
Ilham sudah tinggal di kontrakan Angga selama dua bulan. Setelah menimbang-nimbang perkataan Mamanya. Akhirnya Ilham mau menurut dengan Mamanya. Ilham meminta maaf kepada Papanya dan Sekarang Ia sudah bekerja di perusahaan Papanya. Meneruskan bisnis Papanya.
Tentu saja, Papanya sangat senang sekali karena Ilham akhirnya mau bekerja di kantor. Papanya sudah mendengar kalau Ilham berhenti kuliah. Awalnya Papanya sungguh marah sekali, namun akhirnya mengerti juga karena yang terpenting Ilham mau meneruskan bisnisnya.
Kini, penampilan Ilham jauh lebih rapi dengan balutan jas sehari-hari, serta dasi yang melingkar di lehernya dan sepatu fantofel yang mengkilat menambah kewibawaan dirinya. Yang biasanya rambut selalu mencuat ke segala arah, kini sudah disisir rapi ke belakang.
Ilham sekarang adalah seorang CEO. Ilham seperti mendadak menjadi exsekutive muda saja. Namun walaupun sudah menduduki jabatan tertinggi. Ilham tidak menjadi sombong. Ia masih mengunjungi temanya ; Angga yang sudah bersedia membantu ketika dirinya mengalami kesusahan dan sesekali berkumpul dengan teman-temanya dulu. Saat berkumpul dengan teman-temanya, mereka ada yang menggoda, memberi selamat bahkan ada pula yang tidak percaya kalau berandal itu menjadi seorang pekerja kantoran.
Ilham menuruni tangga dengan gagahnya, sebuah jas tersampir di tangan kananya, sekarang balutan kemeja putih memperlihatkan lekuk tubuhnya.
“ Ini tehnya Tuan Muda, ” kata Bi Minah sambil tersenyum. Ilham sedang duduk di kursi meja makan. Hendak bersiap ke kantor.
“ Bi Minah jangan terlalu berlebihan begitu, ah! Panggil saya, nak Ilham saja, seperti biasanya. ” Balas Ilham, sebelah alisnya terangkat.
Bi Minah hanya terkikik sendiri.
Kini, Ilham menghela napas berat, Ia sedang merindukan seseorang. Seseorang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Mira.
Sudah satu bulan Ilham memutuskan untuk tidak menemuinya dulu. Dirinya akan membuktikan kalau Ia benar-benar mau menikah denganya. Walaupun rasanya terkadang ingin menyerah, ingin segera menemui Mira dan menemui Rafa. Namun, Ia sudah berjanji dan sudah bertekad pada dirinya sendiri untuk lebih bersabar dan sekarang sudah waktunya untuknya menemui Mira.
Tiba-tiba pikiran Ilham mendadak kosong, melayang entah kemana. Ia membayangkan seandainya Mira menjadi istrinya. Ia membayangkan di pagi hari Mira membuatkan teh untuknya, menyiapkan sarapan untuknya, menyiapkan baju untuknya dan Ilham mencium kening Mira sebelum berangkat bekerja dan masih banyak lagi pikiran-pikiran lainya yang berlebihan itu.
…..
Diam-diam ada yang merasa kehilangan sosok yang amat menyebalkan namun sekarang menjadi sosok yang sangat dirindukan. Merasa kehilangan seseorang itu. Setiap waktu, setiap pagi, siang dan malam pasti memikirkan laki-laki itu.
Mira benar-benar merasa kehilangan Ilham. Pasalnya, sejak Ilham berjanji akan membuktikan dirinya, semenjak saat itu dia sudah tidak kelihatan batang hidungnya kembali. Sudah satu bulan lebih Ilham tidak menemuinya, tidak menelponya, tidak ada kabar sama sekali. Ilham seperti hilang ditelan bumi.
__ADS_1
Sampai akhirnya Mira menyesal karena tidak mempercayai Ilham. Sehingga Mira kini berfikir kalau Ilham akan menjauh darinya lalu malah memilih menikah dengan wanita lain. Pasti Mira akan menyesal sekali.
Mira merutuki diri sendiri, karena sudah bersikap cuek kepada Ilham dulu.
Kenangan-kenangan yang sudah dilakukan dulu bersama Ilham kini menari-nari indah di setiap saat. Bahkan, ketika Ia tidur pun Ia sampai bermimpi bertemu dengan Ilham. Mira sudah sangat bahagia sekali, Mira kira itu adalah kenyataan, namun itu hanyalah mimpi. Lalu dadanya terasa sesak sehabis mengetahui kalau semua itu hanyalah mimpi.
Mira sudah menghubungi Angga, bercerita kepada Wanda, bahkan sampai bercerita kepada Pak Ahmad. Namun, mereka semua tidak dapat menghiburnya. Semuanya tidak ada yang mengetahui kabar Ilham sama sekali.
Baiklah, aku akan mengakui kalau aku memang mencintai Ilham juga, tolong Ya Tuhan, aku sungguh merindukanya. Aku menyesal karena tidak percaya dengan Ilham.
…..
Di dalam kantor " B-Media "
Mira menatap layar komputer dengan pandangan lesu, Ia terlihat tidak bersemangat di pagi ini. Tiba-tiba ponselnya berdering dengan keras, mungkin saja yang menelpon adalah Ilham. Mira langsung melongok pada layar ponsel dan sudah berharap sekali kalau yang menelponya adalah Ilham. Dan ternyata benar. Mira terperangah saat mendapati layar tertera nama. “ ILHAM ” dengan jelas.
“ Kau mengapa berdiri seperti itu, Mira? ” tanya Rendi dari bangkunya merasa aneh dengan sikap Mira itu.
“ Ah, tidak apa-apa, ” jawab Mira tidak terlalu fokus menimpali perkataan Rendi.
Mira lebih memilih terpaku pada layar ponsel. Mira menerima panggilan itu dengan tangan bergetar.
“ Ah! Aku sudah tidak sabar mendengar suaramu! Aku sudah rindu sekali dengan suaramu, apalagi rindu dengan orangnya. Bisahakah kamu melihatku dari kaca jendela meja kerjamu? ”
Lidah Mira mendadak kelu. Bahkan untuk menelan ludah pun susah, Ia membiarkan telinganya mendengar suara yang sudah sangat Ia rindukan. Lalu Mira memilih berjalan mendekat ke arah jendela. Dan Ia melihat seorang Laki-laki dengan jas, sepatu fantofel, lalu rambut yang rapi dan berkilauan. Laki-laki itu mirip sekali dengan Ilham. Lalu, laki-laki itu melambaikan tangan ke arah dirinya.
“ Sekarang, kamu turun. ” Suruh Ilham suaranya tiba-tiba menyakitkan telinga Mira karena dirinya terbengong-bengong sedari tadi.
__ADS_1
Mira menarik napas dalam-dalam, setelah siap Ia melangkah keluar ruangan, menuruni tangga dan keluar dari gedung itu.
Seketika itu, pandanganya langsung tertuju kepada Ilham yang sedang bersandar pada mobil. Kedua tanganya masuk ke dalam saku celana. Ilham yang sudah melihat Mira langsung memberi kode dengan tangan untuk menyuruh Mira berjalan ke arahnya. Dengan langkah gontai dan ragu Mira berjalan menuju ke sana.
Ilham langsung membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Mira untuk masuk ke dalam mobil. Mira masuk ke dalam mobil dengan perasaan tidak karuan. Sekaligus bingung.
Lalu, Ilham masuk ke dalam mobil setelahnya. Ilham tidak kunjung menghidupkan mesin mobil, sesaat lamanya Ilham menatap Mira dengan lekat. Kalau saja, Mira sudah menjadi istrinya mungkin saja Ia akan segera memeluk dan menciumnya. Namun, Mira belum menjadi istrinya.
“ Apakah kamu tidak merindukanku? ” ucap Ilham memecah keheningan. Karena keduanya hanya diam saja. Mira masih menunduk.
“ Apakah- ”
“ Kamu jahat sekali, Ilham! ” potong Mira cepat.
Ilham tersentak kaget mendengar ucapan Mira barusan.
“ Aku memang jahat Mira, aku memang jahat kepadamu! ” balas Ilham.
“ Kamu tega sekali denganku. Kamu selama ini tidak ada kabar, Ilham, kamu… ” Mira tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Lalu, matanya memanas.
“ Baiklah, aku memang yang salah, aku mengakuinya. ‘’ katanya. “ Sekarang, kamu boleh marah kepadaku. ”
Ilham mendekatkan tubuh ke Mira, sedangkan tanganya menopang tubuhnya dengan berpegangan pada bangku mobil.
“ Sekarang, kamu boleh memukul dadaku sepuasmu! ” Ilham meneruskan sudah siap dipukuli.
Kenapa jadi pengap sekali di mobil ini? Kenapa hatiku menjadi berdebar-debar begini?
__ADS_1
Mira sudah kepalang tanggung, Ia memang ingin memukul Ilham dengan keras. Seketika itu, tangan Mira sudah terkepal dan memukul dada Ilham dengan agak keras. Namun Ilham tetap terdiam dan tetap menatap Mira dengan lekat.