
"Gua yang mau joget, lo minggir!"
"Si Alvi punya gue!"
Begitulah teriakan para pemuda kampung yang kini dibawah pengaruh alkohol.
"Enak aja, gue yang duluan naik ke panggung!"
"Heh! Heh! Heh!" beberapa pol PP mengamankan oknum kerusuhan dengan memiting tangannya dan membawa ke luar radar acara.
Belum lagi di atas sana, nyak Epi tengah ngamuk-ngamuk pada suaminya, "dasar aki-aki ngga tau diri, turunnn!" ia tak sungkan menjewer telinga kong Eman agar turun, namun kong Eman masih enggan, "malu-maluin lu, pake datang kesini segala, lagian gua ngga niat mau kawin lagi!" desisnya.
Jaka yang berada di tengah-tengah ikut jadi sasaran nyak Epi, "awas Jak! Kagak usah halangin gue!"
Ia juga hampir menjambak rambut Alvi jika Rohmat tak menghalangi, amukan emak-emak memang maha dahsyat! Kekuatannya tiba-tiba bertambah beratus kali lipat jika sedang dalam mode Lembu Suro yang bikin gunung Kelud meletus.
Sementara di bawah Pudin malah mengeluarkan ponsel dan merekam peristiwa bersejarah RW 09 ini sambil ketawa-tiwi, kalo di unggah di tik_otok pasti viral nih!
"Vi, turun dulu!" pinta Jaka saat situasi tak kondusif.
"Iya bang," ia segera melipat uang hasil saweran dan turun dibantu tukang gendang. Okie mengambil alih acara sementara para pemuda yang sedang berjoget ria di atas panggung terpaksa harus menghentikan goyangannya sambil berseru, "huuuu!"
"Udah tua mah di rumah aja kong, kerokan sama bini!"
"Ganggu aja!"
Jaka membawa nyak Epi, sementara Rohmat membawa kong Eman.
"Nyak selesain di bawah aja, kalo ngga di rumah. Malu kalo disini diliatin banyak orang," ujar Jaka menenangkan.
"Astagfirullah," nyak Epi sudah komat-kamit melafalkan istighfar.
Jaka dan Rohmat membantu para tetua ini menuruni titian kayu menuju bawah panggung dengan sekali gerakan Jaka menoleh meminta Okie melanjutkan acara oleh Irma.
"Nyak, minum dulu nyak!" Mpok Aya sudah memberikan sebotol air mineral sementara nyak Epi masih mengomel-ngomel pada suaminya, dan kong Eman sendiri banyak diamnya sesekali mendelik sinis memberikan pembelaan.
"Hadeuhh, aki-aki. Udah salah nyolot ngga mau disalahin!" Opik ikut bergabung.
"Pik, anterin nyak balik. Din, anter engkong balik juga pake motor saya." Titah Jaka.
"Siap kang."
"Iye Jak. Yok nyak balik yu, udah malem ntar masuk angin!"
Balada cinta wong tuo sudah berlalu dengan pulangnya sepasang suami istri ini. Dirasa sudah malam pun cing Anjar, mpok Aya dan tante Hana pamit undur diri, sementara Neta masih disana ditemani anak Tarka.
Berkali-kali ia menguap, terbiasa dengan jam tidur cepat dan teratur membuatnya sudah mengantuk jam segini. Ditambah kehamilan ini bikin Neta jadi mudah lelah.
Jaka membawa semangkuk mie ayam lengkap dengan pangsit, "ngga inget ya, belum makan malem?" ia duduk di samping Neta yang kini tengah duduk bersama Resti sementara yang lain sudah keluar dari tenda panitia untuk melihat dangdut yang kembali dilanjut.
"Hm, kamu baru inget aku belum makan ih jahat!" bibirnya merengut namun tetap menyambar mangkuk mie ayam yang beralaskan piring plastik kecil agar tak panas dan sebagai wadah untuk tulang ayam.
"Kang!" Yudha membawa segelas teh manis hangat dan kacang rebus.
"Oh, makasih Yud. Sini!"
"Sama-sama, mpok...makan kemaleman?" selorohnya.
"Iya Yud, sedih! Ada bintang tamu dibiarin kelaperan gini!" balasnya manyun, mode donal bebeknya keluar.
Yudha terkekeh, "yang tadi keren mpok, pengen belajar lah!"
__ADS_1
"Boleh--boleh!" angguk Neta tapi matanya fokus mengaduk-aduk mie ayam, "ini sambelnya mana?"
"Sengaja ngga aku sambelin, jangan yang pedes-pedes lah, segini juga bumbu ayamnya udah pedes," jawab Jaka.
Yudha telah kembali ke luar, bergabung dengan lainnya.
"Nanti kalo udah selesai makan, aku anter neng pulang dulu, kasian jangan tidur kemaleman ngga baik buat dedek."
"Kamu mah jahat ih! Ada yang mau nyawer aku malah kamu hadang!" ia menyuapkan mie ayam ke dalam mulutnya.
Jaka menaikkan alisnya, darimana Neta tau akan hal itu. Pasti anak Tarka yang bicara, Sinai atau Ankeu? Yang biasanya cepu sih kedua gadis itu.
"Kamu mau dianggep kaya Alvi barusan? Aku mah ngga rela istri aku dianggap rendah gitu! Dilemparin uang receh atau diselipin lembaran uang sambil dipegang-pegang."
"Kamu juga ngga nyawer aku!"
"Nanti ku sawer, neng cantik mau disawer sama uang lembaran berapa?" tanya Jaka menikmati kacang rebus.
"Yang merah-merah lah, uangnya udah mateng, manis!" jawab Neta.
"Tapi kalo tanggal segini uangnya masih pada mengkel neng, ada juga yang masih kecoklatan, abu, sama ijo. Banteran yang biru sama merah buat makan besok-besok!" Jaka menyunggingkan senyuman.
Neta mendelik sinis, "bilang aja belum gajihan!" salaknya galak.
Jaka tertawa mendengarnya, "nah itu neng tau!"
"Ah kamu mah ah! Rejeki aku kamu tolak!"
"Anggap aja lagi tolak bala!" jawab Jaka membuat Neta berdecak, selalu saja suaminya itu membalas ucapannya.
"Sekitar 2 bulan kurang lagi udah masuk bulan keempat neng, udah harus siapin buat 4 bulanan..." ucap Jaka.
Neta mengangguk, "biar diatur ibu aja lah, aku ngga bisa ngurus yang begituan. Kapan kamu mau mulai hunting pemasok sama spare part buat bengkel?"
"Ide bagus! Besok aku ikut ketemu bang Sandi, biar kamu ngga dipersulit buat keluar!" angguknya mantap. Dalam sekejap semangkuk mie ayam itu sudah tumpah ke dalam perut Neta, meskipun tak bersama mangkok-mangkoknya.
"Eh, sampe lupa aku nawarin kamu!" tawa Neta.
"Ngga apa-apa, aku masih kenyang barusan makan mie instan pake telor konsumsi panitia. Yang penting kamu sama dedek," jawabnya.
"Uluhh so sweetnya akang, mau ku cipox ngga?!" cubitnya gemas di pipi Jaka, hingga tak sadar di depan mereka telah berdiri sesosok perempuan yang tadi memicu keributan, ia membeku di tempatnya saat mendengar kalimat fulgar dan perhatian Jaka untuk istrinya itu apalagi saat mendengar Jaka menyebutkan kata dedek.
Ekhem, "maaf ganggu."
Neta menghentikkan manja-manja'annya bersama Jaka dan menoleh ke arah perempuan itu.
Ia menunduk dalam seraya memainkan kedua tangan, "maaf bang---kak Amber, gue ngga tau kalo bang Jaka udah merit...jadi masih suka ngejar-ngejar bang Jaka,"
Neta menarik senyuman miringnya, "ngga apa-apa. Gue sengaja ngga negur lo di depan umum pas lo lagi goda-godain akang, soalnya nanti kita berdua yang sama-sama malu, akang juga yang nanti dinilai jelek. Kaya kejadian barusan kong Eman," ujar Neta yang kini sudah semakin merapatkan duduknya dengan Jaka, ia juga tak lepas menggenggam tangan lebar suaminya.
"Thanks!" ia kini dapat menatap keduanya mendongak.
"Thanks sekali lagi, oh iya. Boleh minta foto bareng ngga?" tanya Alvi, dengan senang hati Neta mengangguk, "sini!" ia menepuk kursi di samping lain.
Dua jepretan telah di dapat Alvi di ponselnya, tanpa adanya Jaka dalam potret itu. Lelaki itu menolak untuk foto bersama dan memilih jadi fotografer saja.
"Makasih ya kak Amber, bang Jaka..." ia keluar dari tenda panitia.
Kini Jaka yang menggenggam tangan Neta dan memainkannya dengan lembut, sesekali ia kecup.
"Kenapa ngga mau difoto?" tanya Neta.
__ADS_1
Jaka menggeleng, "ngga apa-apa. Ngga mau aja muka aku ada di hape perempuan yang bukan siapa-siapaku. Bukannya sombong, aku akui aku ngga ganteng malahan jelek. Tapi aku cuma mau wajah jelekku ini cuma ada di hape kamu,"
Neta tertawa tergelak mendengar pengakuan itu, "ngaku jelek!"
"Jelek tapi banyak yang suka," tambah Neta.
"Mungkin mereka lagi ngigo liatnya---"
Neta mengusap kasar wajah Jaka, "ngaco." Tapi kemudian ia menyalak sengak, "berarti kamu bilang aku lagi ngigo juga?!"
"Engga, kalo kamu kan minta aku pas lagi gelap, lagi mabok juga,"
Neta semakin tergelak dibuatnya sampai ia memegang perutnya saking lucu. Tawa inilah yang selalu ingin Jaka lihat dari Neta, semoga neng cantik bahagia selalu, apapun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia.
Hoamm!
Neta masih mengantuk saat dari arah luar terdengar suara ribut-ribut.
"Siapa sih! Bikin geger pagi-pagi," ia beringsut turun memakai kaos Jaka, besok-besok ia mesti membeli kaos seukuran ini biar nyaman di rumah.
Ia mengikat rambutnya menjadi satu lalu melangkah ke kamar mandi untuk cuci muka lagi setelah kembali tidur selepas subuh, *auto dzuhur mandi again*.
"Jaka kemana?" ia celingukan mencari Jaka, tak perlu sampai berjalan jauh hanya untuk mencari keberadaan, karena ruangan kontrakan hanya sepetak. Ia memilih mencari keluar rumah dimana ribut-ribut masih terjadi.
Ternyata drama suami istri semalam belum selesai begitu saja. Nyak Epi masih kembali ngamuk-ngamuk dengan menyiramkan air ke arah kong Eman yang masih sarungan dan sudah ngibrit ke luar rumah.
Jaka yang tadinya sedang mencari kardus untuk mempacking barang-barang di rumahnya sambil pamit malah jadi harus mengurus kedua orang yang sudah ia anggap sebagai orangtua sendiri.
Seketika pagi-pagi gang senggol sudah heboh dengan ini, bang Togar yang masih bo xer'an ikut menengahi, cing Mu'in dan bang Jeje (suami mpok Aya) yang lagi sarapan ikut keluar.
"Ngga usah pulang sekalian!" teriaknya.
"Nyak, nyak sabar ih. Kasian babeh!" ujar anaknya menenangkan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.