
~Jaka~
Ponselnya bukan ponsel keluaran terbaru ada beberapa retakan di layarnya meskipun begitu masih berfungsi. Berulang kali ia merogoh ponsel di saku celana kanan kemudian memencet tombol power, ia bukan anak gawai tapi khusus untuk hari ini ia begitu sering menengok ponselnya berharap ada notifikasi dari si cantik yang sedang ada di pulau Dewata sana.
"Jak, mbak Amber kemana? Tumben...biasanya barengan?" pak Uus bangkit dengan membuat gerakan meregangkan otot pinggangnya, sejak tadi ia duduk bikin pegal pinggang. Dua gelas kopi sudah tandas menyisakkan hampas hitam di dasar gelas demi menemani tugas jaganya sebagai security.
Ia menyodorkan kotak rokok miliknya ke depan Jaka, menawari pria ini untuk sekedar menghangatkan tubuh.
Jaka mendongak, kenapa tidak? Ia menarik satu batang rokok lalu dengan gerakan refleks pak Uus menyerahkan korek bensin miliknya.
"Neta lagi ada job di Bali, pak. Anak pejabat ultah," entah kenapa hari ini ia ingin berlama-lama berada di luar rumah. Jaka mencabut kembali kunci motornya dan memilih mengobrol santai sejenak di pos satpam bersama pak Uus sambil menghabiskan batang rokok miliknya.
Asap putih mengepul diantara keduanya, "walah! Rejekinya bagus, emang sih kebanyakan pelanggan disini pada suka mbak Amber, orangnya nyenengin, ngga sombong, mana muter-muter nganu...piringan hitamnya jago banget! Enak-enak lagunya," angguk pak Uus berkali-kali.
"Plus, cantik!" kekehnya menautkan kedua jari di depan Jaka, membuat Jaka tertawa kecil atas selorohan pak Uus, benar....Shanneta memang cantik, pak Uus saja bisa lihat itu. Lalu kemana dia? Jaka mulai resah pasalnya Neta bilang ia akan minta ijin, apakah si empunya hajat tak meng-acc permintaannya?
Kalau sudah sampai Jakarta, kasih kabar.
Alis Jaka naik manakala pesannya hanya centang satu. Ia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku, mungkin saja Amber sudah di jalan.
Setelah menghabiskan satu batang rokok, Jaka memilih untuk pulang. Toh, bar pun sudah sepi, pak Uus bersiap bergantian jaga dengan rekan lainnya.
Tak ada yang aneh hari ini, masih sama seperti biasanya. Bedanya hari ini ia libur dari Shangri-la.
Beberapa notifikasi menyerbu Jaka saat ia sudah sampai rumah, tapi tak lantas membuatnya bersemangat karena serbuan pesan itu dari anak-anak Tarka yang menunggu mandat darinya jam berapa akan berkumpul dan dimana.
Ba'da isya, di lapang depan kontrakan saja.
Jawab Jaka singkat padat dan jelas.
Jalanan lengang mulai dipadati oleh warga yang kian ramai datang untuk menolong. Salah seorangnya menelfon kepolisian. Dan lainnya menahan supir mobil lain.
Suasana malam yang seharusnya syahdu itu kini malah gaduh, aroma mesin yang overheat dan kopling terbakar menjadi aroma paling menyengat selain amis da rah.
"Angkat!" jika hanya menunggu pihak berwajib dan tim medis akan terlalu lama, warga yang ada disana bahu membahu berusaha mengevakuasi.
Jalanan di tutup dari dua arah untuk umum, pecahan kaca dan gesekan besi bersama aspal membekas di sepanjang jalan.
"Awas itu kejepit, coba didorong dulu bangkunya bli,"
"Bagian supir ringsek, sudah tewas ditempat bli..." sahut seseorang yang mengecek kondisi Jason, bagaimana tidak mobil bagian depan saja sudah tak berbentuk. Begitupun Alicia yang berlumuran dar ah dengan kondisi tak lebih baik dari Jason bak perkedel.
"Susah bli, coba yang belakang..."
"Astaga," mereka menggeleng prihatin dan saling melempar tatapan ngeri.
Mobil terpaksa di bongkar sampai menjadi kepingan demi mengevakuasi ketiganya, meskipun tak tau bagaimana kondisinya, apa masih hidup ataukah sudah....
Lampu kedap-kedip dari sirine kepolisian dan tim medis sudah mengelilingi tempat kejadian perkara. Tragedi mengerikan itu membuat seketika geger warga sekitar. Bahkan beberapa yang menyaksikan sampai bergidik ngeri.
Kain putih bersih menutup lembaran perjalanan hidup seorang insan, semua yang bernyawa akan kembali pada Sang Pencipta.
"Ijin melapor ndan, beberapa identitas ditemukan di tkp, korban atas nama Alicia Raharjo usia 17 tahun, perempuan, berdomisili di Jakarta berstatus pelajar, Jason Alexander 17 tahun, laki-laki berdomisili Jakarta berstatus pelajar dan Shanneta Amber Budiawan, perempuan berusia 24 tahun, bekerja berdomisili Jakarta. Ada 3 buah ponsel, dan satu yang masih menyala."
"Hubungi keluarga para korban buat menyerahkan data antemortem dan postmortem?"
"Siap ndan."
19.30 WIB
Jaka bersimpuh lebih lama malam ini, ia melangitkan seluruh do'a dan pengharapan, karena sejak tadi dadhanya dilanda sesak tiada henti. Shanneta sejak dini hari tadi lost contact dengannya. Seharusnya ia sudah tiba di Jakarta sejak tadi pagi, jangankan bayangannya, pesan yang Jaka kirim saja masih tetap centang satu.
*Yang punya hajat ngga acc*?
^^^09.00✔️^^^
*Kalau kamu udah di bandara, kabari saya. Nanti dijemput*...
^^^13.00✔️^^^
__ADS_1
*Jadi pulang sekarang*?
^^^17.00✔️^^^
Kalaupun ia tak pulang hari ini, tak mungkin ponselnya non aktif selama ini. Lalu kemana dia? Apa istrinya itu marah?
Jaka masih enggan beranjak dari atas sajadah, meskipun solatnya telah selesai.
"Ya Allah, kamu kemana neng?" Jaka membuang nafas kasar, "paling suka bikin saya sesak gini.."
"Kang Jaka!" seruan ramai dari luar rumah memanggilnya.
"Assalamua'laikum,"
"Kang, oh akang maen yuk kang!" seloroh Yudha ditertawai yang lainnya.
"Wa'alaikumsalam," Jaka bangkit dan menarik sajadah, dengan gerakan singkat ia melipat sajadah dan menaruhnya di kasur begitu saja.
Pintu terbuka, menyuguhkan selusin anak remaja yang rata-rata usia SMA dan SMP.
"Weits si akang, baru selesai solat. Ganggu ngga kang?" tanya Sinai.
"Engga, baru selesai." Jaka menyapukan pandangan ke arah anak-anak di hadapannya mulai menghitung dan mengabsen personel Tarka RW 09.
"Yang pada kuliah mah belum pada kesini kang, katanya nanti nunggu kang Jaka nge notice," kekeh Yudha.
"Iya, apalagi mpok Rahma." goda Sinai.
"Heh, bang Jaka udah punya bini!" sengit Pudin.
"Bang Opik mana? Belum disusul Din?" tanya Jaka.
"Lagi bang, sama si Okie." Anak-anak itu memilih duduk di teras kontrakan, tembok pembatas terasnya dan teras Joko, ada pula yang memilih berdiri dan celingukan memandang kebun singkong kong Eman dengan usil, sesekali saling menakuti satu sama lain karena kebunnya gelap.
"Bentar, saya notice dulu yang lain..." Jaka masuk ke dalam kontrakan bermaksud mengambil ponselnya. Baru saja ia masuk ke dalam kamar, ponselnya bergetar dan menyala sejak tadi.
"Pak Sandi?"
"Assalam---"
"Jaka lo dimana?!" potong Sandi tanpa mau menunggu Jaka mengucapkan salam apalagi menjawabnya.
"Kenapa pak?"
"Gue dapet kabar barusan dari keluarga Alicia, Alicia sama Neta kecelakaan mobil tadi subuh!"
"Astagfirullah," gumam Jaka.
"Mobil ringsek ngga berbentuk. Lo dateng ke Shangri-la sekarang, gue dapet akomodasi dari keluarga Alicia buat ke Bali, oh ya sekalian telfon nyokap atau kakaknya Neta," ucapnya cepat nan panik.
__ADS_1
"Buat apa pak? Memangnya hanya saya saja tidak cukup?" tanya Jaka.
"Buat data antemortem, data identifikasi ma yat," jawab Sandi, bahkan suaranya sampai bergetar.
"Bapak jangan bercanda! Shanneta baik-baik saja, tadi malam dia masih kabari saya," sentak Jaka, apa mungkin ia kuat memberitahu ibu Nilam atau Syifa? Tidak!
"Astagfirullah, ya Allah. Jika ini ujian darimu, maka saya tak sanggup..."
Ternyata ini jawaban Allah untuk dirinya, kenapa harus begini jawaban yang ia dapat. Jaka masih bisa memegang ponselnya bergetar demi mendengarkan Sandi bicara.
*Pergilah kemanapun kamu mau, sekalipun ke tempat yang saya tak tau*.
*Jaka ngomongnya kok gitu*,
*Jaka, kamu marah*?
*Maafin aku. Aku salah, jangan gini. Aku ngga suka dicuekin*.
*Miss you*
*Jaka aku pergi ya*,
"Astagfirullah----astagfirullah," Jaka berulang kali mengucap kalimat istighfar dan mengusap dadhanya.
"Hallo! Jaka, gue tunggu 15 menit buruan! Langsung ke Soetta aja, biar ngehemat waktu!" bentak Sandi melebur bayangan wajah Neta terakhir kalinya yang memohon pada Jaka.
Jaka segera mengganti pakaiannya, dan mencabut semua stop kontak juga mengunci pintu.
"Jak, lo mau kemana? Gue baru datang juga!" Opik berjalan santai dengan menyesap rokoknya, ia baru saja datang bersama Okie. Sontak saja anak-anak Tarka langsung diam seketika melihat Jaka yang membanting pintu dan telah siap pergi.
"Pik, gantiin saya! Saya mau susul Shanneta ke Bali sekarang juga." Jaka memakai sepatu miliknya.
"Bentaran! Ada apa Jak? Kenapa buru-buru?"
"Shanneta kecelakaan di Bali, saya pergi..."
"Astagfirullah..."
Anak-anak itu pun ikut melongo dan bergumam komat-kamit.
"Ya udeh Jak, pergi cepetan. Buat ci Olin nanti gue kasih tau. Semoga Saneta ngga apa-apa bisa balik kesini tanpa kurang suatu apapun!" Jaka mengangguk, ia meminta tetangga yang berprofesi ojek untuk mengantarnya sampai bandara.
Jarak rumah-bandara serasa bumi ke padang Mahsyar terasa begitu lama dan panjang! Bayangan wajah Neta yang tertawa renyah dan manja semakin terekam jelas dalam kepalanya, *Jaka ih! Por no*! Hingga wajah memelas nan getirnya subuh saat ia pergi. Jaka menyesal termakan emosinya, melafalkan kalimat yang seharusnya tak ia gumamkan atau bahkan pikirkan, ketidakrelaannya dibayar tunai oleh Sang Maha Kuasa. Apakah istrinya akan benar-benar pergi ke tempat yang tidak ia ketahui? Dimana dirinya tak ada?
*Jangan tinggalkan saya, Shanneta*.
.
.
.
.
.
__ADS_1