Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 63. MENATAP MASA DEPAN


__ADS_3

Jaka tidak datang dengan seragam seperti biasanya. Dan lebih memilih memakai mobil, karena kini Neta ikut dengannya, bikin pak Uus pangling.


"Hey Jak, gayalah! Mobilan sekarang?!" tanya nya tanpa tedeng aling-aling. Hingga seorang lain keluar dari kursi penumpang membuat pak Uus mengatupkan bibirnya cukup terkejut dan mengangguk sopan.


"Hay pak!"


"Eh, mbak Amber," sapanya.


"Pantesan sama mbak Amber," lanjut pak Uus.


"Sehat mbak, udah mulai kerja lagi?" tanya pak Uus basa-basi.


Neta hanya mengulas senyuman dan berjalan masuk, "neng duluan. Aku mau ngobrol sebentar sama pak Uus." Neta mengangguk.


Suara gemerlap Shangri-la memang tak pernah padam seperti biasanya, Neta menghirup nafas dalam-dalam saat pintu masuk sudah ia lewati. Mungkin ia akan merindukan aroma-aroma neraka macam ini, kehidupannya di Shangri-la tidaklah sebentar, sungguh tak terbayangkan jika kali ini ia datang untuk berpamitan pada dunia yang sudah membesarkan namanya, dunia yang sudah menyatu dengan aliran da rahnya.


Neta sempat terdiam agak lama di pintu masuk diantara temaramnya lampu dan bisingnya musik hingga Jaka meraih tangan Neta dari samping, "kenapa diem disini? Pak Sandi lagi duduk disana," tunjuk Jaka.


"Hampir 6 tahun duniaku di Shangri-la, masih belum percaya kalo sekarang aku bakalan ninggalin sebagian jiwaku..." gumamnya memperhatikan podium DJ yang kini ada Wening disana sedang memutar panel dj.


Tangannya terulur mengusap bahu Neta, "ada saatnya manusia harus berubah menjadi personal yang lebih baik. Ditarik keluar dari kehidupan sebelumnya untuk mencapai kehidupan baru yang jauh lebih cerah. Aku ngga bisa janjiin apa-apa sekarang sama neng cantik, tapi satu yang bisa ku pastikan...kehidupan sederhana dengan keluarga kecil kita," angguk Jaka.


Neta menghirup nafas dalam-dalam, lalu bergerak melangkah.


Dari tempatnya, Sandi dapat melihat Neta bersama Jaka, "Si ember!" serunya berjalan cepat.


"Apa kabar lo?! Hah! Masih inget rumah lo, baru balik kesini?! Betah lo di kontrakan!" cebiknya kesal.


Neta nyengir, "Kalo udah kelamaan diem di rumah suka jadi males keluar, males ngapa-ngapain!" jawabnya.


"Ya udah deh. Yu masuk ruangan. Jak, lo langsung kerja aja. Biar bini lo di ruang karyawan, tenang aman Jak!" ujar Sandi.


"Seenak udel," dengus Neta, "hey pak manager, dengerin dulu suami aku mau ngomong!"


"Jangan disini neng berisik," ucap Jaka dengan wajah yang sudah tak nyaman dan nyengir-nyengir menahan suara yang memekakan telinga.


"Yuk!" ajak Neta menggiring keduanya masuk lebih dalam ke ruangan karyawan.


"Ngomong apaan nih?" Keningnya berkerut namun tetap mengikuti maunya Neta. Hingga kini ketiganya sudah berada di ruang karyawan, dengan Neta yang langsung duduk di sofa.


Jaka duduk di samping Neta, "pak Sandi, saya mau resign."


Sandi mengernyit, "tunggu, maksudnya apa nih?"


"Hari ini saya datang buat ngajuin pengunduran diri, bukan untuk bekerja." Jelas Jaka.


Sandi semakin mengerutkan dahinya dalam, sampai beberapa lipatan. "Ngga ada angin ngga ada hujan, lo ngundurin diri Jak? Apa karena bini lo ini yang nyuruh?" tanya Sandi menunjuk Neta, "kalo iya, sini gue sumpel dulu mulutnya."


"Enak aja! Gue buka usaha bang, jadi Jaka sama gue, resign dari sini."


"Maksud lo?"


"Gue mutusin buat berenti dari dunia dj, bang." Senyuman Neta menggambarkan kegetiran, tapi suka tak suka, inilah keputusan yang ia ambil.


Sandi berusaha mengontrol raut wajahnya dan mencerna setiap ucapan yang tiba-tiba ini, "lo yakin? Bukan waktu sebentar lo jadi dj, Am?"


Sepasang mata indah itu menatap Jaka, hingga sorot mata Neta mendapatkan kekuatan lebih darinya, "yakin bang."


Sandi menghela nafasnya panjang, menyenderkan badannya ke sofa dengan kedua tangan yang bertaut ia pakai untuk menopang beban kepala.


Lelaki berbadan besar itu tak bisa berkata-kata, hanya manggut-manggut dan menggeleng, "ngga tau gue mesti bilang apa," tawanya sumbang.


Lalu ia berdiri dan keluar dari sana untuk masuk ke ruangannya, "tunggu bentar."


Saat Sandi kembali, ia sudah memegang amplop coklat dan menyerahkan itu pada Jaka, "gaji lo bulan ini. Thanks udah kerja disini,"


"Dan lo! Yang tiba-tiba datang terus kasih kabar berenti jadi dj. Jangan nyesel kalo nanti sewaktu-waktu, gue bakalan susulin dan geret lo kalo Shangri-la lagi kepepet butuh lo!"


Tak ada perpisahan yang indah, tapi mampu Shanneta lewati malam ini. Selamat tinggal Shangri-la, selamat tinggal kehidupan malam....



"Ini rumahnya?" tanya ibu.

__ADS_1



"Iya bu, ini rukonya Neta sama Jaka." Jawab Syifa memberikan pesan pada sang adik yang sudah ada disana.



"Ini rumah siapa bun?" tanya Aqis.



"Ini rumah aunty sama om Jaka, Aqis. Kan tadi udah dikasih tau kalo kita mau ke rumah aunty," Syarif menarik tuas rem tepat di depan parkiran luas ruko. Hingga seseorang yang mereka kenal keluar dari balkon lantai 2, "Aqiss yuhuuu!"



"Itu Aunty!" bocah itu langsung keluar dari mobil dan berseru di bawah sana, "aunty!" tawanya.



"Sini masuk sayang, ngga dikunci kok!"



Syifa dan yang lain keluar dari mobil, membawa serta bawaan mereka, "bu! Selamat datang di gubuk aku!" serunya bangga dari atas, teriak-teriak kaya mon yet lagi masa kawin.



"Tetangga kamu udah pada kesini?" tanya ibu.



"Belum, mungkin bentar lagi." jawab Neta. Bumil satu ini kembali masuk ke dalam, meneruskan pekerjaannya menata dan membongkar barang dari dalam kardus.



"Ayah--ayah, cepet dorong pintunya!" bocah itu melompat kegirangan tak sabar untuk segera masuk ke dalam dan mengeksplore rumah baru sang tante. Mas Syarif menarik pintu besi yang menutupi bagian bawah ruko hingga ia tergeser menampakan dalamnya yang masih kosong, hanya tikar anyaman berwarna hijau--merah fanta dan beberapa barang besar yang masih diletakan tak karuan ada disana.



"Hati-hati nak, awas jatoh!" imbuhnya saat Aqis menapaki tangga demi mencapai lantai atas.




"Hayyy! Sini--sini, aunty punya coklat sama jelly deh!"



"Rumah aunty berantakan ih, kaya mainan Aqis kalo belum diberesin!" gadis itu mendekat dan meneliti setiap sudut lantai dua dari ruko ini.



"Iya sayang, aunty kan baru pindahan. Sini, duduk sini aja. Om Jaka baru beresin bagian sini, biar bisa nonton!" ajaknya duduk di atas karpet beludru tebal miliknya yang dibawa dari rumah ibu.



"Kalo aunty punya rumah sendiri, kamar aunty yang di rumah nenek gimana?" tanya Aqis.



"Buat Aqis aja! Aqis bisa bobo di kamar aunty kalo Aqis mau," jawabnya mengambil toples berisi coklat dan jelly untuk Aqis dan memutar tutupnya agar terbuka.



"Jadi Aqis punya kamar 2?!" tanya Aqis berseru, dan Neta mengangguk cepat, "iya, bisa kan, Aqis jaga kamarnya aunty?!"



"Bisa!" ia tertawa menampilkan gigi-gigi susu yang belum tanggal sebagian.



Suara langkah kaki beberapa orang terdengar menapaki tangga, "wih, lumayan gede juga nih, luas!"

__ADS_1



"Iya, mas. Aku aja baru tau loh! Tinggal di sekat-sekat bisa jadi beberapa ruangan loh! Jadi pengen punya juga,"



"Heyoo bumil! Gimana nih si utunnya wawa?" tanya Syifa.



"Alhamdulillah baik. Cuma aku kayanya tambah gendut deh kak. Hamilnya kalo kata tetangga di gang senggol tuh hamil ke bo." adunya pada sang kakak dan ibu.



"Bagus itu. Ngga ngerasain morning sickness, jadinya nutrisi buat kamu sama calon cucu ibu terpenuhi," ibu menaruh beberapa rantang, kotak makan, dan paper bag berisi makanan yang dibawa. Neta meninggalkan Aqis yang asik nonton sambil ngemil lalu beranjak menghampiri ibu, "bawa apa aja bu, keliatannya banyak banget!" ia mulai celingukan melihat satu persatu barang bawaan ibu.



"Ini, liat aja. Kan katanya tetangga kamu mau pada dateng."



"Jaka mana Net?" tanya mas Syarif, sejak tadi pria ini berada di balkon, lebih tertarik melihat view sekitar dari sana, jalanan besar berada persis di depan ruko yang dibatasi oleh lahan beraspal cukup luas, akses keluar masuk perumahan yang ada di samping dan belakang deretan ruko.



"Udah pasti laku sih Net, kalo disini!" gumam mas Syarif menatap peluang bisnis.



"Jaka di kontrakan mas, ngambil barang yang ketinggalan, sekalian nanti kesininya bareng tetangga."



Syifa ikut tertarik dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu, ia ikut berjalan ke arah balkon, "usaha bareng yuk! Tapi apa ya?!" imbuhnya.



"Aku sih udah kepikiran pengen buka laundry kak. Tapi itu entar aja dulu, bengkel aja belum karuhan, baru mau mulai..." jawab Neta ikut melakukan apa yang keduanya lakukan. Mandangin view langit kota Jakarta dari atas balkon ruko kaya mandangin masa depan.



"Ide bagus tuh, disini belum ada. Mesti direalisasikan!"



"Jangan kelamaan, takut ada yang nyerobot. Orang jaman sekarang mah ada peluang dikit langsung sat-set." gumam Syarif.



"Plan buat ke depan mas, kalo lancar, insyaAllah aku bener-bener urus usaha aja disini bareng Jaka."



Tak perlu memakai rombongan angkot persis rombongan manasik haji, cukup dengan motor saja sudah sampai di ruko milik Neta hanya dengan memakan waktu 10-15 menit saja.


Beberapa motor berhenti di depan ruko, samping mobil mas Syarif dan Neta dengan barang bawaan yang cukup segambreng.


"Ini rumah elu, Jak?! Gede---gede!" angguk cing Anjar.


"Cing! Mpok!" panggil Neta dari balkon.


"Lah, itu si Sanet, cing!" ujar mpok Aya.


Jaka melirik sekilas dimana sudah ada mas Syarif dan kak Syifa di samping Neta, ia kemudian menggeser pintu garasi lipat yang menjadi penutup lantai satu, membiarkan semuanya masuk ke dalam.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2