Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 66. AYAH, DADDY, PAPAH, ABAH?


__ADS_3

Ibu membawa semua rambut Neta menjadi satu dan mencepolnya tinggi di belakang, "abis lahiran di potong aja, jangan sepanjang ini nanti di jambakin anak," ucap ibu. Neta seperti merasakan kembali jadi bocah gadisnya ibu, makan disuapin, rambut diiketin, keringet disekain.


Jaka dan Syifa cuma jadi penonton bayaran saja, sementara mpok Aya sudah pulang.


Tatapan Jaka jatuh tertumbuk ke arah jam di dinding, "ke klinik sekarang aja ya, udah aga lama juga..."


Neta hanya pasrah saja, kali ini ia bersikap layaknya anak baik, tidak seperti Neta yang biasanya.


"Pelan-pelan..." Jaka memapah Neta turun, dengan ditemani ibu. Syifa sendiri memilih berada di ruko, seraya menunggu Syarif dan Balqis, ia juga menjaga rumah yang memang bengkel sedang ada beberapa pelanggan.


"Hati-hati Jak, Net..."


"Titip Pik!"


"Yo, siap Jak! Tenang aja!"


"Yang punya bengkel mau lahiran ye bang?"


"Iye," jawab Opik kembali berkutat dengan kunci dan peralatan lainnya.


Neta tak perlu mengalami drama melahirkan terjebak macet ataupun cakar-cakar orang karena kelamaan di jalan, berhubung jarak ruko ke klinik dekat.



Jika saat begini seorang perempuan tak akan memikirkan penampilannya termasuk Shanneta. Mungkin jika sedang mode normal ia akan mencibir penampilannya saat ini yang *iuhh banget*! Dengan memakai kaos Jaka dan bawahan kain jarik coklat Neta tak peduli, mau dikata nenek gayung atau nenek kebayan.



Wajahnya sudah memucat tak berdaya saat dokter kandungan kembali memintanya berbaring.



"Coba kita periksa dalam lagi, siapa tau sudah bertambah pembukaannya, harusnya sih nambah ya..."



Memang benar ada penambahan namun tak banyak padahal Neta merasa tenaganya sudah terkuras banyak sampai di detik ini, ia hampir menyerah dibuatnya. Dokter mengatakan jika hal ini wajar terjadi pada seorang *Dara*, ditambah proses kelahiran setiap orangnya itu tak semua sama.



*Ini sampai kapan, ya Allah*?!



"Akang sshhhh," suaranya mendesis lirih.



"Yang mana yang sakit, bilang sama aku..." pinta Jaka dengan posisi Neta mengalungkan kedua tangannya di leher Jaka sementara Jaka mengusap-usap lurus dari area tulang punggung hingga ke pinggang. Wajahnya itu bikin remuk hati, ia menggeleng sudah tak bisa mendeskripsikan lagi kata sakit itu.



"Yang kuat neng. Ibu sama Wulan juga lagi kesini," balasnya.



Neta menggigit bibir bawahnya kencang hingga warnanya semakin memucat, "aku tau kamu kuat, kamu ibu yang kuat. Kamu istri yang tangguh, sudah berkali-kali kehidupan numbangin kamu, tapi kamu bisa bangkit...inget perjuangan tiap malem selama 9 bulan, masa hari ini kalah gitu aja," ucap Jaka membuat Neta terisak.



"Jangan nangis atuh, disimpen tenaganya buat nanti.." Jaka menghapus jejak-jejak air mata di wajah istrinya.



Wajah Neta begitu kuyu dan basah oleh keringat juga air mata, "inget ngga pertama kita ketemu? Buat nangis aja kamu sampe dibuat-buat, minta belas kasian aku?" kekeh Jaka berseloroh membuat Neta hanya mencebik lemah mencibir dirinya sendiri. Lalu sejurus kemudian Jaka menyatukan kening keduanya dan memejamkan matanya.



"*Permisi mas*,"



"*Saya*?"



"*Iyalah! Emangnya disini ada makhluk hidup selain kamu*?"



"*Nama saya Shanneta Amber*....."



"*Jaka Barokah?!!" Shanneta hampir menyemburkan tawanya*.



"*Jaka Barokah, saya mau nawarin nikah kontrak*..."


__ADS_1


*Dan setiap kepingan kejadian itu bak kilasan memory yang dibuat seperti mini film di sebuah pemutaran bioskop*.



"*Pela coer*..."



"*Aku percaya kamu*,"



"*Aku tuh istri ngga ada akhlak, ngga pernah ngurusin kamu, bandel sering lawan, apa alasan kamu mau tetep sama aku*?"



"*Karena janji saya di depan Allah, bukanlah sesuatu untuk dipermainkan*..."



"*Aku mau ke luar kota*!"



"*Kenapa ngga minta ijin dariku dulu*?!"



"*Pergilah kemanapun kamu mau, sekalipun ke tempat yang tidak ku ketahui*,"



*Sekejap rasa cinta yang telah bertumbuh berubah jadi marah sekaligus rindu yang bersarang*.



*Neta kecelakaan*....



"*Aku menyesal pergi tanpa keridhoanmu*,"



"*Aku menyesal telah berkata tak terkontrol dengan amarah, tak akan lagi aku mengulangi kesalahan yang sama*..."



"*Maafin aku*,"




"***I love you Perjaka Barokah***,"



"***Saya mencintaimu Shanneta Amber, bahkan sejak pertama kamu memintaku untuk menikahimu***,"



Neta mere mas jariknya, "aku pingin ke kamar mandi," bisiknya.


"Yuk aku anter,"


Namun sesuatu mengejutkan keduanya termasuk ibu,


Tes--tes---tes....


Cairan bening mengalir melewati pangkal pa ha hingga ke kaki membasahi lantai tempat Neta berdiri sekarang.


"Air ketuban kayanya Jak," ucap ibu.


"Akang, sshhhhh!" desisnya merintih semakin keras, kini diantara rasa sakit dan mules yang mendera timbul rasa ingin mengejan tak terbantahkan.


"Sebentar, aku panggil dokternya dulu ya,"


Ibu mengambil alih Neta, dan Jaka secepatnya keluar dari ruangan untuk memanggil dokter.


"Hmm---hofffttt! Heukkk," tahan Neta.


"Jangan dulu di ejanin nak," ibu menangkup kedua bahu Neta.


Ia menggeleng, "tapi ini yang di dalem udah dorong banget, bu. Bukan aku yang pengen ngeden..." ujarnya kepayahan.


"Iya ditahan dulu, nanti malah keburu lemes, takut belum waktunya."


Jaka datang bersama dokter, "wah! Akhirnya, dedeknya udah ngga sabar nih mau liat mama papa...masih bisa jalan ke ruangan tindakan? Yuk saya bantu,"


Mendadak rasa takut itu sirna entah kemana, karena kini yang Neta rasakan adalah cepat mengeluarkan apa yang sudah mendorong untuk keluar.

__ADS_1


Inhale---exhale---


"Sudah Ti?" tanya nya pada sang asisten yang baru saja melapisi kasur dengan kain.


"Udah dok, ayo bu bisa naik..." ajaknya.


Rasa lelah tak membuatnya lantas menyerah untuk naik ke atas ranjang.


"Dok, sshhhh---udah ngga kuat," cicitnya.


"Iya, sebentar. Bapak bisa ditahan tumitnya sampai nyentuh pan tat?"


Jaka membantu Neta untuk berada di posisi yang pas, "iya baguss,"


"Mengejannya tidak menjerit atau mengeluarkan suara ya bunda, tapi lebih di dorong ke arah perut, jangan merem ya... biar nanti tekanannya ngga ke saraf yang bisa bikin pembuluh darah mata pecah."


"Siap? Kalo ada lagi rasa mulas tak tertahannya, kasih saya aba-aba," pinta dokter berjilbab ini. Neta mengangguk paham.


Cengkramannya di tangan Jaka mengerat, "dokter---"


"Siap, kasih dorongan!"


Hhhhh-----


Ia sampai bergetar saat mendorong, seolah lubang inti nan kecilnya dipaksa untuk membesar demi mengeluarkan sesuatu yang lebih besar dari itu, bayi.


Dorongan keras darinya dan dari dalam belum mampu membuat luka robekan. Khawatir jika robekannya akan melebar tak karuan, dokter Vina memilih memberikan tindakan luka sobekan di bagian lubang keluar.


"Saya gunting ya sedikit,"


"Ha?" Jaka sampai melongo.


Dan benar saja benda tajam itu merobek bagian inti Shanneta membuat hatinya ikut ngilu, terlebih saat Neta mengeratkan genggamannya di tangan Jaka hingga buku-bukunya memutih pertanda sedang menyalurkan rasa sakitnya.


"Kayanya gede nih dedeknya, jadi kita kasih luka robekan ya...biar ngga kemana-mana," ia tersenyum menenangkan.


"Oke sudah, kalo mules lagi kasih aba-aba..."


Neta sudah bermandikan keringat, tak terhitung rasa sakit yang ia rasakan hingga detik ini, "dokter...."


"Kasih dorongan kuat!"


Neta mengerahkan semua sisa kekuatannya saat itu, "ayo neng, kamu bisa sayang..."


"Ditahan pak, angkat badan atas biar nambah dorongan," pintanya.


"Ayo, dedeknya udah nongol itu kepalanya..." ucap dokter antusias.


Dan demi apapun, kalimat itu seolah menjadi kalimat booster untuk perjuangan Neta kali ini.


Rasa sakit yang bercampur ia pasrahkan seluruhnya, apapun yang terjadi, Neta hanya ingin ini cepat selesai.


Wushhh! sesosok kepala bayi mungil hingga ke pundak keluar dari jalan lahirnya, disusul ia yang meluncur begitu saja.


"Ya! Sudah cukup," dengan segera, tangan telaten bu dokter membalikkan badan mungil nan rapuh bercampur cairan bening itu hingga menampakkan wajah lucu menggemaskan berpipi merah dan berkulit putih seperti Shanneta, hanya berselang beberapa detik kemudian ia menangis begitu kencang.


"Alhamdulillah..."


Neta tertawa seraya menangis, "alhamdulillah, huhuhu..."


"Makasih banyak sayang, kamu sudah membawa semua kebahagiaan buat akang." Jaka mengecup kening Neta yang basah oleh keringat.


"Aku jadi ibu akang," ucapnya haru.


"Iya, kamu ibu yang hebat. Dia cantik kaya kamu. Suka drama nangis kaya ibunya," bisiknya lembut seraya tertawa renyah, dilatari suara tangisan yang belum jua berhenti, sepertinya memang benar, putri Jaka ini calon-calon drama queen macam ibunya.


Neta ikut tertawa lalu mencubit lengan Jaka, "inget aja!"


"Silahkan pak, mau diadzani?" asisten dokter mempersilahkan Jaka untuk mengadzaninya.


Neta mengulas senyuman ditengah raga yang sudah tak berdaya, mendengar suara Jaka berkumandang mengisi ruang hati tatkala melantunkan adzan di telinga putri kecil mereka, melihat 2 orang kesayangannya di depan mata bak melihat malaikat surga yang siap mengisi hari-harinya dengan penuh kebahagiaan dan pembelajaran. Jaka Barokah, ketampanan yang sebenarnya dari seorang lelaki. Dan ia lah imam kebanggan Neta.


"Papa Jaka---? Mpap Jaka---? Kok ngga cocok ya?!" gumamnya.


"Daddy?! Pfffttt becanda!" ia terkekeh sendiri.


"Abah?!" Neta menatap langit-langit ruang bersalin, "masa abah kaya aki-aki," decaknya.


"Ayah. Ayah Perjaka," gumamnya lagi.


"Mana ada ayah tapi perjaka!" dengusnya mencibir.


.


.


.


.


Yeeee, akhirnya kita sudah di penghujung cerita Mengejar Barokah, untuk pembaca yang penasaran dengan nama anaknya atau barangkali mau ikut kasih sempilan boleh, nanti aku kasih di bonus part ya. Bagi pembaca Janet yang belum rela dan katanya ngga akan rela tamat, sorry morry nih guys, rombongan Janet memang harus kusudahi sampai disini, Teh sin kumaha gimana sih, kita kan pengen liat keseruan Janet ngurus anak, gimana riweuhnya si neng cantiknya aa Jaka ngurusin bayi, apakah bakalan mewek? Atau gebuk-gebuk si akang? Jawabannya nanti aku kasih bonus part, kalo keburu 😂😂😂

__ADS_1


Akhir kata terimakasih sudah mengikuti Janet Squad, aku tau terlalu banyak kekurangan di karya ini, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Makasih banyak untuk pembaca yang sampai sekarang masih setia sama aku, atas gift berupa kembang, love, vote, tips ataupun yang lainnya itu matur nuwun, big hug lope lope buat kalian, karena tanpa kalian Jaka--Neta bukanlah siapa-siapa..


See you guys di project lain, ❤❤


__ADS_2