Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 45. MARAH-MARAH


__ADS_3

Dengan mendorong kursi roda, Jaka menyusuri lantai bersih bandara. Yeah--mereka sudah sampai di Soetta.


Terlukis jelas di ingatan kenangan terakhir saat di pintu masuk bandara, saat Jaka diam seribu bahasa dan membiarkannya pergi dengan rasa bersalah, "bang Togar udah sampe?" Neta seraya mendongak.


"Udah, katanya sih nunggu di luar. Biar kutelfon dulu," jawabnya dengan mata yang bergantian antara ponsel dan jalanan yang dilewati, takut kalau-kalau nabrak orang lain.


Neta masih memainkan benang kain yang mencuat dari kaos barongnya saat seseorang berteriak dengan lantang. Jangankan Neta dan Jaka, petugas bandara saja, sampai menoleh mendengarnya.


"Jaka!" teriaknya seperti bandara ini milik pribadi.


"Alamak, parah kecelakaan kau, Sanet?" tanya nya berdecak meringis melihat kondisi Neta.



Membuat Neta tersenyum tak kalah meringis, "ya gitu deh bang. Abang udah dari tadi sampe disini?"



"Baru, Jakarta macet parah kalau jam segini. Taulah, sebenarnya kalau tak terpaksa karena kebutuhan udah nyerah aku jadi supir, stress kali aku di jalanan...." jawabnya jadi curhat colongan, sementara Jaka sudah memasukkan tas ke dalam bagasi si red jazzy. Kemudian ia membantu Neta untuk bangun dan menggendongnya masuk.



"Masuk lah, bisa?" tanpa harus dikomandoi bang Togar sudah membuka pintu mobil dan membantu Jaka memasukkan Neta.



"Gang senggol heboh dengar kau kecelakaan di Bali, si Opik tuh...mulutnya," adu pria dengan rambut ikal 2 cm ini.



"Kok bisa tau?" kernyitan di dahi Neta membentuk jadi beberapa garis dan menoleh pada Jaka.



"Waktu pak Sandi telfon itu, anak Tarka lagi pada kumpul di rumah." Jawabnya melipat kursi roda kemudian memasukkannya ke dalam bagasi.



"Kita pulang ke kontrakan apa kemana?" tanya bang Togar.



"Ke rumah Neta, bang."



"Oh, okelah!"


"Awas kaki kau, Net---" ia sampai menggulingkan diri keluar dari mobil saking sigap dan gesitnya.


"Jak---Jak sini saya bawa tasnya?! Kau bawa istri kau lah! Tak mungkin aku yang gendong," suara bang Togar yang dari depan rumah saja terdengar sampai dapur kaya orang lagi ngajak berantem itu membuat Syifa melongokkan kepalanya ke arah luar rumah.


Ia segera bangkit dari duduk saat tau Neta dan Jaka telah pulang.


"Alhamdulillah."


Namun sejurus kemudian, "ya Allah, sampe segininya?" ia menatap getir adiknya dengan penuh kengerian lalu membantu Jaka membawa Neta ke dalam.


"Kenapa bisa gini sih?!" ia mendorong kursi roda masuk ke dalam.


"Aku mau coba-coba jadi catwomen, tapi ternyata kenyataan bilang aku cuma manusia biasa," jawabnya terkekeh. Diantara rasa khawatir yang luar biasa selalu terselip rasa kesal bercampur senang. Kesal karena ia yang selalu memberikan jawaban bercanda disaat serius, senang karena dengan itu ia tau adiknya baik-baik saja.


"Ha! Kapok ngga sekarang berulah?" tanya nya mencibir.


"Engga, besok-besok aku mau coba bungee jumping dari atas Menara sutet!" kembali ia tertawa dengan jokes garingnya sendiri.


"Masuk dulu bang," pinta Jaka seraya menyusul Neta dan Syifa.

__ADS_1


"Ah, tidak usah Jak. Biar aku langsung jalan saja, kebetulan hari ini aku hanya ijin narik telat saja." jelasnya pada Jaka.


"Ah gitu," Jaka merogoh dompetnya dari saku celana bagian belakang dan menarik selembar merah dan biru untuk kemudian ia menyelipkannya langsung di saku kemeja bang Togar, "buat ongkos ke pangkalan bang, dari istri saya." Ia tau jika waktu begitu berharga bagi mereka, untuk mencari nafkah.


"Eh, jangan Jak! Kau ini seperti sama siapa saja!" sewotnya ngegas menolak ingin menarik kembali uang pemberian Jaka, tapi Jaka keburu menahannya, "amanah istri bang," angguknya meyakinkan membuat bang Togar akhirnya mau menerima, "ya sudah kuterima, terimakasih buat Saneta, kalau gitu saya tak bisa lama-lama Jak, sampaikan salam buat istri dan keluarga. Lekas sembuh," salamnya.


Ia melihat bang Togar hingga lelaki batak itu hilang dari pandangan, lalu masuk ke dalam dengan membawa tas.


Suara Aqis yang berseru-seru melihat kondisi Neta menjadi dominasi latar rumah, terkadang bocah itu menyentuh dan memijit-mijit gips di kaki Neta saking penasarannya dengan benda asing itu. Belum lagi bu Nilam dan Syifa yang sudah seperti penyidik dari kepolisian meminta cerita versi lengkap kejadian. Sementara mas Syarif yang lebih kalem, menyapanya terlebih dahulu dengan suara berat namun sejuk, "beres Jak? Dikasih rujukan kontrol ke rumah sakit, dimana?"


"Engga mas, cuma dikasih rekam medis, kalo mau dimana-mananya sih itu terserah," jawab Jaka ikut bergabung.


"Sebenernya sih gipsnya udah bisa dicopot, cuma tadi masih riskan gitu di perjalanan." Sahut Neta menatap risih pada gips di kakinya.


"Aunty jadi kaya robot !" Aqis cekikikan melihat Neta.


"Biar ngga keluyuran auntynya," sahut mas Syarif ikut duduk.


"Diminum Jak," secangkir kopi panas tersaji dari tangan ibu mertuanya, membuat Jaka mengangguk tak enak, "makasih bu, padahal Jaka bisa buat sendiri.."


"Ngga apa-apa."




"Aku bisa sendiri," ia menepis tangan Jaka yang berniat menggendongnya ke lantai atas. Meski dengan kepayahan sampai berkeringat dan meraup nafas berkali-kali, ia tak akan menyerah dengan keadaan. Lama-lama jadi orang tak berdaya itu rasanya membosankan.



Dengan bertumpukan kepala kursi ia mengangkat badannya, Jaka tak langsung pergi justru ia memperhatikan dan mengawasi Neta disana, "kamu kayanya masih belum bisa kalau buat jalan neng," ucap Jaka bersiap-siap menangkap tubuh istrinya bak menangkap durian runtuh.



"Bisa-bisa lah! Aku kuat kok, setrong lah!" mantapnya, awalnya ia meringis dengan perlahan tapi lama kelamaan saat kakinya menjejak lantai dengan dibebankan berat badannya rasa ngilu dan perih semakin menjadi.




"Hehehe," Neta memicingkan matanya mendengar Jaka malah terkekeh lalu memukul lengannya dengan tangan yang bebas, "ngetawain!"



Namun Jaka hanya mencibir, "ngeyel. Dibilangin juga neng cantik masih belum bisa, itu lukanya aja masih belum kering bener. Apalagi luka dalamnya," dengan sekali gerakan ia membawa Neta dalam gendongannya.



"Anggap aja rejeki aku bisa gendong-gendong istri cantik," bisik Jaka di telinga Neta membuatnya kegelian dengan wajah merona, "apa sih, gombal ih! Jelek tau," cibirnya tersenyum-senyum geli.



Jaka membawanya ke lantai atas, perjalanan sepanjang anak tangga terasa begitu in tim untuk keduanya, meski tanpa bicara tapi mata mereka tengah berbicara begitu dalam dari hati ke hati seolah sedang bertukar kalimat i love you.



Neta menelan salivanya sulit, saat otak dan hatinya memikirkan sesuatu hal yang justru membuat dirinya sendiri terkejut, kenapa bisa memikirkan hal itu disaat begini. Baginya Jaka kian hari kian bertambah tingkat kegantengannya.



*Stop Neta! Lo tuh lagi sakit, masa mikir yang begituan*?! *Murahan*! Batinnya menggeram.



"Neng," suara Jaka sudah dalam dan kelam, membuat hatinya bergetar, kalaupun Jaka ingin meminta haknya malam ini ia rela dan dengan senang hati, meskipun mungkin Jaka harus sedikit berhati-hati dengan kondisi tangan dan kakinya.


__ADS_1


"Ke--kenapa Jak?" tanya Neta keduanya saling menatap tanpa jeda.



"Tolong bukain pintu kamarnya, tanganku susah," lanjut Jaka, wajah Neta seketika berubah kecut dan sengit mendengar jawaban Jaka yang tak ada romantis-romantisnya.



"Turunin ah! Kamu mah ih bener-bener jadi cowok tuh ih!" sungutnya mengomel-ngomel seraya memukul-mukul dadhanya. Tangannya terulur membuka handle pintu kamar.



Terang saja Jaka mengernyitkan dahinya tak mengerti kenapa Neta marah-marah.



"Kamu tuh ih astagfirullah, ada ya laki-laki kaya kamu! Ngga ada romantis-romantisnya jadi cowok! Kirain mau minta kiss gitu suasana udah syahdu gini, malah minta bukain pintu! Ngerusak suasana!" omelnya lagi, Jaka menyemburkan tawanya demi mendengar Neta mengomel dalam gendongannya sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.



"Ya masa mau minta kiss di luar, jadi neng cantik tuh maunya di kiss?" tanya Jaka ful gar membuat wajah Neta mendadak panas.



"Kok aku? Ya kamu lah yang minta! Gimana sih?!" sungutnya lagi kesal. *Oke, catat Jaka! Wanita itu gengsinya gede, walau sebenernya mau banget*.



Jaka sudah membawa Neta masuk, ia menendang pelan pintu kamar hingga tertutup sementara Neta sudah meminta untuk diturunkan sejak tadi.



Kalau mau, mungkin Jaka sudah melemparnya ke atas ranjang, karena sejak tadi Neta berontak minta turun, tapi ia masih punya otak dan hati dengan menaruh istrinya lembut dan penuh cinta.



"Ngga usah marah-marah, nanti aku kiss sampai sesek," goda Jaka.



"Ogah! Sana pergi, tidur di bawah aja jangan disini sama aku!" ketusnya galak.



Jaka meraih kedua pipi Neta dan menenggelamkan wajah keduanya, menghentikan omelan wanita'nya itu.



"Kalo aku mau lebih dari kiss, apa neng cantik mau kasih?" suara Jaka kini lebih berat daripada yang tadi.



Neta hanya diam untuk itu, ia cukup terkejut dengan serangan Jaka barusan yang membungkamnya dengan cium an.



"Aku bakal hati-hati," lanjutnya kembali menempelkan benda kenyal keduanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2