Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 28. BIKIN PANIK


__ADS_3

Jaka langsung pamit menuju bengkel, pasalnya ini sudah pukul 9 pagi dan ia tak mau sampai kupingnya selebar kuping gajah gara-gara ci Olin ngomel-ngomel.


Neta menggusur tas kain miliknya ke dalam, padahal cuma baju seuprit dari gawang pintu ke kamar, tapi kok berat? Berasa kaya bawa beban hidup masyarakat Indonesia! Bikin keringetan, emang fisik tempe! Makanan yang masuk ke dalam tubuh kayanya langsung meluncur ke saluran pencernaan begitu saja tanpa mau singgah dan menetap jadi otot-otot kuat di tubuhnya.


Ia merebahkan badan terlentang begitu saja di karpet dengan menatap langit-langit kontrakan yang berwarna kusam, alisnya mengernyit untuk memastikan jika penglihatannya tak keliru, jika di tiap sudut kontrakannya dihuni oleh satu kepala keluarga cicak juga laba-laba, akhirnya ia merasakan juga rasanya berbagi atap, bersama hewan tentunya bukan selir Jaka. Tapi anehnya ia mulai betah dan nyaman disini meski hidup bak di kebun binatang, ada cicak, laba-laba, semut, ayam, kucing, jangkrik, tokek, kodok, lengkap!


Neta sampai lupa dengan rencananya hari ini. Ia akan membeli kasur lewat toko online saja. Jemarinya menscroll layar di ponsel, memilih-milih matras yang sekiranya pas di kamar kecil Jaka tapi nyaman seperti miliknya. Harga tak jadi masalah untuknya, cincai lah!


Hanya sekali klik tanpa harus berpikir berkali-kali ia membeli secara cash lewat toko online dan meminta dikirim express hari ini juga, banyak duit mah bebas! Mau dikirim lewat karpet terbang aladdin juga jadi.


"Done," tinggal menunggu dan kasur seempuk awan akan datang, nanti malam ia bisa tidur nyenyak sambil mimpiin...Jaka? Kok Jaka?!


Oke, setelah ini apa? Shanneta melirik rice cooker, ia bangkit dari posisi rebahannya ke arah penanak nasi, dan ternyata di dalam sana tak ada nasi untuk dimakan nanti siang...ada rasa tanggung jawab ingin membuat Jaka senang disana, kan bagus tuh kalo bisa nanak nasi...pertama kali dalam sejarah Shanneta bisa masak nasi. Kalo bisa Fir'aun suruh bangun lagi, biar bisa nyaksiin sejarah yang bikin dunia berguncang.


Gadis itu mengangguk-angguk yakin jika ia bisa melakukannya. Setaunya yang pernah mendengar cara menanak nasi adalah jumlah air yang ditaruh bisa diukur dengan ruas jari tangannya.


Jemari indah itu kini mau-maunya mencuci beras macam yang sering Jaka lakukan di kamar mandi meskipun sedikit tumpah-tumpah yang penting tumpahnya ngga satu karung, lalu menambahkan air bersih satu ruas jarinya, menutup rice cooker, dan membubuhkan senyuman lebar karena baru kali ini ia melakukan hal semenakjubkan ini, lalu bagaimana jika bisa memasak, mungkin satu kampung sudah ia ajak berdansa.


Ia juga mengambil sapu dan mulai membereskan ruangan agar bersih dari debu, melakukan tugas seorang istri sesungguhnya hari ini.


Hoffttt! Neta mengembuskan nafasnya lelah, cukup melelahkan namun asik, anggap saja ia sedang olahraga kardio. Hanya saja untuk urusan sikat menyikat kamar mandi ia masih enggan, biar itu jadi urusan Jaka saja, berikut mencuci baju ia masih belum rela jika nail art yang dipakai sampai rusak hanya karena mencuci.


Ia melirik jam di ponselnya, sudah cukup lama ia membiarkan penanak nasi mengerjakan tugasnya, tapi kenapa belum tercium aroma nasi matang karena biasanya jika Jaka memasak nasi akan tercium aroma harum nasi menguar dari lubang sana seraya mengeliarkan uapnya.


Penasaran, gadis itu membuka tutup rice cooker, alisnya mengernyit kebingungan, "loh kok, masih kaya gini? Apa alatnya rusak?! Terus gue sama Jaka mau makan gimana?!" gumamnya bertanya, hatinya mendadak kecewa.


"Coba--coba! Gue telfon Jaka deh!" diraihnya ponsel yang sempat ia simpan tadi, bahkan sebelumnya Neta sampai searching di mesin pencari, berapa lama durasi menanak nasi beserta merk penanak nasi yang ia pakai sekarang dan hasilnya waktu yang diperlukan hanya 30-60 menit.


"Assalamu'alaikum?"


"Jaka, rice cooker kamu rusak! Aku dari tadi masak nasi ko ngga mateng-mateng!" sewotnya to the point dengan nada ketus dan sengit, niat hati jadi istri berbakti tapi kok kayanya takdir malah tidak mengijinkan, kan jadinya mode barongsai gadis ini keluar.

__ADS_1


"Kayanya rusak! Koslet kali, aku nanak nasi dari tadi ngga mateng-mateng, sebel tau!"


"Makanya beli yang bagus, jangan pake yang begini, butut!" omelnya pedas entah apa yang ia pukul disana hanya saja Jaka mendengar ada salah satu barang miliknya yang jadi korban keganasan sang istri.


Jaka yang sedang bekerja terpaksa menunda pekerjaannya demi mengangkat panggilan Neta, lalu memberikan jarak aga sedikit menjauh dari pendengaran ci Olin, Opik maupun pelanggan bengkel.


Ia mengusap keningnya yang di tempeli buliran keringat sambil mengernyitkan dahi, rasanya penanak nasi miliknya tidak bermasalah, wong kemarin saja masih berfungsi baik. Ini bisa jadi otak istrinya saja yang koslet.


"Nyala?" tanya Jaka.


"Nyala," jawab Neta bergetar, ia sudah hampir menangis di ujung telfon.


"Kamu bisa pulang dulu engga sekarang?! Tolongin aku sebentar aja!" pintanya memohon.


"Tapi aku lagi ada kerjaan, Net.."


"Please..." mohonnya, Jaka menghela nafasnya, kenapa sekarang ia begitu luluh oleh gadis ini hingga membuat dirinya sekarang ijin pada ci Olin setelah menyelesaikan satu pekerjaannya. Untung saja ci Olin adalah bos yang pengertian dan baik jadi Jaka bisa ijin barang sepuluh menit sampai 15 menit saja untuk mengecek kondisi Neta.


"Net..." ia membuka pintu, dilihatnya sosok gadis dengan kaos yang hampir menenggelamkan celana pendeknya sedang melirik dan membungkuk melihat-lihat rice cooker sambil mengetuk-ngetuk penanak nasi itu. Melihat Jaka datang ia segera menghambur.


"Giliran aku mau belajar bener kok malah gini sih, ngga suka ah!" keluhnya lagi sudah sesenggukan lalu memeluk Jaka.


"Eh, jangan nangis. Nanti biar aku coba benerin, buat makan nanti aku beli aja nasi sama temennya di warteg atau rumah makan Padang...." Jaka sebenarnya sudah tersenyum tipis, setidaknya Neta sudah mau belajar menerima perannya sebagai seorang istri.


"Emangnya kamu bisa masak nasi, dicuci dulu ngga berasnya?" tanya Jaka mengurai pelukan Neta.


Neta mengangguk seraya mengusap matanya yang berair, "dicuci, aku kasih airnya satu ruas jari terus kututup...beres deh!" jawabnya sesenggukan.


Jaka langsung mengerjap seolah menemukan titik permasalahannya, ia sampai menyemburkan tawanya sudah ikut terbawa bo doh...


Alis Neta menukik tajam saat melihat Jaka malah tertawa,

__ADS_1


Bugh!


Neta memukul dadha lelaki itu, "kamu malah ngetawain, rese ih!"


"Nih liat, aku punya magic kaya neng cantik!" hanya dalam sekali klik lampu oranye bertuliskan warm itu berubah jadi merah bertuliskan cook.


"Neng cantik tinggal tunggu sekitar 45 menit'an lagi, nanti beras berair itu bisa mateng...tanpa harus aku bongkar dan benerin! Done, rice cookernya udah ngga rusak lagi!" tawa Jaka seraya menjelaskan.


"Astagfirullah! Be go banget ternyata aku tuh ih!" kini wajah muram iti tertawa, menertawakan kebo dohannya sendiri.


"Aduhh be go dipiara! Mana udah mewek pula," ejeknya pada diri sendiri sambil mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri.


Jaka masih saja tertawa membuat Neta tak bisa untuk tak ikut tertawa malu, "Jaka ih kamu mah jangan ketawa!"


Pukk!


Pukk!


Pukk!


Neta mendaratkan pukulan-pukulannya di tubuh Jaka.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2