Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB 29. TAK ADA KOORDINASI


__ADS_3

Pudin mengetuk pintu kontrakan Jaka.


"Mpok Sanet! Mpok!"


Suara remaja smp itu serak-serak becek kaya Ariel Noah, mungkin karena sudah masuk usia pubertas.


"Iya sebentar," Shanneta memandangi hasil maha karyanya yang pertama, nasi putih! Ia tertawa-tawa bangga, besok-besok biar ia saja yang menanak.


"Gampang banget ya Allah ternyata masak nasi!" gumamnya shom bongg!


Saking besarnya rasa bangga di diri Neta, pintu kontrakan saja ia angkat cuma dengan kekuatan seperdelapan tenaganya, kecil! The power of succes ya begini nih, bikin hati bahagia apapun yang akan dilakukan berasa semudah garuk-garuk bentol.


Wajah ex anak bau kencur bau matahari yang jakunnya sudah tumbuh dan dadhanya mulai bidang menyapa pandangan mata.


"Kenapa Din?" tanya Neta.


"Ada yang nanyain kontrakan bang Jaka. Tukang paket..." tunjuk Pudin ke arah 2 orang lelaki yang sedang menggotong satu buah matras tebal nan empuk seraya mengangguk ke arah Neta.


"Mpok sama bang Jaka beli kasur?" tanya Pudin.


"Oh!" Neta berseru, "udah sampe ya, sini mas bawa sini! Kok ngga telfon saya dulu sih mas," pinta Neta melambaikan tangannya pada kedua orang di belakang Pudin.


"Tadi sudah telfon tapi ngga diangkat," jawab salah satunya. Untung saja mereka bertemu dengan pemuda ini yang baru pulang dari sekolah.


"Oh, iya kah? Berarti saya lagi di kamar mandi kayanya, ya udah...bisa minta tolong dimasukkin ngga mas?" pinta Neta diangguki keduanya, ingat! Pelanggan adalah raja.


"Makasih ya Din," ucap Neta, diangguki Pudin.


"Sama-sama, kalo gitu Pudin balik deh mpok.." ia berlalu, hanya terhalang satu rumah kontrakan saja dari kontrakan Jaka.


"Beli apaan Net?" mpok Aya yang mendengar keributan, langsung keluar...memang susah jika hidup diantara pemukiman padat begini, beli apa-apa tuh tetangga pasti tau, mau itu barang mahal sampe terasi murah pun tetangga maha tau. Kecuali kalo Neta beli tuyul!


"Kasur mpok," jawab Neta.


"Tuh nyak! Beli kasur kaya mpok Neta dong nyak! Empuk, gede, bikin tidur nyenyak," tunjuk Pudin.


"Iya entar, ngomong-ngomong kenape lu dah balik?"


"Gurunya rapat!" jawab Pudin.


Cing Anjar ikut keluar, memang jam-jam menuju siang begini tuh jamnya emak-emak masih pada seger, "penganten baru, kasurnya mesti yang tahan banting ya Net...si Jaka lagi panas-panasnya iye ngga? Ngga ape-ape lah kejar setoran biar cepet melendung!" wanita paruh baya itu menaik turunkan alisnya membuat Neta untuk pertama kalinya bersemu merah, malu.


Mpok Aya tertawa, "panas, emangnya begituan diatas kompor! Cing Anjar nih ngaco ah!"


"Apanya nyak yang panas?" tanya Pudin, remaja ini mengerutkan dahinya membuat Neta semakin tak nyaman dengan obrolan ini.


Cing Anjar tertawa sementara mpok Aya mendesis, "belum waktunya elu tau! Masuk, ganti baju lu..."


"Cing, mpok...saya masuk dulu ya..."



Neta tersenyum dan melihat-lihat kasur barunya yang ditaruh bersandar di dinding ruangan.



Tangannya terulur menyentuh benda yang masih tersegel dan terplastik rapi, melintas di pikirannya obrolan mpok Aya dan cing Anjar barusan membuat wajahnya kembali bersemu merah dan ketawa-tiwi sendiri.



"Gila kali ya, gue mikirin adegan kaya begituan! Idihhhh, geli sendiri...gue belum siap!" gidiknya ngeri. Ia tak berpikir sejauh itu dengan siapapun bahkan dengan Jaka, bayangannya akan indahnya malam pertama atau hubungan yang lebih in tim seakan masih abu-abu, atau bahkan gelap?! Ia masih dalam tahap menerima kenyataan, mencoba menerima rasa yang Allah berikan untuk mengalir di palung hati hingga ke jiwa, belum sejauh seperti obrolan cing Anjar dan mpok Aya apalagi sampai memiliki anak, NO! Ia belum, bahkan tak siap untuk memiliki seorang keturunan.



Neta mengenyahkan pikiran-pikiran yang membuatnya bergidik geli itu, "gue periksa dulu kali ya...dicoba!" Neta mengambil gunting dan menarik kasur itu hingga kini benda besar tempat untuk terlelap itu kini menggelar memenuhi ruang depan, untung saja tidak menimpa meja dan televisi.


__ADS_1


°°°°°°


Jaka mengelap kedua tangannya, "Balik ah! Lapar gue Jak," Opik yang terbiasa istirahat di bengkel kini memutuskan untuk pulang dan makan di rumah, karena kebetulan sang ibu memasak semur jengkol kesukaannya di rumah.



Ci Olin menempelkan papan nama di pintu depan bengkel.



...***Sedang istirahat***...



Jaka dan Opik berpisah di persimpangan dekat gang rumah Jaka, tidak sepertinya yang anak rantau dan harus mengontrak rumah. Opik lebih beruntung masih tinggal di rumah kedua orangtuanya, meskipun harus direweli oleh ibunya yang banyak menuntut, namanya juga emak-emak, kepingin anaknya lebih baik.



Motor yang dilajukan Jaka melewati gang senggol dan beberapa rumah tetangganya, hingga berakhir di lapangan tepat depan kontrakannya.



"Cie, Jak! Panas ya, ampe kasur ganti?!" kelakar cing Anjar ditertawai mpok Aya, "diem nape cing, palanya jangan goyang-goyang...gue susah nyabut uban lu,"



Terang saja Jaka mengernyit, "panas? Kasur?" ia turun dari motornya sambil mengangguk singkat, "masuk dulu cing, mpok."



Ada apa? Rasanya rumah baru ia tinggalkan 2 jam saja tapi sudah bikin kehebohan baru, ulah apa lagi yang dibuat istrinya sekarang?



Dengan menenteng kresek berisi lauk nasi, Jaka masuk ke dalam kontrakan.




"Sha! Shanneta!" Jaka berteriak memanggil.



"Buka pintunya!" Jaka mengetuk pintu.



"Sebentar! Ini aku susah angkatnya," jawab Neta.



"Angkat apa?"



"Jaka tolongin aku, kasurnya jatoh, ngalangin pintu...aku ngga bisa angkatnya! Berat," teriaknya lagi.



"Kasur?" tanya nya.



"Aku beli kasur tadi. Terus aku periksa, aku jatohin ke bawah eh, ternyata menuhin ruang depan, mau kuangkat tapi berat...sebentar! Bantuin aku Jaka!" suaranya seperti orang lagi ngeden dan kepayahan.


__ADS_1


Begini nih! Jika membeli tanpa koordinasi terlebih dahulu, bikin repot, mana ruangannya kecil!



"Terus aku mau masuk lewat mana?" Jaka bertanya membuat Neta ikut berpikir, tapi sedetik kemudian keduanya menghampiri jendela, rupanya Neta dan Jaka memiliki ide yang sama.



Baru Jaka menunduk akan membuka jendela, Neta sudah mendorongnya keluar.



*Brakkk*!



*Dughhh*!



"Aww!"



"Astaga Jakaaa!"



"Apaan tuh?!" Mpok Aya dan Cing Anjar sampai terjengkat kaget mendengar suara keras itu.



Jaka yang terpundur karena kejedot keras mengusap kening bagian atasnya.



"Ha-ha-ha!" Neta tertawa, "sorry-sorry! Aduhhh suami gue kejedot!" tapi ia tak hentinya tertawa diatas kesakitan Jaka.



"Kamu ngga aba-aba dulu mau buka jendela," keluh Jaka mengaduh dan meringis, lumayan bikin kleyengan dan cenat-cenut.



"Kamu juga ngga bilang lagi jongkok disitu, jadi kan aku dorong aja!" belanya.



Jaka menghampiri gawang jendela dan langsung masuk, melangkahi begitu saja seperti maling.



"Sini aku liat! Ya Allah...merahnya, benjol ngga tuh?!" tawanya masih saja bergema, tangannya terulur menarik kepala Jaka dan meniupi kening Jaka penuh kelembutan.



Di balik rasa kesakitan itu secara tak sadar, Neta sudah mengakui bahwa Jaka adalah suaminya...ada rasa sayang yang tak ia ungkapkan saat melihat Jaka merasa sakit.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2