Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB# 57.HAY LITTLE JAKA


__ADS_3

Berkali-kali Neta meloloskan nafas gugup. Rasanya tuh mirip-mirip nunggu keputusan mendebarkan sepanjang masa, wisuda may be.


Hofft! Ia memasukan benda pipih ini, again. Dan menunggunya tak begitu lama sampai ia dapatkan hasilnya dengan begitu jelas.


Badannya bersandar penuh di tembok kamar mandi, "hamil." Tatapannya nyalang ke arah perut, sebenarnya antara terlihat dan belum menurutnya, mungkin karena usianya masih kecil.


Ko bisa? Ya bisalah, Jaka hampir tiap hari nanem saham.


"Neng," panggilnya mengejutkan Neta.


"Gimana?"


Neta keluar dari kamar mandi yang akhirnya dipasangi pintu.


Jaka sudah bersiap dengan seragam Shangri-la'nya. Ia menyerahkan tespek pada Jaka.


Ada seulas senyuman di wajah Jaka, "alhamdulillah." Ia menarik Neta dalam pelukannya.


"Kalo mau apa-apa bilang aja, nanti pulangnya kubeliin. Besok kita ke dokter, buat periksa udah berapa usianya."


Neta mendongak, "bisa ngga kita skip dulu ke dokternya, masih kaget aku'nya," ucap Neta, awalnya Jaka mengerutkan dahi tapi kemudian ia mengangguk, "ya udah, aku ngerti. Udah jam 7, aku harus pergi kerja, kalo ada apa-apa telfon aja."


Setelah drama mengulur waktu dari Neta akhirnya tepat 2 hari sebelum acara 17an, ia mau juga periksa ke dokter.



Kakinya tak bisa diam, terus saja membuat ketukan di lantai seiring antrean pasien ibu hamil di barisannya berkurang. Melihat wanita hamil yang perutnya sudah membesar, bawaannya bikin ikutan begah. Belum apa-apa ia meringis merasa sesak.



"Shanneta,"



Jaka mengangguk singkat saat wanitanya ini menatap memelas.



"Ayo, kita kan mau liat *dedek*," imbuh Jaka menarik Neta masuk.



Bukan rumah sakit ataupun klinik yang mereka datangi, hanya bidan terdekat dari tempat tinggal keduanya.



"Daftar baru?"



Neta dan Jaka mengangguk, "oke. Kapan terakhir ibu men struasi?"



"Lupa. Kalo ngga salah bulan Juni deh, tapi tanggalnya lupa..." jawab Neta, ia mengedarkan pandangan ke arah dinding ruang praktek disini. Cukup rapi, bersih, hanya poster untuk ibu hamil dan menyusui, tapi yang jadi perhatiannya dan bikin ia bergidik adalah poster posisi ibu melahirkan, yang baginya begitu mengerikan.



Jaka menyadari apa yang sedang dilihat Neta saat ini, membuat fokusnya hilang saat bu bidan bertanya padanya.



"Neng," Jaka memalingkan wajah Neta membuat bidan Nita terkekeh geli melihat pasangan ini.



"Hah? Tadi nanya apa bu?" tanya Neta.


__ADS_1


"Bu bidan nyuruh neng naik ke ranjang," tukas Jaka.



"Oh, iya boleh." Neta beranjak berdiri dari kursi dan naik ke atas ranjang. Gerakan lembut dari jemari bu bidan memijit area perut bawah Neta.



"Mumpung jadwal usg disini masih ada, apa ibu sama bapak mau periksa usg sekalian? Di ruangan sudah ada dokter obgynnya?" tanya bu bidan.



"Boleh bu," tukas Jaka cepat.



"Kalau gitu harus daftar dulu di depan buat usg, biar bisa langsung dapet nomer terus periksa."



Dan kembali Neta masuk ruangan untuk kemudian berbaring, kini botol berisi gel bening nan dingin dioleskan diatas perut Neta.


Sebuah alat yang langsung terhubung dengan monitor di depan keduanya seketika menempel memberikan gambaran kehidupan yang ada di dalam sana.


Sebuah bulatan kecil telah tumbuh sehat di dalam perut Neta, bersamaan dengan penjelasan dokter obgyn yang terkadang bikin Jaka mengerutkan dahi namun kemudian tersenyum penuh arti.


Neta meraup oksigen sebanyak-banyaknya, makhluk kecil itu berjuluk janin, hay little Jaka. Tumbuhlah sehat kamu didalam.


Tanpa sadar kuasa Tuhan menyentuh nurani paling dalam dari Shanneta Amber, hanya dengan melihat bulatan mirip kacang di dalam perutnya, saja seketika egonya rubuh.


Tak banyak yang bisa dijelaskan untuk saat ini dari dokter, mengingat usia kandungan yang masih kecil. Namun sebuah foto 2D bisa mengubah semuanya sekarang. Untung saja Neta hamil ke bo, tak mengalami morning sickness yang begitu berarti, hingga ia tak kesulitan mensuplai nutrisi untuk janinnya ataupun semakin cranky dan menolak kehamilan.


Jaka menggelengkan kepalanya saat mendapati Neta begitu senang pulang ke rumah, meskipun ujungnya dompet yang setipis kulit ari harus berlubang gara-gara jajan sang istri.


Kresek berisi buah mekar, cakue mini, kue ape di tangan kanan. Lumpia basah, pentol, dan es kelapa muda di tangan kirinya. Ini hamil apa kesurupan?!


"Aku tuh kan lagi hamil anak kamu ya, jadi kamu harus maklum kalo jajanku banyak! Kamu juga harus tanggung jawab kalo nanti aku jadi gendut terus bikin ilfeel semua orang, mana ada dj segede buta?! Kamu harus tetep bilang kalo aku dj paling bohay terus kurus!" ocehnya dengan mulut mengunyah cakue mini. Posisinya Neta sekarang itu loh, udah mirip grandong yang lagi makanin sajen. Cuma bedanya grandong yang ini cantiknya ngga ada obat.


"Aku telfon ibumu ya, sama ibuku di Garut..." ucap Jaka.


"Telfon aja," acuhnya lebih asik menikmati jajanannya tanpa mau menawari Jaka. Neta membawa ke semua rambutnya untuk kemudian ia ikat jadi satu agar tak menghalangi ia makan.



Setelah kabar gembira ini mereka dapatkan kebahagiaan ini tak henti-hentinya membuat kedua keluarga bersyukur. Setelah musibah selalu ada anugrah, setelah badai pasti terbitlah pelangi.



Jaka sudah bersiap dengan stelan kaos panitia tahun lalu berwarna hitam dilapisi kemeja kotak-kotak merah hitam. Karena kaos panitia berwarna putihnya sudah diboikot Neta sejak 5 hari yang lalu.



"Kotak merah, kaya pasukan Jokowow!" cibirnya, tapi Jaka tak peduli, ia sudah tak aneh dengan mulut julid istrinya itu.



"Biar nular rejekinya," jawab Jaka.



"Ngga usah dikancingin kemejanya, kaya orang bengek aja, engap! Lebih keren dibuka gini, abang gahar jadi ganteng!" coleknya menghentikan Jaka dari gerakan mengancing kemeja.



"Kamu jangan pecicilan nanti pas nge-DJ, inget ada dedek disitu!" tunjuk Jaka ke arah perut Neta.



"Iya aa gahar." tawanya mencibir, bukan tak tau jika hari ini akan ada Alvi di tempat acara dan sudah pasti ia akan totalitas untuk meraih perhatian Jaka dan semua orang.

__ADS_1



"Abang gahar juga harus ganteng, kan bakalan ada biduan disana!" tawanya kembali mengejek.



"Lagian aku mau ajak dedek joget-joget! Biar nanti pas lahir dia ngga sawan liat dunia!" tambahnya.



"Ngaco!" Jaka menjiwir hidung Neta.



"Nanti aku jemput kesini," ucap Jaka.



Neta menggeleng, "ngga usah. Aku udah minta Pudin, Sinai sama bang Opik buat jemput sambil bawa Si Pionneer sama laptopku, aku mau coba bawa musik EDM juga, biar wow!" senyumnya terkembang, well...will see, siapa yang bakal jadi bintang nanti?!



"Hm, ya udah. Aku pergi sekarang. Mungkin nanti aga sibuk, jadi ngga pulang dulu."



Neta mengangguk lalu meraih tangan Jaka dan mengusapkannya di perut Neta, "say good bye dulu sama *dia*,"



Jaka mengangguk mengulas senyuman, "assalamu'alaikum.." kecupannya mendarat disana.



Jaka berjalan ke arah pintu, meraih kunci motor dan hilang dari pandangan sejak pagi.



Neta yang masih di luar kini menepuk tangannya beberapa kali.



"Mpok Aya!"


"Tante Hana!"


"Cing Anjar!"


"Nyak Epi!"



"Nanti jangan lupa ikut nonton dangdut ya, ada aku disana!" ujarnya.



"Siap!"



"Alamak, jadi kau ikutan nyumbang dek?"



"Yuk lah!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2