Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Kemarahan Hadi


__ADS_3

Hadi sudah mengetahui perihal Ilham yang akan segera menikah. Awalnya, Hadi tentu saja kaget setelah Ilham mengutarakan keinginanya ditambah cerita dari istrinya.


Anak berandal yang tidak menurut dengan perintahnya bahkan akan menikah. Anaknya itu mengingatkan kepada dirinya yang masih muda yang ambisius seperti itu. Terlalu bersemangat dan berambius jadi melupakan segalanya.


Hadi merasa sudah pantas kalau Ilham mau menikah. Daripada kerjaanya keluar malam, mengunjungi bar, pergi ke luar kota, tidak pernah berada di rumah, hanya akan membuat kepala Hadi serasa mau meledak saja. Hadi setuju-setuju saja jika Ilham menikha dengan begitu Hadi berharap Ilham akan beranjak dewasa setelah menikah. Hadi menyerahkan semuanya kepada sang Istri tentang persiapan pernikahan.


Kirana kali ini menimbang-nimbang kembali keputusanya. Keputusan untuk mengurus semua pernikahan anak sulungnya itu. Tanpa memberitahu status calon istri Ilham.


“ Apakah Papa tidak keberatan kalau ternyata calon istrinya Ilham itu adalah seorang Janda? ”


Kirana agak mencemaskan hal itu.


Namun, Kirana buru-buru menghalau tentang hal itu. Ia berharap suaminya itu tidak akan mempermasalahkanya. Seharusnya suaminya itu dapat mengerti dan memahami bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Antara Ilham dan Mira saling mencintai.


......


Kepala Hadi rasanya sudah mau meledak saja. Setelah membaca semua komentar-komentar di internet membuatnya mau membanting tab-nya. Apalagi ketika komentar itu menyebutkan nama perusahaanya. Membuat reputasi jelek saja, membuat nama baik tercemar. Setelah itu, banyak sekali yang memberinya selamat atas pernikahan anaknya sekaligus ingin meremehkan. Hadi tidak suka kalau nama baiknya diijak-injak seperti itu.


Saat ini, Hadi sedang duduk di sofa ruang tamu, Hadi sedang menunggu Ilham pulang. Hadi akan langsung menyergap jika Ilham pulang nanti.


Sedangkan Kirana membuatkan teh hangat kepada Suaminya di dapur. Kirana mencoba menerka-nerka sebenarnya apa yang tengah terjadi karena suaminya seperti sedang marah.


Ah! mungkin karena masalah di kantor


Setelah teh hangat jadi, Kirana melangkah menuju ruang tamu. Kirana langsung menaruh secangkir teh hangat di atas meja.


“ Apa kau sudah tau, kalau calon istri Ilham adalah seorang Janda? ” tanya Hadi tiba-tiba membuat Kirana kaget bukan main.


Bagimana Papa bisa tau tentang hal ini?


“ Kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan? Kau sudah tau hal ini dari awal, kan? ”

__ADS_1


Kirana masih bergeming. Ia tidak kunjung menjawab pertanyaan suaminya.


“ Bagimana, Papa bisa mengetahui hal itu? ” Kirana bertanya dengan terbata. Akhirnya Ia berbicara setelah diam beberapa saat.


Hadi menghela napas berat, tanganya terjulur untuk meraih tab-nya dengan malas.


“ Sebaiknya kau baca saja sendiri di dalam tab ini! ” Hadi menyodorkan tab kepada Kirana. Kirana menerima tab dengan tangan bergetar sekaligus penasaran apa isi di dalam tab tersebut.


Kini, Kirana diam membeku setelah membaca komentar-komentar pedas yang ada di media sosial.


.......


Sementara itu, Ilham turun dari mobil, rasanya entah mengapa dia tidak ingin masuk ke dalam rumahnya. Rumah kali ini terasa menyeramkan sekali. Lebih terasa horror daripada rumah hantu.


Rasanya Ilham ingin tidur di rumah Mira dan menemaninya tidur saja. Lalu memeluknya agar suasana hatinya bisa tenang. Agar tidak kepikiran lagi dengan masalah yang sedang terjadi.


Kalau tau akan terjadi masalah seperti ini, mending dia akan secepatnya menikah saja, kalau bisa sekarang ini dia akan melangsungkan pernikahan. Namun jelas saja perkara menikah bukan perkara yang mudah.


Kalau sudah menyangkut Papanya, rasanya semuanya akan menjadi serba sulit.


Ketika Ilham baru menginjakan kaki dua langkah dari pintu masuk, suara memanggil namanya pun sudah terdengar. Suaranya begitu tidak enak untuk didengar, seakan jika tidak segera melakukan perintahnya maka tamatlah sudah riwayat hidupnya.


Itu suara Papanya, Ilham mendapati Papanya sedang duduk di kursi tamu, tatapanya lurus ke depan, wajahnya mengisyaratkan sedang banyak masalah yang sedang dihadapinya. Papanya terlihat seperti sedang marah dan amarahnya siap ditumpahkan kepada dirinya.


Ilham menarik napas dalam dan panjang sebelum duduk di kursi di depan Papanya. lalu dia duduk setenang mungkin, pura-pura tidak mengetahui dengan apa yang sedang terjadi.


Kini, tatapan Hadi menatap ke arah Ilham dengan tanpa ekspresi. Kalau sudah begini, pasti Papanya akan segera mengeluarkan semua amarah yang sedang dipendamnya.


“ Kenapa kau tidak menceritakan masalah ini, kenapa kau tidak mengatakan kalau calon istrimu adalah seorang Janda, mengapa! ” kata Hadi suaranya sudah meninggi dari awal. Dan dugaan Ilham benar, untuk saat ini, lebih baik dia diam saja sembari menunggu Papanya selesai marah-marah.


“ Papa sedang bicara, Papa bertanya kepadamu, mengapa kau diam saja?! ”

__ADS_1


Suasana ruang tamu itu menjadi menegangkan. Hening untuk beberapa saat.


“ Apakah benar itu? Apakah benar kalau calon istrimu adalah seorang Janda? ”


Aku malas sekali untuk menjawabnya, kalau aku menjawab, pasti aku akan emsoi dan Papa memang ahli dalam memancing emosi. Hah! Serba salah.


“ Kau mendengarkan Papa bicara atau tidak?! ” gertak Hadi, matanya sudah melotot seperti mau keluar saja.


“ Iya, Ilham mendengarkan Papa bicara, kok. ” timpal Ilham dengan malas.


“ Memangnya salah, Pa, kalau calon istri Ilham seorang Janda? ” Ilham meneruskan mencoba mengikuti ke arah mana pembicaraan Papanya itu.


“ SALAH! ”


Wah! Hadi benar-benar sedang marah besar. Semua apa yang dikatakan anaknya itu pasti akan langsung ditentang.


“ Kau tidak menyadari kalau orang-orang kantor sedang membicarakan masalah ini, lalu orang-orang ramai membicarakanmu, nama baikmu lebih berarti, lebih penting Ilham! ”


“ Dan semua akan berimbas kepada perusahaan, ingat itu! ”


“ Lagi pula, jika kau ingin menikah, kau bisa meminta saran kepada Papa, Papa ada banyak sekali kenalan, tidak harus dengan Janda pilihanmu itu! ”


“ Papa, tidak menyetujui hubungan kalian, apalagi kalau kalian sampai menikah! Papa benar-benar tidak memberi restu. ” Kata Hadi tanganya terkepal, tatapanya tajam seperti membunuh siapa saja yang memandangnya.


Ilham memilih tidak memandang Papanya, amarahnya juga sudah di ujung tanduk, namun dia hanya bisa terdiam. Yang dia pikirkan saat ini adalah Mira. Hanya Mira seorang di dalam benak dan hatinya.


Ilham memilih bangkit dari duduknya dan bergegas keluar rumah dengan perasaan campur aduk menjadi satu. Tentu saja, Hadi geram bukan main. Dirinya belum selesai mengeluarkan semua amarahnya, namun berandal itu berulah lagi. Kembali ke masa-masa dulu.


Hadi memilih menghempaskan tubuh di sandaran sofa, memejamkan mata, mengistirahatkan pikiranya.


Pikiran Ilham saat ini sedang kacau sekali, dia menyetir dengan tidak terlalu fokus. Dia tidak punya tujuan kemana kah dia harus pergi. Dia hanya ingin menghindar, dia ingin pergi ke tempat yang jauh.

__ADS_1


__ADS_2