
Selepas kepergian Jaka, ia hanya bisa rebahan saja, merenungkan semuanya. Diliriknya ke samping dimana sayup-sayup terdengar dari bilik sebelah, pasien dan penunggunya sedang mengobrol asik tak sepertinya yang mendadak nyepi saat Jaka keluar. Meskipun sedikit tak mengerti dengan kalimat yang diucapkan, namun ada kata-kata yang Neta mengerti diantaranya uang, ingin cepat pulang, dan kejadian yang dialami.
Sudah bosan ia memandangi langit-langit kamar putih bersih tanpa ada hewan seperti dikontrakannya ataupun sarang laba-laba menempel dan gorden cream yang menutupi biliknya. Hingga akhirnya ia cukup tersentak saat gorden dibuka sedikit, rupanya seorang ibu paruh baya dari bilik samping menyodorkan beberapa potong kue bolu dengan alas tissue.
"Gek bukan dari Bali asli?" tebak nya tepat, mungkin terlihat dari wajah Neta yang tidak mirip pahatan Wisnu Kencana tapi lebih mirip patung Pancoran.
Neta menggeleng, "bukan ibu, Jakarta. makasih..." Neta dengan tangan yang bebas menerima kue darinya.
"Oh, pantas." jawabnya singkat, yeah pantas! Pantas mirip ondel-ondel, Neta tersenyum kaku.
"Dimakan gek, siapa yang menunggu? Bli tadi kemana?" tanya nya.
"Suami saya lagi ke pasar ibu, terimakasih--" jawab Neta, ia mengangguk, lantas kembali ke tempatnya.
"Oh, sudah menikah," ia mengangguk-angguk paham.
Allah memang selalu memberikan kejutan tak terduga, dimanapun ia selalu menyebar orang-orang baik meskipun ia tak tau apakah orang itu satu umat atau bukan. Diantara kunyahannya memakan kue, derap langkah beberapa orang dengan sepatu yang menghentak lantai terdengar jelas.
"Pasien Shanneta Amber disini pak," seorang suster membuka tirai hingga nampaklah kini pria dan wanita berseragam dan tidak.
"Selamat pagi saudari Shanneta,"
"Pagi pak, bu..."
Polisi yang Neta hitung berjumlah 3 orang dan satu wanita itu masuk, memenuhi bilik berukuran tak begitu luas mengelilingi Neta.
"Gimana kabarnya nona Shanneta?"
"Baik. Panggil aja Neta bu," jawabnya tak suka dengan embel-embel depan, kecuali kalo depannya pake yang mulia sih ia fine-fine saja.
"Oke, Neta..."
Neta melirik seorang lain yang memakai kaos navy dengan kerah membawa serta paper bag besar
Jaka cukup handal, meskipun sedikit kesulitan mencari. Akhirnya ia bisa membawa beberapa potong kaos untuknya dan Neta.
Dilihatnya para penjual kue-kue basah khas Bali yang berjejer rapi menjajakkan dagangannya dengan pakaian khas disana. Langkah kakinya menghampiri hamparan tampah yang di jajakan.
Ada kue seperti serabi namun diatasnya dibubuhi taburan kelapa dan gula kinca, *laklak*. Geser ke sampingnya ada kue dengan bentuk mirip terompet, *cerorot*. Ada beberapa lainnya seperi *pie susu, jagung urap, jaje klepon, abugsari, dan bendu*.
Neta yang doyan ngemil pasti akan suka, Jaka membeli beberapanya untuk ia bawa ke rumah sakit.
Proses pemeriksaan saksi ini berlangsung cukup lama, Neta memberikan keterangan dan kesaksiannya dengan kooperatif dan detail, hingga Jaka kembali lagi pun pihak kepolisian masih belum meninggalkan tempatnya.
Ia menghampiri bilik Neta dengan beberapa kresek hitam yang menggantung di tangannya. Mereka kompak menoleh saat Jaka masuk,
"Ini---"
"Saya suami Shanneta pak,"
"Oh," mereka mengangguk paham.
Dari matanya Jaka dapat melihat Shanneta yang cukup trauma dengan kejadian itu, tengah berusaha sekuat mungkin menjabarkan peristiwa dengan detail, meski sesekali ia harus menyeka mata dan hidungnya.
Kemudian ia terlihat meniup-niup udara dengan kasar pertanda sedang menetralisir rasa sesak di dada. Beberapa kali anggukan dalam ia berikan sebagai jawaban dari pertanyaan pihak berwajib.
Perempuan ini menyerot hidungnya kembali dan menyeka air mata saat semua sudah selesai, beberapa jam yang menguras emosi. Paper bag yang sejak tadi dipegang kini diserahkan pada Neta.
"Ini mungkin barang milik Shanneta, coba di cek apa betul?"
Neta dibantu Jaka melongokkan kepalanya ke arah paper bag dan mulai mengeluarkan barang-barang.
__ADS_1
"Alhamdulillah, balik lagi barang-barang gue." gumamnya saat Jaka menarik satu persatu barang.
"Makasih pak, bu..iya ini barang-barang saya."
Rupanya tak berhenti disitu saja kunjungan untuk Neta hari ini, keluarga dari pihak alm. Alicia dan Jason menjenguknya dengan membawa buah tangan sepaket permintaan maaf langsung pada Neta dan Jaka.
Seorang ibu yang kehilangan anak gadis tersayang kini tengah memeluk Neta erat, menumpahkan semua rasa sedihnya. Mungkin seperti ini pula gambaran ibu dan kak Syifa jika kemarin ia tak selamat.
"Mas Jaka sama mbak Neta ngga usah khawatir dengan biaya rumah sakit. Sudah kami tanggung sampai mbak Neta keluar, biaya transport ke Jakarta nanti tinggal telfon Aletta saja, sesuai perjanjian mbak Shanneta dan Alicia sebelumnya. Sekali lagi kami minta maaf atas kejadian ini, kami pamit pulang ke Jakarta."
Anggukan dalam diberikan Neta dan Jaka, "saya ikut berbela sungkawa pak, bu..."
Tatapan getir terpancar dari Neta saat keluarga Alicia dan Jason keluar dari ruangan berteman derai air mata.
"Mau diseka?" tanya Jaka memecah lamunan Neta dari gawang pintu, jelas Neta sedang melamun karena kedua keluarga itu sudah hilang dari sana.
Sedikit berpikir tapi kemudian ia mengerutkan dahinya, "sama kamu?"
Jaka mengangguk, "emangnya disini ada siapa lagi selain aku?" balik Jaka bertanya, senyumannya usil menyiratkan *jika mereka akan melalui hal menyenangkan saat diseka. Call me nanny*!
"Abis kamu diseka dan bersih, kita kabari orang rumah termasuk ibu sama Wulan di Garut," kembali Jaka berucap.
Setelah menunggu arisan 7 kocokan, barulah Neta mengangguk ragu menerima tawaran babysitternya itu untuk diseka. Sudah kepalang tanggung buka-bukaan, buka saja semuanya sekalian.
Jaka meminta air hangat dan kain handuk pada suster.
"Mau diseka ya bu?" ia melebarkan senyuman seperti sedang mendukung apa yang akan dilakukan oleh Jaka.
Lihatlah wajah datarnya, menyimpan sejuta pikiran mesum, Neta mencebik.
"Nanti untuk perban luka-nya, biar diganti perawat ya pak," anggukan singkat menjadi jawaban Jaka. Tak tunggu lama, lelaki itu menutup bilik ruangan Neta dan dengan cekatan menyentuh kain penutup badan Neta, bukan hanya Jaka saja rupanya yang merasa kena serangan gugup dadakan. Jaka malahan sudah menelan salivanya berkali-kali, belum apa-apa rasa membuncah sudah menggedor-gedor dalam dirinya. Begitu mulusnya kulit Shanneta mirip batuan pualam yang sudah dipahat sedemikian rupa, putih mirip susu steril, lihatlah jika dibandingkan dengan kulitnya sudah seperti siang dan malam.
Salahnya yang mencari masalah dengan memaksa Neta untuk mau diseka, kini ia sendiri yang belingsatan memupuk keimanan setipis lapisan kulit ari.
Tubuh seindah ini sudah halal untuk ia sentuh, disusurinya leku kan indah layaknya pinggiran sungai amazone dari atas hingga menuruni bukit indah, apakah itu area nip ple? Astagfirullah, gusti! Yang di bawah sana apa kabar? Ia menanamkan pemahaman dalam pikirannya, jika Shanneta tengah ada dalam kondisi tak memungkinkan untuk melakukan hal menyenangkan dengannya. Jaka segera menyelesaikan tugasnya dengan cepat jika ingin tetap waras.
__ADS_1
"Jaka," bahkan suara berbisik bak lebah yang dikeluarkan Neta sudah seperti cobaan terbesar sepanjang sejarah.
"Ya?" Jaka menelan saliva sulit.
"Maafin aku ya," sadar akan kesulitan Jaka, Neta segera menutup *bagian indah part 1* miliknya dengan selimut setelah Jaka berhasil menyapukan waslap basah.
"Ngga apa-apa, aku baik-baik aja." Bohongnya, *bulshittt Jaka! Setelah ini apakah Jaka harus berkenalan dengan sabun*?
Neta tersenyum, "bokis banget! Jakun kamu ngga bisa boong," tawanya di susul tawa Jaka.
"Kelihatan ya?"
Neta mengangguk, dan tiba-tiba saja istrinya itu memiringkan wajah dan nyosor kaya soang demi mengecup bibir kenyal Jaka, dengan niat meredam perasaan membuncah mengulangi kejadian tadi pagi dan pagi di waktu lalu. Tapi bukannya mereda, perasaan itu malah menular padanya.
Per se tan dengan kondisi sakit Neta, mungkin sentuh-sentuh dikit ngga akan bikin Neta patah tulang lagi. Waslap yang semula dipegang Jaka kini sudah berada kembali dalam baskom di atas kursi samping, tangannya bebas menyusuri dan mengusap punggung Neta yang sontak bereaksi karena geli, lalu beralih maju ke depan menyentuh benda menggantung yang sejak tadi sangat ingin ia sentuh dalam tanda kutip, apakah selembut kelihatannya.
Tanpa perlawanan dan penolakan Neta menyerahkan dirinya begitu saja, ia tak tega dengan Jaka yang sejak tadi menahan diri.
*So soft*....
Neta sedikit bergidik saat kulit sensitifnya disentuh telapak tangan kasar Jaka meski dengan kelembutan, hingga tak sadar yang dibawah sudah basah.
"Jaka," Neta melepaskan tautan benda kenyal padahal Jaka masih betah berlama-lama.
"Hm,"
Ia tersipu malu, "malah aku yang basah..."
Jaka menyemburkan tawanya membuat Neta memukul-mukul dadha bidangnya, "kok kebalik?"
.
.
.
.
.
__ADS_1