
Jaka memperlambat laju motornya saat bangunan rumah mertuanya yang mirip gerbang ragunan terlihat dari jarak sekian meter, dan tentu saja saat ia melihat lebih ke atas di lantai 2 itu pasti si neng cantik sudah tertidur.
Membayangkan Neta terlelap mendadak membuat Jaka terkekeh-kekeh sendiri, gemas pengen buru-buru nerkam.
Saat ia membuka pagar yang hanya di kaitkan saja, lampu ruang tamu terlihat masih menyala. Itu artinya masih ada yang belum tidur sekarang.
Ia mendorong motornya untuk sampai di carport tepat di samping mobil Neta dan mas Syarif lalu mengunci pagar rumah. Mungkin diantara kendaraan yang berjejer di rumah ini, hanya miliknya yang paling butut, pasalnya kedua motor lain yang ada disana adalah merk motor matic keluaran tahun teranyar. Udah ponsel yang butut, motor juga paling jadul, gaya juga ikutan old, fix Jaka memang generasi babeh Benyamin Sueb kayanya yang nyangkut di masa millenial, lewat mesin waktu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," gumaman kak Syifa dan mas Syarif membalasnya, rupanya kedua kakak iparnya itu masih duduk santai di depan sofa ruang tengah. Yang satu sedang sibuk dengan makalah dan laptopnya, dan yang satu setia menemani sang suami sambil nonton film luar bertema perang fiksi ilmiah, dimana tentara USA melawan serbuan alien yang sampai berda rah-da rah. Padahal kalau tuh alien datang ke Indonesia, tentara ngga usah repot-repot nyerang sampai titik da rah penghabisan, pake alat dan kendaraan perang ngabisin dana bermilyar-milyar, tinggal panggil aja dukun santet, beres!
"Eh, baru pulang Jak?"
"Iya kak, mas.."
"Belum tidur kak, mas?" basa-basinya seraya membuka jaket.
"Nih---masih nilai tugas mahasiswa, harus selesai besok Jak. Pusing duh," sekilas Jaka melihat mas Syarif yang memijit pangkal hidung dan menggeleng singkat karena kesulitannya.
Jaka mengulas senyuman, "lebih pusing yang nilai ya mas, ketimbang yang ngerjain?"
"Apaan, lebih susah mahasiswa nya lah Jak. Pusing cari bahan kesana kemari, mana diwaktu harus ngejar-ngejar kalo dosennya cuma datang sebentar-sebentar, belum kalo antre di tukang foto copyan buat print, dulu aku pas belum punya print'an." tukas Syifa si mantan mahasiswi mengeluh. Jaka tersenyum kaku tak paham dengan dunia kampus, ia memang tak sempat merasakan bangku kuliah meskipun ingin, maklumlah terkendala biaya jadi hanya sampai SMK saja itupun udah alhamdulillah bisa lulus dengan perjuangan ibu yang notabenenya janda. Beda halnya dengan Shanneta.
"Kalau mahasiswa itu tinggal nyari referensi, kerjain makalah beres! Nah kalo dosen lebih susah, harus baca satu persatu, menimbang-nimbang, belum lagi yang nilainya kurang, itu kan jadi pertanggung jawaban. Satu mahasiswa cuma kerjain satu makalah, kalo dosen? Satu kelas prodi kadang lebih dia periksa sendiri dalam waktu berdekatan.." argumen mas Syarif tak mau kalah.
"Kalo Neta sih enak, di rumah udah punya print'an. Dia tuh, kalo ngerjain tugas nyantai kaya di pantai---selow banget, tau-tau jegerr! Nyusahin seisi rumah, pake mewek-mewek minta dibantuin, dasar!" curhat Syifa membongkar tabiat jelek sang adik di depan Jaka yang justru membuat Jaka terkekeh kecil, pasti waktu itu Neta terlihat panik seperti saat pertama mereka bertemu yang panik dan merengek meminta bantuannya, ia dapat menarik kesimpulan jika Neta memang gadis nakal sejak dulu. Heran, kelakuan begitu bisa lulus sesuai waktunya, bukankah itu artinya Neta pintar ditambah sudah rejekinya mendapatkan jadwal sidang cepat dan dosen pengertian. Iyalah pengertian, siapa yang tak pusing memiliki mahasiswi kaya donald bebek, doyan ngomel-ngomel sambil ngajak gelut.
Ah! Neta, ia sudah tak sabar untuk melihat bidadari surganya itu.
"Kalo gitu, saya ke kamar dulu mas, kak..." pamit Jaka.
"Oh, iya Jak. Kayanya tuh anak udah merem dari tadi deh, dasar ke bo," cibir Syifa.
Langkah kaki Jaka membawanya ke lantai 2 seiring mulut yang menguap meninggalkan mas Syarif dan kak Syifa yang masih mendebatkan lebih sulit jadi dosen atau mahasiswa.
Jaka terdiam di ambang pintu mendapati seorang wanita dengan posisi tengkurap dan mata terlelap berbantalkan lipatan kedua tangan bersama sorot lampu laptop yang masih menyala di depan wajah, apakah dia ileran? Tapi apa peduli Jaka, mau Neta ileran, ngorok sekali pun, bagi Perjaka wanita ini adalah bidadari surganya.
"Kebiasaan jelek," gumamnya mengejek. Tangan dengan urat-urat menonjol Jaka ingin menutup laptop milik Neta namun selintas ia melihat apa yang sedang dikerjakan istrinya itu, karena setaunya Neta bukan lagi seorang mahasiswi.
...Guugle...
RUKO di kawasan Tomang
Jaka mengerutkan dahinya penasaran, "kamu tuh nyari apa neng?"
Lalu ia mengeluarkan dari tab ke page yang tengah diketik Shanneta.
"Biaya rincian," terus saja netranya turun ke bawah demi membaca drngan seksama hingga akhirnya ia menemukan sebuah note yang dicetak miring, bold dan capslock,
__ADS_1
RUNDING DULU SAMA A JAKA,
Alisnya berkedut dengan gerakan cepat ia mengecup kening Neta, "makasih kamu mau memulai dari nol bersamaku. Aku beruntung mendapatkan kamu."
Karena kesibukan Jaka dengan kegiatan Tarka membuatnya harus membagi waktu. Terkadang Jaka tak pulang paginya dan memilih tidur di kontrakan lalu pulang pada sore hari, tapi kadang juga pulang pagi namun sore ia pulang ke kontrakan.
"Jadi gimana? Kak Syifa mau bantuin, di deket gang senggol ada lokasi ruko strategis." Neta mengikuti gerakan Jaka saat siap-siap berangkat ke Shangri-la.
"Udah dipikirin matang-matang?" tanya Jaka sejujurnya masih ragu.
"Ya udahlah. Kalo mau usaha tuh jangan ragu-ragu. Harus yakin optimis, kamu pagi-pagi masih bisa kerja di bengkel Ci Olin, nah sore sampe malem bisa majuin bengkel sendiri. Seenggaknya jam tidur kamu ngga ngaco, jadi Shangri-la kamu lepas."
Jaka sempat memandang Neta dengan alis terangkat mendengar Neta mengatakan itu, namun sejurus kemudian Neta meyakinkan, "kamu yang bilang tentang penjual minyak wangi sama pandai besi itu sama aku, masa aku keluar kamu masih di dalem kubangan dosa?"
"Kamu kan udah punya langgan tuh di bengkel, sementara bengkel ci Olin jam 3 aja udah tutup. Jadi kita kasih penawaran buat pelanggan kamu yang ngga bisa di bengkel ci Olin kita giring ke bengkel kita," jelasnya mantap.
Jaka hanya mengangguk-angguk tapi jelas ia sedang berpikir tapi kemudian yang ia lakukan selanjutnya adalah mencolek pomade lalu mengoleskan di rambutnya membuat Neta mencibir, "kamu tuh kayanya gaji diabisin buat beli pomade deh! Sekali nyolek ngga kira-kira, kenapa ngga pake sendok buat nyolek selai punya nya tukang roti bakar aja?!" ia menghardik. Gatal juga rasanya bibir kalo tak ikut berkomentar.
Jaka hanya mendengus geli mendengar cibiran istrinya, "aku kan emang gini sejak kamu kenal aku."
"Ya ngga usah kaya gitu terus kenapa sih, kalo udah dikritik orang tuh di denger!"
"Ngapain denger kata orang," balas Jaka datar nan acuh.
"Ya maksudnya kan----itu artinya liat kamu tuh bikin mata sakit, mana seragamnya rapi amat kaya mau tes cpns. Masukan orang tuh seenggaknya denger kek, biar kamu lebih baik," debat Neta.
__ADS_1
"Kalo bikin mata sakit ya ngga usah diliat," balasnya lagi dengan nada enteng.
"Ck, ngeyel! Kamu tuh ganteng kalo ngga pomade'an. Orang tuh jadi ngiranya kepala kamu pabrik pomade sampe kinclong gini, kesorot lampu auto buta yang liat!" Neta merebut sisir dari Jaka lalu beralih menata rambut yang sudah kelewat klimis itu jadi mirip ala-ala james bond, meski tak bisa membuat gaya rambut sarang walet setidaknya bukan gaya si encep. Ia saja dulu mengira jika Jaka sengaja mencelupkan kepalanya ke dalam minyak jelantah biar bisa seklimis itu.
Jaka menatap Neta yang tengah menata rambutnya seraya tersenyum penuh arti, "jadi menurut neng cantik, aku ganteng?" tanya nya dengan bibir diku lum dan hidung yang sudah mekar bak lubang donat.
Hal itu sukses membuat Neta mencebik, "dih! Jelek tau ngga?! Kamu tuh cowok paling jelek yang pernah aku kenal!" teriaknya ketus berniat menghentikan reaksi berlebih Jaka. Tapi nyatanya Jaka sama sekali tak bergeming dan tetap menggoda Neta.
"Tapi sayang kan? Buktinya tiap malam maunya di kiss?" kerlingan mata Jaka membuatnya bergidik.
Sontak saja mata indah itu membeliak sengit, cubitan keras mendarat di pinggangnya seiring perubahan wajah semerah kepiting rebus Neta, "ihh engga! Kamu yang suka nyosor-nyosor juga, Perjaka Sowang!" ejeknya, semakin Neta berteriak-teriak menghinanya, Jaka semakin tergelak. Gengsinya segede dosa koruptor.
Wanita itu sudah bergerak menjauh dan menggidikan bahunya tak suka, "kamu ih! Udah sana pergi, nanti bang Sandi marah," sengitnya. Meski langkah Neta masih kaku dan tertatih, tapi sejauh ini perkembangan kesehatannya patut disyukuri.
Jaka terkekeh lalu meraih Neta dan mendekapnya, "aku sayang kamu." Ia mengecup pucuk kepala Neta membuat istrinya itu diam seketika. Jangan ditanyakan lagi bagaimana wajah Neta sekarang, ia semakin merah merona beraroma kembang sedap malam.
"Aku ikut keputusan kamu. Sebutin aja aku harus ngapain, aku nahkoda tapi kamu pengarah jalan dan penasehat rumah tangga. Makasih sudah mau menemani aku yang tak punya apapun untuk bahagiain kamu dari bawah, kamu mau kan tetap disini bersamaku hingga nanti kita bisa sukses dunia akhirat?" tanya Jaka.
Senyuman cantik membingkai paras jelita itu di bawah temaram lampu.
.
.
.
.
.
__ADS_1