Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 62. SEPETAK KENANGAN PENUH CINTA


__ADS_3

Sepasang suami istri tua itu sudah kembali diamankan oleh anak-anaknya dan sedang menyelesaikan masalahnya di dalam rumah. Pun, tetangga yang melihat sudah dibubarkan. Tontonan drama ftv pagi sudah selesai.


Jaka menarik selotip bening untuk memperkuat lapisan kardus demi mengangkut barang-barang.


"Ini diangkutin dari sekarang aja, neng. Biar besok ngga riweuh. Tinggal bawa sisanya,"


Neta mengangguk manis membalasnya, bukan dengan kata-kata karena sejak tadi mulutnya mengunyah gorengan. Beruntunglah Jaka, Neta tak pilih-pilih makanan di kehamilannya.


"Berarti besok cuma tinggal kasur doang barang yang gedenya?" tanya Neta, Jaka mengangguk.


"Sanet, Jak!" mpok Aya langsung nyelonong saja masuk dengan membawa kardus bekas produk kue kaleng karena pintu terbuka selebar badan si kentung.


"Ini cukup kagak? Udah yang paling gede nih dari warung koh Lian."


"Gede mpok, makasih." Jaka menerimanya dari mpok Aya, ibu Pudin itu ikut duduk melantai di karpet bersama Neta, sambil memperhatikan Jaka mengemas barang-barang, tatapannya nyalang, "baru juga disini berapa lama, Net. Udah pada pindah aje..."


Neta mengusap tangan mpok Aya, "pindah juga ngga jauh-jauh amat, mpok."


"Maen aja ke rumah. Lagian kalo siang aku sendirian di rumah. Kan akang kerja di bengkel ci Olin, atau siang aku main kesini, biar nanti pulangnya dijemput akang sambil pulang," jawab Neta.


"Iya dah. Pindahannya besok kan? Cing Anjar ngajakin nganter sambil makan-makan di rumah baru elu."


"Boleh mpok, boleh banget! Sekalian sukuran kecil-kecilan, ajakin ibu sama kak Syifa, gimana kang?!" tanya Neta, Jaka mengangguk setuju, "boleh."


"Kalo gitu gue balik dulu deh, belum nyuci!" ia terkekeh.


"Iya. Makasih mpok!" ucap Jaka dan Neta.




"Aku tuh belum pamit sama nyak Epi, mau pamit tapi nyak lagi berantem sama engkong."



"Nyak udah tau neng, biar nanti aja pamitannya. Malem ini jadi mau ikut ke Shangri-la?"



"Jadi dong!" angguknya cepat.



"Oke." Jaka melirik jam di ponsel yang sudah menunjukkan pukul 08.30 wib, "kalo gitu aku ke bengkel dulu, udah siang." Ia berdiri dan menggeser beberapa kardus ke sudut agar tak menghalangi jalan, "nanti sore aku cicil bawa ke ruko."



Neta mengangguk seraya ikut berdiri, menatap keseluruhan setiap jengkal kontrakan kecil nan sederhana ini, dimana cintanya tumbuh untuk seorang Perjaka, dimana ia belajar menjadi Shanneta yang baru. Rasanya baru kemarin ia datang dengan semua sifat angkuh, manja, tak bernurani tak bisa apa-apa. Ia terkekeh kecil melihat kamar mandi yang telah dipasangi pintu 3 minggu ke belakang.



"*Yang bener aja Jaka! Kamu pikir aku ikhlas buat ngeden sementara nanti kamu disitu!" ia memukul lengan Jaka dan menunjuk ke arah depan kompor*.



Jaka menyadari Neta tengah cengengesan sendiri menatap lorong kamar mandi, sudah pasti ia membayangkan kejadian lalu yang terjadi diantara mereka, ia melingkarkan kedua tangannya memeluk Neta dari belakang, "neng cantik ngebayangin kejadian vape yang jatoh, atau ngeden disitu?" tanyanya seraya mengecup pucuk kepala Neta.


__ADS_1


Neta tertawa kecil lalu membalikkan badannya, kedua tangan putih itu otomatis melingkar di leher Jaka, "iya. Kalo diinget-inget lucu aja, aku tuh galak banget sama kamu, tukang marah-marah..."



"Iya, neng cantik tuh galak. Tapi aku udah sayang."



"Ngga mungkin." Neta menggeleng, "aku tuh cewek galak. Sering bikin kamu kesel, pemalesan, ngga ngurusin kamu,"



"Karena aku jatuh cinta sama kamu sejak kamu minta aku nikahi kamu. Kamu cantik, siapapun akan bertekuk lutut sama kamu termasuk aku, semua sikapmu ku anggap tantangan buatku. Aku tau kamu adalah perempuan yang baik, itu terlihat dari kamu yang selalu menghargai keluargamu, ibumu sekalipun saat itu kamu dikira hamil tapi kamu tidak membentak, kabur apalagi melawan. Kamu menghormati ibuku, Wulan. Bikin aku semakin terpana, makin kesini aku semakin jatuh hati karena kamu yang mau belajar dan mau menerimaku."



"Shanneta Amber, calon ibu dari anakku, aku jatuh cinta untuk ke sekian kalinya sama kamu." ucap Jaka.



"*Love you more akang, love you more*..." balas Neta bergumam jelas penuh cinta. Jaka menarik dagu Neta, saat ini kecantikan Neta berkali-kali lipat, entah memang karena bumil selalu memiliki aura tersendiri, yang jelas di matanya Shanneta selalu menggugah jiwa lelakinya setiap waktu, apalagi saat ini. Jaka tak bisa mencegahnya.



Ditengah suasana yang penuh cinta ini Jaka ingin menggoreskan tinta terakhir kenangannya bersama Neta di ruangan sepetak saksi sejarah kisah cintanya bersama sang istri, untuk selanjutnya membuka lembaran baru di tempat baru bersama masa depan cerah.



Kedua benda kenyal itu berpa goetan hingga menimbulkan suara decapan nyaring. Semakin dalam Jaka meng his ap, semakin dalam pula keduanya terhanyut ke pusaran lautan kasih tak bertepi. Tangannya kini sudah menekan dan menahan tengkuk juga pinggang Neta agar mengikuti permainan. Sorot matanya masih terlihat mengelam, tapi Neta melepaskan pago etan keduanya, membuat bibirnya terlihat begitu basah, "kamu harus ke bengkel, nanti telat dimarahin ci Olin."




Jaka mengunci pintu dan membawa Neta ke dalam kamar, "mumpung kasur belum dipindah. Bikin kenangan terakhir dulu disini!" ucap Jaka membuat Neta tertawa kecil.



"Kamu ih! Doyan banget!"



Tak menyia-nyiakan kesempatan, ia lantas menghim pit tubuh istrinya di pintu kamar, dengan mata yang menggelap ia menenggelamkan dirinya kembali bersama Neta seiring tangan yang tak mau diam, menyusuri setiap permukaan kulit halus itu. Menurunkan setiap penghalang antara dirinya dan Neta entah itu kaos ataupun celana.



Neta tak pernah menyangka jika dewa kenikmatan ini adalah seorang Perjaka Barokah, karena sejak tadi ia hanya dibuat tak berdaya dan menthesah di atas peraduan yang berguncang. Jaka pintar menjelma, selain jadi montir dan ob ia juga pandai membawanya melambung ke angkasa, apakah ia seorang pilot pesawat boeing 737 jurusan langit penuh cinta atau justru nahkoda kapal asmara?



Setiap hentakan penuh gelora itu selalu diselingi dengan ocehan Neta yang memintanya untuk segera menyemburkan saus vanillanya.



"Akang jangan kelamaan, nanti ci Olin nungguin. Marah-marah,"



Kenapa harus terburu-buru jika ia bisa menikmatinya hingga ubun-ubun? Jeritan tertahan Neta menandakan jika istrinya sudah sampai sementara ia masih sibuk mendaki, ia selalu kehausan dan Neta adalah pelepas dahaganya.

__ADS_1



"Sebentar," bisik Jaka. Urat-urat tangannya semakin menonjol mencengkram sprei dan mendorong kuat sesuatu yang akan ia keluarkan di bawah sana. Hingga sesak di rongga inti membuat Neta semakin memegang kuat tubuh Jaka yang mene gang.



"Abis ini aku mau tidur," ujar Neta parau.



*Cup*!



Jaka melepaskan dirinya dan bangkit, diraihnya ponsel untuk mengabari ci Olin jika ia datang terlambat.



Ia menyambar handuknya dan melilitkan itu di pinggang, "kalo mau tidur, pintunya kunci. Istirahat kayanya aku ngga pulang, buat nebus datang telat."



"Hm," jawabnya menggumam. Setiap selesai menjalankan kewajibannya Neta selalu merasa jika dayanya habis.



Hanya 5 menit, Jaka mandi secepat kilat agar tak semakin terlambat.



"Pulangnya mau dibeliin apa?" tanya Jaka memakai kaos dan merapikan rambutnya.



"Terserah, apa aja aku makan." Jawabnya tanpa berniat melihat Jaka dan masih setia memejamkan mata.



Jaka menyunggingkan senyumannya melihat Neta yang meringkuk bergelung di balik selimut dengan bahu dan punggung yang masih polos.



"Mandi neng, biar seger. Aku pergi ya.."



"Hm." jawabnya lagi.



"Kunci pintu neng! Assalamu'alaikum."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2