
Mungkin ini yang namanya kasmaran, tak tau tempat, tak peduli siapa orangnya. Ngeliat ta i ayam berasa liat coklat, bau bang kee aja berasa bau surga. Emang memabukkan.
Neta mengusap kening yang sempat benjol sedikit, tidak sampai luka parah yang perlu proses dijahit atau sampe dirawat apalagi sampe gotong pasaran. Cuma dikasih kompres dikit aja udah kempes, lagipula Jaka tidak semanja itu.
Baru kali ini si red jazzy dianggurin pemiliknya sampe cukup berdebu, karena yang punya kecantol si motor bebek. Hari ini dan esok tempat kerja keduanya akan berbeda, jadwal Shanneta 2 hari sampai besok manggung di Moccacino bar. Kok kangen....berasa ngga mau pisah, aaahhhh Pengen pulang aja!
Tangan putih nan mulusnya terulur ke depan Jaka, awalnya Jaka tak cukup paham dengan itu namun sejurus kemudian ia mengerti, rupanya pembiasaan yang sering ia terapkan selepas solat bersama kini sudah tertanam cantik di otak Shanneta.
Ia tersenyum sedikit melebar, "neng cantik hati-hati selama aku ngga disini, jangan pernah sentuh lagi alkohol," pesannya, jika diingat-ingat kini Jaka tak seformal kemarin-kemarin yang biasa memakai kata saya, kini aku kamu'an mainannya.
Shanneta mengangguk cepat, menyentuhkan keningnya ke punggung tangan Jaka, ia rasa tak ada pesan khusus untuk Jaka darinya, karena memang Jaka tak pernah memiliki cacat hukum di mata Neta.
"Jaka hati-hati, nanti jemput aku!" Neta melambaikan tangannya pada...harus sebut apa Jaka sekarang? Pacar halal? Kekasih dunia akhirat, atau....Neta terkikik sendiri ciri khas orang tengah kasmaran.
"Assalamu'alaikum," Jaka mengangguk singkat dan pergi dari sana.
"Wa'alaikumsalam..." Neta membalikkan tubuhnya dan bergegas masuk, tapi belum ia sampai di pintu depan bar, lengannya ditahan Wening, "Am, lo seriusan njirrr?! Itu tadi! Kalo ngga salah OB di Shangri-la kan?!" sahabat sesama DJ nya bahkan masih membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat dengan mulut yang masih komat-kamit mengumpati kejadian barusan.
"Iya," jawab Neta yakin, "emangnya kenapa?" kini Wening melingkarkan lengannya di lengan Shanneta, "are you crazy?! Lo ngapain sampe cium tangan segala? Jangan bilang lo suka sama cowok cupu, mana ob gitu? Lo berdua pacaran apa gimana? Terus perjodohan lo sama si habib tajir juragan empang itu gimana, wah..jangan-jangan karena lo stress jadi pelampiasannya sama dia...iuhhh engga banget!" gidiknya mengerikan. Jika sampai itu benar, sepertinya sahabatnya itu perlu dibawa ke psikiater atau dukun! Kali aja kan kena guna-guna.
Neta tertawa sumbang, "lo kalo ngomong ngga bisa ya pake koma sama spasi? Panjang amat, nafas lo kuat banget..."
Gadis cantik dengan surai sepinggang itu mendorong keras kepala Neta, kali aja rada oleng karena terakhir masalah yang menimpanya cukup bikin otak Neta menyusut ke ukuran otak udang.
"Gue married sama Jaka," akuinya pada Wening. Cukup kalem, cukup santai, dan Wening masih terlihat oke-oke saja. Justru terkesan tak bereaksi, tapi itu tak bertahan lama...karena 5 detik kemudian Wening menunjukkan reaksi sawan, persis ngeliat hantu nenek gayung.
Suara nafasnya saja berubah mirip hantu bengek, "haaa! Impossible! ! Aaaaa!" jeritnya tanpa suara.
Neta mengernyit dengan keterkejutan temannya itu, "kaget lo telat!"Neta mengusap kasar wajah Wening.
__ADS_1
"Kok bisa?! Lo lagi ngga becanda kan Net?" tanya Wening, keduanya berjalan menuju ruangan dimana keduanya biasa duduk sebelum bekerja, ada sebuah ruangan untuk para staf menaruh barang pribadi.
Neta duduk seraya meraih ponselnya, "panjang ceritanya Wen, intinya waktu itu pas otak gue lagi buntu-buntunya gue ketemu jalan tikus..." jelas Neta.
"Dan si Jaka itu tikusnya? OMG Ta, lo bayar berapa?"
Neta mencebik tak terima Jaka disamakan dengan cu rut dan sejenis binatang pengerat lainnya, "Suami gue loh itu, by the way! Dulu sih dia ngga mau dibayar gue mintain nikah kontrak, katanya mau-mau aja bantuin, baik kan?!" ujar Neta.
"Ck--ck, oon...oon...kenapa ngga minta bang Sandi, Virgo atau yang lain aja sih Ta? Yang wajah sama gayanya mumpuni," Wening sampai menggelengkan kepalanya tak habis pikir, orang-orang di dunia pernovelan saja lebih pintar dari temannya itu, milih kawin kontrak tuh sama CEO atau pangeran...kepingin ta belah saja kepala gadis cantik tapi oon satu ini.
Neta menggidikkan bahunya, "awalnya sih liat Jaka tuh kaya lelaki lugu, cupu...gampang gue kendaliin lah! Tapi makin sini pandangan gue salah Wen, dia bukan lugu tapi guru..." tawa renyah Shanneta.
Shanneta menatap lurus ke arah dinding ruangan namun pikirannya kini sibuk membayangkan sesuatu, sudut bibirnya tertarik ke atas, dari Jaka ia belajar semuanya. Prinsip, kekayaan hati, ikhlas dan kebaikan.
"Udah gila nih anak! Udah ah, kerja!" Wening menyudahi obrolan yang masih membuatnya bertanya-tanya sampai detik ini. Ia masih belum percaya dengan apa yang terjadi saat ini pada Neta, sejak kapan Shanneta si angkuh, manja, nan arogan juga pilih-pilih ini mau-maunya sama Jaka.
"Am!" sesosok pria jangkung putih, yang merupakan manager Moccacino ini tersenyum manis.
"Bang Wid, apa kabar bang?" Shanneta baru saja turun dari podium, gadis itu mengibaskan tangan dan mengumpulkan semua rambutnya untuk kemudian ia ikat jadi satu karena kini keringat sudah membasahi tengkuknya. Sebenarnya ia sudah tak begitu nyaman dengan dunia malam begini, selain karena jam tidur yang berpindah, bergadang memang tak baik apalagi ia seorang perempuan, belum lagi asap rokok, suara musik yang sering memekakkan pendengaran dan tentunya pergaulan tak sehat.
Seperti sekarang, Widi sang manager mendorong segelas red wine tahun tua tentu saja membuat Neta menelan saliva sulit demi menahan keinginannya mencicipi, padahal sedari tadi Wening sudah meneguknya nikmat.
"Kenapa Am?" tanya Widi mengerutkan dahinya semakin mendekatkan segelas sloki minuman yang memabukkan itu ke meja depan Neta, sepasang mata indah itu menatap nyalang ke arah minuman mahal ini.
Neng cantik hati-hati selama aku ngga disana, jangan minum minuman beralkohol lagi....
"Lagi ngga mood minum bang," tolak Neta mendorong kembali gelas itu menjauh, Wening sampai tersedak dengan red wine miliknya mendengar penolakan Shanneta, sementara Widi tertawa tampan, "wauwww! Keren, seorang Amber bisa nolak red wine tahun 1678, berharga fantastis...padahal gue sengaja beli buat lo, Am..." tangan bertatto itu tiba-tiba saja semakin mendekat dan nemplok cantik di tangan Neta, temaram lampu bar tak lantas menyurutkan tatapan penuh damba dari seorang Widi untuk Shanneta, membuat Neta refleks menarik tangannya dari bawah tangan Widi.
"Ayo dong Am, dicoba!" Widi kembali mendorong gelas itu ke depan dan menyentuh ujung kelingking Neta yang berada di atas meja.
__ADS_1
Gelas itu kembali bergerak menjauhi tangan Neta, tapi bukan Shanneta yang mendorongnya, sebuah tangan besar yang melakukannya.
"Sorry, Shanneta ngga minum yang beginian..." ucapnya tanpa ekspresi berarti.
Mereka menoleh serempak, Wening yang sejak tadi hanya jadi penonton tak bisa untuk tak terkejut, ia bahkan hampir menumpahkan sisa minuman miliknya.
"Ja..Ja--ka?" Neta tergagap dibuatnya.
"Lo siapa?" sengit Widi.
"Saya suami Shanneta," jawab Jaka datar.
"Udah beres kerjanya kan? Kita pulang." Ajak Jaka menyentuh dan menggenggam tangan Neta yang kemudian beranjak turun dari kursi tinggi depan bartender.
Widi terkekeh sumbang, ia menggosok hidungnya singkat tapi kemudian hanya dalam hitungan sepersekian detik.
BUGH!
"Jaka!!!!"
.
.
.
.
.
__ADS_1