Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 32. A LOT OF CHANGE


__ADS_3

"Seseorang yang berteman dengan orang shaleh dan orang jelek bagaikan berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi kamu tidak akan merugi, tidak bisa membeli minimal dapet wanginya....begitupun pandai besi, kamu tak melakukan apapun kamu tetep dapet hangusnya entah itu badan kamu atau pakaianmu... minimalnya kamu dapet aroma bau bakarnya," Jaka mengangkat wajah Neta yang sudah kembali sembab dan menangkupnya lembut meski telapak tangannya tak sehalus pualam. Menghapus semua air mata yang tercecer tak peduli jika kaos yang baru diganti sudah basah oleh air mata gadis ini.


"Mau kamu sesuci apapun di sana, kamu tetep dapet image jeleknya...sekarang ngerti kan kenapa kak Syifa, mas Syarif atau ibu selalu bawel minta neng cantik keluar dari kerjaan yang sekarang, bukan untuk kak Syifa, mas Syarif atau ibu...tapi buat neng cantik sendiri,"


"Termasuk kamu?" tanya Neta.


Jaka menyetujuinya, "termasuk aku."


"Terus apa yang bikin kamu bertahan?" tanya Neta, Jaka tersenyum, "ibu, Wulan, dan sekarang...kamu."


Shanneta mengerjap beberapa kali demi menahan badannya yang telah meleleh.


"Kalo aku ngga kerja lagi jadi DJ, aku ngapain? Jadi pengangguran? Cuma bebanin hidup kamu," balasnya, kedua mata itu masih terlihat berair.


"Cukup di rumah, jadi istri seutuhnya. Kalau memang terbiasa bekerja, neng cantik bisa cari kerjaan sesuai gelar yang di dapat waktu kuliah, aku ngga akan larang-larang tapi pun ngga nyuruh...kamu ngga pernah menjadi beban buat aku," tangannya berpindah mengusap rambut Neta dan merapikannya.


"Ngga harus sekarang-sekarang juga. Berhenti kalau neng cantik udah siap,"


°°°°°°


"Ibu seriusan, pagi-pagi mau nyamperin kontrakan Jaka? Takut mereka lagi pada istirahat..." tanya Syarif. Ibu Nilam sudah bergegas menyampirkan tasnya di bahu, "yakin Rif, kalo jam segini Jaka masih ada di rumah. Dari kemaren-kemaren ditahan tuh kaya ada yang ngeganjel gitu, ngerasa dibayangi dosa..." balasnya.


Syarif bersitatap dengan Syifa yang mengangguk singkat.


"Mas ke kampus siangan kan?" tanya Syifa.


"Iya, jadwal ngajarku siang. Jadi mas bisa nemenin ibu,"


"Temenin ya mas. Maaf aku ngga bisa ikut," jawab Syifa meringis tak enak, Syarif mengangguk.


 ~


Moment dari hati ke hati in the kitchen itu akhirnya sedikit terganggu dengan suara ribut di luar.


"Ah, masa 5 rebu bang! 3 rebu biasanya juga!"


"Ini pete berapa pete?!"


"Ini toge berapa bang?"


"Itu ada tukang sayur di depan, coba kamu belajar gabung sama ibu-ibu..." Jaka merogoh sakunya demi mengambil dompet kulit hitam beraksen coklat miliknya, dompet yang tak terlalu bagus


dan sudah lama sepertinya, karena terdapat beberapa cacat disana.


Ia menyerahkan selembar biru pada Neta, selembar uang yang biasa Neta pakai hanya untuk membeli segelas jus saja. Terang saja gadis itu mengangkat alisnya, "ini?"


"Uang belanja, beli secukupnya aja. Kalo untuk makan malam kurang, nanti kita beli di luar," balas Jaka memberikan perintahnya.


"Laku beli apa pake uang segini, ini mah cuma dapet beli tempe doang?" tanya Neta, mau ia bolak-balikkan lembarannya pun nih duit ngga akan berubah mateng jadi lembaran merah.


"Sembarangan. Laku, coba tanya mpok Aya tuh..."

__ADS_1


Neta mennurut meski ia masih terheran-heran dengan menatap aneh pada selembar uang birunya.


Dibukanya pintu yang langsung terasa dingin menyambut kulit, suara ibu-ibu pun tak kalah riuhnya mirip orang-orang lagi pada demo.


Dari jarak yang masih jauh saja Neta sudah mengernyit, "gue mau belanja apa pake duit segini?" ia mengambil posisi di antara mpok Aya dan cing Anjar yang sedang sengitnya beradu argumen dengan si abang sayur. Yang satu argumen kalau sayur mahal dari petaninya yang satu bilang karena permainan pasar yang ujungnya jadi ngomongin dewan rakyat. Hebat! Ibu-ibu itu pinter dalam segala bidang, kritikus, politikus, pengacara, akuntan, penasehat keuangan dan masih banyak lagi...


"Neng, belanja?!" tanya cing Anjar, tapi sejurus kemudian mereka melirik Neta langsung terkejut, "ya Allah neng! Elu abis nangis? Diapain si Jaka, neng?!" raut wajah khawatir mendadak menghentikkan perdebatan dan keributan. Mpok Aya bahkan sudah menangkup wajah Neta.


"Engga mpok. Bukan sama Jaka, tenang aja." Neta menghindar dan lebih memilih meraba sayuran di atas roda.


"Perasaan gue ngga denger orang ribut semalem, kalo ada masalah cerita neng."


"Hey dek, kalo si Jaka itu kasar atau nyakitin hati bilang lah sama kita-kita, biar kita kasih tau itu si Jaka!" imbuh tante Hana dengan menghempaskan kasar bungkusan tahu.


"Aduh, tante. Jangan tahu aye juga yang jadi kena amuk!" omel si abang sayur. Neta tertawa renyah, "bukan tante, alhamdulillah dari awal nikah, dari pertama kenal Jaka ngga pernah nyakitin hati, marah-marah apalagi kasar..." hatinya mencelos, yang ada ia lah yang selalu bikin Jaka sakit hati, selalu gebukin Jaka dan bentak-bentak Jaka.


"Nape lu neng, ada masalah? Cerita..." sentuh cing Anjar, Neta menggeleng manis, "ngga apa-apa cing, makasih..."


"Oh iya, barusan Jaka nyuruh aku belanja...kalo segini bisa dapet apa ya mpok, cing, tante?" tanya Neta.


"Bisa dapet ayam tuh neng, bisa dapet tumisan...sini mpok yang pilihin!"


Neta tersenyum lebar, akhirnya ia mendapatkan solusi....sepertinya Neta harus banyak-banyak berguru pada para emak-emak suhu ini sekarang.


Neta sudah membawa belanjaan yang barusan dipilihkan oleh mpok Aya, cing Anjar dan tante Hana ke dalam rumah.


"Tadaaaa! Wuihh! Banyak ya, duit gocap bisa dapet sekresek gini, macem-macem, hebattt!" decaknya kagum. Jaka yang baru saja selesai menerima telfon tersenyum.


Neta membuka kresek dan mengeluarkan semua belanjaannya di depan Jaka.


"Oke, let's start cooking!"


Jaka dengan sabarnya mengajarkan Neta memasak untuk yang pertama kalinya, "aku ke depan sebentar ya..."


Neta menoleh saat sedang asyik mencicipi rasa masakan dari wajah dengan meniupi bumbu yang ia ambil sedikit.


"Mau kemana? Terus ini gimana?"


"Itu cuma nunggu sampe aga surut airnya terus matiin kompor...aku ke depan sebentar, jemput orang, sebentar aja..." Jaka melengos ke arah kamar lalu berganti pakaian.


"Orang siapa?! Pacar kamu ya?!" Tanya Neta sengit mengekori Jaka dengan masih memegang spatula.


Jaka menyunggingkan senyuman gelinya, "bukan, orang spesialku..." godanya.


"Ihhh, aku acak-acak juga nih masakan!" pelototnya menodongkan spatula.


"Ya jangan atuh, kan itu dapet capek neng cantik. Masa di acak-acak, ini orang penting neng, sebentar ya!"


Jaka langsung meraih kunci motornya dan pergi tanpa peduli dengan Shanneta yang masih menatap sengit padanya, "Jaka! Awas aja ya, kamu ngga boleh balik!"


°°°°°°°

__ADS_1


~ Jaka ~


Sebuah mobil sudah terparkir cantik di sebelah mobil Shanneta yang sudah beberapa lama ini disimpan di bengkel ci Olin dengan dua penumpang di dalamnya yang tentunya Jaka kenali.


Ia menghentikkan motor tepat di dekatnya, "udah lama mas, bu?"


Ibu Nilam keluar bersama mas Syarif dari dalam mobil itu, yang pertama ibu lihat adalah mobil putrinya si red jazzy yang entah sampai kapan akan berada di bengkel ci Olin.


"Ini mobil Neta kan Jak?" tanya mertuanya itu seraya menerima salim dari Jaka.


"Iya bu, disimpen disini soalnya ke kontrakan saya ngga bisa masuk mobil,"


"Sehat mas?" tanya Jaka.


"Alhamdulillah Jak, itu kenapa muka kamu?" tanya mas Syarif menunjuk wajah Jaka membuat ibu Nilam menoleh dan setuju, "iya Jak, muka kamu kenapa? Dipukulin orang atau celaka?"


Jaka hanya melemparkan senyuman, "ini ada sedikit insiden tadi subuh mas, bu...kalo gitu ibu biar sama saya...mas Syarif sama---"


Opik muncul disaat yang tepat, ia sengaja datang karena Jaka memintanya. Pemuda demgan kaos coklat itu menghampiri Jaka.


"Opik, bu...mas Syarif, ini Opik teman saya,"


Pemuda yang baru terbangun belum sempat sarapan ini tiba-tiba mendapat panggilan dari sang kawan, memintanya untuk datang ke bengkel ci Olin dengan membawa motor, rupa-rupanya Jaka memintanya menjadi ojek.


"Opik," Opik tersenyum menyalami bu Nilam dan mas Syarif.


°°°°°°°°


Neta mematikan kompornya sesuai intruksi Jaka, ia rasa pun masakannya sudah pas di lidah, sudah ia cicipi berkali-kali sampai ia cicipi dengan sekepal nasi hangat. Tangannya terulur mengambil mangkuk dari dalam lemari dapur.


"Orang penting siapa coba! Lebih penting mana sama gue!" cebiknya mengomel.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam."


Pintu terbuka membuat mereka terdiam seketika, Neta membeku di tempatnya saat masakan yang ia pindahkan ke mangkuk barulah separuhnya. Begitupun ibu dan mas Syarif yang terkejut melihat gadis manjanya keluarga besar alm. Budiawan itu sibuk di....dapur?!


"Udah mateng?" tanya Jaka.


"U--udah," jawab Neta.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2