
Sandi yang seharusnya libur dan menghabiskan waktu bersama keluarga, kini harus mondar-mandir tak nyaman di antara ramainya calon penumpang di Soetta. Wening malah sudah terisak dan sesenggukan sejak tadi, matanya bengkak dengan wajah sembab yang kusut, begitupula Widi, terakhir adalah kesalahpahaman terjadi antara ia dan Neta.
"Gue ngga rela kalo sampe Amber ngga ada," gumamnya. Wening dengan mata kabur karena linangan air mata menoleh seketika, "jaga mulut lo ya Wid! Amber baik-baik aja sekarang!" sengit Wening menunjuk wajah Widi.
"Berisik lo berdua! Sana balik, ngapain juga lo berdua kesini, gue ngga nyuruh lo berdua dateng," salak Sandi membentak keduanya, ia bergerak gelisah menunggu Jaka.
Jaka menepuk pundak Fajar "Jar, udah sini aja. Soalnya ngga bisa masuk lebih ke dalem lagi, makasih..."
"Sama-sama Jak, gue ikut berduka ya Jak. Semoga bini lo ngga apa-apa, selamat sampe balik ke rumah..."
Jaka mengangguk, ia menjepit dompet dari saku belakang celana jeans dan mengambil lembaran hijau dan coklat, namun belum ia menyodorkan Fajar mendorongnya, "elu kaya sama siape aja Jak, udah--udah! Sorry, gue ngga bisa bantu apa-apa, ntar kalo lo butuh di jemput, jangan sungkan...telfon gue atau cing Mu'in, bang Togar juga ade.."
"Makasih Jar, makasih banyak..." Jaka bersyukur ditempatkan diantara orang-orang baik.
"Kalo gitu saya masuk, duluan!"
"Iye--iye sana!" Fajar mengibas-ngibaskan tangannya meminta Jaka masuk.
Langkah cepatnya bahkan terasa melayang tak tau arah, suara bising dan sayup-sayup airport announcer kalah keras dengan jeritan hatinya saat ini meneriaki nama sang istri, Shanneta Amber.
"Jak!" lelaki yang tengah bergerak gelisah itu menepuk tangan demi memanggil Jaka. Widi masih menatap sebal Jaka, pun Jaka yang keheranan kenapa orang tak berkepentingan ada disini. Tatapan keduanya sengit, namun Jaka lebih memilih mengalah, sekarang bukan saatnya ia mencari masalah, tapi mencari Shanneta.
Wening ikut bangkit, "Jaka, kenapa lo ijinin Amber buat pergi sii," Isakan Wening kembali menyayat hati Jaka.
Sandi, lelaki yang perawakannya seperti artis Gilang Dirga itu memakai jaket baseball navy dan topi merah bata, ia celingukan, "nyokap Neta mana? Atau kakaknya?" tanya Sandi.
Jaka menggeleng, "saya ngga bisa pak. Saya ngga sanggup kasih tau ibu atau kak Syifa," jawabnya. Lagipula apa jadinya tiba-tiba saat waktu istirahat begini mereka digegerkan dengan kabar Neta yang kecelakaan parah? Bunuh saja Jaka, auto di gaplok ibu Nilam sampai metong!
"Lo gila atau bo do?! Keluarga Amber berhak tau lah!" sentak Widi.
"Saya suaminya, untuk saat ini cukup saya yang tau. Sampai semuanya jelas, baru saya akan kabari ibu mertua dan kakak ipar saya," jawab Jaka tak kalah tajam dan sengit. Ia rasa tak perlu membuat kegaduhan yang belum pasti, ia tau akan bagaimana nanti ujungnya, ibu Nilam memiliki penyakit da rah tinggi, bukan tak mungkin penyakitnya akan kambuh jika tau Shanneta kecelakaan.
"Ck! Udah--udah, jangan pada berantem!" Sandi berdecak melerai seraya memijit tengkuknya ikut bingung, "ya udah lah! Bingung juga gue jadinya, yang penting sekarang kita terbang dulu kalo udah pasti Neta---"
"Istri saya baik-baik aja pak!" tukas Jaka.
Sandi mengangguk, ia terlalu panik sampai terasa mules, berkeringat dan bingung harus apa, "gue ngga terima kalo sampe Neta ngga ada, gue yang jadi penghubung dia sama Alicia..." jujur saja Sandi begitu bersalah saat ini.
Pihak bandara telah memanggil para penumpang untuk segera masuk.
"Gue sama Jaka terbang dulu," lo berdua balik deh! Ning, lo dianter kan?" tanya Sandi diangguki Wening dan Widi. Hingga terakhir Jaka dan Widi masih saling bertatapan sengit sampai Sandi menepuk pundak Jaka untuk bergerak cepat.
Bukan hanya Jaka, Sandi pun tak enak duduk. Bukan karena kursi penumpang kelas ekonomi yang bikin tak nyaman, melainkan perasaan kedua pria ini sudah campur aduk terlebih didominasi oleh takut, khawatir, dan tak sanggup. Namun otak mereka harus selalu *positif thinking*, jika Neta disana berada dalam kondisi baik-baik saja, bahkan Sandi sudah memikirkan jika bukan Shanneta lah yang berada dalam mobil naas itu.
Keduanya duduk di kursi atas daftar manifest masing-masing, "gue kenal Neta sejak dia SMA, tuh anak sering bandel---melimpir masuk bar, awalnya karena kepo, kaya gimana sih dunia malam, akhirnya dia menemukan sesuatu yanh ia kagumi, dunia Disc jockey...pake duit jajan buat sekolah disc jockey, mana sering pinjem duit spp terus ngadu ke gue...sampe dia kuliah magang di Shangri-La, dipanggil kemana-mana, kenal Wening sama Widi. Neta udah kaya adek gue," Sandi menatap ke berbagai arah, tapi Jaka tau itu adalah bentuk pengalihan agar matanya tak memanas, namun percuma saja karena kini lelaki itu justru sudah memencet ujung matanya kencang-kencang menahan isakan dalam yang ia tahan sekuat mungkin. Jantung Jaka kembali dipukul saat hatinya sudah berkeping-keping. Shanneta sudah berhasil membuat perasaan siapapun hancur lebur saat ini.
Inhale! Exhale! Sandi melakukan itu sekarang, layaknya wanita yang akan melahirkan. Pesawat mulai bergerak tanda ia sudah take off.
Jangankan untuk tertidur, memejamkan mata saja bayangan Neta semakin tergambar jelas di pikiran Jaka.
Matanya mengedar pada sebagian penumpang yang lebih memilih beristirahat atau sekedar mendengarkan lagu sambil nyemil. Jaka tak mau lagi berpikir macam-macam tentang Shanneta, terakhir pikirannya itu terkabulkan.
__ADS_1
*Maafkan saya, sayang*.
°°°°°°
Tak menunggu sampai keesokan harinya, Sandi dan Jaka langsung bertolak ke rumah sakit dimana lokasi para korban sesuai informasi keluarga Alicia.
Sandi menghubungi pihak keluarga Alicia, dan tak sampai 10 menit, dari awal gerbang rumah sakit saja keduanya sudah disambut oleh kakak Alicia.
"Bang Sandi?" tunjuk seorang perempuan dengan kacamata bingkai kotaknya. Meskipun begitu, wajah sembab tak dapat disembunyikan jika ia tengah berduka.
"Mbak Aletta?" ia mengangguk.
"Ini keluarga dari kak Amber?" tunjuknya pada Jaka.
"Suaminya," jawab Sandi sementara Jaka mengangguk singkat.
"Oh. Mas atas nama adik saya...saya mau minta maaf sebesar-besarnya," perempuan itu kembali menangis, air matanya bahkan sudah deras bak anak sungai dengan mengatupkan kedua tangannya di depan bibir yang bergetar sesenggukan dalam. Siapa yang tak ikut panik jika ia tiba-tiba menangis seperti ini.
Ia mengangguk dan berbalik badan memandu Sandi dan Jaka untuk masuk ke dalam.
Hati resah, jantung yang berdegup kencang hingga hampir copot terasa nyaring terdengar. Jaka sudah komat-kamit melangitkan do'a demi keselamatan Shanneta, dengan langkah kaki yang melewati beberapa koridor rumah sakit.
Ia masuk ke dalam instalasi gawat darurat, pandangannya jatuh pada setiap pasien yang berbaring di brangkar IGD sambil meringis merasakan sakit entah karena virus atau kecelakaan. IGD telah terlewati, tapi kakak Alicia masih membawa langkahnya lurus dan berbelok di beberapa persimpangan, entahlah! Jaka tak mengingatnya, di pikiran Jaka saat ini hanya ingin segera melihat sang pemilik hati.
Hingga akhirnya mereka menghentikan langkah di depan sebuah ruangan dimana dua keluarga yang menangis pilu, benar-benar kondisi memprihatinkan, seorang ibu yang kehilangan anaknya di usia muda.
...***RUANG VERIFIKASI JENAZAH***...
Lalu diliriknya ruangan sebelah
...***RUANG PEMULASARAN JENAZAH***...
__ADS_1
Ia bahkan menjerit-jerit membuat hati siapapun pilu mendengarnya. Tanpa sadar mata Jaka berlinang, membayangkan hal yang sama dengan mereka, kehilangan orang yang dicintai.
Sandi bahkan sudah tak dapat berpikir dan berkata-kata, "ngga----ngga. Ngga mungkin Amber di dalem sini?! ! !" teriak Sandi. Jaka sudah jatuh meluruh di atas lantai keramik rumah sakit.
"Ma, pa---ini keluarga mbak Amber," panggilnya pada dua orang paruh baya yang kini tengah menangis dan lemah.
"Maaf, karena anak-anak kami mbak Amber harus ikut terlibat dalam kecelakaan ini," ucap keduanya.
Jaka menggeleng, "dimana Shanneta? Astagfirullahaladzim ya Allah!" ia menjambak rambutnya sendiri tak kuasa menahan rasa yang teramat sakit dengan posisi yang sudah duduk di lantai tak peduli orang berkata apa. Termasuk Sandi yang sudah menendang udara berkali-kali.
"Mas,"
"Ruangan mbak Amber di lantai 1 bangsal Kencana ruang 6," ucap Aletta.
Jaka dan Sandi yang sudah larut dalam kepedihan kembali mendongak, "ha?!"
"Mbak Amber baru aja sadar tadi sore," lanjut Aletta.
Lengkungan di bibir Sandi tercipta, apakah dosa ia tertawa saat ini, "Amber kamvrettt!"
Jaka bukan lagi, ia langsung beranjak dan berlari mencari bangsal Kencana ruangan 6.
...🍃Bangsal Kencana...
...Room 6🍃...
"Sus, kaki saya gatel ih! Pengen garuk tapi susah, tolongin dong!" pinta gadis itu, gips di tangan dan kaki kanannya membuat ia kesulitan saat nyamuk nakal menyapa kulit putihnya.
"Nyesel banget gue ngga pake lotion ah! Tau gini tadi sempetin dulu ganti celana trening sebelum balik!" ocehnya mengomel.
.
.
.
__ADS_1
.