Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Dunia Tidak Seburuk Itu


__ADS_3

Angga tidak tahu dengan perasaanya sendiri. Yang jelas, saat melihat Natasha yang menjalani kehidupan yang sepertinya berat itu, dirinya merasa tidak tega.


Entah ini disebut sebagai rasa suka, cinta, sayang atau hanya sekadar sebuah rasa kasihan saja dengan cewek itu?


Tak terasa, kini Angga sedang memikirkan Natasha, menghadirkan kelebat cewek itu di benaknya. Buru-buru cowok itu menghalau pikiran yang dirasa ngawur itu. Tidak seharusnya kan memikirkan Natasha terlalu dalam begini!


Ah, kacau sekali rasanya. Sebenarnya Angga tidak ingin memikirkan cewek itu, tapi entah kenapa mendadak kepikiran sendiri.


Kalau sudah seperti itu, kemungkinan terbesar, Angga merasakan kalau perasaanya berada di pilihan pertama, sebuah rasa suka dan cinta!


……


“Apa yang hendak kau bicarakan? Serius amat sepertinya, aku sampai sempatin ke sini, hanya untuk menemuimu karena katanya ada hal penting yang ingin, kau sampaikan?” Jelas Ilham sembari melipat tangan di depan dada.


Ilham dan Angga tengah menikmati kopi bersama angin malam di sebuah warung kopi langganan mereka sewaktu mereka masih kuliah. Angga sendiri ingin curhat kepada sang sahabat. Angga ingin menanyakan kebimbinganya selama ini kepada sang ahli dalam urusan cinta-cintaan!


Entah hal ini dikatakan tikung menikung atau tidak. Pasalnya, Natasha mantanya Ilham. Apa jadinya jika dia mencintai mantan sahabatnya sendiri?


Maka dari itu, Angga ingin meminta ijin kepada Ilham, memastikan semuanya, sebelum terjadi kesalah pahaman. Angga tahu, kalau Ilham sudah tidak lagi punya rasa sedikit pun kepada mantanya itu. Tapi entah kenapa, masih ragu saja kalau tidak mengkonfirmasi hal itu kepada sahahatnya.


Angga menarik napas panjang dan menghembuskanya kuat-kuat. “Baiklah, jadi begini, kalau seandainya... ” Angga tidak melanjutkan kalimatnya. Cowok itu menatap tepat di kedua manik mata Ilham. Tengah memikirkan kalimat yang tepat sebelum terlolos begitu saja.


Sementara Ilham menurunkan dagu, menunggu kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan Angga.


“Kalau seandianya... ” lagi-lagi Angga menghentikan kalimatnya. Menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.


“Apa sih yang akan kau bicarakan sebenarnya? Ingat aku tidak bisa lama-lama nih!” decak Ilham.


“Ya ampun, santai saja dong Boss!”


Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak tak karuan. Menjadi gugup sendiri.

__ADS_1


Angga lagi-lagi menarik napas, kali ini lebih percaya diri. “Baiklah, kalau seandainya, aku menyukai Natasha, apa tidak masalah?!”


Angga langsung bernapas lega setelah mengatakan itu. Seakan sesuatu yang sedari tadi mengumpul di dalam, langsung keluar lepas dalam sekali hembusan napas. Sesuatu yang berkecambuk di hatinya selama ini telah terhempas. Kini tinggal menunggu respon sahabatnya saja.


Sontak saja, kedua mata Ilham langsung melotot nyaris mau keluar setelah mendengar hal itu berhasil lolos dari mulut Angga, Ilham menatap muka sahabatnya itu lekat. Detik berikutnya, senyum tipis yang tercetak di bibirnya berubah menjadi senyum lebar, mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi tawa.


“Apa-apa, apa aku tidak dengar barusan?!” ujar Ilham sok tidak mendengar. Sebenarnya tadi amat sangat jelas siapa nama yang disebutkan Angga itu.


Apa dirinya tidak salah? Mungkin saja kan telinganya yang bermasalah? Tetapi sepertinya tidak!


“Lama-lama, aku siram muka kau pakai ini ya, orang aku sedang bicara serius!” dengus Angga sambil meraih gagang cangkir, hendak mengangkatnya, namun meletakan kembali.


Detik berikutnya, tawa keras langsung menyeruak di keheningan warung itu. Ilham tertawa sampai bahunya berguncang.


“KALAU SEANDAINYA AKU MENYUKAI NATASHA, APA TIDAK APA-APA? JELASS KAU!” Tandas Angga.


Tawa itu masih berlanjut berhasil memecah keheningan warung kopi yang keadaanya masih lengang. Sampai Ibu penjual warung kopi itu menyembulkan kepala dari dalam sana dan bertanya ada apa, sampai terbahak-bahak begitu? Ilham lah yang menjelaskan kalau tidak ada apa-apa, dengan masih ada sisa tawa tentunya. Ibu penjual pun kembali menarik kepalanya.


“Apakah kau yakin, mau sama Natasha?” balas Ilham setelah tertawa puas. ”Kenapa harus ijin sama aku segala sih!” lanjutnya sembari menyesap kopinya. Lalu menghempaskan tubuh ke sandaran kursi diikuti tawanya yang sudah mereda. Seakan barusan itu dirinya habis menyaksikan stand up comedy.


“Hei, dengarkan aku ya, aku itu sudah menikah, dan sekarang ini, aku hanya mencintai istriku, Mira. Jadi kau tidak perlu ijin denganku lebih dulu, toh aku dan Natasha sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.” Jelas Ilham sembari menggelengkan kepala. Tidak habis pikir, Angga bisa jatuh hati kepada Natasha. Padahal dulu keduanya bagikan minyak dan air!


“Silahkan Natasha untukmu, aku sudah tidak ada rasa sama sekali sama dia, semoga pilihanmu ini, tepat!” lanjut Ilham. Kali ini bicara serius. Memasang muka serius pula.


Angga sedikit heran dengan itu, kok sekarang sahabatnya itu kalau ngomong sudah seperti motivator saja? Padahal dulu sangat bar-bar. Wah, Ilham sudah tumbuh menjadi pria dewasa.


Rahang Angga kini mengeras, sepertinya sahabatnya itu belum tahu kehidupan Natasha sekarang.


Dan Angga benar-benar sudah mantap dengan niatnya untuk mengutarakan hal ini kepada Natasha. Di sisi lain, dia tidak ingin wanita itu terjerumus ke dalam lubang yang salah terlalu dalam lagi.


.....

__ADS_1


Angga ingin segera menyatakan perasaanya kepada Natasha.


Walaupun keduanya terus-terusan adu mulut, tetapi perlahan keduanya sudah mulai terbuka. Natasha juga sudah mulai bercerita kepada Angga.


“Natasha, tolong kamu berhenti bekerja seperti ini!” ujar Angga masih berada di atas motor. Mereka berdua janjian bertemu di taman kota.


Natasha hendak pergi bekerja seperti biasa. Sudah beberapa kali Angga mengatakan hal yang sama seperti itu? Natasha pun menarik napas panjang sebelum menjawab. “Aku tidak bisa, Ngga, kalau aku harus berhenti. Terus kalau aku berhenti bekerja, bagimana nasib adik-adiku nanti?” Ada helaan napas berat setelah itu yang keluar dari mulut Natasha.


“Memangnya kamu mau nafkahin aku, kalau aku berhenti bekerja, hah?! Tidak kan?!” Natasha hendak nyelonong pergi, namun lenganya langsung dicekal oleh Angga.


Sebenarnya tadi Natasha hanya bercanda ngomong begitu.


“Iya aku akan menafkahimu,” balas Angga mantap dengan suara kalem, menatap lekat wajah Natasha.


Tak pelak, Natasha langsung membulatkan mata dengan sempurna, tapi detik berikutnya, Natasha tergelak, tidak mungkin Angga seserius ini! Pasti cowok itu bercanda.


“Ah, lupakan saja, tadi itu aku hanya bercanda kali, sudah ah aku mau berangkat bekerja!”


“Tapi aku serius mengatakan ini, aku akan menafkahimu!” Tandas Angga mengeraskan volume suaranya.


“Jadi, tolong, kamu berhenti bekerja seperti ini, biarkan aku yang bekerja untukmu!” Lanjut Angga.


Mulut Natasha ternganga sesaat lamanya setelah mendengar perkataan Angga barusan.


“Apa kamu masih perlu bukti? Baik, aku akan membuktikanya, aku akan segera menikahimu, itu bukti kalau aku benar-benar serius padamu!” Tandas Angga.


Natasha tidak bisa berkata apa-apa, lidahnya mendadak kelu. Dia tidak tahu harus ngomong apa lagi saat ini.


Sudah berkali-kali Natasha mengatakan kalau dirinya sudah menjadi wanita kotor, bahkan di hadapan Angga sekalipun, tapi Angga tidak peduli.


Angga pula, cowok yang sudah menghadirkan cinta kembali di kehidupanya yang sempat sirna. Tak terasa kedua mata Natasha menghangat.

__ADS_1


Apakah kini dirinya harus menuruti apa yang Angga katakan? Lalu dirinya bisa keluar dari lubang sesat itu? Lalu hidup bahagia dengan Angga?


Ah, ternyata dunia tidak seburuk yang aku pikirkan! Gumam Natasha.


__ADS_2