Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 23. DEBARAN-DEBARAN CINTA


__ADS_3

"Kamu ngga liat kan?!" cecar Neta penuh intimidasi, ia berdiri di tembok antara kamar dan lorong dapur samping Jaka yang sedang menggoreng telur dadar.


Neta bersidekap dada di tempatnya, namun matanya tak bisa untuk tak memperhatikan Jaka layaknya anak kecil yang selalu kepo emaknya lagi masak.


"Memangnya penting kalo saya liat?" baliknya bertanya seraya sibuk mengambil piring dari dalam lemari.


"Penting lah! Aset berharga aku itu! Cuma dikasih buat suami aku nanti...." ucap Neta dengan bo dohnya. Jaka meliriknya dengan kerutan di dahi, lalu ia menganggap Jaka apa? Kutil gorilla? Segini gedenya mana udah punya buku hijau masih so so'an single.


"Just for your information nona, saya suami kamu..." colek Jaka di hidung Neta, tentu saja alisnya menukik tajam, "ih! Dikira sambel, pake colak-colek!" pipinya langsung menggembung bak balon, Neta segera beranjak dari sana dan memilih duduk saja di depan televisi, ia rasa hati dan otaknya sudah tak waras karena bisa-bisanya ia merona saat Jaka mengucapkan kalimat pamungkasnya tadi.


Kalo deg-deg'an gini bawaannya lapar! tangannya terulur menarik toples, dimana ada kerupuk kulit, ngga tau kulit apa dan siapa? Semoga bukan kulit nenek-nenek atau kulit anak su nat.


Sambil nunggu Jaka selesai masak, ia menonton acara anak-anak kesayangannya, Neta lebih menyukai program anak-anak ketimbang sinetron dewasa yang penuh drama dan intrik, udah bisa ia tebak ceritanya ngga jauh-jauh dari valakor kalo engga azab kecebur selo kan, atau perebutan tahta, harta dan wanita bikin otak mumet.


Sesekali tawa renyah itu menggema mengisi setiap rongga kontrakan, sungguh lucu...bahkan Jaka yang sedang menyiapkan sarapan saja tak bisa untuk ikut tersenyum mendengar tawa Neta, ia melirik Neta dari tempatnya yang asik nyemilin keripik kulit sambil ketawa-ketiwi liat kartun. Sebenarnya bahagianya itu sederhana tapi otak manusianya saja yang rumit yang terlalu memikirkan gengsi.


Tak banyak menu yang disajikan malah terlampau sederhana, hanya telur dadar dengan kornet dan daun bawang, tahu dan tempe goreng juga saus sambal, tapi kalo lagi lapar apapun ya terasa nikmat.


Neta akui Jaka memang pandai memasak, jelas saja! Ia terlatih survive dengan kehidupan, ia juga seorang perantau tak mungkin tak bisa memasak.


Satu piring nasi hangat dengan lauk yang seadanya habis dilahap gadis itu. Jaka mengangsurkan segelas air putih hangat untuk Neta.


"Thanks," Neta menerimanya


Dari balik gelas yang sedang diteguknya tatapan Neta nyalang melirik Jaka, semakin hari ia semakin tak enak hati dengan semua sikap persuasif Jaka. Jaka seolah memberikan dan menancapkan namanya dalam-dalam di pernikahan ini, membujuknya secara halus untuk memberikan rasa pada pernikahan mereka.


Ditambah semakin Neta mengenal Jaka, tampilan lelaki ini semakin bisa dimaafkan, tak seculun saat ia bekerja di Shangri-la. Apalagi saat ia jadi montir, garangnya lelaki...ia dapatkan. Kalo masalah ganteng mah relatif, setiap lelaki memiliki gantengnya tersendiri.

__ADS_1


Neta semakin sulit menelan air putih miliknya hingga menghentikkan acara minum lamanya.


"Kamu ngga ke bengkel?" tanya Neta, biasanya jam segini Jaka sudsh siap-siap. Tapi pagi ini ia lebih santai dan malah menikmati kerupuk kulit sambil memindahkan channel tv.


"Nanti sebentar lagi. Oh iya, nanti malam mau, saya ajak keluar?" tanya Jaka dengan wajah datar seperti biasanya padahal dalam hatinya sudah gugup takut jika Neta malah akan mencibir dan marah-marah seperti biasanya.


"Malam ini Shangri-la tutup kan, atau kamu ada manggung di bar lain?" tambah Jaka.


"Moccacino? Jadwal Mocca nanti hari Senin sama Minggu, sisanya Shangri-la..." jawab Neta, Jaka mengangguk mengerti, mungkin ia mencatat di dalam otak pintarnya jadwal sang istri.


Jaka langsung beranjak membereskan bekas sarapan keduanya dan mencuci piring lalu ke arah kamar untuk membereskan kasur, semua itu tak luput dari penglihatan Neta. Begitu cekatannya ia, mungkin jika lelaki lain Neta sudah matang direbus olehnya karena sifat princess dan so bossy'nya itu, tapi Jaka...dimana lagi akan ia dapatkan lelaki macam ini.


"Jaka, disini laundry dimana ya?" tanya Neta. Gaya hidupnya dan Jaka memang berbeda, ia adalaha kaum milenial yang instan, tak mau cape dan repot. Namun Jaka? Kondisi ekonomi memaksanya untuk mandiri.


Jaka tersenyum, "kamu mau nyuci apa?" tanya nya.


"Baju kamu sudah bersih menggantung di luar," tunjuk Jaka dengan dagunya ke arah pintu luar.


"Kalo cuma 2 atau 3 potong baju, kenapa ngga dicuci sendiri aja sambil mandi? Toh masuk laundry tetep dihitung satu kilo atau satuan..." jelas Jaka.


Neta menyingkapkan gorden jendela rumah dimana pakaiannya kemarin sudah menggantung bebas dan setengah kering di luar rumah, matanya membola sebesar baso telor, "itu kamu yang cuci?!"


"Iya. Saya ngga suka kalo rumah berantakan. Kemaren sekalian dicuci sama baju saya," jawabnya santai mengganti pakaian dengan kaos kebesarannya di bengkel. Neta semakin dirundung rasa bersalah, tak enak hati, lalu apa yang sudah ia lakukan untuk Jaka?


"Kamu mau pergi sekarang?" tanya Neta menahan tangannya saat Jaka hendak pergi.


"Iya. Nanti jam 11 saya pulang untuk siap-siap solat jum'at. Lanjut kerja setelah istirahat sampai jam 5, kita keluar selepas isya aja..." jelasnya.

__ADS_1


"Jaka, bisa duduk dulu sebentar ngga? Aku mau ngomong..." tanpa jawaban Jaka menurut dan mengikuti kemauan Neta.


"Sebenernya tuh kamu anggap pernikahan kita apa? Jelas-jelas aku tuh cewek kurang aj ar, cuma numpang makan, tidur, dan ambil kehidupan kamu doang, banyaknya nyusahin kamu, tapi kamu sabar banget, mau-maunya ngurusin makan, sampe baju aku? Jelas aku bukan tipe istri idaman, kenapa ngga lepasin aja aku?" tanya Neta, mengakui semua kesalahannya, ia rela jadi janda muda.


Mata hitam kelam itu menatap Shanneta dalam, "karena janji saya di hadapan Allah adalah lillahita'ala. Janji saya sama ibu kamu, dan alasan saya menikahi kamu karena Allah ta'ala..."


Seolah pasokan oksigen menipis disekitarnya, Neta merasa sulit untuk bernafas sekalipun, "itu artinya..."


"Itu artinya saya menganggap pernikahan ini sungguhan...tak ada pernikahan yang bisa dipermainkan Shanneta. Saya berangkat dulu, takut Opik sama ci Olin nunggu saya, baik-baik di rumah..."


Kembali Jaka mendaratkan kecupan manisnya di kening Neta, membuat gadis itu merasa tersengat aliran listrik 1000 voltase yang bisa bikin ia mati mendadak. Bagi Jaka, tak masalah jika saat ini ia bersakit-sakit dahulu bersengsara kemudian. Ia percaya, jika Shanneta adalah manusia berhati...lambat laun hatinya akan luluh oleh semua perlakuannya, ia hanya yakin, semua yang ia lakukan hari ini akan Neta lakukan juga untuk ya suatu hari nanti.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa...wa'alaikumsalam," gumamnya pelan hampir tak terdengar.


"OH MY GOSH! Ini gue kenapa nih?! Tiba-tiba tremor begini?" ujarnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2