menyamping, lalu kemudian balik lagi ke samping lainnya, mengusap-usap bagian keseluruhan badannya, "ada yang beda ngga dari badan aku?"
"Kok aku ngerasa kalo sekarang gerak tuh kaya berat gitu! Kaya ketempelan king kong!" ujarnya memperhatikan badannya seksama. Belum lagi rasa mudah lemasnya yang tak kunjung sembuh.
"Jadinya aku lemes terus,"
Jaka awalnya mengerutkan dahi saat Neta menjabarkan keluhannya, tapi sesaat kemudian ia tersenyum penuh arti.
"Ngga mau ke dokter gitu neng?" tanya nya mendekat dan menempel di badan belakang Neta yang masih menatap keheranan.
"Ah, mau ngapain?! Aku ngga sakit!" jawabnya cepat, ia paling anti dengan yang namanya dokter.
"Ya kali aja mau silaturahmi," kekeh Jaka.
"Silaturahmi mah sama mentri, sama orang kaya! Biar bisa minta salam tempel," jawab Neta.
Jaka mengusap kedua bahu Neta lalu beranjak ke arah buah di dadha yang terasa semakin sekal. Setelah itu, turun ke arah perut Neta dan menyapu ruang lebihan kaos hingga berhenti di perut bagian bawah, menampilkan bagian perut yang aga menonjol begitu Jaka menempelkan kaos hingga tak ber-ruang.
Neta tersentak melihat perubahannya dari cermin, selama ini ia tak pernah memperhatikan dirinya sendiri dari cermin, atau memang dirinya sendiri yang mensugesti otak agar tak melihat cermin ataupun mengkhawatirkan perubahan diri termasuk pembalut yang berdebu di bawah sudut lemari, apa yang sebelumnya ia tolak mentah-mentah datang bak mimpi.
"Kayanya kamu ketempelan Jaka, neng."
Namun ekspresi Neta hanya melongo.
"Emang kamu ngga ngerasa perubahan itu? Atau ngga hitung kapan terakhir datang bulan? Kita lakuin itu waktu pulang dari Bali, udah 2 bulan yang lalu...aku belum pernah sekalipun liat kamu dapet,"
Neta kini membalikkan badannya dengan wajah khawatir, "kalo aku hamil beneran gimana?!"
Jaka mengernyit, "kenapa emangnya? Ya bagus atuh!"
"Aku ngga bisa ngurus anak, Jaka! Aku takut ngelahirin. Aku belum siap," teriaknya memukul dadha Jaka.
"Bisa neng, pasti bisa...kamu kan ngga sendiri," ia mengecup kening Neta, lalu menyambar jaket.
"Ngga sendiri gimana, kan aku yang melendung, kamu ngga ikutan ngelahirin?!"
"Ini kamu mau kemana?!" tanya nya panik.
"Mau beli tespek buat kamu," balas Jaka mengambil kunci motor seraya menyunggingkan senyuman bahagia.
"Jaka ih! Aku takut hamil!" jeritnya menghentikan langkah Jaka.
"Coba bilang, takutnya kenapa?" tanya Jaka meremas kedua bahu Neta lembut.
Bukannya menjawab Neta malah menatap Jaka lama, hingga akhirnya kedua mata itu berkaca-kaca, "aku tuh harus seneng apa sedih sih?!" sedetik kemudian ia menangis sambil menghentak-hentak kaki.
"Lagian kamu tuh ih! Doyan banget masukin bibit!" omelnya kembali manyun persis donal bebek.
"Badan aku jadi melar gini! Kaya karet cawaatttt,"
.
.
.
.
.
__ADS_1