
“ Yoga, tolong kau pimpin rapat pagi ini, ya, saya ada keperluan sebentar. File sudah kukirimkan kepadamu dan berkas-berkas ada di mejaku. Kau bisa mengambilnya di sana. ” kata Ilham sambil melongok ke arah arlojinya.
“ Baik, Pak! ” Jawab Yoga dengan gayanya seperti hormat tentara.
Terserah kau saja, lah!
Ilham melangkah keluar dari kantor dengan tersenyum, menuruni tangga dan bergegas keluar dari kantornya. Saat sudah sampai di parkiran, dia langsung masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya.
.....
Di rumah Mira.
“ Ma, lihat ini, Rafa mempunyai banyak sekali mainan. ” Rafa menunjukan beberapa mainan kepada Mira. “ Kak Raihan memberikan semua mainanya kepada Rafa, trus Rafa juga diajak ke taman bermain bersama Kak Rafa dan Papa Ilham kemarin. ”
Mira hanya tersenyum. Tidak salah lagi kalau dia memilih Ilham. Pria itu memakai pelet apa sih, sehingga Rafa langsung suka denganya. Apalagi setelah mendengar Rafa memanggil Ilham dengan sebutan Papa Ilham. Membuat Mira terkadang merasa geli juga.
Bel rumah melengking dengan tidak sabaran, Mira yang dekat dari pintu depan segera beranjak dari kursi menuju ke depan. Mira membuka knop pintu, seorang pria dengan jas melekat di tubuhnya, tersenyum ke arahnya membuat Mira tertegun untuk beberapa sesaat.
“ Selamat pagi, calon istri. ” ucap Ilham sambil tersenyum.
Mira agak tersentak. Belum terbiasa dengan panggilan itu. Apa jadinya jika keduanya sudah menikah?
Haruskah aku menjawab selamat pagi juga calon suami? Ah, tidak usah.
“ Hendak apa kamu ke sini? ” Akhirnya kalimat itu yang terlontar dari mulutnya.
“ Hendak menjemput calon istri yang sepertinya sudah sangat merindukanku, ya? ”
“ Tidak! Aku tidak rindu denganmu. Bukanya kemarin kita bertemu, ya?! ”
“ Kamu selalu saja malu-malu seperti itu, aku jadi semakin suka untuk menggodamu. ”
“ Ilham! Sebenarnya ada apa kamu ke sini? Apa, ada hal penting? ” Mira sudah tidak sabar.
“ Aku kan sudah bilang, kalau aku merindukanmu, makanya aku ke sini. ”
Terserah kamu saja, deh!
Ilham masuk ke dalam rumah, di kira itu adalah rumahnya apa! Tapi, sebentar lagi mungkin akan menjadi rumahnya. Dia mengedarkan pandangan dan menemukan anaknya sedang duduk sambil makan roti.
“ Anak Papa, sedang apa? ” tanya Ilham sambil mengelus kepala Rafa, duduk di samping Rafa.
Rafa terperanjat, matanya berbinar-binar, “ Papa Ilham! ”
__ADS_1
“ Anak Papa, pasti belum mandi, ya? ”
“ Coba sini, Papa Ilham ingin mencium, untuk mengetahui kalau Rafa sudah mandi apa belum. ” Ilham meneruskan telah siap mencium tubuh mungil Rafa.
Ilham mencium tubuh Rafa dan Rafa merasakan geli, lalu terkikik sendiri.
“ Ternyata belum mandi, masih bau iler, sana mandi, habis itu kita berangkat sekolah. ”
“ Papa Ilham mau mengantar Rafa sekolah? ” pekik Rafa girang sekali.
Ilham mengangguk cepat. Rafa langsung bangkit dari tempat duduk dan langsung berhambur mencari Sri -meminta untuk segera dimandikan.
Sementara itu, Mira yang masih berbalut dengan pakaian santai duduk di sebelah Ilham. Kedua tanganya menyilang di depan dada.
“ Sepertinya, kamu harus berhenti bekerja sekarang! ” kata Ilham tiba-tiba memecah keheningan sesaat.
“ APA?! ” Mira menoleh ke arahnya.
“ Secepat itukah?! ”
“ Ilham, jangan buru-buru, aku merasa tidak enak dengan Boss-ku, setidaknya biarkan aku menunggu satu bulan ini selesai. ”
“ Tidak bisa, aku tidak akan membiarkanmu bekerja seperti itu. Biar aku saja yang bekerja, kamu dan Rafa menungguku di rumah. ” Kata Ilham sebelah alisnya terangkat.
.....
Setelah mengantar Rafa ke sekolahnya. Mobil melaju kembali menuju ke kantor tempat Mira bekerja. Kini, hanya ada mereka berdua di dalam mobil. Selama di mobil, keduanya banyak membicarakan masalah pernikahan.
20 menit kemudian, mobil memasuki gerbang dan mobil terparkir di dalam. Mira turun dari mobil dengan bergegas. Sementara Ilham turun setelahnya.
“ Hati-hati sayang, jalanya jangan terburu-buru, nanti bisa jatuh. ” seru Ilham, membuat Mira semakin mempercepat langkah.
Sedangkan Ilham segera melepas kaca mata hitamnya, menaruhnya di mobil dan berjalan menuju warungnya Pak Ahmad. Pak Ahmad terbengong-bengong saat mendapati Ilham dengan penampilan yang sangat berbeda.
Ilham dan Ahmad langsung berbincang di sela-sela Pak Ahmad melayani pembeli. Ilham pun akhirnya bercerita kalau dia akan menikah dengan Mira dalam waktu dekat ini kepada Pak Ahmad. Dia jadi teringat dengan perkataan Pak Ahmad dulu. Mungkin memang Mira adalah jodohnya.
“ Saya sangat setuju, jika Nak Ilham menikah dengan Bu Mira. Bu Mira itu masih muda, cantik, baik pula. Kalian akan menjadi pasangan yang serasi dan saling melengkapi. ”
Sepertinya hanya Pak Ahmad saja yang berfikiran seperti itu. Tidak mempermasalahkan antara status diantara keduanya. Setelah berbincang cukup puas, Ilham bangkit dari duduknya hendak pergi.
“ Harga kopi naik tidak, Pak? ” tanya Ilham sambil bangkit.
“ Ada-ada saja nak Ilham, ini, tidak lah. ” Jawab Pak Ahmad sambil menggeleng kepala.
__ADS_1
Ilham pun menjulurkan tangan dan mengeluarkan dompet dari sana. Lalu mengeluarkan uang dari dompet dan menyodorkan uang itu kepada Pak Ahmad.
“ Kembalianya untuk Pak Ahmad saja, '' Ilham sudah berlalu.
......
Ilham sangat bahagia sekali bisa mengantar calon istri berangkat dan menjemputnya ketika pulang. Sebenarnya Mira sempat menolak, namun karena Ilham memaksa akhirnya dia mau kalau dijemput ketika pulang.
Saat Ilham baru saja turun dari mobil, dia mendapati wanitanya sedang diganggu oleh seorang pria, pria itu sedang berusaha menarik tangan Mira. Tentu saja, Ilham langsung geram melihat kejadian itu. Ilham pun mempercepat langkah menuju ke sana.
“ Ada apa, Mas? ” seru Ilham dengan keras saat sudah di dekatnya.
Ternyata pria itu adalah Efendi.
Ilham melirik ke arah Mira sesaat, lalu langsung menatap tajam ke arah pria itu.
“ Apa yang sedang anda lakukan? ” Ilham memajukan langkah, sedangkan Efendi tampak bingung namun tidak gentar sama sekali.
“ Ilham, lebih baik kita pulang saja sekarang. ” Sela Mira sambil menarik lengan Ilham. Namun Ilham tidak mempedulikanya. Ilham tengah menunggu pria ini berbicara.
“ Jangan macam-macam dengan calon istri saya! ” Ilham meneruskan.
Kini, Efendi malah menyeringai, “ Oh, wanita murahan ini ternyata calon istri anda? ”
Seketika itu, sebuah pukulan kencang langsung mendarat di hidung Efendi. Efendi langsung terhuyung, darah langsung mengalir dari hidungnya.
“ Ilham, apa yang kamu lakukan?! ” pekik Mira terkejut.
“ Sepertinya anda yang waktu itu melakukan hal buruk kepada calon istri, saya! ” geram Ilham kembali.
Tiba-tiba seorang satpam menghampiri keduanya dan langsung melerai. Lebih tepatnya, mengusir Ilham untuk segera pergi dari sana. Ilham dan Mira pun langsung masuk ke dalam mobil. Sedangkan Efendi sudah kembali masuk ke dalam.
“ Kamu tidak seharusnya melakukan itu kepadanya, dia adalah Boss-ku. ” Kata Mira parau saat sudah ada di dalam mobil.
“ Sekaligus pria yang sudah menciumu pada malam itu, kan? ” gertak Ilham sambil memukul stir mobil.
Mira tidak menjawab apa-apa, kepalanya menunduk.
“ AKU CEMBURU! ”
Ilham meninggikan suaranya.
“ Maafkan aku, ” lirih Mira tanpa memandangnya.
__ADS_1