
Setelah perawat benar-benar keluar hanya kesunyian yang dirasa, ia satu ruangan dengan seorang lainnya yang sama-sama pasien patah tulang. Beda dengan dirinya yang sendiri, ia ditemani oleh pihak keluarga.
"Hape gue inalillahi, sedih banget ya Allah..terus gue ngapain kalo udah kaya ini? Keluarga gue ada yang tau ngga ya,?" ia yang masih berbaring hanya bisa memejamkan matanya frustasi, harus kembali ingkar janji.
Abis gue! Jaka pasti ngira gue ngga serius minta maaf. Shanneta menelan salivanya berat.
Cup!
Merasakan keningnya ditempeli oleh sesuatu yang kenyal sepaket aroma memabukkan dan begitu ia kenali, Neta sontak membuka matanya. Bukannya senang ia malah mengerutkan dahi menjadi beberapa lipatan kemudian celingukan mirip orang amnesia, "ini tuh gue masih idup apa udah di surga?" tanya nya.
"Saravv njirr, orang begini mau masuk surga!" tawa Sandi di samping Jaka. Ada-ada saja dj somplak ini, mabuk iya, nakal iya, buka-buka aurat iya, pengen masuk surga yang boneng aja! Punya orang dalem apa gimana?!
"Bang Sandi?! Ah masa iya...dia masuk surga, orang banyak dosa kaya dia, becanda nih?!" ujarnya lagi.
"Hahaha, gov lok njirrr---" Sandi yang beberapa menit lalu hampir menangis meraung-raung di lantai koridor rumah sakit, nyatanya kini malah tertawa tergelak bak orang kurang se-ons.
"Neng cantik maunya dimana?" tanya Jaka, ia meneliti kondisi istrinya dari atas hingga kaki kanan yang terpasang gips, oke cukup buruk tapi ia wajib bersyukur.
"Alhamdulillah kamu baik-baik aja, maafin aku," Jaka meraih Shanneta, ya istri nakalnya itu yang masih berbalut pakaian sama dengan semalam dengan beberapa noda kotor da rah. Kini gadis itu yang menangis terisak di dekapan Jaka.
"Aku yang minta maaf, ngga minta ijin dulu sama kamu mau ambil kerjaan di Bali, biar bisa bikinin kamu bengkel tadinya aku mau bikin surprise ultah kamu," ucapnya sesenggukan.
Jaka semakin erat memeluk Shanneta, ia semakin dilanda rasa bersalah yang teramat. Sandi tersenyum melihat keduanya, "Jak, gue cari minum dulu deh keluar, kali aja bisa nemu minimarket 24 jam..." Sandi berniat memberikan privasi untuk Jaka dan Neta.
"Bang San, gue pengen coklat lah! Badan gue lemes banget butuh glukosa," pesannya selalu berbuntut menyebalkan.
"Iya," lelaki itu berlalu. Jaka menarik kursi dan duduk di samping ranjang Neta, sementara gadis itu mengusap jejak air matanya.
"Aku kira aku bakalan the end tadi subuh, tapi ternyata Allah masih kasih aku kesempatan."
Neta menarik rekam waktu di otaknya pada jam-jam menegangkan tadi.
Sebuah cahaya menyilaukan menyerang penglihatannya, rupanya Jason menyetir saat masih terpengaruh alkohol dan zat adiktif. Sebuah mini bus travel kosong dari arah berlawanan melaju sama-sama cepat tak terkendali.
Aaaaaaa!
Neta menyilangkan tangannya melindungi kepala saat tabrakan itu terjadi.
Brakkk!
__ADS_1
Namun volume dan laju kendaraan yang tak lebih besar membuat kendaraan yang ditumpangi ketiganya harus kalah adu banteng, hingga terseret puluhan meter dan terpelanting terbalik dengan badan depan yang sudah ringsek, Sretttt! Ckitttt! Cipratan api akibat pergesekan besi dan aspal saking cepatnya tercipta di jalanan.
Salahkan Neta, tak mematuhi peraturan lalu lintas atau justru harus bangga untuk pertama kalinya karena telah melanggar peraturan, dengan tak memakai seatbelt hingga badannya terantuk-antuk ke atap mobil dan nyungseb ke kolong, Grekkk! Badan mobil yang telah ringsek kini terpress sempurna menutup akses nya, hanya menyisakkan celah untuk sebelah kaki dan tangan yang tersangkut.
Tempat yang seharusnya posisi kaki kini malah dihuni oleh kepala dan badannya, sementara kaki dan tangannya terjepit setengah badan mobil atas yang sudah ringsek. Jason dan Alicia harus meregang nyawa saat itu juga saat tabrakan banteng terjadi.
Shanneta memang mendapatkan luka robekan karena terjepit, juga luka retakan tulang belikat dan patah tulang kaki, namun ia patut bersyukur karena masih diberikan hidup. Cairan kental merah mengucur dari luka robekan kaki dan membanjiri sebagian tubuhnya, belum lagi ia terjepit di kolong dengan bangku depan menghalangi akses keluar, menyulitkannya untuk menyelamatkan diri.
Alicia...gadis itu sudah tak bisa dikatakan lagi bentuknya, setelah ini Neta tak bisa janji dapat makan karena mengingat itu.
Warga hanya menemukan kaki dan tangan di bangku belakang, namun nyatanya ia bergerak meskipun badan tak terlihat karena terjepit mobil ringsek, dengan bahu membahu warga beserta kepolisian membantu mengevakuasi Neta, sampai alat-alat perkakas mereka gunakan demi membuka akses menyelamatkan Shanneta.
"Aku mau kamu berhenti bekerja dan diam di rumah. Itu sudah keputusan finalku," ucap Jaka tegas tak ingin kembali menelan rasa penyesalan lagi karena ia tak berani mengatakan keinginannya pada Shanneta.
Shanneta menoleh tanpa menjawab, hanya memandang Jaka nyalang nan getir.
"Aku mau neng cantik tetap aman di rumah, tidak usah cape cari uang sampe bergadang segala, sampe bikin kamu pergi jauh dari aku, masalah usaha...kita pikirkan sambil berjalan," ucapnya lagi.
Neta mengangguk, "kamu ada kasih tau ibu sama kak Syifa?" tanya Neta, Jaka menggelengkan kepalanya, "aku ngga sanggup kasih tau mereka sebelum memastikan kamu selamat."
Kejadian ini membuat keduanya sama-sama belajar jika keikhlasan dan keterbukaan itu hal penting dalam sebuah hubungan yang sedang dibangun.
"Jaka, aku mau pulang...aku mau di rawat di Jakarta aja. Disini kemahalan,"
"Biaya sudah ditanggung pihak keluarga Alicia," jawab Jaka.
"Hm, padahal aku udah janji kalo udah di Jakarta aku sama dia mau jalan bareng. Kasian tuh anak, maksain pengen nganterin aku, padahal udah ngantuk, aku bilang ngga usah...toh aku mau pesen taxi. Tapi mereka ngotot mau anterin aku," jelasnya sesenggukan.
"Udah gitu si Jason make-----huwakkkk!" ia malah menangis kencang karena tak kuat membayangkan pertemuan terakhir mereka dan kondisi mengenaskan yang terakhir Neta lihat. Jaka meraih kembali Neta layaknya mendekap anak kecil.
Neta masih terpejam tenang di kasurnya, mungkin dengan kejadian ini Allah ingin memberikannya sentilan dan pelajaran agar tak pecicilan dan pergi sesuka hati.
"Jadi gimana Jak? Soalnya gue ngga bisa terus disini...mesti ngurus Shangri-la," Sandi menyuapkan roti ke dalam mulutnya seraya mengobrol dengan Jaka di luar ruangan, se-kresek makanan dan minuman kemasan ia dapatkan setelah mencari minimarket 24 jam tadi.
__ADS_1
"Untuk saat ini, tidak mungkin memindahkan Shanneta ke Jakarta. Mungkin menunggu beberapa hari, sampai dokter bilang kondisinya memungkinkan untuk saya bawa pulang. Untuk itu saya mau minta cuti kerja, pak."
"Oh sip. Tenang aja!" jawabnya.
"Ya udah, kalo gitu baiknya. Gue bisa balik dengan lega sekarang," Sandi mengangguk-angguk tersenyum lebar seraya meminum kopi instan miliknya.
"Pak Sandi mau ambil penerbangan jam berapa ke Jakarta?" tanya Jaka mengambil sebotol kopi instan dari kresek yang dibeli Sandi.
"Besok pagi aja lah, sekarang kemaleman..oh iya, nanti bakalan ada polisi yang minta keterangan dari Neta, lo dampingin ya. Mereka juga nanti kasiin barang-barang Neta termasuk tas berisi dompet sama hape."
Jaka mengangguk menyimak. Keduanya memutuskan masuk ke dalam ruangan setelah dirasa cukup malam.
Sandi memilih istirahat di kursi pojokan ruang Neta meski tak bisa memejamkan matanya dengan benar. Sementara Jaka setia memandangi sang istri di sampingnya. Sesekali ia sentuh dan elus rambut, wajah juga tangan Neta dengan lembut.
"Aku ngga akan mengulangi kesalahan yang sama, dengan membiarkan kamu pergi lagi kemanapun."
.
.
.
.
.
__ADS_1