
Neta sudah merasa kehabisan nafas sejak tadi, bukan karena begitu intensnya Jaka menenggelamkan diri padanya, namun ia begitu gugup saat Jaka mengatakan ia ingin lebih dari sekedar menyentuh bagian bibir lembut Neta yang terasa bak kumpulan awan. Karena jelas tangan Jaka sudah bermain-main di antara ujung pakaian Neta dan menariknya sedikit demi sedikit. Menyingkabkan baju piyama yang dipakai Neta dengan gerakan perlahan.
Wangi mint khas pasta gigi menyeruak di hidung Neta, melambai-lambai seperti aroma bius agar ia hanyut dalam irama dawai cinta Jaka tanpa perlawanan. Ia tak tau seberapa merah wajahnya sekarang, yang jelas saat ia merengek kesal bahwa Jaka tak romantis adalah kibaran bendera sirkuit untuk lelaki itu segera mengambil start. Tak perlu artikel ataupun buku panduan untuk melakukan hal semacam ini, dengan gerakan refleks secara naluriah Neta mengalungkan satu tangan bebasnya, yang kemudian disusul dengan respon gerakan tangan lain yang ia paksakan meski sedikit meringis.
Rasa membuncah nan menggebu membuat rasa sakit itu ditangguhkan. Jaka menuntun Neta untuk itu, atas keinginan dirinya sendiri. Jaka tau ada kilatan gelora api dalam mata sang istri. Bulshittt jika dalam hubungan hanya lelaki saja yang memiliki gejo lak berapi-api, karena pada kenyataannya wanita pun memiliki nav suu.
"Mau dilepas arm slingnya?" bisik Jaka, Neta mengangguk, meski selanjutnya Jaka menuntun tangan Neta untuk berdiam diri di lehernya agar tetap stabil dan tak menyakiti.
Benar saja, Jaka menepati janjinya untuk melakukan semuanya dengan lembut penuh kasih sayang. Jelas sekali ia memperlakukan Neta begitu istimewa dan hati-hati, membuatnya merasa nyaman meskipun dalam kondisi yang belum sembuh betul.
Tak ada grasak-grusuk, dan sikap kasar layaknya hewan. Telapak tangan besar itu meloloskan setiap helai kain yang menempel di badan Neta. Menyentuh setiap jengkal dari kulit mulus dan lek uk tubuh istrinya, "cantik."
Kesempatan ini tak Jaka sia-siakan, kapan lagi ia bisa mendapatkan Shanneta yang sekalem ini dan sepasrah ini. Sebagai seorang lelaki, ia tentu mahir dalam menyentuh sesuai insting tanpa harus menjadi seorang profesional dan mencoba jadi petualang terlebih dahulu. Ia ingin bertualang hanya bersama Shanneta seorang, mendaki bukit yang melenakan, menuruni lembah memabukkan, terbang bersama mengikuti laju hembusan angin hingga meledak dan melebur menjadi satu.
Shanneta adalah definisi bidadari surga, yang bisa membuat otak warasnya kini hilang entah kemana karena yang ada di otaknya adalah menyentuh Shanneta.
Semua bagian milik Shanneta terlihat begitu indah dan ranum, matang pada waktunya, membuat hawa tubuhnya memanas dan menggila.
"Jaka," entah kenapa suaranya bisa jadi senorak dan memalukan macam ini.
"Pelan-pelan," matanya sayu memohon semakin menambah daya tarik dan rasa menggebu dari diri liar Jaka.
Yang Neta sadari kini Jaka pun sudah tak terlapisi apapun dan berada gagah di atasnya, hingga ia tak sanggup lagi menelan saliva yang terasa mengental dan kering. Sentuhan demi sentuhan pembuka Jaka membuatnya merasa dibuai dan diayunkan di atas udara hingga kulitnya meremang dan tanpa sadar jika kedua kakinya sudah dilebarkan. Neta merasa hatinya disentuh Jaka dan dibawa melambung ke atas awan ketika suara lantunan syahdu nan merdu di telinganya sebagai mantra cinta mampu menggetarkan kalbu, Neta bahagia diperlakukan selayaknya wanita terhormat oleh sang dewa cinta.
Neta tak sempat melihat ketika awalnya itu terasa sakit saat Jaka membenamkan dirinya ke dalam dewi yang sudah ia jaga selama kurang lebih 24 tahun. Bagai disayat sembilu, hanya rengekan kesakitan yang Neta keluhkan, "sakit Jaka," tangannya mencengkram tengkuk Jaka. Tak ada jawaban yang Jaka berikan, namun kecupan di kening dan dadhanya adalah obat penawar rasa sakit yang kian mereda seiring gerakan menghentak yang Jaka buat berirama dan bertempo lembut.
Neta meloloskan suara-suara aneh menjijikan dari mulutnya yang justru semakin ia bersuara mata Jaka semakin terlihat berapi.
Siapakah Jaka sebenarnya? Dewa cinta atau justru malaikat kenikmatan? Neta benci dengan dirinya saat ini, entah seperti apa kini tampilan kacaunya di bawah sana. Yang ia tau kini ia sudah memiliki gelar nyonya Jaka.
Seperti tak pernah merasa lelah, Jaka menghentak lagi dan lagi, tak peduli dengan ucapan malu Neta yang mengatakan jika ia sudah berkeringat dan semrawut. Karena bagi Jaka, Neta justru semakin cantik begitu.
Neta menyusuri pahatan wajah tegas Jaka dengan jemari lentiknya, di bawah temaramnya lampu kamar ketampanan yang hakiki adalah Jaka seorang, tak ada yang lain.
"Makasih," ujar Jaka saat kembali keduanya meraup rasa nikmat hingga rasanya pasokan udara habis, dan gerakan pamungkas itu ditutup oleh kecupan hangat penuh cinta.
Berenanglah hingga menemukan sesuatu untuk tumbuh, dan menjadi buah kasihnya bersama Shanneta Amber.
__ADS_1
"Jaka udah, aku capek."
Jaka menggulingkan badannya ke samping Neta, menetralkan deru nafas dan keringat yang sudah bercucuran menyatu dengan keringat Neta.
Diliriknya Neta sudah benar-benar tak berdaya, bahkan untuk sekedar membuka matanya pun ia teramat lelah.
Jaka menaikkan ujung selimut hingga menutupi keseluruhan badan Neta, "selamat tidur neng cantik, nyonya Perjaka," bisiknya menghantarkan sebuah usapan lembut membelai kening Neta. Kemudian ia beringsut turun dari ranjang memungut pakaiannya dan beranjak ke dalam kamar mandi.
Sentuhan lembut nan dingin mengusik lelapnya si neng cantik satu ini.
"Mmhh," gumaman Neta dengan kibasan tangan bermaksud mengusir siapapun pengganggu acara istirahatnya. Ia lelah, selelah-lelahnya. Ia pegal sepegal-pegalnya. Seperti kembali dihempaskan saat kecelakaan kemarin, tubuhnya berasa remuk redam terutama di bagian inti, pa ha, dan bagian dadha.
Tak bergeming dengan sentuhan yang Jaka berikan di bahu, kini tangan dingin Jaka menyentuh dan mengusap pipinya, "neng, udah subuh...sayang kalo kelewat,"
Cup!
Cup!
Cup!
Bukannya Neta yang bereaksi justru Jaka yang kini tertawa renyah karena ketiga kali kecupannya malah dianggap istrinya itu sapuan nina bobo agar lebih terlelap lagi, "neng..." panggilnya lagi.
__ADS_1
Meski tak tega kini Jaka sudah menelusupkan tangan dinginnya ke dalam selimut dan menyentuh perut telan jank Neta membuat wanita ini tersentak kaget.
"Jaka ih!" ketusnya menggerutu.
"Bangun, udah pagi. Nanti diterusin lagi tidurnya kalo udah bersih-bersih, solat sama sarapan." Titah Jaka mencoba membantu Neta bangun.
"Badan aku pegel semua sekarang, udah kaya ngalamin kecelakaan lagi. Bantuin mungutin tulang-tulang aku dong, sakit banget nih, punya kamu masih kerasa ganjel---" akuinya vul gar, sudah tak malu-malu lagi.
Jaka hanya terkekeh mencibir, "ah masa? Kalo gitu percuma dong aku cabut, mendingan dimasukkin lagi---yuk ah!"
"Eh, ih!" tolak Neta menepis tangan Jaka darinya.
"Mau kumandiin atau mandi sendiri?" tanya Jaka.
"Sendiri. Keenakan kamu," desisnya galak, kembali ke mode normalnya Shanneta.
.
.
.
.
__ADS_1
Haduhhhh, gimana ya. Aku mampunya jam segini, ngga bisa lebih cepet. Ini sih tergantung proses review dari entunnya ya guys. Sengaja tidak ful gar karena memang aku ngga biasa menulis hal menji jikan. Semoga suka, kalo ngga panas, bacanya sambil berendem sama telor rebus aja 😂