
Selain dari mengikuti upacara di kantor kecamatan, Jaka bersama perwakilan Tarka lain menyerahkan menyerahkan daftar pemenang lomba ke kantor kelurahan. Belum lagi sibuk mengantarkan beberapa tampah tumpeng hasil kreasi para rt, rw setempat untuk diikut sertakan lomba.
Hingga akhirnya siang menjelang, lomba panjat pinang dilaksanakan, sebuah lapang di RT 03 menjadi tempat dilaksanakannya lomba beserta panggung kreasi dan hiburan rakyat.
"Shanneta tampil jam berapa?" tanya Jaka pada Dwi selaku penyusun acara.
Gadis itu melihat papan dada di tangannya, dan menyusuri rangkaian acara hari ini, "mpok Shanneta jam terakhir, kan dj kan ya kang? Otomatis harus malem bareng dangdut,"
"Jangan terlalu malam Wi, soalnya lagi hamil."
Dwi cukup terjengkat dengan jawaban Jaka, "oh, mpok Shannet hamil kang? Wah, selamat kang! Calon papa dong?!"
"Alhamdulillah, makasih."
"Kang, emang beneran ya istri kang Jaka, DJ?" tanya Dwi yang memang tak pernah mengenal artis-artis DJ.
Jaka mengangguk, "wah! Seru kang, selama ini kan belum pernah manggil genre lain selain dangdut sama pop kalo ada acara," jawabnya antusias.
"Mpok!"
"Mpok Sanet!"
Pudin sudah bersama Sinai dan Opik.
"Net, jadi kagak nih?"
"Bentar!"
Yang keluar dari kontrakan ternyata bukan Shanneta, melainkan mpok Aya.
"Bentaran napa, lagi dandan!"
Pudin cukup terkejut dengan ibunya yang ada disana, "enyak?! Masya Allah, nyak ngapain dimari? Mana dandan ngalahin biduan dangdut?!"
Sinai dan Opik tergelak mendengar pengakuan Pudin, "biarin napa Din, biar baba lu makin kesemsem,"
"Gue sama yang lain kan mau ikut nonton dangdut!" lanjutnya membuat Pudin menggaruk tengkuknya tak gatal, emak-emak ngga mau ketinggalan.
Tak lama keluar tante Hana dan cing Anjar, sementara nyak Epi tak jadi ikut karena acaranya terlalu malam untuknya yang notabenenya sudah terlalu tua untuk datang ke acara itu. Ia lebih memilih mendukung Neta dengan do'a saja.
"Yuk!" Neta keluar, "Din, bang Opik bawain panel dj sama laptopku dong!"
__ADS_1
Sinai bahkan tak berkedip melihat Neta, "mpok, anjayyyy! Fix yang lain lewat!"
"Kita guncangkan dunia!" tawa Neta mempersilahkan Opik, Pudin dan Sinai untuk masuk ke dalam rumah.
"Kita pake apaan nih mpok bawanya?"
"Pake gerobak! Ya mobil lah," jawabnya.
Sinai dan Pudin terpaksa naik motor mengikuti si jazzy dari belakang karena ketiga emak ini ikut, tak lupa tante Hana yang membawa Julian.
"Fix, ini udah kaya ngiringin artis papan atas mau manggung!" tawa Sinai, gadis seumuran Pudin itu tak habis pikir dengan jodoh Jaka yang hoki.
Suasana malam semakin ramai setelah pengumuman dan pemberian hadiah, Alvi dan Irma bahkan sudah bersiap di belakang panggung bersama kru band.
Pakaian ciri khas biduan seksii melekat di badan keduanya, baju pesta blink-blink berwarna merah dengan belahan di pinggir sampai pa ha terkesan bikin hor ny para kaum adam, belum lagi sepatu hak tinggi yang bikin lantai panggung menjerit-jerit karena merasa ditusuk.
Dempulan tebal di wajah ngalahin ketebalan lapisan ozon. Baju belakang punggungnya bolong mirip sundel bolong dengan celah di depan belahan dada kayanya sengaja biar yang nyawer bisa langsung nyelipin uangnya kesitu.
"Wew rame nya!"
Tak jarang warga luar kampung ikut datang jika tau bintang tamunya adalah biduan ternama. Euforia semakin terasa saat terdengar Dwi dan Okie membuka acara. Dari sudut lain Rahma tersenyum miring nan kecut melihat Alvi berulang kali menjatuhkan pandangan ke arah ketua Tarka termasuk sikapnya yang caper.
Jaka sedang mengecek pengamanan bersama para hansip dan pol PP, "aman kan pak?"
Bukan tidak menutup mata, acara-acara begini selalu dimasuki oleh warga yang datang sambil minum minuman keras dan ngobat.
"Kang Jaka, sukses lah! Taun depan mah adain lagi aja, kang! Saya sponsori!" ujar pak camat saat Jaka berjalan mendekat, Jaka hanya mengulas senyuman, "insyaAllah pak, kalau saya masih ada niatan menjabat. Rencananya saya mau ngundurin diri dari ketua Tarka."
Pak Lurah mengerutkan dahinya, "loh kenapa kang?"
"Kasih kesempatan buat yang lain pak. Yang lebih mumpuni, ditambah, mulai minggu depan insyaAllah saya sudah pindah rumah pak,"
"Wah, sayang kang. Mau pindah kemana kang?"
"Ah, masih deket sini, pak. Tapi emang udah ngga di rt 5 lagi, di perumahan Edelweis, insya Allah mau buka usaha sendiri pak,"
"Bengkel?" tanya pak Lurah menebak.
"Iya pak."
"Alhamdulillah, yang penting mah semangat, bismillah kang. Next lah saya mau jadi langgan kang Jaka!" balas pak Lurah membuat Jaka semakin mengembangkan senyumannya, belum apa-apa ia sudah mendapatkan dukungan.
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran sebuah mobil jazzy merah, pasalnya di sini...yang datang menggunakan mobil hanya pak camat, pak Lurah saja datang menggunakan motor. Banteran ada mobil kol buntung pun mobil yang membawa perlatan sound dan tenda. Jadi disana hanya ada mobil sejuta umatnya pak camat saja.
"Eh mobil siapa tuh?" tanya Rahma pada Resti.
Gadis itu menggeleng tak tau.
__ADS_1
"Mobil siapa itu pak?" tanya pak camat.
"Kang Jaka ada undang tamu penting?" tanya pak Lurah, Jaka menunduk, pasalnya ia hafal betul dengan si red jazzy.
"Bintang tamu pak," gumamnya keras.
"Oh, biduan dangdut juga? Dari kampung mana kang?"
Di saat beberapanya penasaran dengan siapa pemilik mobil mengkilat itu, sampai-sampai tukang kacang rebus saja, celingukan ingin melihat.
Mpok Aya, tante Hana dan cing Anjar keluar dari mobil duluan.
"Mentang-mentang mobil mahal Net...adem bener!" ujar cing Anjar.
"Besok-besok kalo ke Ancol, pake aja mobil Sanet sama Jaka. Pantas saja abang bilang mobil Sanet halus," tambah tante Hana.
*Beuhhh! Yang keluar malah emak-emak*! Mereka berdecak menggelengkan kepalanya. Tapi sesaat kemudian mereka membeliak saat yang keluar adalah sesosok cantik bergaya modis.
Dengan jaket kulit bertuliskan DJ AMBER di belakang punggungnya, dan rok rempel hitam selutut beserta jenggel hitam bertali dan ber-hak.
Disempurnakan oleh make up ala-ala artis k-pop dan kepangan rambut di dua sisi makin bikin *good looking*. Cantik paripurna yang hakiki tanpa harus mempertontonkan belahan dadha atau gaun robek sampai paha.
"Kita bro and sist, mpok! Bajunya samaan!" tunjuk Pudin ke arah kaos Neta, Neta menularkan tawa renyahnya pada Sinai dan Opik.
Opik membawa peralatan DJ dan laptop Neta ke area back stage. Kedatangan Shanneta bikin syok beberapa orang tapi sekaligus decakan kagum.
"Itu mpok Neta kan Ma?" tanya Resti, Rahma memang tak bisa memungkiri jika Neta memang menang telak. Begitupun Alvi yang kini menyerbu kedatangan idolanya.
"DJ Amber!" Tapi bukan ke arah back stage ia melangkah. Ia justru berbaur dengan anak-anak Tarka di tempat Sinai dan Pudin duduk, sementara ketiga emak itu sudah memilih angle yang tepat untuk menonton.
.
.
.
__ADS_1
.