Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Menyerah


__ADS_3

Tubuh Ilham tergeletak di sofa, dia sudah tidak sadarkan diri, di atas meja ada bekas botol alkohol dan gelas tinggi berjejal di sana. Tampaknya Ilham sudah menyerah dengan semua ini. Dia sudah menghabiskan alkhohol dalam waktu sekejab. Dia yang bisa bertahan selama berbulan-bulan tanpa minuman itu -tidak mengunjungi tempat itu. Malam ini, dia nekad pergi ke sini untuk membuang semua masalah yang sedang dihadapi.


Harapanya sudah sirna untuk dapat menikah dengan wanita yang dicintainya. Alih-alih membawa Mira dan Rafa pergi ke tempat jauh, kini malah dia yang pergi ke tempat jauh tidak mengetahui kabar Mira yang mungkin sedang bersedih.


“ Hai, tampan, apa yang sedang mengganggu pikiranmu? ” tanya seorang wanita dengan dandanan super menggoda mendarat di samping Ilham.


“ Mira, apakah kau, Mira? Mendekatlah sini, sayang. ” Balas Ilham dengan mata terpejam.


“ Mira? ” Wanita itu menautkan kedua alisnya.


Mungkin laki-laki ini sedang putus cinta dan Mira adalah pacarnya, mungkin! Gumam wanita itu.


“ Oh, kau habis putus, cinta, ya? ”


“ Aku tidak habis putus cinta! ”


“ Kau, bukan Mira? KAU BUKAN MIRA? ” Ilham membelai rambut wanita itu. “ Lalu, di mana dia? ” Pandanganya clingukan tidak jelas ke sembarang arah.


Angga baru saja datang dengan mendesis kesal. Lalu berkata kepada wanita di sebelah Ilham itu kalau Ilham adalah temanya. Setelah wanita itu pergi dari duduknya. Angga segera mendarat di samping Ilham.


Angga membawa tubuh Ilham keluar dari ruangan itu. Kini sepanjang keluar dari situ, Ilham tidak berhenti memanggil nama Mira.


Saat sudah di parkiran, Angga segera menghempaskan tubuh Ilham ke dalam mobil dan Angga masuk setelahnya. Dia segera melajukan mobil untuk membawanya ke kontrakan.


......


Di rumah Mira.


Mira menghela napas berat, pandanganya lurus ke depan, matanya sedang sendu.


Masalah datang secara keroyokan, dia sudah keluar dari kantor B - media, hubungan dengan Efendi sudah tidak baik lagi dan mungkin sebentar lagi dia akan gagal menikah dengan Ilham. Sudah dipastikan.


Rasanya baru kemarin merasakan bahagia karena akan menikah dengan Ilham, lalu bertemu dengan calon mertua. Namun sekarang, kebahagiaan itu terhempas begitu saja.


Apakah dirinya sedih? Jelas saja dia sangat sedih dengan kejadian ini. Namun, Mira hanya mampu merebahkan tubuh di kasur saat ini. Lebih memilih memejamkan mata. Ia ingin melupakan masalahnya sejenak.

__ADS_1


Kalau Ia menitikan air mata dan menangis, itu sama saja. Selama ini, bukanya Ia sudah terbiasa dengan air mata? Jadi, Mira mencoba menyikapi hal ini dengan setenang mungkin.


Terdengar notifikasi pesan masuk, katub mata Mira segera terbuka. Ia bangkit dan segera meraih ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Angga. Mira terperanjat ketika membaca pesan dari Angga.


Baiklah, berondong memang belum terlalu dewasa untuk dapat menyikapi permasalahan, sedikit-sedikit seperti ini. Sedikit-sedikit mengunjungi bar karena frustasi.


Pesan kedua ; Angga menyuruh Mira untuk segera ke kontrakanya. Namun setelah berfikir cukup keras, akhirnya Mira menyuruh untuk membawa Ilham ke rumahnya saja. Keputusan yang sedikit mengambil risiko, namun mau bagimana lagi. Kepalanya sudah senat-senut sedari tadi.


Kini, Mira menunggu Angga di teras rumah, kedua tanganya menyilang di depan dada sambil mengigit-gigit jari jemarinya. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Mira langsung bergegas menuju ke sana. Angga sudah mengeluarkan Ilham dan membawanya masuk ke dalam rumah. Mira mengikutinya sambil menyuruh Angga untuk membawanya ke kamar tamu. Setelah itu, Angga pamit diri hendak pulang. Mira mengantarnya ke luar.


“ Terima kasih, ya, sudah mau mengurus Ilham. ” Kata Angga ketika hendak masuk mobil.


" Iya, Angga, terima kasih juga, kau telah membawanya. "


“ Semoga hubungan kalian baik-baik saja, kalau kau butuh sesuatu hubungi aku saja. ”


“ Tolong, kau katakan kepada Ilham, jika dia sudah tersadar, kalau mobilnya aku yang membawanya. ” Lanjut Angga.


Angga ingin menanyakan perihal apa yang sedang terjadi, namun dia mengurungkanya.


Mira mengela napas berat, Ia pun masuk ke dalam rumah kembali dan langsung menuju kamar tamu di mana Ilham sedang terbaring di sana. Tidak lama kemudian, Rafa sudah berlari ikut masuk ke dalam kamar tersebut.


“ Papa Ilham kenapa, Ma? ” tanya Rafa, berdiri di sebelah Mira.


“ Papa Ilham sedang sakit, ” jawab Mira sambil menoleh ke arah Rafa.


“ Sedang sakit? ”


“ Rafa ingin menemani Papa Ilham, Ma! ” Lanjut Rafa.


“ Rafa mau tidur bersama Papa Ilham? ” tanya Mira kemudian.


Rafa mengangguk cepat.


“ Baiklah, kamu temani Papa Ilham, ya! ”

__ADS_1


Setelah melepaskan kaos kaki yang membalut kakinya, memberikan selimut kepada tubuh Ilham. Mira keluar dari kamar.


Sri yang sudah penasaran sedari tadi akhirnya memberondong pertanyaan kepada Mira saat Ia sudah keluar dari kamar tamu. Mira akhirnya bercerita tentang apa yang terjadi, termasuk dengan masalah yang sedang mereka berdua hadapi dan mungkin sedang ada masalah baru lagi yang datang, sehingga Ilham bisa sampai seperti itu.


......


Semburat sinar pagi sudah tampak di balik jendela. Menyinari wajah tampan Ilham. Wajahnya kusut sekali dan rambutnya mencuat ke segala arah. Mata Ilham masih remang-remang menyesuaikan dengan keadaan kamar, kamar yang terasa asing tentunya. Setelah sadar, mata Ilham mengerjap.


Aku di mana?


Lalu mendapati sebuah tangan mungil terjulur ke dalam tubuhnya dan Ia mendapati bocah kecil masih terlelap di sampingnya ; Rafa.


Aku-aku di rumah, Mira?


“ Papa Ilham sudah bangun? ” tanya Rafa kemudian sambil mengucek matanya.


“ Kata Mama, Papa Ilham sedang sakit, ya? Apa sudah sembuh? ” lanjut Rafa kembali sambil mendekat ke arah wajah Ilham.


Ilham diam untuk beberapa saat, berfikir sejenak, lalu segera menimpali. “ Sudah, sayang, Papa Ilham sudah sembuh, kok, semalam, Rafa tidur dengan Papa Ilham? ”


Rafa mengangguk. Tiba-tiba terdengar derap kaki terdengar, Mira membuka knop pintu dengan perlahan, mendapati Ilham sudah bangun dan sedang berbincang dengan Rafa.


“ Rafa, mandi sana sama Mbak Sri! ” suruh Mira saat sudah di dekat keduanya.


“ Baik, Ma, ”


“ Papa Ilham, Rafa mau mandi dulu, ya! ” kata Rafa sambil turun dari ranjang dan bergegas keluar kamar.


Ilham menimpalinya setelah itu. Setelah Rafa pergi, Mira meraih duduk di dekat Ilham sambil menyingkirkan rambut ke belakang telinga. Ilham mendekat ke arah Mira dengan menempelkan dagu di bahu Mira, sedangkan tanganya menggenggam tangan Mira. Jelas saja, wajah Mira mendadak panas seketika dan merasa pengap di tubuh Ilham.


“ Ilham, apa yang kamu lakukan! ” desis Mira sambil menyingkirkan tangan dan mendorong tubuh Ilham dengan pelan agar menjauh.


“ Terima kasih untuk semalam, ” kata Ilham kemudian, tersenyum tipis.


“ Apa yang sedang terjadi? Kenapa kamu pergi ke bar! ” sergap Mira dengan suara meninggi.

__ADS_1


“ Maafkan aku, ” lirih Ilham kemudian.


__ADS_2