Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 48. RAPAT TARKA


__ADS_3

"Jak," tepuk ci Olin sedikit keras persis nepok punggung kuda.


"Beneran kagak jadi nih?" tanya ci Olin mengangkat dagu singkat, ia sudah menyampirkan tas hitamnya di pundak dengan mencapit kuat bagian resleting dengan ketiak biar uangnya ngga pada kabur. Model tas boleh simple nan jadul namun isinya, beuhhh! jangan ditanya----jangankan stok sparepart motor di bengkel, kota tua berikut abang-abang tukang selendang mayangnya aja bisa dia beli!


Sendal selop merk Car vil, kaos oblong dan celana selutut, tak mencerminkan seorang konglomerat tapi percayalah gayanya yang tak seberapa itu bikin minder anak-anak muda kalo masuk mall. Anak CEO mah lewat sama cici-cici berkaos oblong!


"Engga jadi ci. Makasih," balas Jaka, mengingat ucapan sengit Neta tadi di rumah. Ia masih mau menjaga keharmonisan rumah tangga dengan menerima usulan istrinya.


"Ya udah kalo gitu, gue titip bengkel! Ntar kalo istirahat mau jum'atan, ada koko di dalem." pesannya pada Jaka dan Opik.


"Mau kemana ci?" tanya Opik mengelap tangan berlumur oli.


"Ke BSD dong, emangnya elu---pasar malem aja mainannya kalo ngga kantor kelurahan," jawabnya mencibir berseloroh mematikan gaya anak muda di hadapannya.


"Nah, udah tau anak buahnya kaya remahan engkong gua, sekali-kali modalin dong Ci buat jalan-jalan!" Opik pintar membalikkan kalimat Ci Oline, memang partner berdebat yang cocok antara bos dan anak buah ini, sementara Jaka sebagai penengah saja, netral tak ingin menanggapi selorohan yang bikin otak rebahan di tanah, harusnya sih lawan mainnya Shanneta maka akan klop ketiganya membentuk trio lenong.


"Jak, ntar kalo ada si Siwon dari Astra panggil aja koko." ujarnya, Opik tertawa dengan julukan para karyawan pemasok yang sering datang ke bengkel dari bosnya ini, sadis-sadis pengen nyantet.


"Ya," jawabnya singkat meneruskan pekerjaan.


*Aku pulang ke kontrakan ya, buat solat jum'at di sini. Nanti pulangnya baru ke rumah ibu*.



Pesan yang sudah dikirim sejak 30 menit lalu belum sempat Neta baca, karena sekarang ia tengah serius bicara dengan mas Syarif dan ibu.



"Sebentar lagi kan *si bunda* pulang tuh, kamu tanya deh. Gimana caranya buat ajuin kpr," ujar Syarif kini beranjak ke kamarnya untuk bersiap melakukan kewajiban kaum adam di hari jum'at.



Lantas ia melirik jam di dinding yang telah menunjukkan waktu setengah 12 siang, dan berohria saat membaca pesan dari Jaka, pantas saja jam segini Jaka belum terlihat batang lehernya, begitupun aroma tubuhnya yang tak tercium dari jarak 10 meter, rupanya lelaki itu tak pulang.



Neta tau jarak dari bengkel ke rumahnya memang lebih jauh ketimbang ke kontrakan, meskipun tak sejauh dari Jakarta ke rumah gubernur Jawa Tengah, membuatnya kembali berpikir dan menimbang-nimbang rencananya mengajukan KPR.



"Harus cari ruko yang deket-deket sama tempat tinggal sekarang, tapi juga strategis," gumamnya mengangguk-angguk yakin. Tak lama setelah ia berkata begitu, Jaka kembali mengirimkan pesan pada Neta.



*Kayanya aku pulang agak malam, ada rapat sama anak-anak Tarka buat acara nanti agustusan, neng cantik kalo mau tidur duluan. Tidur aja, jangan nungguin*..."


__ADS_1


Neta mele nguh panjang, semakin mantap mengambil lokasi dekat tempat tinggal sekarang.



"Kang, ini proposal buat agustusan entar," Sinai menyerahkan beberapa lembar kertas yang sudah di jepret berupa rancangan proposal acara yang akan diselenggarakan RW 09.


"Udah mulai jualan aqu a dong sama part time di cuci motor sama umkm cing Rosi?" tanya Opik menggosok rambutnya yang basah sehabis mandi seraya menyesap sebatang rokok.


"Pamer banget abis mandi, ngapain mandi terus tetep gitu-gitu juga bang!" ejek Pudin dibalas tawa lainnya.


"Si alan, seenggaknya gue bercahaya!" jawab Opik.


"Ya gimana mau engga bercahaya, orang abang duduk di bawah lampu teras kang Jaka," timpal Sinai, tawa mereka semakin kencang membuat tante Hana melirik ke arah luar melihat keriuhan anak Tarka.


"Gue abis mandi jun ub tau ngga lo?!" sengak Opik, mereka semakin tergelak, "pantesan k3bo kong Eman pada sakit bang!" tawa Okie.


"Hep ah! Gimana jadinya?" tanya Rohmat.


"Belum bang, kan nunggu acc dari kang Jaka," Rahma tersenyum manis saat Jaka meliriknya sekilas. Gadis berjilbab ini adalah mahasiswi universitas swasta yang sudah bergabung di organisasi pemuda antar kampung sejak ia duduk di bangku smp.


Tak ada respon berlebih dari Jaka, ia terkesan biasa saja, semua yang ada disini ia anggap seperti adiknya kecuali Opik dan Rohmat yang sebaya dengannya.


"Sebentar saya baca dulu," ucap Jaka menjeda, kemudian matanya bergerak membaca setiap kata yang ditulis.


Kemudian matanya memicing melihat di lembaran ketiga rincian biaya, terselip satu acara yang memang wajib dilaksanakan setiap tahunnya mengingat masyarakat Indonesia khususnya RW 09 adalah dangdut lover.


"Ini tetep mau ada acara dangdutan di acara puncak?" tanya Jaka.


"Siapa artisnya?" tanya Yudha menji lat es krim miliknya.


"Jangan yang kemaren ah! kurang hot goyangannya! Masa biduan mirip penyanyi qasidahan?!" cibir Pudin ditertawai Sinai.


"Ah, biduan kampung sebelah aja Jak! Si Alvi, kan cakep tuh wuhuyyy bohayyyy!" suitan genitnya disetujui yang lain termasuk tawa geli anak Tarka smp, namun tidak dengan Rahma.


"Janganlah kang, ngga inget apa? Si Alvi kan sering nempelin kang Jaka?!" ujar Rahma tak setuju, sekelebat terlihat kilatan cemburu, posesif dan tak sukanya.


"Oh heem lah. Fan base nya kang Jaka biduan!" tawa Okie.


"Paling gelut sama mpok Sanet!" jawab Pudin. Untuk itu Jaka setuju dengan Pudin, ia tak mau sampai ada tragedi berda rah yang melibatkan Shanneta, apalagi melibatkan urusan rumah tangganya, itu ide buruk. Ia tak mau sampai Neta mengeluarkan mode ogoh-ogohnya nanti di depan para rt, pak rw, pak lurah, dan pak camat.


"Tapi cuma si Alvi yang paling oke diantara biduan kampung lainnya kalo menurut gue. Elah, si Jaka kawal aja kalii! Susah amat, lagian si Alvi bakalan sibuk disawer bapak-bapak kayanya," sahut Rohmat.


"Setuju!" Opik menjempoli ucapan Rohmat yang sama gilanya.


"Maksud gue sih, si Alvi biar bawa si Irma gitu---" kekeh Opik ada maksud tertentu mengundang Alvi.


"Wahahaha! Ada udang di balik nasi tumpeng!"

__ADS_1


Jaka melirik jam di ponsel karena ia tak pernah memakai jam tangan, "ini nanti saya kasih ke pak RW, biar tembus ke kelurahan sama kecamatan. Kalo udah goal, nanti saya kasih ke kalian lagi..saya harus pulang dulu,"


"Loh, kang...masih sore kali. Timbang berapa langkah masuk doang, ngga akan sampe jam 3 subuh."


"Saya pulang ke rumah mertua, lagi nginep disana," jawab Jaka.


"Ohhh!" balas mereka angguk-angguk kakak tua.


"Intinya, si Jaka ngga bisa merem kalo ngga meluk bini!" ejek Rohmat berseru menjadikan suasana jadi riuh, namun Jaka tak menganggap serius selorohan itu, hanya tersenyum kaku saja mendengarnya.


Rahma melihat Jaka dengan penuh rasa sendu, meskipun wajahnya tersenyum kaku terkesan kecut.


"Kang, selamat ya...semoga samawah sama istri, maaf ngga hadir, abisnya ngga tau." Rahma mengulurkan tangan pada Jaka.


"Aamiin, ngga apa-apa. Memang saya ngga undang-undang, cuma acara privasi yang penting selamat dan sah saja," jawab Jaka.


Sebelum dirinya kembali menjadi bulan-bulanan, Jaka memutuskan untuk pamit berhubung hari pun sudah malam, "kalo gitu saya pamit."


"Iye deh kang!"


"Iye Jak, hati-hati salam buat Sanet."


"Gws buat mpok Sanet, bang!" ucap Pudin diangguki Jaka.


Dwi menyenggol Rahma yang berada di sampingnya, "cieee patah hati nih, kang Jaka udah nikah. Gamon ngga nih?" tanya nya menggoda.


"Apa sih, engga lah." Rahma menjawab malu-malu, namun tak ia pungkiri kali ini hatinya benar-benar remuk mendengar Jaka mengaminkan do'anya. Rasanya sesak saja!


"Pake alesan ngga tau segala lagi. Kan elu orang pertama yang tau dari emaknya Pudin kalo kang Jaka mau merit," bisik Dwi bongkar kartu.


Rahma menaruh telunjuknya di bibir, "sutt! Udah ah! Ngga usah dibahas," Rahma bukan tak tau Jaka sudah menikah, bukan sekali pula ia sempat melihat Neta di kontrakan Jaka sedang bercengkrama dengan ibu-ibu. Lamunan Rahma cukup terganggu dengan suara Opik, Rohmat dan anak lain tengah meributkan biduan dangdut yang akan diundang.


"Udah, si Alvi aja lah! Bisa digoyang harganya!" tawa Opik menggerus sisa batangan rokok yang sudah sampai ke filternya.


"Mpok Alvi mahal loh bang," sahut Sinai.


"Gampang, jual aja nama ketua Tarka," tawa Opik.


"Kang Jaka si al banget punya temen kaya elu bang," balas Okie bersuara.


"Kena amuk kang Jaka lu bang," Pudin tertawa membayangkan jika sampai itu terjadi dan Opik diamuk Jaka.


"Alaaahhh, bisa diatur lah!" jawabnya enteng.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2