Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 42. JANJIKU SETELAH INI


__ADS_3

Tiap sendokan nasi bersama lauk bergizi, Jaka suapkan pada Neta diiringi dengan penolakan manja dari Neta. Bibirnya mengatup rapat, tatapannya sengit tapi tak urung mangap juga saat Jaka memaksanya dengan memajukan sendok berisi nasi bersama lauk ke depan mulut Neta. Porsinya pun manusiawi menggunakan sendok makan bukan pake sekop pasir bangunan.


Udah ah, ngga enak!


Nasinya benyek,


Buat kamu aja, aku udah kenyang,


Hingga akhirnya setengah porsi makanan rumah sakit sudah landing di perutnya meski dengan perjuangan rayuan pulau kelapa. Neta benci tak berdaya begini, jika bebas mungkin tangan itu sudah memukul-mukul lengan Jaka sekarang karena paksaan lelaki ini sungguh bikin Neta tak bisa berkutik.


Kini Neta meringis tak enak seraya bergerak gelisah.


"Kenapa?" Jaka bertanya seraya menyuapkan sisa makan Neta ke dalam mulutnya, daripada mubadzir.


"Aduhh, ngga deh. Kamu lagi makan! Nanti jijik," ujarnya tak enak hati, kenapa kantung kemihnya ini tak bisa diajak kerja sama disaat-saat begini. Bisa kah kepingin pi pisnya nanti saja, waktu tangan dan kakinya sudah sembuh? Besok-besok ia kepingin punya punuk, seperti unta buat naro cadangan air, biar kalo lagi kebelet di waktu tidak tepat bisa ia simpan dahulu.


"Bilang aja, kamu mau apa?" tangan besar itu menjeda makannya, menaruh nampan makanan ke atas meja dan meneguk minum dalam botol.


"Aku mau pi pis," cicitnya macam tikus kejepit.


"Oh," Jaka beranjak mendorong kursi dan menutup tirai bilik Neta, mengambil pis pot dari bawah ranjang Neta dan meletakkannya di tempat yang seharusnya. Neta sempat menggeleng saat Jaka membantunya untuk duduk, namun Jaka kekeh membantu Neta, "jangan ditahan nanti jadi penyakit."


Dengan tanpa sungkan ia mendekap badan Neta untuk membantunya berada dalam posisi duduk. Dekapan hangat itu begitu terasa sampai ulu hati, membuat hati rapuhnya luluh lantah seketika, sekilas Neta melihat ke arah wajah Jaka, "aku malu..." bisik Neta lantas mengalungkan satu tangannya di leher Jaka sebagai tumpuan bangkit.


"Kenapa? Toh sudah halal untuk kulihat semuanya," ucap Jaka kini menatap mata Neta dalam jarak yang begitu dekat, hingga deru nafas keduanya terasa menyentuh kulit.


Meskipun sedang dalam posisi begini, sebelah tangan yang mengalung di leher Jaka itu masih mampu memberikan tepukan keras di punggung lelakinya, "akunya masih malu!" wajah Neta bahkan sudah memerah.


"Diangkat sedikit, aku bantu buka..." kembali, Jaka sudah fokus membantu istrinya, Neta benar-benar sudah tak tau harus mengatakan apa, karena di bawah sana tangan Jaka sudah bebas menurunkan pakaian bawahnya. Sungguh Neta sendiri tak berani untuk melihatnya.


"Jaka, kamu ngga jijik gitu?" Neta sedikit ragu untuk mengeluarkan hajatnya.


"Engga," pungkasnya.


"Aku nungguin malah," lanjutnya terkekeh, membuat Neta refleks menggigit pundaknya hingga ia mengaduh, "nungguin apa? Nungguin aku sakit, apa nungguin melo rotin celana aku?" tanya Neta. Tanpa Jaka menjawab pun Neta sudah tau, salah ia bertanya...kini ia malah malu dengan pertanyaannya sendiri.

__ADS_1


Lagipula sejak kapan Jaka jijik'an, apa Shanneta lupa jika Jaka sudah terbiasa dengan berbagai macam kotoran karena pekerjaannya sebagai ob? Jaka melongokkan kepalanya ke bawah demi melihat apakah posisinya sudah pas, membuat wajah Neta semakin merah padam, Jaka sudah melihat apa yang menjadi haknya meski hanya bisa melihat saja secara garis besarnya.


Neta bahkan sudah mengedarkan pandangan ke lain arah saat cairan itu meluncur bebas dari kantung kemihnya dengan suara yang membuat Neta semakin malu, kali ini Neta benar-benar memeluk Jaka saat itu berlangsung, "Jaka jangan ketawa ya, aku malu sumpah!" ucapnya, membuat Jaka mendengus geli.


"Udah?" tanya Jaka, Neta mengangguk. Tangannya terulur mengambil air untuk Neta membasuh.


"Mau aku basuhin?" tawar Jaka, seketika mata itu melotot tajam nan menusuk, seolah belum memperbolehkan Jaka untuk memegangnya.


"Oke, nanti sepulang kamu dari sini aja," goda Jaka. Neta masih menukikkan alisnya tajam, "Jaka ih!"


Jaka hanya terkekeh, "engga neng...kalau neng cantik belum siap, aku sabar nunggu," jawabnya teduh, tapi percayalah...saat ini Neta langsung merasa jadi manusia paling bergelimang dosa.


Tiba-tiba saja Neta tak dapat menahan air matanya untuk tak jatuh kali ini, ia terisak dengan mulut yang komat-kamit mendumel.


"Aku tuh udah jahat banget dari awal sama kamu, nilai kamu rendah karena cuma ob, tapi kamu mau ngurusin aku gini. Kamu juga sabar banget hadapin istri ngga ada akhlak kaya aku, sering mukul-mukul, sering nyuruh-nyuruh, teriak-teriak, udah gitu keras kepala tapi kamu tetep ngurusin aku...aku ngga tau kalo lelakinya bukan kamu mungkin aku udah dicekek atau diracun," isaknya.


Jaka tak tau apakah ia harus tertawa atau terharu saat ini, yang jelas ia senang Shanneta menyadari semuanya.


Jaka memakaikan kembali pakaian bawah Neta lalu menyeka sepasang mata indah yang sudah basah dan terisak itu, "aku ikhlas. Kamu istriku, janji saya di hadapan Allah adalah bertanggung jawab lahir dan batinmu, kalau kamu kurang akhlak itu artinya bimbingan aku yang kurang," jawabnya menangkup wajah Neta yang masih sesenggukan.



Seorang dokter bersama suster didampingi beberapa dokter koas mendatangi bilik Neta, untuk memberikan kondisi terbaru dan tindakan medis yang harus didapatkan Neta selanjutnya. Jaka dan Neta pun tak lupa menanyakan kapan istri nakal itu bisa pulang, atau setidaknya dipindahkan ke rumah sakit di Jakarta.



Wajah Neta redup atas pernyataan dokter tadi, Jaka yang sadar dengan reaksi kecewa Neta mengusap lembut tangan lembut itu, "ngga apa-apa, kalo dokter bilang masih butuh bedrest disini itu artinya ini yang terbaik buat kesehatan kamu,"


Neta tak menjawab, hanya reaksi kecewalah yang ia tunjukkan sekarang karena tak bisa pulang cepat, "kerjaan kamu gimana? Kalo kelamaan ijin nanti jadi masalah,"


"Ngga usah pikirin kerjaan atau uang. Biar itu jadi urusanku," balas Jaka mantap.


Jaka melihat ke arah istrinya dengan getir, ia baru tersadar jika Neta masih memakai baju terakhir yang ia pakai sewaktu di acara ultah Alicia dan itu pun sudah ternodai oleh da rah. Belum sempat diganti, "disini pasar sebelah mana?"


"Buat?" tanya Neta.

__ADS_1


"Masa kamu mau pake baju gituan selama disini, aku ngga suka. Lagian itu kotor..."


Neta melihat ke arah dirinya, "iya. Dompet sama tas aku ngga tau dimana," wajahnya memelas sempurna, cocok buat ditaro di lampu merah sambil bawa mangkok dan kecrekan, untung saja Jaka tak setega itu memperkerjakan sang istri buat drama jadi gelandangan.


"Kalo gitu aku nanya-nanya dulu, beli beberapa potong baju sama makanan," ijin Jaka, Neta tak langsung mengiyakan karena dengan jelas ia tengah berpikir, "terus aku sendirian? Jangan ada drama nyasar ya, aku ngga mau sendirian lama-lama!" semburnya sewot.


"Iya."


Jaka meraih tulang rahang Neta dan mendaratkan kecupan di kening perempuan itu, "aku nyari baju dulu ya," tapi tak disangka kecupan itu turun ke bibir Neta walau hanya kecupan singkat tapi dapat membuat Neta merona, perempuan itu tertawa renyah, "kesempatan banget bapak! Aku lagi mode kalem gini, ngga bisa ngelawan."


"Iya, mumpung neng cantik ngga bisa mukul-mukul," balasnya ikut terkekeh dan kembali mencium bibir Neta berulang kali sampai Neta melotot baru Jaka menghentikannya seraya tertawa tanpa dosa.


"Udah sana!" sengitnya galak.



Jaka tak harus menoleh sekilas biar romantis penuh haru kaya di pelem-pelem bollywood. Ia lempeng saja keluar dari ruangan.



Dari dompet lusuhnya juga ia membuka lembaran demi lembaran uang, mengintip kartu debit dimana sisa uangnya tersimpan. Biaya tak terduga begini mungkin dapat menguras uangnya hingga habis. Sepanjang koridor ia menghitung-hitung dalam otak jumlah sisa uang bulan ini yang masih menyisakan setengah bulan lagi, apakah nanti ia harus meminjam uang pada Opik? Atau casbon pada ci Olin?


Uang tabungan yang sudah sempat terpakai untuk biaya nikah pun hanya tersisa sedikit, jaga-jaga jika keluarga Alicia tak memberikan tiket pulang.



Jaka menyapa seorang suster disana dan bertanya dimana kawasan pasar terdekat.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2