Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 33.REJEKI DAN AMANAH


__ADS_3

~Bu Nilam~


Mungkin jika menemukan Shanneta tengah tertidur lelap ia tak akan seterkejut ini, putri bungsu yang anti dapur, anti pegang-pegang alat tempur dapur kini sedang berdiri memegang mangkuk berisi ayam bumbu merah bersama semangkuk tumisan sawi plus baso yang masih mengepulkan asap aroma nikmatnya di meja beralaskan keramik lemari almunium dapur kontrakan Jaka, menantunya.


10 menit sebelumnya ia sudah sempat spechless, inilah pertama kali ia mengunjungi kontrakan Jaka, tempat ia membawa Shanneta Amber tinggal. Beberapa kali lirikan ia lemparkan pada menantu pertamanya Syarif yang malah mengobrol lepas bersama Jaka. Ia juga sempat menelan salivanya mengusir rasa tak nyaman melihat lingkungan tempat tinggal Neta, satu kata yang pasti...putri bungsunya itu pasti membuat Jaka pusing dengan semua keluhannya. Wong tinggal di rumah besarnya saja ia sering mengeluh jika Aqis berisik, atau saat kenyamanannya terganggu, lalu ini?


Dan sekarang ia lebih terkejut lagi, seketika semua rasa campur aduk memayungi hati seorang ibunya. Bagaimana bisa? Ia saja yang notabenenya adalah ibu kandung Neta begitu sulit mengajarkan dan membimbing anak bungsunya itu untuk terjun ke dapur dan bersikap baik. Apa yang Jaka lakukan sampai bisa membuat perubahan sebanyak ini?


"Ibu? Mas Syarif?" Neta menaruh mangkuk berisi ayam itu.


°°°°°°°


"Bu, mas...masuk, kebetulan Neta baru beres masak. Kita sarapan sama-sama?!" ajak Jaka.


"Loh! Kak Syifa sama Aqis mana?" tanya Neta. Ibu dan mas Syarif duduk melantai di karpet plastik, karena hanya ada itu alas duduk mewah yang ada disini.


"Kakak kamu kerja, Aqis sekolah." Syarif bersila disamping ibu yang masih diam, tepatnya ia tak bisa berkata-kata.


"Mas, bu...mau minum apa? Teh, kopi?" tanya Jaka melangkah ke arah lemari, sementara Neta duduk di dekat ibu, "ibu kangen sama aku ya?!" tawanya.


Grep!


Ibu langsung memeluk putri bungsunya, membuat Syarif hampir menangkapnya, takut jika ibu mertuanya ini melakukan hal kasar, mengingat kejadian emosional lalu saat Neta diduga hamil oleh Jaka.


"Idih, ibu...kenapa sih?!" gadis itu sampai terheran-heran dengan tingkah ibunya termasuk Syarif dan Jaka.


Jaka membawa secangkir kopi, teh manis dan setoples biskuit kelapa.


"Maaf belum beli apa-apa bu, mas..." Jaka menaruh kedua cangkir itu di meja.


"Kenapa?" gumam Neta tanpa suara pada mas Syarif, dan sejurus kemudian tangisan tergugu ibu membuat keduanya keheranan.


"Ibu kenapa sih? Ibu sakit? Ke dokter yuk! Atau asam urat ibu kambuh? Obat yang sering di stok masih ada?" tanya Neta khawatir. Jaka melihat ibu mertuanya dari samping Neta ikut kebingungan.


Ibu mengurai pelukan, dan merogoh tasnya, mengeluarkan sesuatu.


Neta sempat terkejut saat ibu mengeluarkan tespek dan selembar kertas yang cukup ia kenali, ia langsung melirik Jaka dengan tatapan panik, apalagi saat ibu Nilam membuka lipatannya hingga menampakkan tulisan tangan beserta tanda tangan Neta dan Jaka.

__ADS_1


"Bu, maaf...ini---"


"Ibu yang minta maaf, terutama sama kamu, Jaka." Ia menatap Jaka penuh penyesalan.


"Ibu tau ini semua pasti ulah putri ibu. Maaf ibu salah mendidik hingga membuat Neta terkesan menganggap pernikahan itu seperti permainan...Ibu juga tak pernah mendengarkan, menuduh kamu badj ingan karena sudah menghamili putri ibu." Ibu benar-benar menunduk di depan Jaka membuat Neta kini dipayungi rasa bersalah, "bu..."


Usia tua bukanlah jaminan sikap dewasa. Emosi memang mengalahkan akal sehatnya waktu itu, usia tua pun bukan berarti ia tak pernah salah dan lantas selalu benar. Awalnya ia sangat marah, melihat kertas perjanjian Neta dan Jaka, namun jika ditarik faktanya Neta yang tak berbohong pasal kehamilannya, tentang Neta yang begitu tak mau menikahi habib, disinilah ia merasa ia yang salah, ada andilnya yang begitu besar dalam keputusan dan jalan yang diambil Shanneta.


Ia yang tak mendengarkan putrinya sendiri, ia yang memaksakan kehendak, ia yang mengambil keputusan sepihak, ia yang tak memikirkan perasaan Neta. Satu yang membuat bu Nilam semakin merasa semakin bersalah, disaat dunia menghakimi dengan penilaian buruk pada putrinya ia pun ikut tak percaya terhadap Neta, seolah menutup telinga dan mata jika putrinya adalah gadis baik-baik. Dimana ia saat Shanneta melawan dunia? Ia malah turut menyalahkan tanpa mau mendengar terlebih dahulu, hingga akhirnya Shanneta mencari jalan pintas.


Seharusnya ia bersyukur pada Yang Maha Kuasa, Shanneta dipertemukan dengan seorang Jaka Barokah yang dapat membimbing Neta hingga putrinya itu----seperti apa yang dilihatnya sekarang.


"Maafin ibu," ia kembali memeluk putrinya, menumpahkan rasa bersalah dan rindunya. Jaka tersenyum melihatnya.


"Iya udah ih, ibu pake mewek segala. Lebay ah!" omelan ciri khas Shanneta.


"Stop perjanjian bo doh ini Neta, ibu minta kamu terima dengan sepenuh hati pernikahan kalian, terima Jaka...janji di depan Allah bukanlah janji yang bisa dipermainkan..." ucap ibu menatap putrinya.


Neta mengulas senyumannya menanggapi ucapan ibu, "Iya bu. Neta tau,"


"Makan dulu yu, ibu sama mas Syarif pasti udah makan sih...tapi kan belum makan disini, cobain masakan aku bu!" Neta langsung mengalihkan topik pembicaraan.


Neta kini dapat mengangguk dengan bangga, "iya dong! Aku gitu loh! Diajarin Jaka sih, aku masak nasi bu, waktu pertama aku sampe lupa cetrekin tombol cook bu, haha! Bo do ih!" ocehnya beranjak ke arah lemari dapur diikuti ibu.


"Ah, kamu tuh emang gitu...ceroboh!" balas ibu. Kedua ibu dan anak itu lantas saling berbalas ucapan tentang tata cara memasak seraya mengambil piring.


"Betah kamu disini,"


///


Syarif mengajak Jaka keluar dari ruangan kontrakan, "Jak, bisa bicara sebentar..." ia menyeruput kopi instan yang dibuatkan Jaka tadi.


"Boleh mas,"


Syarif menggeser duduknya ke arah luar pintu begitupun Jaka di sisi satunya.


"Ibu nemuin itu waktu kalian pulang kemaren, beliau langsung nelfon saya dan kakaknya Neta. Makasih Jaka, atas nama ibu dan keluarga saya mau ngucapin banyak-banyak terimakasih sama kamu. Saya ngga tau kalo waktu itu Neta ketemunya orang lain, maaf atas sikap kami dulu waktu pertama menyambut kamu yang jauh dari kata ramah, maaf juga atas tingkah laku Shanneta selama ini, pasti dia ngerepotin" kekehnya membuat Jaka ikut terkekeh geli, yap! Neta memang terkadang membuatnya pusing.

__ADS_1


"Shanneta memang yang paling manja, paling bandel karena mungkin dia bungsu, dia yang paling di manja terlebih sama alm. ayah Budiawan dulu. Ngga pernah megang kerjaan rumah, hidupnya bak tuan putri, sampe tempat buat dia tidur aja ibu yang sering beresin, pasti sulit ya hidup kamu...." ia tertawa sumbang mengingat betapa kesulitannya Jaka.


"Sekarang saya dan Syifa sudah bisa bernafas lega menitipkan Neta sama kamu. Pilihan Allah memang selalu tepat, baik menurut saya dan keluarga belum tentu baik untuk Shanneta, buktinya pilihan kami dimentahkan Allah, karena rupanya Allah sudah memilih kamu," Syarif menatap lurus ke arah lapangan lalu menyapukannya ke samping kanan, dimana kontrakan lain berjejer dengan sebagian penghuninya yang beraktivitas di dalam, apakah ini lagu batak? Ia mengangguk yakin. Yeah! Disini pasti banyak perantau yang datang ke ibukota.


"Jak! Tamu," sapa Joko yang baru pulanh dari warung menggenggam sebungkus kopi sachet dan roti coklat, temannya sembari mempersiapkan dagangan baso malang'nya.


"Kakak ipar, kenalin!"


Joko berjalan lurus sedikit demi menyalami mas Syarif, "Joko, Jakanya wong Jowo," ia terkekeh.


Syarif tersenyum geli, "Jaka--Joko, Jowone ning ndi, mas?" tanya mas Syarif.


"Malang, woahhh mas jawa juga?" tanya Joko berseru.


"Saya Jogja," jawab mas Syarif, Joko berohria.


"Monggo mampir di kontrakan saya mas,"


"Nggih, matur nuwun mas..." angguknya singkat.


"Hey, bapak-bapak! Masuk ih makan dulu, lagi ngomongin apa sih?! Ngomongin aku ya?!" teriak Neta memanggil, ia dan ibu sudah merapikan nasi, piring dan lauk nasinya di karpet.


"Eh, iya sampai lupa. Kamu pasti belum sarapan, belum istirahat juga. Saya sama ibu ganggu kamu sama Neta dong," ujar Syarif.


Jaka menggeleng, meskipun itu kenyataannya tapi ia tak merasa begitu, "engga mas...santai aja. Sudah biasa, paling nanti pulang kerja saya tidur. Ikut sarapan mas, Neta hari ini ngga kerja, dia resign dari Moccacino, jadi sekarang cuma di Sangri-la," Jaka sudah bangkit.


Syarif sempat kembali membatu sekejap mendengar itu, kembali ia terkejut mendengar Neta melepas pekerjaan di Mocca setaunya Mocca adalah tempat paling wajib karena hanya 2 hari dalam seminggu ia bisa bertemu dengan teman-teman dekatnya, "sekali lagi terimakasih Jaka," Syarif menepuk pundak Jaka.


"Sama-sama. Shanneta adalah rejeki sekaligus amanah yang Allah titipkan untuk saya bimbing mas," dan demi apapun...jawaban Jaka membuat Syarif kembali tertegun, mungkin bagi sebagian lelaki di luar sana Neta gadis cantik namun bukan sosok istri idaman, tapi bagi Jaka....jika ayah mertuanya masih ada, maka ia adalah orang pertama yang akan setuju dengan Jaka Barokah. Kaya materi bisa menipu kesilauan mata dunia namun kaya hati akan abadi till jannah....


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2