
"Ck! Ya udah, ini karena kamu yang maksa loh, aku naik! Tapi jangan ngarep aku peluk-peluk atau maafin kamu! Aku masih marah ini!" ujarnya naik ke jok belakang. Jaka tersenyum tipis dengan ocehan manis Neta, istrinya itu...harus ia bilang apa? Manja? Gengsi? Yang pasti marahnya itu bikin greget sampe pengen ngandangin.
Sejurus kemudian tangannya memegang pinggang Jaka, sikapnya itu tak sesuai dengan ucapan, tidak konsisten. Jaka melipat bibirnya dan mendengus membuang kedutan di bibir.
"Denger ngga? Jangan malah cengengesan!" tembaknya sangar menarik daun telinga Jaka kaya narik duit.
"Iya neng, denger. Aku ngga berani ngarep. Kalo dipegang di peluk ya sukur, engga juga ngga akan maksa.." jawab Jaka setengah mencibir, Neta langsung menarik kedua tangannya dari pinggang si tuan datar dan melipatnya rapi-rapi di dada, tak ingin sampai nakal lagi menyentuh Jaka, enak aja! Keenakan di Jaka!
Tak ada kata lagi yang terucap dari mulut Neta sejak naik sampai kini tiba di depan kontrakan, dengan hentakan kaki khas bocil ngambek, wanita ini membuka pintu dengan sekali gebrakan kasar, persis aparat lagi grebek rumah juday. Rusak-rusak deh tuh pintu sekalian, biar dunia tau kalo Neta lagi marah.
Ia duduk bersila di karpet, bersidekap dada menunggu penjelasan Jaka, mirip jin botol...Jaka saja sampai tak kuat menahan tawa. Padahal tadi ia takut setengah gila kalau Neta akan ngamuk sampe ngacak-ngacak dagangan orang, atau lebih parahnya minta pulang ke rumah ibu mertuanya mirip judul lagu.
"Aku ngga tau neng, waktu awal ajuin proposal emang ketulisnya mau undang biduan. Tapi kukira bukan Alvi sama Irma, itu semua yang urus Opik sama Rohmat. Aku kan ngurusin pengajuan rumah sama kamu kemaren-kemaren."
"Tau ngga, laki-laki semua sama aja! Kalo dikasih ikan ya ngeong, itu tadi dia bilangnya kamu sampe minta-minta gitu?!" sengitnya, tanpa berniat menurunkan nada bicara yang terlampau ketus, mau sampe mulut Jaka berbusa pun Neta tetap mempertanyakan karena tak ada bukti. Ia merogoh ponselnya dan mendial nomor Opik dengan kedua mata yang tetap melihat istrinya.
"Kamu ke rumah saya sebentar. Jelasin sama istri, kenapa bisa sampe gini."
Neta hanya mendelik acuh melihatnya, wajah sumringah Alvi tadi seolah menjadi bayang-bayang dan tak mau pergi.
"Percuma aku jelasin, mau sampe jungkir balik pun, neng cantik ngga akan percaya. Makanya ku suruh Opik yang jelasin, salah neng sendiri tadi. Mau kubilang kamu istriku tapi kamu larang," balasnya kini beranjak mengambil minum.
Neta sebenarnya sudah biasa-biasa saja sekarang. Tapi hatinya itu loh, bawaannya pengen lampiasin amarah sama Jaka.
Jaka membuka kaosnya, lalu menyambar handuk, namun matanya tak sedetik pun beralih dari istrinya yang kini masih memberengut di karpet tanpa mau melihatnya. Tak tau saja Jaka, Neta itu sedang mengalihkan pandangan dari dosa ternikmat karena tak mau sampai luluh.
Lelaki itu harus digituin! Kalo engga nantinya dia berani nyeleweng! Prinsipnya teguh, tak tau prinsip yang datang dari mana?
Pesan masuk dari kak Syifa, survei ruko lusa. Kamu sama Jaka siap-siap aja nanti ditelfon pihak bank.
Opik menggaruk kepalanya, campuran dari efek belum mandi dan rasa bersalah. Duduk saja ia sengaja di gawang pintu, biar kalo diamuk Neta, ia tinggal kabur.
"Bang Opik kalo mau undang cewek heboh itu ngga usah bawa-bawa nama Jaka! Jangan ajak-ajak suami aku dagang minyak wangi!" sungutnya berapi-api.
"Minyak wangi?" Jaka dan Opik mengernyitkan dahinya.
"Iya, kaya lagunya si Ayu---biasanya tak pake minyak wangi, selingkuh!" jawab Neta. Opik hampir saja menyemburkan tawanya namun mengingat wajah sengak Neta dan datar Jaka membuatnya mengurungkan niatan untuk tertawa.
"Sorry deh Net, kebiasaan lama masih kebawa-bawa." Alasannya sambil nyengir kuda.
"Terus sekarang gimana Jak? Udah terlanjur diundang juga?" tanya Opik.
"Ya mau gimana lagi, kalo udah kaya gini." jawab Jaka kali ini tanpa solusi, dengan kata lain ia meng-acc Alvi dan Irma.
"Masukkin aku di acara puncak!" pinta Neta dengan cepat. Opik mengangguk dan tersenyum, "sip!"
"Neng, mau ngapain? Udah lah ngga usah." Kini Jaka yang tak terima.
"Kenapa? Kamu mau berduaan sama Alvi nanti, mau nyawer?!" tuduh Neta, tetap saja Alvi akan selalu jadi alat Neta untuk menggertak Jaka.
"Masih juga bahas Alvi, ini bukan soal Alvi tapi soal kamu," jawab Jaka duduk mendekati Neta.
__ADS_1
"Aku? Emangnya aku kenapa?! Aku mah sehat wal'afiat!" jawabnya polos.
"Aku ngga kasih,"
Opik yang awalnya menjadi tersangka kini jadi penonton sepasang suami istri ini berdebat. Kadang matanya beralih pada Jaka dengan wajah kalemnya namun nada bicara tegas pada Neta, kemudian beralih pada wanita cantik yang sejak tadi wajahnya itu ketus, manyun dan ngegas.
"Apa alasannya?"
"Kaki kamu masih sakit," alasan pertama Jaka beberkan.
"Engga," jawab Neta dengan segera nan ngeyel. Lalu tadi yang bilang kakinya masih sakit, sampe marah-marah karena tak dijemput oleh Jaka siapa? Tukang jamu?
"Aku ngga mau kamu joget-joget pake baju minim di depan orang," alasan kedua Jaka sebutkan.
"Aku nge-dj'nya pake mukena!" jawabnya. Opik tertawa renyah mendengar jawaban itu.
"Aku ngga mau kamu dicolek orang, apalagi disawer-sawer kaya biduan gitu..."
"Kalo gitu kamu yang sawer aku!" pungkasnya mengakhiri debat paslon dan ditutup dengan kekehan Opik.
"Aku cuma pengen nyumbang hiburan aja, ngga mau macem-macem! Ngga usah takut aku ngapa-ngapain. So! Bang Opik, masukkin aku ya..." Neta kini tersenyum manis, hilang sudah si donal bebek yang tadi.
"Oke, mau duet bareng Alvi atau solo aja?" tanya Opik memantik seruan penolakan Neta, "idih! Ogah, yang boneng aja! Aku sama dia? Ntar kalo Obama balik ke Indonesia buat dagang dodol!" jawabnya membuat Opik tergelak.
Jaka harus menghela nafas dalam-dalam, memang stelan perempuan dan lelaki itu berbeda termasuk mulut.
"Udeh Jak, kasih aja. Daripada kagak dapet jatah malem?! Kite jagain aja," bisik Opik. Jaka menoleh dan mendesis, "ini juga gara-gara kamu!"
"Ya udah, kalo gitu aku mau siap-siap kerja." Ia sudah beranjak dari duduknya ke arah kamar.
"Udah beres kan, sekarang gue balik lah! Belum mandi gue," pamitnya terkekeh.
"Ya udah sana! Pantesan dari tadi bau bang kee," usir Neta.
"Buset! Sadis," balas Opik.
__ADS_1
Terdengar gerobak Joko baru saja datang berjualan.
"Balik lu Jok?" sapa Opik seraya memakai sandal.
"Hooh."
"Joko, masih ada?" tanya Neta.
Joko mengangguk, "masih mbak. Tapi basonya tinggal 2, siomay sama tahu aci!"
"Ya udah deh boleh! Semuanya aja jadiin satu mangkok," jawab Neta.
"Bentar aku ambil dulu mangkok," ia kemudian berbalik badan.
"Mangkok saya aja mbak," sahut Joko membuka tutup dandang dan menguarkan asap berbau kaldu sapi.
"Jangan ah, pake punyaku aja. Suka lupa ngembaliin," wanita itu membungkuk membuka pintu lemari di dapur demi mengambil mangkok.
Melihat Neta yang sedang nung ging-nung ging, Jaka bertanya, "neng nyari apa?" kini ia sudah siap dengan seragam Shangri-la meski rambutnya tak seklimis dulu, Neta sudah memperbaiki style Jaka, katanya demi kesehatan matanya melihat rambut Jaka. Sadisss!
"Mangkok, aku mau beli baso Malang di Joko!"
"Bukannya neng habis makan?" tanya Jaka terheran-heran, sejak berhenti bekerja Neta lebih rakus, atau memang bawaannya kalo diam di rumah selalu pengen *gegares*.
"Ngga boleh nih?" alisnya menukik, namun tangannya sudah menengadah di depan Jaka, meminta uang jajan.
"Ya boleh, cuma aneh aja. Biasanya kamu jaga makan banget, takut gendut lah, kekenyangan lah," Jaka merogoh saku belakang celananya dan mendapati uang hijau.
Neta tersenyum menerimanya seraya mendekap mangkok, "mau ngga?"
"Engga. Masih kenyang," balas Jaka menggeleng.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1