Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB# 24. PERTAHANAN MULAI RUNTUH


__ADS_3

Neta beranjak refleks mengikuti langkah Jaka keluar dari kontrakan, mengantarnya hingga teras depan dan tak mau melewatkan menatap Jaka sampai benar-benar hilang di ujung gang.


"Neng Sanet!" suara cempreng cing Anjar mengalihkan pandangan Neta dari gang, suara riuh sedang dari mpok Aya, tante Hana, dan nyak Epi menjadi latar berikutnya yang bersuara. Rupanya emak-emak ini lagi makan bareng di teras kontrakan cang Mu'in.


"Sini neng, jangan ngerem-ngerem bae di dalem. Ngga lagi betelor kan?" ujar mpok Aya.


"Elu---dikira ayam, betelor! Takut kali dia sama elu, makanya kalo ngomelin si Pudin jangan kenceng-kenceng, sawan die dimari! Ntar minta si Jaka buat pindah lagi," dengan mulut yang suhah-suhah karena sambal nyak Epi mengambil tahu goreng dari piring yang berjejer di depan mereka, "Sini neng!" ajaknya, Neta tersenyum dan ikut bergabung, daripada cuma di rumah ditemenin kartun saja bikin bosan, ia lebih baik bergabung dengan club emak-emak pecinta makan lesehan.


"Sini makan neng! Tuh, ada patin, semur jengkol, tahu, apaan lagi tuh..." tunjuk wanita berjilbab ini berkomat-kamit diantara kunyahannya, jemari dipenuhi lelehan bumbu semur jengkol ia jilati.


"Ada ikan cue neng, daun singkong, sambel terasi noh! Dijamin, sambel terasi buatan cing Anjar paling top dah!" seorang wanita paruh baya lainnya dengan sebagian rambut yang mulai memutih itu mengacungkan jempolnya di udara. Sementara mpok Aya sudah mengangsurkan piring beling bening mungkin hadiah dapet beli detergent di supermarket. Kenikmatan mereka seperti tak terganggu meski hanya makan di teras kontrakan begini, bukan diantara padang rumput atau padang bunga.


"Laki gue aja kepincut gara-gara sambel terasi gue. Pelet alami nih neng!" ucapnya menyentil hati Neta.


Neta menggeleng, "barusan banget aku baru makan mpok, cing...makasih," jawab Neta menggeleng duduk melantai di samping mpok Aya.


"Udah tuh di rumah, disini belum! Tradisi emak-emak disini tuh makan bareng lah dek," ujar tante Hana berlogatkan batak.


"Masih kenyang tante," jawab Neta.


"Tapi maap---maap ye neng, disini mah makanannya kagak mewah...seadanyee...tapi dijamin lah! TOP! Rasa bintang 5!" ucap cing Anjar.


"Sering-sering keluar neng, biar kenal. Kite-kite ngga gigit!" tawa cing Anjar, membuat Neta tersenyum miring.


"Nih neng, kenalin...nyang ini tante Hana, mungkin elu belum kenal, die.. bini bang Togar, yang mukanya sangar itu! Nyang nyanyi poco-poco saban waktu," ucap Mpok Aya.


"Maaflah aku tak datang di nikahan kau sama si Jaka...adekku yang ngontrak di bilangan Bintaro sakit lah, jadi cuma abang saja yang datang...tapi aku ada titip amplop sama bu Sri," imbuhnya.


Neta tersenyum, "ngga apa-apa tante, makasih. Tante ada dikasih hampers besek sama Jaka?" tanya Neta. Ia mengangguk, "ada! Makasih lah, isiannya bagus! Kalo orang tajir beda, isiannya bukan cuma mie instan doang sama minuman isotonik!" tawanya di setujui yang lain.


"Tadi kudengar kau baru balik subuh? Kerja apa kau dek, kudengar bareng sama si Jaka di bar itu?!" tanya tante Hana. Neta duduk menatap keempat emak-emak gang senggol yang dengan lahapnya makan, "DJ tante," jawab Neta.


"Ha?! DJ tukang apaan tuh?" tanya nyak Epi tak mengerti, maklum lah orangtua mah taunya musik kroncong, wayang, jaipongan, lenong, banteran juga dangdutan di RW sebelah.


"DJ nyak, disc jockey!" jawab mpok Aya yang sebenarnya ia pun tak mengerti tugasnya disc jockey itu ngapain, cuma pernah denger namanya aja dari si Pudin.


"Apa? Dis apaan?" Nyak Epi sampai mendekatkan kepalanya menyamping ke arah mpok Aya, membuat Neta tertawa, "disc jockey, nyak..."


"Joki?! Ya Allah neng, apanan udah kagak berlaku jalur 3in1! Apa masih ade? Jangalah, bahaya! Ntar lo ditangkep pulisi, udehhh biar si Jaka aja nyang kerja, elu mah tinggal bebenah di rumah, dandan nyang cantik, layanin suami..." ujar nyak Epi.


"Aduhhh, susah lah ngasih tau orangtua! Bawaannya pengen jelasin sambil bawa golok!" jawab cing Anjar.


"Si alan lu," desis nyak Epi.

__ADS_1


Mpok Aya tertawa sampai tersedak sambal, "sesama orangtua jangan saling mendahului cing, dikata cing Anjar masih muda."


Neta kembali tertawa, orang-orang ini begitu terbuka dan menerimanya. Jauh dari kata arogan, sombong atau membully, bahkan tak sungkan memberikan apa yang mereka punya, menawarkan apa yang sedang mereka makan, padahal notabenenya Neta adalah orang baru.




Sepiring teman nasi diantaranya ikan cue, semur jengkol, sambal terasi, patin bumbu kuning dan tahu goreng kini diterima Neta. Nyak Epi, sang istri pemilik kontrakan tetap memaksanya membawa itu, katanya pantang kalo udah ikut gabung tapi ngga bawa apa-apa, pamali!



Neta sedang mengotak-atik ponsel miliknya, beberapa kali Wening mengirimkannya pesan.



*Am, jalan yuk! Nyalon, atau belanja...barang bagus nih datang limited*!



*Tumben amat ngga gercep, nike barang baru nih. Ntar keabisan*!




Jika biasanya dulu ia tak akan berpikir 2 kali untuk memilih menyetujui ajakan Wening untuk hang out dan berbelanja, tapi kali ini hatinya terasa hambar dan berat jika ia melakukan itu tanpa persetujuan Jaka, apalagi kalau tidak bilang, seperti beban tersendiri yang secara otomatis terjadi. Kenapa ya? Neta bahkan menggaruk kepalanya bingung.



"Assalamu'alaikum..."



Karena terlalu sibuk memikirkan itu, kedatangan Jaka sampai tak ia sadari.



"Wa'alaikumsalam," baju yang sudah kotor dilumuri oli adalah outfit Jaka sepulang dari bengkel, dan Neta harus terbiasa dengan pemandangan yang menurutnya.... menawan. Rambutnya sama sekali tidak klimis justru berkeringat sedikit acak-acakan.



*Apaan nih, kenapa sama mata gue*?!

__ADS_1



Satu piring lauk makan yang Neta taruh di meja lemari dapur menjadi sorotan Jaka, "beli lagi?"



Neta menggeleng, "dikasih sama ibu-ibu sini," kali ini menjawabnya jujur.



"Oh," Jaka meraih gelas dan memencet tombol dispenser, lalu meneguk air dalam sekali tegukan.



Lelaki itu menyambar handuknya dan melengos ke kamar mandi. Hingga pemandangan menakjubkan lainnya Allah tunjukkan untuk Neta kali ini.



Badan bagus terkesan atletis meski kulitnya coklat renyah, mana masih basah dengan kotak-kotak di bagian perut, bikin iler netes.



*Astagfirullah*! Neta kini melangitkan kalimat istighfarnya. Belum sampai disitu, Jaka yang kemudian masuk dan keluar dengan koko putih dan sarungnya merapikan peci hitam di kepala lengkap menyemprotkan aroma maskulin bercampur kasturi.



Aroma ini yang membuat Neta belakangan ini begitu merasa tenang dan damai sampai tertidur. Memang beda, disaat sebagian lelaki memilih sibuk pergi sana-sini, ia lebih memilih menyibukkan dirinya untuk mengunjungi masjid dan bersimpuh di depan Tuhannya, mengagungkan seluruh pengharapan dan kewajibannya sebagai umat.



Pertahanan seorang Shanneta sedikit demi sedikit mulai roboh, tanpa harus Jaka merayunya.



"Solat dulu baru tidur siang..." titahnya, tanpa penolakan atau mendebat Neta mengangguk luluh.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2