Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Bersamamu, Membuatku Lupa!


__ADS_3

“ Apa sebaiknya kau pulang saja, Ham? Aku yakin, Papa kau benar-benar sedang emosi atau bahkan sedang banyak masalah! Semua orang tua itu pasti sayang dengan anaknya, Ham! Hanya saja, terkadang mereka tidak bisa mengontrol emosinya karena banyak masalah yang terjadi! Terlepas dari itu semua, pasti mereka tidak akan berlama-lama jika marah kepada anaknya, bukan marah, lebih tepatnya karena sayang. ”


“ Tapi, Mir, Papa itu tidak pernah bisa mengerti aku! Papa Papa tidak pernah sekalipun mau mendengarkan apa kataku. ”


Mira menghela napas, tampaknya Ilham ini benar-benar sudah bulat dengan keputusanya. Pria seperti Ilham adalah pria yang ambisius. Agak keras kepala juga. Jadi untuk meluruskan, harus dengan sikap yang tenang.


Percuma saja jika dirinya menasehati atau membujuknya pasti tidak akan didengarkan. Maka lebih baik Ia akan mencoba mengikuti apa katanya. Lalu, jika keduanya ditakdirkan untuk bertemu lagi. Pelan-pelan Mira akan berusaha untuk memberikan sudut pandang yang berbeda.


Sebentar, bertemu lagi?


Mira tersenyum. Kalau boleh jujur, Ia ingin bertemu dengan Ilham lagi. Rasanya saat bersama Ilham, ah tidak bisa dijelaskan bagimana rasanya saat ini.


“ Ah! Kok jadi aku yang cerita padamu, seharusnya aku yang menghiburmu. ”


“ Ma-maksudnya? ” Mira mengernyitkan kening.


“ Kamu yang seharusnya dihibur, Mira! ” ulang Ilham.


“ Aku? Aku tidak sedang ada masalah sama sekali, ” Tentu saja Mira sedang tidak ada masalah, perkataan Ilham barusan sungguh membuatnya bingung.


Ilham menarik tubuhnya dari sandaran bangku taman, sambil lebih membusungkan dada. Antara mengatakanya atau tidak.


“ Kau pasti sedih sekali, ya, ditinggal oleh orang yang paling kau cintai! ”


Mendengar hal itu, Mira langsung paham. Bahwa yang dimaksudkan Ilham adalah tentang dirinya yang ditinggalkan oleh sang suami.


Apa jangan-jangan Ilham sudah tau kalau aku adalah seorang Janda! Dan suamiku sudah meninggal? Kalau begitu dia tau darimana?


“ Kau tau darimana? ” tanya Mira dengan ragu.


“ Tidak penting juga aku tau dari mana, yang terpenting sekarang adalah kau tidak boleh bersedih lagi! ”


Mira menghela napas, tak menyangka Pria yang belum terlalu dikenalnya ini sudah mau memberinya semangat hidup. Sekarang, mendiang suaminya hanya ada di pikiranya saja. Perlahan, Mira sudah dapat bisa melupakan Fahmi di kehidupanya.


“ Dulu aku sangat sedih sekali, ketika waktu ditinggal Fahmi, aku sudah menyerah pada hidupku Ham, yang aku pikirkan adalah anaku, saat itu masih bayi. Aku sempat menyerah, lama sekali aku masih bersedih. Namun sekarang aku sadar, aku harus menjadi Ibu yang baik dan bertanggung jawab untuk anaku. ” Jelas Mira kepada Ilham.


“ Ah! Kok aku jadi cerita denganmu. ” Giliran Mira yang tidak merasa nyaman, entah bagimana Ia bisa langsung cerita pada Ilham.


“ Malah aku senang bisa mendengar ceritamu, katamu dengan bercerita sebagian beban akan menghilang? ”


Mira tersenyum. Benar apa yang dikatakan Ilham barusan.

__ADS_1


“ Sekarang bagimana rasanya? ” tanya Ilham.


“ Bagimana rasanya ketika kamu sudah cerita, lebih tepatnya bagimana rasanya ketika kamu sudah bercerita di taman ini! ” ulang Ilham sambil menatap lekat ke arah Mira.


“ Aku merasa jauh lebih baik. Tempat ini ajaib, ya? ”


“ Syukurlah kalau kamu merasa lebih baik, berarti kalau kamu merasa sedang bersedih atau sedang ada banyak masalah. Coba saja datang kesini, ya! ”


Mira mengangguk mengerti.


“ Lalu, bagimana denganmu? ” Kali ini Mira yang menanyakan keadaan Ilham.


“ Aku juga sama, ditambah tadi sudah bercanda di warung Pak Ahmad, lalu datang ke sini dan tentu saja... ”


Mira menunggu apa kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut Ilham.


“ Tentu saja karena sudah bertemu denganmu. ”


Mira tak bisa menyembunyikan keterkejutanya. Begitupun juga dengan Ilham entah mengapa Ia bisa berkata seperti itu. Berkali-kali Ia menghardik diri sendiri karena telah mengucapkan hal manis kepada orang lain. Tidak, Ilham hanya kagum dengan Mira.


Ilham ingin menghibur Mira karena sudah ditinggal oleh Suaminya. Ilham sadar bahwa Ia sudah mempunyai Natasha di hatinya. Mungkin jodohnya adalah Natasha bukan Mira.


\*\*\*


“ Aku belum lapar, Ham, kau saja yang makan! ”


“ Baiklah temani aku makan, ya! ”


Mira mengangguk.


Keduanya pun berjalan kaki menuju tempat makan yang dimaksud Ilham, Keduanya berbelok ke kiri sambil menikmati suasana yang begitu menyejukan hati. Sampailah mereka, Ilham langsung menuju ke gerobak penjual makanan dan memesan pada Ibu penjual. Setelah memesan, Ilham mengajak Mira duduk lesehan di bawah pohon yang terasa sejuk sekali.


Beberapa daunya berjatuhan ke bawah, angin memang berhembus gak besar.


Ilham sedang makan siang, sedangkan Mira menikmati es tehnya. Tiba-tiba Mira terlonjak, teringat dengan berkas yang seharusnya segera di bawa ke kantor.


“ Ilham, aku lupa kalau aku harus segera ke kantor! Berkas ini segera dibutuhkan! ”


Ilham juga tidak bisa menyembunyikan terkejutnya, Ia langsung meraih es teh yang ada di depanya lalu berkata. “ sebentar, tunggu sebentar, aku akan menghabiskan makanku dulu... ”


Ilham langsung makan dengan buru-buru.

__ADS_1


Mira terlihat gusar, kalau-kalau dirinya mendapatkan marah bagimana? Namun sebuah ide terlintas di benaknya. Ia segera menghubungi Wanda.


“ Hallo Mir, kau sedang dimana? ”


Suara Wanda sudah terdengar di ujung ponsel.


“ Aku-aku sedang makan siang”


“ Aku tau, kamu pasti sedang makan siang bersama Ilham, kan? ”


“ Eh, enggak! ”


“ Kamu tidak usah berbohong lagi denganku, jelas-jelas aku tadi melihatmu pergi bersama Ilham! ”


Mira sungguh malu sekali. Wanda sudah tau semuanya. Dirinya tidak bisa mengelak lagi.


“ Oh, ya lalu berkasnya bagimana, Wan. Ini berkasnya sudah aku fotokopi! ”


“ Sudah tidak dibutuhkan lagi! ”


“ Apa maksudnya? Tidak dibutuhkan lagi? ” Mira mengernyitkan kening.


“ Sudah nanti aku jelaskan di kantor, kamu menikmati saja makanmu dengan Ilham! Bye...”


Wanda mengakhiri panggilan dengan sepihak, mersamaan dengan itu Ilham sudah menghabiskan makan. Keduanya beranjak dari sana dan berjalan kembali menuju parkiran.


Di atas boncengan, Mira bernapas dengan lega, sepertinya tidak akan ada masalah.


Sesampainya di kantor, Ilham mencegah Mira saat Mira baru saja turun dari motornya.


“ Terima kasih ya, kau sudah mau mendengarkan ceritaku tadi! ”


“ Sama-sama, aku juga berterima kasih padamu. Karena kau sudah membuatku merasa senang tadi, bisa menikmati tempat yang menyejukan. ”


Ilham tersenyum. “ Oh, ya! Apa tidak terjadi sesuatu? Boss kau marah apa tidak? ”


“Tenang saja, Sepertinya tidak terjadi apa-apa. ”


Ilham mengangguk, lalu pamit diri untuk pulang. Mira pun sama, pamit hendak masuk ke dalam kantornya.


Sesampainya di lantai atas, Wanda langsung terkekeh pelan karena Mira salah memfotokopi berkas. Dan berkas yang sedang dibutuhkan ternyata masih ada di atas mejanya. Wanda yang akhirnya memfotokopi berkas tersebut.

__ADS_1


Seketika itu, Mira menepuk dahinya. Ada apa dengan dirinya hari ini?


__ADS_2