Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 31. REMUK REDAM


__ADS_3

Diantara suasana temaram, tubuh Jaka terhuyung meskipun tak sampai jatuh. Neta bahkan sempat ikut tersentak karena tangannya yang digenggam Jaka.


"Jakaa!"


"Lo tuh kenapa Wid?!" bentak Shanneta, tak menunggu sampai Widi menjawab, Neta langsung berbalik melihat keadaan Jaka.


"Jaka, kamu..."


Hanya sepersekian detik, satu gerakan Jaka mampu menarik Neta ke belakang tubuhnya, dan dengan cepat ia membalas pukulan Widi tadi dengan telak.


Bughhh!


Widi bukan lagi terhuyung, namun ia sudah sampai tergeletak di bawah menubruk kursi yang ada di belakangnya.


"Anj@$!%#!" umpat Widi memegang tulang pipi yang kena hantam Jaka. Dengan seluruh tenaga Widi bangkit dan menyerbu Jaka yang sudah siap kembali menghantamnya.


"Jaka!"


"Waduhh!"


"Bang Wid," Wening ikut turun meski ia pun takut untuk melerai kedua lelaki yang kini adu jotos. Widi yang terpojok kini meraih kursi dan benda-benda yang ada di sekelilingnya untuk menyerang Jaka, bahkan gelas saja ia lempar sembarang ke arah Jaka.


"Jaka udah Jaka! Widi!" teriak Neta mencoba melerai, kondisi bar yang masih berantakan kini makin berantakan dengan perkelahian Widi dan Jaka di sekitar area bartender.


Wening berlari keluar untuk memanggil security.


"Lo siapa, berani-beraninya larang Shanneta, ha?! Ngga usah ngarep jadi suami Amber, jangankan buat nerima lo yang cuma..." Widi menatap penuh cibiran dan menghujat.


"Bahkan dilirik pun engga! Lo sama Amber bagai bumi dan langit ! ! Ngaca dong lo!" urat-urat di area leher Widi sampai menonjol saking ia berteriak lantang dengan penuh amarah. Ia benar-benar tak terima dengan sikap Jaka barusan, ia menyukai Amber sudah sejak lama.


"Shanneta istri saya, jangan pernah sekali-kali kamu sentuh Shanneta..." jawab Jaka dengan wajah dinginnya.


"Udahhh!" Sentak Neta, ia kini berada di tengah-tengah keduanya.


"Kalo mau cari ribut jangan disini mas," tegur security. Tentu saja arah bicaranya pada Jaka, karena tidak mungkin ia menegur manager bar tempatnya bekerja, atau Neta yang notabenenya sama-sama pekerja disini. Jadi Jaka lah yang patut dikambing hitamkan.


Widi tertawa sumbang seraya menyeka hidung yang mengeluarkan cairan merah, ia juga menyugar rambut, perkelahian ini membuatnya berkeringat.

__ADS_1


"Go to the hell dude!" Widi hendak meraih lagi Jaka namun security dan Neta sudah menghalanginya, sementara Wening hanya bisa menjerit-jerit panik saja sambil menonton.


"Widi!" teriak Neta, "Jaka bener, Jaka suami gue...Jaka suami sah gue!" alis yang mengernyit menafsirkan jika Widi sulit mencerna ucapan Neta barusan.


"Apa lo bilang Am? Lo kalo ngela cur liat-liat orang dulu dong Am,"


Dan demi apapun yang ada di bumi ini, seketika hantaman keras menyerang jantung Neta.


"Anj-iinkk," Jaka menyerang membab ii buta. Sementara Neta masih mematung di tempatnya mendengar hinaan yang diberikan Widi padanya, seolah jantungnya dihujam tikaman belati.


"Jaka...Jak jangan Jak!" suara Wening bahkan terasa mengambang di udara.


"Mas!" Security menarik Jaka yang berhasil ia jauhkan dari manager bar dan membawanya keluar, tangan Jaka yang berhasil ia piting ia giring keluar dari bar.


Wening yang menyaksikan itu sampai spechless, Widi adalah orang yang paling dekat dengan keduanya, ia yang paling tau bagaimana Amber juga dirinya.


Neta menatap Widi nyalang penuh kekecewaan, "harusnya barusan gue ngga halangin Jaka buat abisin lo Wid," ucapnya bergetar.


"Am, sorry..." Widi yang sudah babak belur kepayahan ingin meraih Neta, pandangannya bahkan sudah kabur karena rasa pusing akibat wine dan bogeman bertubi dari Jaka.


"Gue resign dari Moccacino. You deserve this," tegas Shanneta melewati Wening dan Widi begitu saja keluar dari bar.


Shanneta berlari dengan lelehan air mata yang sudah menganak sungai, tak ada yang lebih menyakitkan daripada dihujat dan dihina oleh teman sendiri. Teman yang sudah mengenal dirinya lama.


Matanya semakin kabur melihat Jaka sedang menjelaskan sesuatu dan mengobrol dengan security.


"Jaka," Neta menghambur memeluk Jaka, ia menangis sejadi-jadinya di dadha Jaka, memumpahkan semua rasa sakit dan kecewanya dalam pelukan Jaka.


"Kita pulang."


Dengan badan yang bergetar ia mengangguk dalam pelukan Jaka, Shanneta mencoba menenangkan dadhanya yang terasa sesak, ia lantas mengurai pelukan dan mengusap wajahnya, hingga kini tampaklah wajah cantik yang sembab dengan mata dan hidung yang merah.


"A--aku, resign."


"Ngga apa-apa, nyari nafkah itu tugasnya suami..." jawab Jaka dengan wajah yang terdapat beberapa luka akibat serangan Widi.


Jaka membetulkan jaket yang dipakai istrinya lalu memakai helm miliknya.

__ADS_1


Perkelahian tadi menyisakkan kediaman diantara keduanya, terlebih Neta yang biasanya cerewet. Lelehan air mata terus saja turun seolah tak ada habisnya, ia menyandarkan kepalanya di punggung Jaka hingga kini yang terasa oleh Jaka adalah gerakan sesenggukan Neta.


Selama bersama istrinya itu, baru kali ini Jaka melihat Neta menangis, dijodohkan dan menerima murka keluarganya saja gadis ini masih bisa cengar-cengir...tapi cap pela cur itu sukses mematikan seorang Shanneta Amber, dan ia ikut merasakan sakit yang luar biasa saat Widi mengucapkan kata lak nat itu pada Neta.


Sisa-sisa sesenggukan masih terdengar, tangannya mengusap area luka dan lebam yang terdapat di area wajah Jaka, tapi ia tak secerewet biasanya lebih tepatnya Shanneta tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Jaka memperhatikannya dan ia sungguh tak suka itu, "neng cantik mau sarapan apa?"


Neta menggeleng, "belum laper...kamu aja duluan. Tapi aku masak nasi dulu ya," Neta angkat bicara, ia beranjak membawa baskom berisi air hangat dengan lap handuk kecil ke arah kamar mandi.


Jaka membuka seragam yang telah kusut dan kotor, ada noda debu, sedikit bercak da rah, dan bau alkohol lalu menggantinya dengan kaos dari dalam laci plastik di kamarnya. Hingga terdengar Neta yang masih terisak di gawang pintu kamar mandi. Masih sempat ia perhatikan gerakan Neta yang menaruh tempat abu itu masuk ke dalam penanak, kemudian ia menekan tombol cook.


Disaat itu pula Jaka menghampirinya dan memeluk Shanneta, kembali....isakan itu semakin kencang terdengar meski teredam dadha Jaka.


"Keluarkan...keluarkan semuanya sampai kamu lega, jangan ditahan..." pinta Jaka. Neta membalas pelukan itu erat dengan meremas punggung kaosnya.


"Aku benci Widi," ucap Neta.


"Dia sama Wening adalah orang yang paling tau aku luar dalam, kalo dia aja anggap aku kaya gitu, apalagi orang lain.... Apa segitu hinanya aku, pekerjaan aku?" ingat betul ia ucapan cing Anjar, nyak Epi dan mpok Aya waktu pertama kali bertemu dengannya, yang mengatakan jika dunia malam identik dengan pela cur, wanita dan lelaki tak benar. Apakah mereka semua menganggap Neta bukan wanita baik-baik? Lalu keluarganya, patutlah mereka tak percaya akan pembelaannya dulu? Rupanya image buruk selalu menjadi bayangan Shanneta selama ini, kenapa ia baru peduli sekarang?


"Aku percaya kamu," balas Jaka. Shanneta semakin menenggelamkan wajahnya di dadha Jaka.


"Apa kerjaan dan hobbyku sehina itu di mata orang lain? Se rendah itu?"


°°°°°


Beberapa kali panggilan ibu Nilam tak diangkat oleh Shanneta.


"Ini Neta kemana ya Fa? Kok ngga diangkat-angkat. Biasanya jam segini tuh baru pulang..."


"Udah tidur kali bu, coba telfon Jaka.." usul kak Syifa.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2