
...Genggam diriku dan sentuh hatiku...
...Shanneta Amber...
°°°°°°°°°
Ragu namun pasti kedua tangan itu melingkar di jaket Jaka, bukan jaket mahal atau baru namun sepertinya apapun yang Jaka pakai tak lagi menjadi bahan cibiran Neta. Dengan beraninya gadis itu menaruh dagunya di bahu Jaka, kok nyaman sih? Kenapa ngga dari kemarin-kemarin?
Kemanapun Jaka akan membawanya, Neta cuma bisa ngangguk kaya korban hipnotis, mau di bawa ke tebing terus di dorong pun sepertinya ia manut-manut saja.
"Kita mau kemana?" tanya Shanneta, dalam otak kegadisannya sudah memikirkan hal-hal indah nan romantis seperti cafe dengan band atau gelap-gelapan di bioskop, atau mungkin juga rooftop sambil liatin langit malam dan minum Champagne. Neta menggeleng, kalo untuk Champagne sudah pasti tidak mungkin, Jaka itu manusia anti barang haram, ya minimalnya soda atau susu jahe!
KOTA TUA??!!
Kawasan perkompleks'an gedung-gedung tempo dulu dengan beberapa museum ini sudah sering Shanneta datangi bahkan sejak TK. Bibirnya sedikit merengut, karena realita tak sesuai dengan ekspektasinya. Satu yang ia tau pasti, Jaka memang bukan lelaki romantis, fix! Udah ngga bisa nego!
Malam ini tidak terlalu ramai, mungkin karena ini hari Jum'at. Siapa juga yang mau ngapel atau wisata jum'at malam, yang ada tuh besok atau minggu...pasti penuh sama noni belanda dadakan, atau manusia silver yang lagi nyari duit dan tukang foto keliling.
"Kita mau ngapain kesini? Aku udah ngga sekolah. Ngga perlu belajar sejarah lagi!" cebiknya manyun, membuat Jaka tersenyum geli bila mendapati Shanneta yang manyun. Ia memarkirkan motornya lalu menarik tangan Neta.
"Mau jajan engga?" tawar Jaka.
Udara malam sedikit menyapu kulit dan anak rambut aromanis Neta yang ia gerai bebas. Sebenarnya Neta cukup tergerak untuk berohria, suasana malam dan siang di sini ternyata berbeda, dan perbedaannya cukup signifikan.
Cahaya lampu berpendaran dari bangunan sekitarnya, menjadi pelita di tengah gelapnya langit kota Batavia belum lagi cuaca yang tidak panas seperti saat siang terkesan sejuk mendukung suasana menjadi syahdu dan lebih in tim.
Riuh berisik suara manusia beradu dengan gemericik air mancur dan suara band di depan sana. Neta tak menolak atau berontak saat Jaka menggenggam dan menarik tangannya lembut, membuat kehangatan menjalar hingga ke hati.
Suara merdu khas band jalanan dengan alat musik lengkap menyapa pendengaran membuat stress dan penat hilang dari dalam diri.
# She's indecisive, she can't decide..
She keeps on lookin' from left to right..
Girl, come a bit closer, look in my eyes...
Searching is so wrong, I'm Mr. Right..
You seem like the type to love 'em and leave 'em...
And disappear right after this song,
So give me the night to show you, hold you,
Don't leave me out here dancing alone,
You can't make up your mind, mind, mind, mind, mind...
Please don't waste my time, time, time, time, time...
I'm not tryin' to rewind, ..wind, ..wind, ..wind, ..wind...
I wish our hearts could come together as one...
Reff: 'Cause shorty is a eenie meenie miney mo lover
__ADS_1
Shorty is a eenie meenie miney mo lover
Shorty is a eenie meenie miney mo lover
Shorty is a eenie meenie miney mo lover...
# Dia bimbang, dia tidak bisa memutuskan...
Dia terus saja melihat dari kiri ke kanan...
Sayang mendekatlah sedikit, lihatlah ke dalam mataku...
Tidak perlu mencari lagi, akulah lelaki yang tepat untukmu,
Kau terlihat seperti tipe yang mencintai lalu meninggalkan mereka,
Dan menghilang tepat setelah lagu ini....
Jadi berikan aku satu malam untuk menunjukkan padamu, memelukmu,
Jangan tinggalkan aku disini menari sendirian...
Kau tak bisa mengambil keputusan,
Tolong jangan buang-buang waktuku,
Aku tidak mencoba mengulang waktu,
Aku harap hati kita bisa bersatu....
Reff: Karena sayangku suka memilih-milih kekasih
Aliran darah Shanneta seolah mengalir deras menyebabkan pompaan darah ke jantung begitu cepat hingga ia berdetak begitu kencang, ia menoleh pada Jaka bersama pupil mata Jaka yang juga mengunci pandangan Neta.
🎶 Let me show you what you're missin', paradise....
With me you're winning, girl..you don't have to roll the dice.....
(Biar aku tunjukkan apa yang kau rindukkan, surga...
Denganku kaulah pemenangnya, sayang, kau tidak perlu lagi bertaruh)
Seolah malam itu dunia hanya tercipta untuk keduanya, mendadak riuh berisik di sekitar taman Fatahillah ini hilang di pendengaran, hanya tatapan dan suara detakan jantung masing-masing saja yang sedang bicara saat ini, apakah mungkin ini yang namanya cinta? Bukan seorang CEO atau manager yang menghantarkannya pada Shanneta, manusia tak akan bisa memilih jodoh yang telah Allah siapkan untuknya.
Tangan besar dan kasar itu membawa anak rambut yang membelai kulit mulus Neta ke belakang telinganya, "mau jajan kerak telor?" Jaka menawarinya, membuat moment syahdu itu, sepasang mata bening Neta mengerjap
"Sama bir pletok ya, atau selendang mayang!" pintanya berseru layaknya anak kecil yang sedang meminta jajan. Jaka tersenyum, "boleh.."
Gadis dengan celana jeans dan kaos yang dilapisi sweeter ini berjongkok lucu di depan seorang paruh baya penjual kerak telor menunggu pesanannya dimasak. Sementara Jaka duduk di kursi plastik yang sudah disediakan oleh penjual yang usianya sudah lanjut ini.
Mereka bukan lagi sedang berada di taman Fatahillah, Jaka tidak membawa Neta jajan di area lokbin UMKM (lokasi binaan) apalagi cafe mahal yang ada disana. Melainkan melipir ke jalanan dekat stasiun.
"Kong jualan disini udah lama?" tanya Neta bertanya, kemudian fokusnya kembali menatap penganan khas betawi yang kini tengah dikipasi oleh si engkong. Aroma harumnya yang khas menusuk hidung membuat perutnya otomatis memberikan sinyal lapar.
"Ude neng, dari taonnn berapa ya? Ampe lupa!" kekehnya tertawa.
__ADS_1
"Yang atu telor bebek kan ya?" tanya nya diangguki Neta dengan cepat.
"Kong, kalo dagang ampe jam berapa?" sepertinya gadis ini berbakat jadi tukang sensus, kebanyakan nanya!
Dua porsi kerak telor sudah tersaji di piring plastik, "uhh panas!" Neta mengibaskan tangan dan meniupinya.
Jaka me-*motek* bagian kerak telor miliknya dan menyisihkan ke pinggiran agar cepat dingin, lalu bagian kecil itu ia sodorkan ke arah mulut Neta, Neta cukup terkejut dan memundurkan wajahnya tapi kemudian ia melahap itu membuat jemari Jaka menyentuh bibir kenyalnya.
Ia mengunyah sambil tersenyum gemas, "emhhh...enak!"
Neta melakukan hal yang sama kali ini, "cobain punyaku, yang pake telor bebek...padahal tadinya kalo ada aku maunya pake telor buaya!" kelakar Neta tertawa renyah.
"Ngaco," jawab Jaka.
Satu potongan kecil berada tepat di depan mulut Jaka, lelaki itu menerima suapan dari tangan Neta, dan percayalah suapan kerak telor itu adalah makanan kedua terenak yang pernah dicoba Jaka selama hidupnya setelah suapan dari tangan ibu.
"Gimana enak?" tanya Neta.
Jaka mengunyahnya, "sama aja."
"Yeeee...nanya sama kamu mah ngga asik!" cebik Neta kembali memotek miliknya untuk dirinya sendiri.
"Jaka aku aus..."
.
.
.
.
Noted :
__ADS_1
\*me-motek: mengambil sebagian kecil.