
Neta memperhatikan kawasan yang mulai ramai, bau-baunya sih lapangan udah deket, soalnya udah kecium aroma-aroma persaingan.
Dari jarak 20 meter saja keriuhan sudah terasa menyapa pendengaran, bikin pikirannya terdistrack antara nyariin mpok Aya, Jaka, dan keramaian.
Warga sekitar dan pedagang keliling memang berjejer menjajakkan dagangannya disini membuat siapa saja ingin memborong dan abisin uang disini. Belum apa-apa Julian sudah menunjuk-nunjuk la pack sosis bakar, belum lagi es krim pot dan gulali, bikin emaknya pusing 7 keliling.
"Ma, mau itu!" tunjuknya ke arah kerumunan anak-anak yang sedang mengerubungi tukang gulali cetak, dengan berbagai bentuk di tancapkan. Dengan sigap emak satu anak itu menggendong putranya biar ngga ngamuk di jalanan, "iya nanti ya, nak! Baliknya lah!" balasnya berharap Julian mau mendengar.
Fokus Neta terbagi antara memperhatikan situasi dan berisiknya Julian, karena saat ini anak itu boro-boro mau bersabar dan menurut, melainkan ia sudah cranky dan ngamuk-ngamuk karena ibunya tak jua memberikan apa yang ia mau, sontak orang sekeliling melihat ke arah mereka dengan risih.
"Kasih aje lah Han, daripada berisik. Paling cuma 3 rebu!" ujar cing Anjar.
"Nanti malah ngga kemakan cing, kepengen yang lain. Nanti saja lah, kalo sudah mau pulang!" jawabnya.
"Nah daripada mewek, bikin pusing?!" Nyak Epi mengeluarkan lembaran uang yang ia lipat-lipat berwarna coklat dari dompet kecilnya, lantas memberikan pada tante Hana, "nih beliin! Kagak tega gua kaya liat cucu sendiri!" mau tak mau tante Hana menerimanya, lumayan lah dapet traktiran pemilik kontrakan! Padahal ia pun membawa uang, hanya saja ia tipe manusia yang ingin selalu efektif nan efisien, katanya biar nanti jajan pulangnya saja sekalian. Selain karena akan lebih khusyuk menikmati, orang rumah juga akan sama-sama merasakan, ngga harus ribet-ribet bawa makanan sambil nembus keramaian, atau makan sambil jongkok dan berdiri bikin ngga nikmat, ya semacam itulah Neta pun tak mengerti, sampai-sampai ia mengerutkan dahinya merasa risih, hectic dan memalukan. Apakah memiliki anak bisa seribet ini? Kalau begitu ia ingin menundanya, ngga mau punya anak yang bikin ribet cepet-cepet!
Sayup-sayup terdengar suara dari mik bertindak sebagai komentator jalannya pertandingan, memanggil kedua tim untuk segera bersiap-siap.
"Noh, kayanya si Aya udah mau maen tuh!" Cing Anjar menunjuk udara.
"Ya udeh, lu duluan sama neng Sanet. Biar gue nemenin Hana beli dulu gulali!" ujar nyak Epi diangguki cing Anjar dan Neta.
"Ya udah nyak. Aku sama cing Anjar kesana dulu! Kalo ngga absen takut mpok Aya marah," imbuh Neta.
"Nyok neng,"
Mereka berpisah di dekat pedagang gulali. Baru beberapa langkah Neta dan cing Anjar berjalan keduanya mendengar nama Neta disebut, "mpok Sanet! Mpok! Mpok Shanneta!" teriaknya, Neta mengedarkan pandangan ke sekeliling hingga menemukan remaja yang nyembul kaya uban dengan kaos putih dengan gambar bendera merahputih dan bambu runcing bertuliskan
...TARUNA KARYA RW 09...
Ia tak menghiraukan pandangan orang sekitar saat namanya diteriaki Pudin dan menemukan jika Shanneta adalah nama perempuan cantik ini.
"Din! Nyak lu mana?" tanya cing Anjar saat Pudin berhasil mendekat.
"Ada cing," anak itu menyambar punggung tangan cing Anjar dan Neta lalu salim, "mpok, Pudin baru mau ambil motor kang Jaka buat jemput mpok, untung ketemu disini!" ia menggoyangkan kunci motor Jaka di tangannya.
"Mau kemana jemput aku?" tanya Neta mengangkat alisnya.
"Kata kang Jaka disuruh bawa mpok kesini, kalo jalan katanya takut masih belom kuat, kejauhan!" jawab Pudin dibalas gumaman saja, lelaki itu! Masih inget punya istri?! Minta disuruh tidur di luar.
"Cing sama mpok mau nonton enyak maen?" tanya Pudin.
"Iye!"
Pudin menuntun keduanya menembus pusat keramaian, lapangan voli kampung yang cukup besar dan recomended terlihat dipenuhi oleh warga.
Jarak 5 meter di depannya terlihat pinggiran lapangan dengan dijaga hansip dan dua kubu rt yang kini berlaga, squad Tarka berkaos putih banyak terlihat. Di samping kanan berjejer kursi hajatan dengan saung dimana pak lurah dan pak Rw sudah duduk manis bersiap menyaksikan acara yang sudah resmi mereka buka sebelumnya.
"Nah tuh si Aya sama rt 5!" tunjuk cing Anjar.
"Ya! Aya!" teriaknya hampir sulit terdengar karena riuh.
"Cing, ntar urat leher putus, percuma teriak-teriak ngga akan kedenger!" timpal Neta menghentikkan aksi teriak-teriak cing Anjar.
"Mpok," sapa Neta saat mereka sudah berbaur dengan tim rt 5. Yang di tepok mpok Aya yang berbalik hampir beberapa orang, kebanyakan mereka belum mengenal Shanneta.
"Sanet, cing! Mana tante Hana sama nyak Epi?" mpok Aya sudah siap dengan cepolan satu dan outfit volinya.
"Siape?" bisik salah satu warga rt 5 pada mpok Aya dan Pudin.
__ADS_1
Tapi belum mereka menjawab, seorang perempuan berjilbab instan menyapa Neta, "Ini istri Jaka?" bu Aminah adalah bu ketua RT 5.
"Iya bu," Neta tersenyum.
"Oh, bini kang Jaka!" angguk mereka paham, kedatangan Neta kesini menjadi ajang perkenalannya bersama warga rt lain.
"Lagi nganter si Jul jajan," jawab cing Anjar pada mpok Aya yang sebelumnya terjeda karena perkenalan Neta.
"Mpok Sanet, ketemu kang Jaka dulu deh. Ntar dikira Pudin kagak amanah," ujar remaja itu.
"Oh oke, cing tunggu disini dulu bentar ya. Mpok Aya, semangat mpok!" seru Neta.
"Sip!"
"Mpok, semua, saya pamit," pamitnya mengikuti Pudin.
"Iye, ati-ati lo Din. Ntar mpok lu dikecengin orang, si Jaka ngamuk!" seloroh cing Anjar.
"Ngga nyangka itu bini Jaka, cakep!" Ruslan menjempoli salah satu warga baru rt 5.
"Elu, kalo sama yang cakep aja nyaut!" decak cing Anjar menoyor kepalanya.
Pudin membawanya ke sudut lain, lebih tepatnya tempat dimana para panitia tengah berkumpul bersama official rt yang akan bertanding.
Kedatangannya diliatin kaya bidadari masuk sarang penya moen.
"Ngga jadi, mpok udah keburu kesini sama cing Anjar,"
Sosok yang sejak pagi sudah sibuk ngurusin kegiatan ini memegang papan dada dengan beberapa lembar kertas disana juga pulpen. Neta menyapukan pandangan ke arah antek-antek Jaka, dimana ia menemukan anak-anak yang biasa datang ke rumahnya meski ia tak kenal seluruhnya, ada Sinai, Okie juga disana.
"Mpok," sapa Sinai dan Okie, Neta balas tersenyum mengenali kedua anak itu, begitupun dengan Dwi. Jaka terpana melihat Neta yang datang hari ini, meski terkesan sederhana dengan dress selutut dan sendal jepit tanpa make up namun si neng cantik ini terlihat mempesona dengan senyuman manisnya. *Istri impian Jaka*.
Lain hal dengan Rahma yang tetiba berwajah redup, *kenapa mpok Shanneta mesti kesini*.
Ia memilih beranjak dari sana, menyibukkan diri ke meja komentator dimana ada Opik dan anak lain. Tapi Neta tak peduli dengannya, meskipun ia merasakan hal ganjil terhadap Rahma.
"*Kenapa lagi nih bocah*?!" gumamnya melirik kepergian Rahma yang hanya tersenyum kaku padanya. Tapi sedetik kemudian ia ingat apa yang dikatakan nyak Epi kalau Jaka sering dikerubutin lalat, eh maksudnya anak Tarka yang *demen*. Sepertinya Rahma ini salah satunya, Neta menggidikan bahunya tak peduli, cuma bocah! Kalo sekelas Maudy Ayunda sih baru Neta cemburu.
"Kesini?" tanya nya mengu lum senyum, menghampiri Neta dan membawanya duduk.
__ADS_1
"Iya, ngga boleh gitu?" jawabnya ketus nan angkuh. "Emang cuma kamu yang mau liat rame-rame'an disini?! Aku juga mau dukung rt 5," cebiknya.
Jaka hanya tertawa dengan jawaban ketus Neta, "maaf ngga pulang dulu, kontrakan aman kan?" selorohnya.
"Cih, udah ah! Aku mau duduk sama rt 5 aja, ngga mau sama kamu!" kesalnya marah-marah beranjak, tak tau kenapa liat muka Jaka tuh hawanya kepengen marah-marah ngga jelas.
"Iya--iya, sorry. Maaf baru nyuruh Pudin jemput, katanya kan kemaren diajakin kesini ngga mau." Tahan Jaka di tangan Neta.
"Udah tau aku di rumah sendirian, pake ngga pulang, udah gitu tega lagi ngga kasih motor, kaki aku masih ngilu kalo jalan jauh!"
Jaka terkekeh, bukannya menjawab ia malah bertanya hal lain, "mau aku beliin jajanan apa jajan sendiri? Atau mau kumintain tolong anak Tarka?"
"Ngga, nanti aja."
"Tapi disini ngga ada red wine, ngga ada pizza sama spagheti juga," godanya pada sang istri, ia merindukan menggoda Neta begini, hampir seharian ia tak bertemu terutama saat sedang libur begini. Padahal kan biasanya ia akan mengurung Neta di kamar.
"Kalo gitu besok-besok kalo kamu ngadain acara beginian, kamu suruh cafe sama Shangri-la pada buka la pack disini!" jawab Neta, sukses membuat Jaka tergelak dan mencubit pipinya.
"Eh, ada deh kalo spagheti. Spagheti kampung tapinya, mau? Spatula," tawar Jaka, namun Neta kembali menggeleng, "ngga mau eneg ah!" tolaknya.
"Ya udah, nanti kalo mau apa bilang." Jaka melihat ke arah kaki Neta, "tapi ngga apa-apa kan? Biar nanti pulangnya bareng aja," Jaka memberikan botol air mineral miliknya untuk Neta dan beberapa bungkus permen campur-campur dalam sebuah plastik bening.
Padahal ini adalah merk air mineral yang terkenal dengan slogan ada manis-manisnya gitu, tapi saat ia meneguknya kenapa rasanya malah sepet begitu mendapati seseorang menyapa.
"Kang Perjaka?!"
.
.
.
.
__ADS_1
.