
Perlahan-lahan, Neta mulai bisa menerima jika sekarang kebiasaanya berubah. Biasanya ia tak pernah menikmati suasana pagi, pasti ia lewatkan indahnya pagi menuju siang dengan tidur cantik setelah semalam beraksi di depan panel dj'nya.
Tak peduli mau tukang lontong pada balapan, mau tukang bubur pada lomba naik haji, ataupun tukang nasi kuning manjat tebing pokoknya ia tak pernah tau suasana pagi. Tapi sekarang, pagi-pagi begini ia sudah rebutan tiang jemuran sama mpok Aya. Beginilah hidup serumpun, sebambu, setanah, sebangunan, harus saling berbagi tak boleh egois.
Jaka memang memiliki jemuran sendiri, tapi itu hanya untuk dirinya sendiri saat membujang, kini sudah ada Neta yang jelas akan lebih banyak potongan baju yang dicuci.
Sementara Neta tengah menyiapkan sarapan semampunya, Jaka berjongkok ria mencuci pakaian miliknya dan milik Neta. Yap! Untuk tugas yabg satu ini aa Jaka masih mengambil alih tugasnya, terkecuali dalam @n. Neta sudah memberikan usul untuk membeli mesin cuci, tapi mengingat daya listrik kontrakan yang kecil dan ruangan sempit kontrakan terpaksa keinginan itu belum terealisasi.
"Neng, itu ada cobek di bawah. Kamu halusin garam, bawang, tomat sama rawit..." pintanya seraya menoleh ke arah gawang kamar mandi.
"Mentah-mentah?" tanya nya membuat Jaka menoleh, sejenak ia memperhatikan istrinya itu, yeah! Style khas emak-emak muda kalo pagi ya rambut basah digerai dengan kaos kebesaran dan celana sepa ha. Kenapa harus digerai sih? Jawabannya adalah karena lehernya penuh dengan tatto temporer.
"Kamu goreng dulu sebentar," suruhnya.
Jaka lantas mengangkat ember pakaian yang telah dicucinya ke luar untuk seterusnya jadi tugas nyonya meneer untuk menjemur.
"Ini tuh sambel apa namanya? Ko enak sih," Neta mengangkat tahu yang telah dicolekkan sambal, mulutnya yang mengunyah makanan itu, *Jaka rasa lebih chubby sekarang*.
"Sambel saka," jawabnya singkat, tanpa ekspresi berarti membuat Shanneta mengernyitkan dahinya.
"Saka? Emang ada nama sambel saka?" setaunya nama sambal itu ngga ada yang namanya mirip nama manusia.
Jaka menyunggingkan senyuman usilnya, "saka..inget," jawabnya. Lantas Neta menatapnya sengit dan memukul-mukul Jaka dengan kedua tangan sepaket dengan tangan kotor.
Sakainget \=\> seingat'nya
"Neng ih, galaknya istri kang Jaka!" goda Jaka menghindar dari tangan kotor Neta. Satu hal lagi yang Neta tau kini, Jaka tak selalu datar mirip papan gypsum, ia bisa jadi sosok humoris disaat tertentu dan bersama orang tertentu.
"Idihh----" Neta berdecih terjeda.
"Jijik !" sahut Jaka meniru Neta hingga keduanya berkata yang sama.
"Nanti dateng ke lapang rw, ada tanding voli sama futsal, nonton sama mpok Aya, cing Anjar, atau anak-anak Tarka juga ada, Sinai---Pudin, Okie..." imbuh Jaka.
Neta menggidikkan bahunya, "ngga mau. Ngga minat liat kaya gituan," jawabnya.
"Daripada di rumah sepi, ngapain coba? Disana neng cantik bisa jajan," Jaka sudah beranjak menuju kamar mandi lalu mencuci tangannya, sementara Neta, insting inem'nya bekerja dengan menumpuk piring kotor dan membereskan sisa makanan. Tak seperti dulu, jika makan ia langsung melengos saja rebahan tanpa mau repot-repot mikirin piring kotor, banteran berantakan juga langsung lempar ke wastafel kaya lagi lempar frisbee, biar ibu atau kak Syifa yang cuci.
"Tidur lah, maskeran paling," jawabnya enteng.
"Aku dateng kalo kamu ada aja lah,"
"Besok, seharian aku ada. Ci Olin besok tutup bengkel dulu," jawab Jaka, mengantongi ponsel ke dalam saku celana sampingnya.
Neta balas menggidikan bahunya, "tumben."
__ADS_1
"Aku pergi dulu," tak pernah ada kecupan tertinggal saat pamit jika hanya berduaan begini. Selalu, ia ingin menyapukan bibir ke permukaan sehalus sutra milik Shanneta.
"Hm," hanya gumaman yang menjadi jawaban Neta seraya memejam merasai sapuan singkat Jaka di keningnya. Ia merasa begitu dicintai, disayangi, dan dibutuhkan. Jika diingat-ingat, di rumahnya tak ada satupun foto yang menunjukkan kebersamaannya bersama Jaka, bahkan foto menikah saja tak ada. Mungkin kapan-kapan, ia akan meminta Jaka untuk fotoshot di studio foto kenalannya.
Siang-siang begini emang enaknya tuh ngadem sambil nyari uban. Kumpulan kali ini bukan di kontrakan Neta ataupun tante Hana, melainkan di halaman si empunya kontrakan, nyak Epi.
"Kong Eman kemana nyak?" tanya mpok Aya, kepalanya celingukan ke arah dalam rumah namun tangannya berada di atas kepala cing Mu'in, rambut yang masih tebal itu lama-lama akan menipis juga kalo tiap hari dicabutin.
"Lagi liat kandang sama kebon," jawabnya menikmati siang ini dengan menggerakan kipas mini berbentuk hello kitty ke arah wajahnya, nene 5 orang cucu dengan emas mentereng ini lumayan kekinian, anak muda aja kalah saing. Duit banyak, perhiasan jangan ditanya lagi, persis toko emas berjalan meskipun gigi udah ompong.
"Udah bapak tuo kenapa tak suruh diam saja nyak?" jam siang begini tante Hana lumayan bisa keliaran karena Julian tidur siang.
"Susah nyuruh orangtua mah dah! Ntar kite juga yang disemprot! Katenye kalo gua kagak pegi, ntar siapa yang mau liat, kebon sama kandang kagak ada yang merhatiin, elu-elu juga nyang rugi kagak dapet nafkah." Sewotnya mengulang masa-masa saat engkong Eman ngomel-ngomel.
"Emang kong ngga punya yang kerja nyak?" tanya Neta menikmati rujak cuka dalam satu mangkuk rame-rame dengan yang lain hanya berbeda sendok saja.
"Ada neng, tapi die kontrol sendiri nyang kerja." Neta manggut-manggut paham.
"Lah kalo kerja sendiri mah neng, kagak kuat, udah tua gampang encok, asam urat."
"Ntar sore nontonin gue ya!" mpok Aya buka suara meminta dukungan.
"Ha? RT kita sore ini? Tak taulah aku," tanya tante Hana mengangkat alisnya tak tau.
"Iye lah. Gue tante," jawabnya menukikkan suara.
"Ya tim voli ibu-ibu kan itu-itu doang di Rt kite, kagak ada lagi. Nah lo tante, Sanet! Mestinya lo pada ngikut lah, biar nyang main ngga cuma ntu lagi ntu lagi, ada wajah baru!" usul cing Anjar terlena dengan treatment mpok Aya mencabuti ubannya.
Nyak Epi hanya mengangguk singkat seraya melengkungkan bibirnya setuju, "dimane?"
"Paling lapangan rt 6, dimana lagi nyang lapangnye gede?!" sahut cing Anjar.
"Saya tak minat lah cing, mana tak mahir pula main voli..." balas tante Hana.
"Neta ngga terlalu suka olahraga cing, tadi juga diajakin tapi ngga terlalu respect," jawab Neta.
"Oke lah!" angguk tante Hana tak mau mpok Aya kecewa.
"Iya mpok, nanti Neta kesana. Lapangnya di sebelah mana?"
Jaka sudah pamit sejak pagi untuk mengurus pertandingan yang kini sudah memasuki babak penyisihan.
Riuh ramai terjadi di lapangan kebanggan RW 09, bukan hanya dari warga sekitar saja yang datang kesana tapi hampir di satu kelurahan hadir, belum lagi pak RW, dan pak lurah hadir untuk membuka acara.
Euforia tak hanya sampai disitu saja, jajaran pedagang jajanan mendadak buka Lhapack semakin memadati area lapang yang ada di RT 06 ini.
"Neng Sanet, buru neng!" teriak cing Anjar, ketiga emak sudah menunggu Saneta di luar, sementara mpok Aya beserta tim voli rt 05.
"Iya," Shanneta keluar dengan tergesa lalu mengunci pintu, tak ada gaya berlebih darinya. Malah terkesan cuek dengan kostum rumahannya, berbeda dengan orang lain yang kalo keluar segala dipake. Neta memiliki aura horang cantiknya sendiri, meskipun gayanya cuek bawahnya aja sendal jepit.
"Kirain gue, neng Sanet udah ama si Jaka. Malah ngejogrok di rumah?!"
"Akang kan dari pagi cing. Masa mau ngintilin seharian, males ah!" jawabnya kini berjalan menyusuri gang senggol lalu keluar dari area sana menuju jalanan kampung yang baru Shanneta tau sejak ia pindah kesini 1,5 bulan yang lalu.
"Nih, bukti istri yang ngga cemburuan. Padahal anak Tarka banyak nyang demen ma si Jaka neng ampe biduan ngedipin si Jaka," ujar nyak Epi, tapi Neta bergidik acuh saja tak peduli, paling bocah sma atau anak kuliahan? Biduan? Ayolah, cuma kedip-kedip manja ngga bikin Jaka kelilipan lope, ia saja harus ngejar-ngejar sampe nempelin, Jaka tetap lempeng. Ia tak takut karena sejauh ini Jaka orangnya datar bin dingin.
__ADS_1
"Kalo cuma suka-suka aja sih aku ngga masalah nyak. Namanya juga perasaan, ngga bisa milih harus suka sama siapa." Langkah mereka tak terlalu cepat karena menyamai langkah nyak Epi, berbelok diantara kebun pisang tak seberapa pinggiran jalan.
"Eh, kalo aku tidak salah dengar Tarka mengundang biduan dangdut sebelah si Alvi itu sama si Irma? Hayuklah nonton acara puncak nanti!" seru tante Hana antusias, disahuti reaksi excited yang lain tapi tidak dengan Neta.
"Oh," jawaban singkat yang ia berikan. Lihat biduan dangdut kampung saja sudah membuat para emak mentasbihkan diri jadi fanbase dangdut apalagi jika seperti dirinya yang saban waktu ketemu Cita-citamiang, Siti Badro'ah, atau Happy Asmoro. Udah nangis kejer kayanya.
"Kamu tak suka dangdut dek?" tanya tante Hana.
"Bukan ngga suka tante, tapi udah biasa ketemu sama Cita-citamiang, Siti Badro'ah, Happy Asmoro, terus---" Neta mengetuk-ngetuk keningnya demi mengingat artis mana lagi yang pernah ia temui.
Ketiga emak ini melongo dibuatnya, "hah?! Cita-citamiang pernah ketemu?!"
"Happy Asmoro?!"
Neta mengangguk yakin dengan pandangan keheranan, "iya, duet bareng malah kalo ada acara diundang keluar kota,"
"Alamahoy!!! Berarti kamu artis dek? Kenapa saya tak tau?!"
Sementara cing Anjar sudah menepuk-nepuk punggung Neta membuatnya tersentak-sentak, "ngga sangka gue tetanggan ma artis! Pantes gue ngerasa lo tuh beda, lo kaya artis!"
"Wah, kontrakan gue bisa naik hargenye kalo sekelas artis aja tinggal di kontrakan gue!" sahut nyak Epi sudah menatap bangga dan menghitung-hitung, tentu saja mendapatkan seruan heboh nan sewot dari tante Hana dan cing Anjar, "ya jangan lah nyak! !"
Neta mengeluarkan ponsel, ia baru sadar ada pesan masuk, tapi bukan itu tujuannya. Dibukanya icon galeri penampil foto lalu memperlihatkan beberapa kenangan bidikan kamera saat ia show di luar kota bareng artis ibukota ternama.
Ketiganya semakin terlolong di tempat, "Ayu tong-tong?!" saat dua buah gambar di layar menunjukkan Neta dan seorang pedangdut terkenal duduk manis sambil bergaya berdua di backstage pada acara HUT salah satu acara di stasiun televisi nasional.
"Waktu ultah stasiun tv ikan terbang taun 202\*" ujar Neta.
"Waaaww! Kau harus tampil di acara puncak dek, kepingin lihat aku, kalo kau putar-putar itu kaset!"
"Duet neng, bareng si Alvi!" angguk nyak Epi mantap mendukung.
Neta tersenyum meringis, "kalo akang ngijinin...."
"Si Alvi kan...." tante Hana menggumam menggaruk kepalanya, tak bisa membayangkan jika Neta harus berduet bersama Alvi.
.
.
.
.
__ADS_1