
Neta sudah menguap beberapa kali, selepas kepulangan bu Nilam dan mas Syarif ia mencuci piring kotor agar tak menyisakkan pekerjaan nantinya. Mewek itu ternyata bikin hayati lelah!
Kelopak mata seberat beban pikiran rakyat ia jatuhkan hingga terlelap diatas kasur tanpa daya dan perlawanan, tak ada yang namanya tidur cantik mirip snow white, yang ada ia tengkurep kaya kura-kura ninja dengan mulut menganga siap menumpahkan banjir bandang dari goa yang untungnya sudah sikat gigi.
Jaka terlihat masuk ke dalam rumah, setelah mengantarkan ibu dan mas Syarif bolak balik ke halaman bengkel ci Olin, netra hitam itu jatuh pada jam dinding berwarna ungu yang lurus menunjuk angka 08.30, kacanya masih jernih dan mulus bahkan masih bau toko pertanda benda itu baru dibeli. Yap! Shanneta membubuhkan sentuhan wanitanya di kontrakan Jaka, katanya biar semarak dan lengkap, biar keliatan kaya rumah orang bukan rumah hantu. Shanneta sempat mengutarakan niatannya untuk membeli barang rumah tangga lainnya atau sekedar membawa barang miliknya dari rumah. Tapi kemanakah wanita itu sekarang?
Dilongokkannya kepala ke arah kamar, dimana dengkuran halus bersumber, Jaka terkekeh melihatnya.
Lama ia memperhatikan, membuat mata Jaka ikut tersihir dengan bubuk-bubuk rasa kantuk. Apakah Neta benar-benar sudah terlelap? Boleh kalee ya, ia merebahkan otot-otot yang kaku dan mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah barang 30 menit saja di samping si neng cantik yang lagi mangap? Toh Neta tak akan sadar.
Empuk, Jaka akui itu...uang memang tak akan menipu. Dibanding kasurnya yang sudah tipis dan lepek jelas ini berbeda 100 kali lipat, maaf aku tidak bisa menjanjikan kemewahan buat neng cantik. Jaka menoleh ke samping, terbius dengan wajah cantik istrinya...melihat pahatan sempurna yang sering ngomel dan mengeluh rasanya bikin gemas, bibir yang mangap saking lelahnya itu selalu berkata sowang jika ia nyosor mengecup keningnya yang kecup'able tanpa permisi, Jaka tertawa-tawa sendiri mengingat itu. Tapi kejadian subuh tadi benar-benar membuatnya murka, pertama kalinya Jaka melihat wajah menyedihkan versi Shanneta dan itu membuatnya hancur.
Jaka memijit kening dan mengusap wajah dengan kasar, hampir saja ia kebablasan dan kembali terlelap, ditatapnya ke arah samping, dimana Neta sudah berbalik arah membelakanginya meski ia masih terlelap.
Pekerjaan sudah menanti, ada ibu, adik dan istri yang harus ia hidupi saat ini, Jaka memaksakan dirinya untuk bangun, menyentakkan diri dengan siraman air agar segar. Ia bukanlah CEO, bukan pula anak bangsawan buckingham, hanya anak seorang janda biasa dari Garut yang datang ke Jakarta untuk merantau, dan kebetulan ketiban rejeki nomplok seorang istri cantik.
Ia sudah segar karena memutuskan untuk mandi sebelum ke bengkel, meski nantinya harus kembali berkutat dengan oli dan bensin lagi.
Handuk hijau botol dililitkan di pinggangnya, diliriknya Neta yang masih terlelap bergulingan di atas kasur seraya garuk-garuk kaki, kalaupun Neta harus melihat ia yang telan jank anggap saja itu mukkadimah.
Jaka menutup pintu kamar dan beralih membuka setiap laci lemari plastik mencari pakaian bersih.
Suara nyamuk begitu bising di telinga Neta, ia yang asik terlelap harus terganggu dengan rasa gatal dan suara berisik kepakan sayap si nyamuk nakal yang bak baling-baling helikopter. Beberapa kali Neta menggaruk bagian kaki, "Jaka kontrakan kamu kaya kebon binatang! Segala macem hewan ada disini..." gumamnya mengeluh dengan mata terpejam membuat Jaka menoleh terkekeh.
"Nanti beli lotion atau obat nyamuk di warung...sebelah kan ada sepetak kebun singkong punya kong Eman, jadi pasti banyak nyamuk--" jawab Jaka memelorotkan handuk hingga ia jatuh di bawah kaki menampakkan isian handuk yang belum di tutupi sama sekali, bersamaan dengan Neta yang membuka matanya. Sontak saja mata yang masih samar itu terpaksa membeliak, dan mengerjap bukan main, rasa pusinh karena tidurnya terganggu semakin pusing saja dengan suguhan pemandangan di depannya.
"Jaka!" jeritnya, namun tak dapat dipungkiri Neta tak munafik ia tak mau melewatkan sedetik pun untuk melihat sesuatu yang membuat salivanya sulit untuk ditelan. Masya Allah! Nikmat mana yang kau dustakan lagi, wahai hamba yang berlumur dosa?!
__ADS_1
Bukannya malu atau panik bak perjaka ting-ting yang takut ternodai, Jaka malah acuh saja, asik memilih dan memakai celana di depan Neta dengan kalemnya.
"Jaka, ngga tau malu, por no ih! Kamu bisa kena jerat hukum tau ngga?!" jeritnya sewot seraya tertawa-tawa, baru buka mata udah disuguhi pemandangan yang bikin hati deg-deg serr, salah jika ia menganggap Neta takut atau so so'an tak mau...Shanneta adalah wanita dewasa yang normal, bukan abg yang baru netes dan malu-malu kalo di kecup.
"Hukum apa? Pasal berapa yang bisa bikin suami masuk bui karena buka baju di depan istrinya sendiri?" tanya Jaka yang sudah berpakaian, ia berjongkok di depan Neta. Aroma sabun mandi menyeruak menusuk hidung, rambutnya begitu segar dan basah acak-acakan, sukses membuat Neta tak berkutik, pengennya jambak. Ia sudah terjerat pesona suami montirnya.
"Kamu belum tidur?" tanya Neta dengan muka bantalnya.
"Udah sebentar, masih ada waktu nanti pulang kerja sebelum ke Shangri-la." Tangannya bergerak merapikan beberapa helai surai yang menghalangi wajah cantik Neta, bahkan sedang mengantuk dan baru bangun tidur saja gadis ini masih terlihat cantik di mata Jaka.
"Neng cantik terusin aja tidurnya, pake selimut biar ngga diganggu nyamuk, biar nanti istirahat aku beli lotion sama obat nyamuk di warung...aku harus ke bengkel sekarang, udah telat."
"Jaka tunggu!" ia mengejar Jaka Barokah sebelum suaminya itu sampai ke pintu depan.
Ditariknya kaos bagian perut Jaka lalu ia dengan kesadaran penuh menarik diri menempel dan menyarangkan kedua belahan bibirnya di bibir Jaka. Jaka cukup tersentak dengan apa yang dilakukan Shanneta, ia sempat terpundur dengan tubrukan badan Neta yang tiba-tiba, namun ia menahannya dan memegang pinggang Neta, memberikan si neng cantik ini kesempatan memuaskan keinginannya.
Luu mat an dan hisapan Neta tak begitu mahir, karena sejujurnya ia bukan *pemain*. Namun cukup membuat Jaka bergai rah, jika tak ingat harus bekerja, mungkin ia akan merayu dan menggoda Shanneta agar memberikan haknya segera meski harus sedikit memaksa.
"Semangat kerjanya," bisik Neta sen sual, tersenyum dengan bibir yang sudah basah. Pemandangan indah berikutnya yang tersave di otak Jaka.
__ADS_1
"Iya," Jaka tak bisa untuk tak melemparkan senyuman. Pasti ia akan semangat bekerja jika sudah diberi vitamin begini.
"Aku pergi dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Senyuman tak pernah luntur menghantarkan Jaka sampai benar-benar pergi. Shanneta gemas dan geli sendiri dengan tingkahnya barusan, hingga tak sadar ia jingkrak-jingkrak sendiri sambil mengepal gemas di teras rumah.
"Geblek banget, gue agresif banget ih!" ucapnya tertahan saking greget. Tanpa sadar tingkah konyolnya itu diperhatikan tante Hana yang sedang menjemur.
"Kau kenapa dek?!" tanya nya berteriak.
*Deg*!
"Mamposss kan ada yang mergokin," gumamnya menggaruk kepala tak gatal.
"Ah engga tante, tante lagi jemur ya?!" tanya nya mengalihkan topik pembicaraan dengan wajah yang sudah memerah.
.
.
.
.
.
__ADS_1