Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Pagi Yang Indah


__ADS_3

Alarm ponsel berdering dengan keras. Mira buru-buru meraih ponselnya. Melongok pada layar ponsel. Jam menunjukan pukul 04.30.


Ketika Ia melirik ke arah samping, Ia agak tersentak kaget karena ada Rafa dan Ilham. Ah! Sampai lupa kalau Ia sekarang sudah mempunyai suami.


Ilham sedang melingkarkan tangan mendekap tubuh Rafa, sedangkan tubuh Rafa tenggelam pada dada Ilham.


Sungguh manis sekali mereka.


Mira pun bangun dengan berusaha tidak menimbulkan suara. Ia akan membersihkan tubuhnya.


Setelah mandi, Mira sibuk di dapur membuatkan sarapan untuk Rafa dan Ilham. Sudah setengah jam sepertinya Mira menghabiskan waktu berada di dapur. Melakukan pekerjaan sebagai seorang istri di pagi hari, sudah lama sekali sepertinya Ia tidak melakukan hal ini. Ia melakukanya dengan senyam-senyum sendiri.


Setelah selesai memasak. Mira mengecek ke kamar. Posisi mereka masih sama seperti tadi.


Mau sampai kapan mereka akan bangun?


“Kau sedang apa berdiri di ambang pintu?” Tanya Ilham tiba-tiba membuat Mira terlonjak. Ilham berbicara dengan lengan menutupi wajahnya. Sehingga masih terlihat seperti orang tidur.


“Kamu sudah bangun? Maksudku-” Jawab Mira tergagap.


“Aku baru saja bangun,” kata Ilham dengan suara khas orang bangun tidur.


“Kau tahu aku semalam mimpi apa?” Tanya Ilham kemudian.


“Mimpi apa memangnya?”


Mira mengernyitkan kening sekaligus penasaran.


“Mimpi membuat adiknya Rafa!”


Mira mendesah berat, lalu tersenyum. Pasti Ilham sudah tidak bisa menahan hasratnya semalaman. Harapanya bisa langsung melakukan apa yang harus dilakukan sebagai seoerang suami, sebagai pengantin baru.


Maafkan aku Ilham, kumohon, kau bersabar ya, ada banyak hal yang harus kupikirkan terlebih dahulu.


“Sayang,‘’ panggil Mira kemudian.


“Segeralah bangun, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu.”


“Baiklah,” jawab Ilham.


Ilham pun segera beranjak dari kasur dan berjalan dengan badan yang agak terhuyung lalu mendekati istrinya. Ia pura-pura jatuh agar Mira dengan sigap meriah tubuhnya. Lalu mencuri kesempatan bermesraan dengan menenggelamkan wajah pada dada Mira, membuat Mira merasa geli lalu mendorong tubuh Ilham pelan. Padahal nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.


Ilham lalu menghempaskan tubuh Mira ke tembok dan bersiap hendak meraih bibir Mira namun segera dihadang oleh jari telunjuk Mira.


“Jorok sekali, kamu belum mandi tau!”

__ADS_1


“Yasudah, kalau begitu, kamu cium pipiku saja.”


Dengan pelan, Mira berjingkat dan mencium pipi suaminya. Ilham langsung tersenyum manis, lalu balik mencium pipi Mira dan berbalik badan hendak ke kamar mandi.


Baru beberapa langkah, Ilham menghentikan langkahnya lalu melepas kaos yang melekat pada tubuhnya dan melemparkanya tepat di tangan Mira. Ia lalu memberikan kedipan mata kepada istrinya. Mira hanya menggeleng kepala.


…..


Mira sedang membuatkan minuman untuk Ilham dan Rafa di dapur.


Ilham baru saja keluar dari kamar mandi, Ia hanya berbalut dengan handuk melingkar menutupi bagian yang sudah menegang di pagi ini. Sisa-sisa air masih menempel di dada dan perutnya. Sisa-sisa air juga masih terlihat di rambutnya.


Ilham yang melihat istrinya sedang ada di dapur dengan posisi membelakanginya –Iangsung berjalan menghampiri. Ia pun langsung melingkarkan tangan ke pinggang Mira dan menaruh dagu di bahu Mira.


Seketika Mira merasakan kehangatan yang tiada tara. Tubuh suaminya begitu hangat menempel di tubuhnya.


“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Ilham dengan manja.


“Membuatkan sarapan untukmu dan untuk Rafa.”


“Berbalik badanlah,”


“Apa?!”


“Berbalik badan, sayang,” ulang Ilham.


“Ayo, kita melakukanya sekarang!”


Aduh, bagimana ini?!


“Hari ini kita melakukanya beberapa ronde, aku sudah siap dengan tenagaku, aku akan memuaskanmu kali ini dan kamu juga harus memuaskanku, bagimana?!”


“Malam pertama kita telah gagal dan kamu harus membayarnya kali ini!” Kalimat Ilham seperti penekanan. Seakan tidak ada kesempatan untuk bisa menolaknya.


“Mama, Rafa sudah bangun!” pekik Rafa dari arah kamar.


“Kita bicarakan itu nanti, ya!” Kata Mira sambil mencium pipi Ilham lalu bergegas menuju kamar.


Ilham berkacak pinggang, lagi-lagi gagal bukan?


Mengapa Mira sepertinya menghindar dariku? Seharusnya dia lebih mengerti, karena dia sudah mempunyai pengalaman dengan suaminya dulu, kan?


Apa yang dia pikirkan? Sepertinya dia sedang mempunyai masalah? Apa karena dia tidak terangsang, apa perlu aku membuka handuku sekarang? Ah sepertinya tidak.


Ilham menyibak rambutnya yang masih basah dengan kasar, sisa-sisa air jadi berjatuhan ke sembarang arah.

__ADS_1


Ilham merasa kalau Mira selalu menghindar ketika Ia ingin melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Ia rasa bukan karena masalah Rafa saja, Rafa hanya menjadi pengalih.


Hal yang ingin dilakukan oleh orang yang baru menikah tentu saja melakukan hubungan suami istri. Dan dirinya adalah orang yang sudah mendamba sekali semenjak usia remaja. Namun mengapa tidak seperti yang diharapkanya?


Mungkin aku harus memaksa istriku untuk melakukanya!


……


Rafa belum masuk sekolah hari ini karena masih ijin pada gurunya untuk tidak masuk selama tiga hari. Dan Sri baru akan kesini lusa.


Mira, Ilham dan Rafa saat ini sedang duduk melingkar di kursi dapur. Makanan sudah siap tersedia di atas meja. Segelas susu dan secangkir teh hangar juga sudah menghiasi meja makan.


Mira lalu meraih piring Rafa, memasukan nasi ke atas piring, serta beberapa lauk, lalu menaruhnya di depan Rafa kembali.


“Ehem,” Ilham berdehem keras.


Mira lalu menoleh ke arahnya, sorot matanya mengatakan, tolong lakukan itu juga kepadaku.


“Baiklah, sekarang tinggal yang besar!” Kata Mira sambil mendesah pelan, namun dengan senyum.


Mira melakukan hal yang sama seperti tadi. Lalu menaruhnya di depan Ilham.


“Terima kasih, honey!”


Mereka bertiga langsung menyantap sarapan pagi dengan saling tatap, tersenyum, berbincang sebentar tentang cuaca pagi yang sungguh indah sekali.


“Papa Ilham, Rafa mau ke rumah Nenek sama kakek, Rafa mau bermain dengan Kak Raihan, bisakah kita ke sana?!” pinta Rafa saat selesai makan.


“Okay, siap Boss,” jawab Ilham sambil hormat.


Setelah selesai sarapan, Ilham langsung memanasi motornya. Sedangkan Mira masih duduk di dapur.


“Sayang, kamu antarkan Rafa ke rumah Mama dan Papa, ya, aku tidak ikut bersama kalian.” Kata Mira saat Ilham baru saja mendarat di kursi dapur lagi.


“Kenapa tidak ikut?” Ilham mengernyitkan kening sambil menyesap teh hangatnya.


“Ah, tidak apa-apa, aku hanya ingin istirahat saja.”


“Apakah kamu sakit? Mengapa kamu tidak bilang kalau kamu sakit, apakah perlu kita ke rumah sakit, sekarang?”


“Tidak, aku hanya butuh istirahat saja!”


Ilham pun mengangguk. Ia mengecup dahi Mira sambil membelai puncak kepalanya.


“Jaga dirimu baik-baik di rumah, karena tidak ada aku di sampingmu!”

__ADS_1


Mira memegangi lengan Ilham sembari mengangguk.


Ilham dan Rafa sudah keluar dari garasi dan sudah melaju ke rumah mertuanya. Mira masuk kembali ke dalam rumah dan segera menghubungi Wanda.


__ADS_2