
Neta duduk manis dengan rambut yang masih basah di kursi rias, jika ingat peristiwa bersejarah semalam rasanya jadi ingin mengubur diri di bawah pondasi rumah saking memalukannya dirinya tadi malam atau menanam diri di halaman bersama pohon jambu air milik ibu.
Ia mengoleskan salep di bekas luka jahitan akibat robekan dan juga bekas operasi pemasangan pen, akhir-akhir ini luka yang hampir mengering itu gatal.
Masih anteng ia mengusap area kaki, sebelum akhirnya Jaka merebut salep di tangan Neta dan membantunya mengoleskan di area tulang belikat.
"Sini aku olesin, dibuka dulu sebelah bajunya neng---" pinta Jaka.
Ketika Neta menurunkan sebelah pundak dressnya, kulit putih yang semalam ia jelajahi itu kembali melambai menampakkan bahu semulus sutra meski nampak olehnya bekas sayatan operasi pemasangan pen di area belikat membentuk luka horizontal beberapa cm.
Gleuk! Jaka kembali menelan saliva sulit. Kini godaan itu terasa di ujung bibirnya, rasa semalam yang tak tergantikan dengan rasa nikmat apapun di dunia.
"Masih gatel?" tanya Jaka mengalihkan perhatian mata mesumnya diangguki Neta, "gatel banget, pengen garuk! Makanya pake salep. Nanti juga tolong beliin aku salep buat ngilangin bekas lukanya, masa kulitku sekarang codet-codet, ngga mulus lagi?!"
Jaka hanya bisa menyunggingkan senyuman mendengar keluhan menggerutu Neta.
"Ngga perlu arm sling lagi atuh kalo emang udah ngga sakit mah, nanti tangannya jadi susah gerak kalo kelamaan kaku..." ujarnya memberikan saran bak dokter pribadi Neta.
"Coba belajar jalan, luka bekas jahitan juga udah ampir kering semua kan," Kini Jaka berlutut di depan Neta untuk mengoleskan di bagian kaki putih istrinya. Sementara Neta menarik bagian lengan dress rumahan yang dipakai dan mengancingkannya kembali.
"Iya, aku tuh bosen udah semingguan ngga bisa ngapa-ngapain. Aku pengen bisa ke mall lagi, atau cuma sekedar ke Sangri-la."
Jaka menaikkan alisnya sebelah, "mau ngapain ke Shangri-la?" jujur saja ia lebih suka Shanneta seperti ini, memakai dress rumahan dan sendal jepit menunggunya di rumah ketimbang Neta dengan pakaian minim berjoget sambil memutar panel dj di depan umum menghibur mereka yang memiliki kepenatan hidup. Ia tak rela miliknya dilihat banyak orang, apalagi mata lelaki.
"Aku cuma mau main aja aa, lagian aku belum bilang apapun sama bang Sandi atau Wening. Masa aku ngga pamit atau bilang makasih, kaya ayam aja main nyelonong keluar..." cubit Neta gemas di pipi Jaka yang jauh dari kata chubby dengan senyuman gemas.
"Ya udah kalo gitu, mau ke bawah buat sarapan?" ajaknya mengulurkan tangan dan disambut hangat oleh kedua tangan Neta.
Dengan perlahan dan sangat hati-hati Jaka membantu Neta untuk menjejakkan kaki di lantai, "jangan terlalu dipaksain, sedikit-sedikit aja dulu."
Neta tengah duduk di sofa seraya menonton acara pagi dan ngemil saat Jaka memilih membantu ibu Nilam menyirami tanaman di halaman sekaligus mengurus si red jazzy agar selalu tampak bersih, terawat dan cantik kaya yang punya. Terakhir Neta membawanya ke car wash itu sebelum ia menikah dengan Jaka.
Masih terdengar sayup-sayup suara Jaka mengobrol dengan ibu yang membicarakan tanaman jambu air dan mangga gedong milik ibu. Siraman air dari selang menghujani pepohonan hingga tampak butiran air segar diatas dedaunan. Jangankan manusia, tanaman saja dirawat oleh Jaka hingga nampak segar...
Berkali-kali ibu berohria dengan ucapan Jaka sesekali ia juga tertawa, sepertinya seru sekali obrolan mertua vs menantu di depan sana, membuat Neta mematikan televisi dan segera beranjak ingin bergabung. Tapi sebelum ia benar-benar berdiri, ponsel yang sempat Jaka taruh di dekatnya bergetar berkali-kali.
Awalnya Neta hanya mengejek melihat penampakan ponsel butut yang jelas berbeda jauh dengan miliknya, ia tampak jadul dan retak, "harusnya dimuseumin nih hape, ganti kek layar kacanya, bahaya kalo gini, ntar kegores kena tangan!" cibirnya.
"Hape legend," tawanya renyah.
Tapi Neta tak bisa untuk tak penasaran dengan pesan yang masuk. Meski ia bukan manusia usil yang selalu penasaran dengan urusan orang lain, setidaknya jiwa perempuannya penasaran dengan siapa yang mengirim suaminya pesan dan apa isinya.
"Dosa ngga ya?" tanya nya bergumam menimbang-nimbang.
Kemudian ia mencebik dan menepis udara, "ah, dosa tuh kalo ketauan!"
Masih dengan lengkungan bibir yang mencibir, ia meraih ponsel milik Jaka dan menyalakannya meski akhirnya ia harus kecewa karena layar ponsel terkunci.
Tak menyerah ia menggeser layar hingga menampakkan notifikasi, setidaknya ia tau siapa yang berkirim pesan dan sedikit isi pesan.
**20 pesan belum dibaca**
***TARKA RW09***
*18 pesan*
***Ci Oline***
*2 pesan*
__ADS_1
Telunjuknya kembali menggeser kedua icon diatas, tak ada hal penting selain dari obrolan anak-anak Tarka yang sedang bercanda seraya menanyakan pertemuan, lalu ia menggeser pesan dari Ci Oline.
Alis Neta mengernyit membaca tiap katanya,
\**mau casbon berapa lu Jak*?
\**Ntar baliknya aja, gue ambil duit ke atm dulu*.
"Jaka casbon? Buat apa?" gumamnya heran. Ternyata begini rasanya Jaka saat waktu lalu ia memutuskan keputusan sendiri tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu, kesel-kesel pengen makan orang.
Tapi kemudian aksi kepo'ismenya dikejutkan Jaka saat ja masuk hendak mengambil kunci mobil untuk ia panaskan.
"Siapa neng?"
"Copot!" ujarnya refleks, hampir saja ia menjatuhkan ponsel legend milik Jaka, ketauan ngintipin hape orang.
Ia langsung menyodorkan ponsel pada pemiliknya dengan wajah angkuhnya demi menutupi rasa malu, "kamu minta kasbon sama ci Oline?" tanya nya to the point.
Jaka mengangguk, "iya."
"Buat apa?" alisnya langsung terangkat, nada bicaranya aga meninggi. Rasanya kalo kesal ditahan itu tak enak.
"Buat bayar kontrakan bulan ini," jawabnya melihat ponsel dan kemungkinan kini ia sedang membalas pesan dari ci Olin.
"Berapa sih, sampe harus casbon segala?" tanya nya mulai meradang dan kembali menghempaskan pan tat di sofa, merendahkan posisinya dari Jaka.
"Kamu udah bales w.a'nya ci Olin?"
"Ini, udah." Jaka menunjukkan ponselnya ke arah Neta.
"Kenapa ngga ngomong ke aku dulu, udah batalin aja!" tembaknya tak setuju.
"Kamu tuh apa-apa dibebanin ke diri sendiri," kembali ia berujar tak setuju.
"Jangan dibudayain casbon gitu, aku ngga suka! Aku tuh istri kamu apa bukan sih, katanya kamu ngga suka aku ambil keputusan sepihak, tapi kamu ngajarinnya kaya gitu?!" gerutunya jelas tak suka dengan sikap Jaka yang selalu mengemban beban seorang diri bak *Atlas*, yang menopang bumi di pundaknya sendiri.
"Batalin!" titahnya tak mau tau.
"Uang kamu simpen aja buat nanti ke depannya. Tenang aja neng, gajiku masih ada, belum gaji Shangri-la... Aku bisa handle ini," sungguh Jaka bisa menghandle ini semua tanpa harus memakai uang Neta. Ini hanya hal kecil menurutnya yang sudah biasa terjadi di selama fase hidupnya.
"Simpen buat apa, kalo giliran ada kepepet kamu malah nyuruh simpen. Dikira bakalan bertelor tuh duit?" kini ia bertambah kesal. Sadar jika Neta sedang kesal, ia meraih kedua bahu Neta, "neng cantik jangan marah, ini udah biasa buat aku. Janji bulan depan ngga gini, cuma bulan sekarang kan lagi kena musibah, uang tabunganku ngga cukup buat nutup itu."
"Iya karena kamu bilang hal biasa, jadi kusebut itu budaya." Jawab Neta yang jelas memiliki pikiran dan prinsip berbeda dari Jaka. Menyatukan dua pikiran, karakter dan prinsip memang membutuhkan hati lapang, sama-sama mengerti dan memahami, itulah sebuah ikatan pernikahan.
__ADS_1
"Ya udah gini aja, kamu batalin casbon ke ci Olin, nanti pake dulu uangku. Itung-itung kamu lagi pinjem ke aku?!" opsi yang Neta berikan kali ini membuat Jaka berpikir.
"Berapa?" tembaknya lagi.
Sepeninggal Jaka bekerja, Neta hanya menikmati hari seraya menemani ibu di rumah. Jika dulu ia akan bepergian ke mall, maka sekarang ia lebih memilih diam sambil ngomongin resep masakan. Hingga akhirnya mas Syarif pulang dengan si kecil Aqis.
"Nenek!" teriaknya berlari masuk ke rumah membawa serta sesuatu yang ia beli dari sekolahnya.
"Assalamu'alaikum," Syarif masuk ke dalam rumah.
"Asik, Aqis bawa apa tuh?!" Neta ikut menyahut.
"Kelomang aunty, liat nih!" bocah itu menunjukkan kelomang yang cangkangnya sudah dicat warna-warni menyerupai tokoh kartun bersama rumah-rumahan dari kardusnya.
"Ya ampun! Kasian amat nih kelomang di cat jadi si patrick begini?! Fix ini orang ngga ada akhlak!" Neta tertawa sekaligus miris melihatnya.
"Namanya juga cari uang," kekeh mas Syarif melewati keduanya.
"Bagus kan aunty?! Ada spongebob juga loh!" bocah itu duduk melantai di bawah mengeluarkan kedua kelomang yang sudah ia beli di lantai rumah dengan perlahan agar keduanya mau berjalan. Dan benar saja kedua kelomang itu perlahan keluar dari dalam cangkang dan bergerak membuat seruan Aqis menggema dan kemudian seketika ia masuk kembali, "yaaaa!"
"Balapan kelomang yuk aunty!" ajak Aqis.
"Boleh, aunty yang patrick! Kelomang aunty namanya barokah!" jawab Neta, ditertawai Aqis. Begitupun mas Syarif dan ibu yang mendengarnya.
"Dasar istri durhakim," gumam Syarif masih terkekeh.
"Masa Barokah, Richard kek...William kek, atau Ken gitu?!" usul Aqis memberikan opsi.
"Enggak ah, jelek itu! Bagusan Barokah! Biar hidup si kelomang nya berkah," balas Neta jumawa.
"Seterah aunty lah, oke siap ya! Dari sini garis startnya!" ucap Aqis menaruh kelomangnya di garis yang sudah ditentukan.
"Oke, finish'nya disitu ya?!" tunjuk Neta.
"Oke!" jawab Aqis tetap fokus pada kelomang miliknya.
"Siap! Satu, dua tiga!"
"Ayo William!" seru Aqis, bocah itu menghembuskan nafas dari mulutnya ke cangkang membuat kelomang itu bergerak mengeluarkan kaki dan capitnya.
"Go Barokah go!" seru Neta mengecup cangkang dan menghembuskan nafasnya meniru Aqis, pingsan-pingsan deh tuh kelomang kebauan.
Ibu tak bisa untuk tak tertawa dengan kelakuan Neta dan Aqis, kehadiran Neta memang selalu memantik tawa dan keseruan.
Bosan dengan kelomang Aqis, Neta beranjak perlahan ke arah meja makan, bergabung dengan mas Syarif yang tengah duduk menikmati bakwan dan segelas jus.
"Mau kemana?" Syarif mencoba membantu namun Neta menggeleng, "tenang mas, aku bisa kok."
Ia kemudian duduk di kursi yang paling dekat, "mas, aku mau nanya deh!"
"Nanya apa?"
"Mas tau ngga harga ruko sekarang berapa?"
Syarif menjeda kunyahannya dan melihat Neta sejenak, "kamu mau beli ruko?"
"Aku pengen bikin tempat usaha sih, tapi kalo sekalian bisa ditinggalin why not?" jelas Neta begitu visioner, menatap hidupnya jauh depan.
Syarif menghela nafasnya mencoba mencari tau di otak cerdasnya, "kalo ngga salah ada tuh yang murah harganya 400an, di daerah Jaktim."
"Tapi aku tuh bingung mas, uang aku pas-pasan belum lagi aku tuh mau buka usaha bengkel buat Jaka, biar dia kerja lebih leluasa di rumah..."
"Cocok tuh!" sahut ibu.
"Apa aku jual si red jazzy aja ya mas, tapi aku udah sayang banget. Mana belinya pake hasil jerih payah lagi!" jelas Neta dengan raut wajah bingung.
"Jangan dong!" timpal ibu.
"Tuh, kalo mau jual aja alat dj kamu yang malah ditaro di kamar ngga kepake," tunjuk ibu tak suka.
"Idih, jangan dong. Kenang-kenangan, lagian kalo dijual ngga akan seberapa bu," balas Neta.
"Kenapa ngga coba ambil kpr aja?" usul Syarif, seketika Neta dan ibu diam.
"Kakak kamu kan di bank, bisalah diurusin... Ruko dapet, uang tabungan kamu buat modal alat-alat, masalah terpecahkan. Tapi ngobrol dulu sama Jaka deh, baiknya gimana," lanjutnya.
.
.
.
__ADS_1
.
.