
Jaka menggelar surpet di bawah, karena akan seperti inilah mereka jika tidur, berada di kasur berbeda, seperti kehidupan mereka yang sebelumnya berbeda.
Cahaya berbeda bentuk dan warna berpendar temaram seiring lampu kamar yang dimatikan, bulan, bintang tempelan glow in the dark yang disukai Neta sejak jaman SD menghiasi langit-langit putih bersih kamar ini.
"Suka astronomi?" tanya Jaka, ia tau jika Neta belumlah memejamkan matanya untuk tidur.
Neta yang membalut tubuhnya macam pisang molen dengan selimut itu mengangguk di tempatnya, "lebih tepatnya suka sama amazingnya tata surya...anak kecil kan suka sama bentuk bulan, bintang. Padahal kan bentuk aslinya ngga gitu..." tawanya renyah.
"Jaka, besok kita balik pagi aja ya..." ujarnya, aneh! Kok jadi rindu kontrakan Jaka yang jelas-jelas menurutnya jelek, kaya sarang tikus, mana kamar mandi ngga ada tutupnya, plus kasur tipis yang bikin badan berasa remuk.
Jaka tak mendebatnya, justru kini senyuman lebar terukir jelas di wajahnya meskipun Neta tak tau.
"Jaka..."
Mata yang hampir terpejam kembali ia paksakan untuk terbuka demi mendengarkan si neng cantik ini bicara, khawatir jika tak di dengar ia akan berubah jadi mode Reog.
"Hm,"
"Kamu punya uang?" tanya nya, membuat alis tebal Jaka mengernyit diantara rasa kantuknya, mendengar kata uang telinganya kok mendadak panas, apakah ini yang sering bang Togar atau cang Mu'in dan kong Eman katakan...kalo istri saban hari nanyain duit bikin hati dan kuping panas! Karena akan ada dompet yang berlubang nantinya.
"Buat?" tanya Jaka.
"Pasang pintu kamar mandi, kan ngga cihuy kalo tiba-tiba tamu datang waktu aku lagi konser..." keluhnya membuat Jaka terkekeh mendengar perumpamaan Neta.
"Iya, nanti aku ngomong ke kong Eman atau nyak Epi.." jawabnya.
"Aku juga mau ganti kasur, pake punya kamu badan aku lama-lama remuk...." si cantik ini banyak mengeluh rupanya, seperti dugaan Jaka dulu dan ia harus membiasakan diri, itu artinya ia menerima pernikahan mereka, atau sedang proses menerima?
"Iya, nanti aku kumpulin uang ya," Jaka benar-benar sudah mengantuk karena lelah.
"Jaka..." Neta melongokkan kepalanya ke arah bawah dimana Jaka sudah memejamkan matanya dengan berbantalkan kedua tangan.
"Jaka ih jangan merem dulu, dengerin aku ngomong!" ia menusuk-nusuk pipi Jaka, tapi sayangnya si empunya tak ingin membuka matanya, ia menyeringai dalam hati...diraihnya telunjuk Neta dan menggigitnya pelan.
"Jakkaaa ih! Jorok! Gimana kalo telunjuk aku bekas ngupil?!" ia menarik telunjuk yang sudah digigit Jaka.
Jaka terkekeh sambil membalikkan badannya ke samping, menghadap Neta, "neng cantik mau ngomong apa? Saya udah ngantuk..." suaranya parau ciri khas orang yang sudah siap mengistirahatkan tubuh.
__ADS_1
Giliran Jaka bertanya Neta malah diam, percayalah jika sekarang Shanneta sedang merona dibuatnya, banyak lelaki yang sering mengatakan kata pujian itu pada Neta, tapi hanya dari Jaka lah yang mampu membuatnya melayang ke udara bersama bulan dan bintang.
"Ihhh! Gombal terus, ya udah lah tidur aja! Jangan ganggu!" cebiknya kesal.
Jaka tersenyum, yeahh...it's Shanneta.
Good night neng cantik....
°°°°°°°
Pagi-pagi sekali mereka sudah bangun, sudah menjadi kebiasaan untuk Jaka membangunkan Neta...tak ada proses yang instan untuk sebuah kebiasaan baik begitupun Neta, meski awalnya terpaksa dengan sedikit keluhan dan omelan tapi Jaka tak akan menyerah begitu saja membimbing Shanneta.
"Assalamu'alaikum warahmatullah..."
"Assalamu'alaikum warahmatullah..."
Jaka menyodorkan kembali punggung tangannya pada Neta, awalnya ada lirikan mendelik dari gadis ini namun sejurus kemudian ia menundukkan kepalanya demi salim takzim pada Jaka, diluar dugaan Neta, Jaka meraih kepala yang terbalut mukena itu dan mengecupnya membuat ia membeku di tempat.
"Sowang..."
"Perjaka Sowang Barokah..."
Di atas ranjang Neta sudah terdapat setumpuk pakaian dan peralatan pribadi Shanneta lainnya, sedikit demi sedikit, gadis itu mulai memindahkan barang-barangnya ke kontrakan Jaka. Tak ada koper sebagai tempat membawa, hanya tas kain saja mengingat mereka datang dengan membawa motor saja.
Wejangan demi wejangan yang lebih tepat disebut omelan diturunkan ibu Nilam untuk putrinya Neta saat sarapan bersama sampai-sampai Neta lebih kenyang mendengar omelan ibu ketimbang sarapannya.
"Jangan bikin ibu malu sama Jaka dan keluarganya, Neta..."
"Iya...Ya udah, Neta sama Jaka balik dulu bu...soalnya Jaka harus ke bengkel buat mencari sesuap nasi dan sebongkak batu akik..." pamitnya.
"Iya hati-hati! Dijaga kandungannya...Udah ngga minum-minuman alkohol sama rokok'an lagi kan? Bahaya buat kandungan?!" sengit ibu membuat Neta dan Jaka saling menatap.
Neta menggeleng, "engga."
°°°°°°
Ditatapnya putri dan menantunya yang hilang di balik pagar rumah, tapi selalu ada rasa rindu yang kembali bersarang saat Neta pergi dari rumah. Begitulah anak dimata seorang ibu, disaat dekat bikin kesal tapi ketika jauh bikin rindu....
__ADS_1
"Neta, semoga kelak kamu jadi istri soleha..." gumamnya masuk kembali ke dalam rumah, tak tau apa yang membawanya untuk melihat kamar Neta, entah karena terbiasa membereskan kamar putri bungsunya itu sejak dulu atau memang rindu itu kembali memeluk, ibu Nilam beranjak menapaki anak tangga menuju kamar Neta. Kamar yang biasanya ia dapati sering berantakan kini selalu rapi...
"Ibu ngga percaya kamu bisa nikah secepet ini neng, mana sama lelaki yang mungkin tidak terduga..." gumamnya, membuka sedikit jendela kamar Neta agar udara masuk. Diusapnya ranjang bekas anak dan menantunya ini tidur hingga matanya jatuh tertumbuk di atas meja rias sang putri.
"Apa itu?" kernyitan di dahi menyiratkan kebingungan dan keanehan. Setumpuk benda pipih berserakan di tempat jepitan rambut Neta dan terasa tak asing baginya. Entahlah, sejak Shanneta menikah dengan Jaka ia tak pernah memasuki kembali kamar putri bungsunya ini.
"Tespek? Negatif?"
Ia semakin mengedarkan pandangan menyapu seisi kamar yang terasa rapi dan tak ada yang aneh, benda-benda terhampar rapi di atas meja rias Neta dan beberapanya ia periksa, jantungnya mendadak berdegup tak beraturan merasa tak enak hati.
Secarik kertas yang terlipat tak beraturan hanya saja berbentuk persegi macam nota atau struk belanja diraih dan dibukanya.
Matanya bergerak mengikuti setiap kata yang tengah ia cermati, "astagfirullah!"
Pandangannya lurus namun pikirannya menembus ke masa yang lalu,
"Neta ngga hamil bu!"
"Bohong!"
"Siapa laki-lakinya Neta?!"
"Neta ngga pernah ngelakuin hal yang ibu tuduhkan! Kenapa ngga ada yang percaya sih?!"
"Saya Jaka Barokah..."
"Kamu! Laki-laki yang hamilin anak saya?!"
"Perjanjian nikah kontrak-------pihak pertama, Shanneta Amber, pihak kedua, Jaka Barokah..."
"Astagfirullah!" Ibu terduduk di kursi meja rias sambil memegang selembar nota bertuliskan Shangri-la.
.
.
.
__ADS_1
.
.