Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 22. GARA-GARA VAPE


__ADS_3

Ckit!


Dugh!


"Jakaaaa!"


Plok!


Jaka mengerem dadakan saat ia dengan tak sengaja hampir menabrak anak kucing yang melintas, kata orang nabrak kucing itu suka ketiban si al, untung saja rem motornya pakem, tapi tidak dengan rem gadis di belakangnya, kepalanya sampai kepentok helm yang dipakai Jaka, bahkan pan tatnya saja sampai ikut terangkat saking kencangnya gaya dorong. Seketika mata Neta yang sudah setengah mam poss dipaksa melotot, refleks saja ia langsung menepuk keras helm Jaka dengan tenaga mbah dukun a.k.a kekuatan supranatural.


"Maaf, maaf...itu anak kucing takut ketabrak," tukas Jaka cepat sebelum gadis itu meledakkan amarahnya subuh-subuh, mana di gang sempit pula, jangan sampai nanti tetangga pada bangun dikira keduanya lagi heboh bangunin sahur.


"Gimana sih bawa motornya, fokus Jaka fokus!" sungguh sebenarnya Neta ingin meluapkan amarahnya pada Jaka, tapi rasa nyut-nyutan di keningnya dan rasa pusing di kepala membuatnya tak berdaya.


"Aduhhh, jidat gue auto segede endokk!" Jaka hampir saja menyemburkan tawanya mendengar gerutuan Neta, namun tak tega juga, ia lantas membalikkan badannya, "coba sini saya liat...aduhh maaf ya maaf, ngga sengaja. Saya yang salah ngga hati-hati..." tangan Jaka terulur melihat kepala Neta dan meniupnya.


Semilir angin dingin di jidatnya membuat Neta nyaman, di tengah gelapnya langit subuh gang senggol mata yang sudah hampir tumbang itu menatap Jaka sayu, "kalo diliat lo manis juga Jaka," Neta tertawa sumbang, sambil senyam-senyum bikin angkat alis.


"Astaga mber, kepentoknya keras banget ya? Atau kamu justru mabok tadi di Shangri-la? Kan udah saya bilang jangan minum alkohol," ujar Jaka.


Neta menggeleng, "buruan jalan lah. Aku udah ngga kuat ngantuk," jawab Neta meminta pada Jaka.


Oh, efek ngantuk! Kirain beneran, hah! ! Hampir saja Jaka merasa melayang dipuji Amber, tapi rupanya Amber sudah setengah mengigau.


Bahkan Joko yang baru pergi ke pasar dan menyapa saja sudah tak dihiraukan Neta, ia nemplok cantik kaya tokek di punggung Jaka.


"Jak, baru balik?!"


"Iya, duluan Jok!" balas Jaka segera menghentikkan motornya di depan kontrakan, "Mber, udah sampe...kamu kuat masuk ke dalemnya ngga?"


"Kuat," jawabnya segera turun dan membuka sepatunya sembarang, lantas ia menunggu Jaka dengan terkantuk-kantuk di depan pintu. Segera Jaka turun dan membuka pintu agar Neta bisa masuk.


"Makasih," cicitnya masuk.


Tanpa mencuci muka atau repot-repot mengganti pakaian, Neta langsung saja menjatuhkan badannya di kasur tipis Jaka dan terlelap begitu cepat.


Senyum Jaka tersungging melihat Neta, sebenarnya ia pun sudah lelah dan mengantuk, namun mengingat Neta belum bisa menerimanya, maka ia akan berbaring di karpet tengah saja depan televisi, namun sebelumnya ia melongokkan kepala ke arah rice cooker dimana sisa nasi hanya tinggal tersisa segenggam saja.


Ia seperti memiliki beban punya anak bayi yang mesti ia siapkan makan, tidur, dan mandinya. Layaknya seorang ibu, naluri Jaka sebagai seorang yang bertanggung jawab atas Neta, mengambil beras dan menanaknya, agar nanti saat keduanya terbangun nasi sudah matang.


Cetrek!


"Selesai, nanti Amber bangun cuma tinggal goreng telur aja dulu." ucapnya kini melangkah menuju kamar mandi, diambilnya air dengan gayung, "nawaituuuu....."




Matanya mengerjap, riuh pelan terdengar suara orang-orang yang sudah beraktivitas di pagi hari, apalagi teriakan mpok Aya yang selalu meneriaki Pudin terdengar jelas karena jarak rumah mereka yang berdempetan.



Dipijitnya ujung alis, lalu berguling ke samping kanan....badannya terasa pegal dan linu, apa karena efek tidur di kasur tipis begini, yang kadar ketipisannya setipis iman Shanneta.



Mau tak mau rasa pegal itu membuat Neta terbangun, "eh, Jaka kemana?" gumamnya. Dengan mengumpulkan sisa-sisa nyawanya Neta berdiri membuka pintu kamar, sesosok pria yang meringkuk dengan sarung dan sebuah bantal tanpa alas apapun selain karpet plastik menjadi pemandangan pertamanya, ia juga mengedarkan pada rice cooker yang sudah beralih pada mode warm, itu artinya Jaka sudah selesai menanak nasi, mendadak hati Neta diliputi rasa bersalah, dengan kedatangannya kesini ia merebut hampir semua kehidupan yang Jaka miliki, "ngga tau diri banget gue, udah numpang makan, numpang tidur, numpang segalanya disini...sorry ya Jak..."

__ADS_1



Wajah damai Jaka membuat Neta semakin menelan kegetiran dalam-dalam, ia merosot di dinding kontrakan, "gue ngga mikir sampe sejauh ini Jak. Gue nyusahin elo ya Jak," bagaimanapun Shanneta adalah makhluk berhati, ia bisa tersentuh dengan perilaku seseorang yang tulus.



"Gue mesti apa Jak, buat bales kebaikan lo?" tanya nya bergumam mumpung Perjaka masih terlelap.



Neta meloloskan nafas beratnya, mencari ikatan rambut dan rokok elektrik miliknya di dalam tas. Panggilan alam memanggilnya jika pagi tiba. Dan layaknya orang normal kebanyakan, Shanneta memiliki kebiasaan nongkrong di toilet sambil nyesep asep beraroma, katanya daripada bosen nunggu yang dibawah brojol sambil liatin sarang laba-laba, mendingan sambil vape'an.



Ia berjingkrak-jingkrak kecil namun intens demi menahan rasa membuncah, seraya mencari vape berwarna ungu metalic, disesapnya terlebih dahulu benda yang beraroma apple mint, asap mulai mengepul dari mulutnya.



Dengan langkah cepat dan terbanting-banting ia melangkah yang hanya berjarak kurang dari 7 langkah saja sampai menabrak-nabrak tembok dan lemari ia dibuatnya karena sudah di ujung.



Jaka yang mendengar cukup terkejut dengan suara Neta yang heboh, "Amber?" ia mengernyitkan dahi menyesuaikan matanya dengan cahaya ruangan.



Lalu Jaka memijit pangkal hidung dan mata, "astagfirullah ya Allah..." gumamnya seraya meregangkan otot-otot badan yang terasa kaku karena tidur hanya beralaskan selembar karpet plastik, ia berdiri dari tempatnya lalu berjalan ke arah kamar tapi tak menemukan Neta.



Gadis itu sudah memelorotkan celananya, bersiap untuk kencan dengan bibir toilet,mana toiletnya mesti jongkok lagi.




*Pluk*!



Ha??!!! Baru saja ia akan berjongkok sesuatu jatuh dan membuat seketika jantungnya copot.



"Jakaaaaa!!!! Vape gue kecemplung kan! Iuhhh---iuhhh! Jijik!" jeritnya kesal.



"Padahal aku belum bok3rnya!" Gadis itu mewek kejer, padahal tuh vape limited edition yang ia beli bulan kemarin.



"Kenapa?!"


"Ada apa?!" Jaka segera beranjak ke arah kamar mandi dibalik gorden.


__ADS_1


*Srekkk*!



Neta membuka gorden kamar mandi dengan wajah cemberutnya.



"Vape gue kecemplung!!! Aku-nya kaget kamu tiba-tiba nanya!" tunjuk Neta ke arah toilet.



"Kamu ngapain bawa-bawa itu ke kamar mandi?"



"Aku udah ngga kuat pengen nanem saham Jaka, ngga bisa kalo ngga sambil nge'vape," omelnya.



"Ya udah sini aku ambilin," Jaka masuk, dengan tak ada rasa jijik ia mengambil, mencuci benda itu.



"Kamar mandi, toilet selalu aku bersiin tiap hari..." balasnya menyodorkan benda milik Neta, tentu saja gadis itu bergidik jijik.



"Buang! Buang aja ih jijik Jaka! Kamu maen comot aja, tangan kamu terkontaminasi ih!" ia menepis-nepis.



Kini Jaka yang menganga, bukan pasal benda atau Neta yang menangis yang membuatnya menelan saliva sulit melainkan....



"Astagfirullah,"



Jaka langsung memalingkan wajahnya dari bawahan Neta.



"Aaaaaaa!!!!"



"Keluarrrrr!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2