Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 60. DIJAGAIN PAGER BETIS


__ADS_3

Neta meneguk air minumnya begitu rakus. Di atas sana cukup membuatnya berkeringat.


"Sanet!"


"Keren elu Net!" seru cing Anjar dan mpok Aya.


Neta menutup botolnya lalu tertawa renyah, "tos dulu dong Jul!" pintanya pada Julian yang ada di dalam gendongan tante Hana.


"Kagak nyangka gue, si Sanet bisa begitu yak?!" tawa cing Anjar menepuk-nepuk pan tat Neta.


Terdengar Okie kini memanggil kedua biduan kampung sebelah beserta band pengiring termasuk tukang kendang. Tapi sungguh kesan terhadap Shanneta tadi sulit terpatahkan oleh siapapun setelah ini.


Jaka datang membawa serta pak lurah dan pak camat ke belakang panggung khusus untuk mengucapkan terimakasih dan berkenalan dengan sang DJ.


"Neng,"


"Eh," cing Anjar dan kedua lainnya lantas menyingkir, "eh ada pak lurah sama pak camat."


"DJ Amber," sapa mereka.


"Panggil aja Shanneta pak," angguk Neta dalam tersenyum.


"Terimakasih, saya atas nama warga sekecamatan mau mengucapkan terimakasih, sangat--sangat terpukau sama penampilan barusan. Bikin menggugah jiwa nasionalisme, jauh dari kerusuhan."


"Saya baru tau kalau ternyata Shanneta, istri kang Jaka?!" tunjuk pak lurah pada Jaka lalu menepuk-nepuk bahu Jaka.


"Iya pak. Sama-sama," diliriknya sekilas Jaka yang masih melihatnya penuh cinta.


"Tahun depan kalo bisa begini lagi kang, wah saya sampe nyuruh penampilan barusan buat di video untuk dokumen pribadi sekaligus dokumen kecamatan!" ucap pak camat.


"Wah, merasa tersanjung saya pak," jawab Neta.


Di depan sana suara heboh Alvi sudah menggoyang memanaskan suasana yang semakin malam, dengan suara emas dan goyangan mautnya. Iya maut, karena dapat dilihat beberapa oknum warga sudah menenggak minuman keras bahkan diantaranya ada yang menelan pil zat adiktif.


Beberapa lelaki memaksa untuk ikut berdendang dan bergoyang di atas panggung, riskan akan pele cehan.


"Kalau begitu kami pamit ke depan. Silahkan istirahat dan menikmati sisa acara,"


"Makasih pak!" sekali lagi Neta menganggukan kepalanya dalam.


"Anter dulu ini," gumam Jaka.


"Iya," jawab Neta.


"Wahahaha keren, pak camat sampe turun langsung!" ujar mpok Aya.


Cing Anjar menyipitkan matanya ke arah panggung, "gusti! Ampun kelakuan bapak-bapak jaman sekarang, apalagi itu tuh udah aki-aki, bukannya yasinan malah nyawer biduan, sampe dimasukin ke celah dadha! Bisa banget pengen pegang-pegangnya!" namun semakin lama ia memperhatikan semakin ia mengernyit.


"Ya, Ya! Itu bukannya!" tunjuk cing Anjar.


"Kong Eman cing!"


"Alamak!" seru tante Hana. Mereka berebut untuk melihat apa yang dikatakan mpok Aya.


"Ah masa?!" tanya Neta tak percaya.


Keempatnya melongokkan leher ke arah samping depan panggung dan melihat jika sosok yang ditunjuk cing Anjar adalah kong Eman seperti yang mpok Aya bilang.


"Ya ampun!" Neta menutup mulutnya.

__ADS_1


"Dasar haji gejul! Bini di rumah, nih aki-aki malah keluyuran nyawer biduan!" geram cing Anjar.


"Telfon lah enyak Epi!" titah tante Hana.


"Eh, jangan! Nanti berantem?!" larang Neta.


"Biar! Biarin aja berantem, biar tau rasa nih engkong-engkong!" mpok Aya meraih ponselnya dan mencari nomor nyak Epi.


Neta bergidik ngeri melihat cara kerja Alvi yang sampai mau-maunya disentuh-sentuh begitu bahkan oleh kong Eman dan para lelaki lain.


"Ya Allah, segitunya banget cari duit."


Langkah kakinya dihentak keras, tak tunggu lama nyak Epi telah sampai disana dengan kemarahan yang siap meledakan siapapun yang ada disana.


"Nyak Epi!" tunjuk Neta.


"Nyak!"


"Temenin mpok!" tuduhnya lagi.


Keempatnya segera berlari menuju tengah acara dimana seorang perempuan tua mendekati panggung dengan sepaket rasa kecewa dan marah, lihatlah sang suami yang sudah tua itu, dengan asiknya ia malah joget-joget sama biduan sambil buang-buang duit ke arah lubang dadha biduan.


"Bagus ya elu! Gua di rumah lu kelayapan!" geramnya berkacak pinggang.


"Bang, bang! Nyak Epi!" ujar Pudin.


"Biar aja, paling marahin kong Eman! Lagian udah tua ngga tau diri," sahut Opik membalas.


"Eh, si abang! Itu kalo mereka berantem di panggung gimana, ntar rusuh?!" timpal Yudha.


Rohmat tertawa, "Pik, deketin lah! Takut rusuh!" ia dan Opik sudah melangkah maju untuk siap di sana.


Tangan Neta tiba-tiba ditahan seseorang, "mau kemana?"


"Neng cantik diem disini. Ngga liat disana penuh sama orang? Nanti kesenggol-senggol, aku ngga mau neng sama dedek kenapa-napa. Tunggu disini."


Lantas Jaka celingukan mencari Sinai, "Nai! Nai!" panggilnya berteriak.


Gadis itu menoleh, "kang!" ia berlari mendekat.


"Temenin mpok disini, jangan sampai masuk ke tengah acara. Bentar lagi chaos, tuh!" tunjuk Jaka ke arah bagian tengah dan belakang penonton, dimana pol PP dan hansip sudah bersiaga mengamankan warga yang siap mengacaukan situasi.


"Siap kang!" Sinai sudah menjadi garda terdepan Neta bersamaan dengan Dwi yang turun panggung.


"Tunggu," usapnya di pipi Neta, lalu ia mengecup kening Neta dan pergi ke arah bagian depan, tepat di bawah panggung.


Jaka juga memanggil setiap anak Tarka perempuan untuk diam di belakang panggung bersama Neta, termasuk Rahma, ia tak mau anak Tarka jadi sasaran kerusuhan.


"Serem banget kalo udah gini, di belakang udah ada yang ngoceh ngga jelas sambil bawa-bawa botol!" gidik Ankeu.


"Iya makanya kang Jaka nyuruh kesini," jawab Rahma melihat Neta menunduk singkat seraya tersenyum kaku.


"Abang!!" Nyak Epi melesak diantara keramaian, ia sampai berusaha naik ke atas panggung dan menarik-narik kaki suaminya, kong Eman.


"Bantuin gue naik!" pintanya pada penonton lain dengan kepayahan mencoba menaiki panggung yang cukup tinggi.


"Nyak, udah ya nyak, jangan ribut disini?!" ujar Rohmat.


Nyak Epi menatap tajam Rohmat, bahkan Rohmat saja yang tak ikut campur kena getahnya.

__ADS_1


"Lo jangan ikut campurr! Ini urusan rumah tangga gue sama tuh aki-aki!" ia menjewer Rohmat dengan gemas membuat Opik tertawa.


"Iye nyak, Omat tau. Tapi ini di depan umum!" balasnya mencoba menenangkan istri yang tengah dilanda cemburu.


"Lo mau bantuin gue naik apa mau ceramah?! Gue sama lo, siapa yang haji?!" sengaknya melotot. Pudin sudah tertawa tergelak, tak akan menang melawan ngamuknya emak-emak, apalagi jika melihat suami nyawer biduan, ia sudah masuk senggol ba cok.


"Nyak, biar Jaka yang panggil babeh," ujar Jaka menghampiri nyak Epi.


"Panggil Jak! Ngga rela gue die nyawer-nyawer begitu! Duit di buang-buang, lah giliran gue yang goyang di kasur kagak pernah disawer!" ujarnya.


"Nyak udeh nyak," mpok Aya, cing Anjar dan tante Hana hadir disitu.


Dengan sekali gerakan Jaka sudah naik ke atas panggung dan memanggil kong Eman, tapi bukannya ia terpanggil, malah asik saja bergoyang, lembaran uang di genggaman masih tersisa beberapa lembar, tak peduli jika jepang akan kembali memboncengi sekutu lalu datang dan membumi hanguskan lapangan ini sekarang juga, poko'e joget!


"Bang Gahar!" seru Alvi senang, ia memajukan langkahnya ingin menarik Jaka untuk ikut bergoyang dengannya. Tapi Jaka cukup sadar untuk tak terpengaruh, ia cukup kuat untuk menghindari Alvi di balik kong Eman.


"Beh, ada nyak Epi..." ucap Jaka.


"Kagak ada Jak, bini gue di rumah! Udah tidur diee!" jawabnya sambil bergoyang dengan mengangkat kedua tangannya di udara.


Baru saja berkata begitu, telinganya kini dijewer kencang berikut pinggang dicubit keras.


"Pulang kagak lo?! Atau gua minta cerai sekarang?!" ancamnya.


"Ini lagi! Biduan kegatelan lu!" hardik Nyak Epi pada Alvi.


Bukannya membantu Opik, Rohmat, Pudin, Okie malah tertawa di bawah sana.


Namun belum reda dengan masalah di depan sana, di bagian tengah penonton kini terjadi kerusuhan, beberapa oknum penonton sudah meracau dan mencari keributan tak jelas, membuat situasinya jadi chaos.


POL PP dan hansip segera bergerak mengamankan, termasuk anak Tarka, ada Yudha dan Eri disana.


Neta sampai celingukan melihatnya, "kok sampe begini sih? Emang sering ya?" tanya nya.


"Kalo ada dangdut pasti kaya gini sih mpok, kaya mengundang hawa panas gitu lah!" kini Rahma menyahut.


"Oh,"


"Apalagi kalo biduannya hot gitu mpok, mana beberapa centi lagi tuh baju sampe ke belahan si miki," ujar Sinai.


"Heran deh, apa enaknya pake baju kaya gitu! Malu iya!" tunjuk Ankeu.


"Eh, lo salah Keu. Justru outfit tuh mempengaruhi saweran!" jawab Dwi, membuat mereka tertawa termasuk Neta yang mengangguk-angguk, "bener kamu!"


"Emang kalo ada yang tampil ngehibur gitu suka disawer ya?" tanya Neta.


"Iyalah mpok, kalo penampilannya memuaskan pasti ada saweran. Tadi aja waktu mpok ada yang sampe maju-maju pengen lempar duit!" oceh Sinai langsung membekap mulutnya keceplosan.


Neta menoleh kilat, "terus kenapa ngga nyampe duitnya?"


"Kang Jaka yang jagain di bawah, akang yang nyuruh bikin pagar betis anak-anak Tarka," timpal Ankeu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2