Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Menghibur Rafa


__ADS_3

Lampu yang berkelap-kelip di sepanjang tepi jalan, turut serta menghiasi kota pada malam hari yang menjadi begitu indah. Bersama dengan angin malam yang berhembus dengan pelan, agak dingin, tetapi tidak terlalu dipedulikan oleh mereka yang tengah bahagia. Keluarga kecil itu tengah berada di atas motor gede dengan senyum yang tak terlihat di keremangan malam. Namun mereka bisa merasakan.


Mira merekatkan pegangan pada tubuh suaminya. Sedangkan Rafa berada di depan Ilham, bocah itu tampak riang sekali. Hingga Ilham dan Mira harus menyuruh bocah itu untuk jangan terlalu heboh.


Satu tangan Mira langsung di raih oleh satu tangan Ilham yang bergerak bebas. Pria itu tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya bisa jalan-jalan pada malam hari bersama anak dan istri.


20 menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah rumah yang sudah amat sangat dirindukan, khususnya bagi Ilham.


Satu persatu mereka turun dari atas motor, secara bergantian. Lalu bersamaan melangkahkan kaki memasuki rumah itu.


Ilham segera memencet bel rumah dengan tidak sabaran. Namun tidak ada sahutan dari dalam. Tanpa menunggu lama, Ilham langsung nyelonong saja ke dalam, diikuti oleh Mira dan Rafa di belakangnya. Langsung memindai seluruh ruangan untuk mencari keberadaan keluarganya.


Mereka mendapatkan keluarga itu tengah duduk melingkar di meja makan. Ternyata mereka sedang makan malam. Sontak saja, semua pasang mata langsung terarah ke tiganya. Seketika binar dan senyum tampak tidak bisa disembunyikan.


Kirana sampai terkejut dengan kedatangan mereka. Seketika bangkit berdiri dan langsung memutar menghampiri mereka.


Rafa langsung bergegas berhambur mencium punggung tangan Neneknya. Kirana lalu mencium di kedua sisi pipi cucunya dengan rasa sayang.


Tentu saja, Raihan yang paling heboh menyambut kedatangan Rafa. Kedua bocah itu langsung pada ribut di meja makan.


“Kebetulan sekali, kalian ke sini pada saat kami sedang makan malam. Ayok Ilham, Mira, kalian ikut makan malam saja bersama kami.” ajak Kirana sambil menggandeng lengan Mira, setelah sebelumnya saling menanyakan kabar.


Ilham dan Mira lalu menjatuhkan diri masing-masing di bangku meja makan setelah sebelumnya sempat menghampiri sang Papa dan mencium punggung tangan orang tua itu.


“Gimana kondisi Papa? Apa sudah membaik?” tanya Ilham sambil menyentuhkan kedua tanganya di bahu Anton.


“Kondisi Papa sudah membaik dari hari-ke hari, Ham. Hanya saja, Papa tidak bisa seperti dulu lagi.” Ada helaan napas berat setelahnya.


“Tidak apa-apa, Pa. Jangan terlalu memaksakan diri, urusan kantor biar Ilham yang urus. Papa fokus saja dengan kesehatan Papa!”


Hadi mengangguk lalu tanpa sadar di kedua matanya tampak berkaca-kaca. Ilham sudah tumbuh dewasa semenjak menikah dengan janda anak satu itu. Mira sepertinya juga perempuan yang baik. Pikir Hadi.


………


Ilham menggenggam satu tangan Mira sambil menaiki tangga menuju kamarnya. Ilham ingin mengajak istrinya itu untuk tour melihat-lihat isi kamarnya yang dulu.

__ADS_1


Mungkin kondisinya sudah sangat mengenaskan. Kamarnya yang dulu, mungkin sudah jadi sarang laba-laba sekarang.


Keduanya lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Secara kompak, keduanya langsung memandang berkeliling, memindai seluruh sudut-sudut kamar.


Ilham lalu menjatuhkan diri di ranjang yang sudah lama tak ditiduri. Seketika kembali teringat dulu, terasa dengan suasana kamarnya.


“Sayang, sinii dongg!” seru Ilham dengan kedua tangan masuk menopang kepala.


Mira lalu menghampiri Ilham dan menjatuhkan diri di samping suaminya.


Ilham lalu bangun dan mendekatkan tubuh ke Mira. Mira pun menghempaskan tubuh ke sandaran dada Ilham. Terasa nyaman.


“Kamu mau bulan madu ke mana? Ke gunung-gunung? Ke pedesaan? Ke villa? Atau ke-” Bisik lham.


Rahang Mira mengeras, tampak memikirkan tempat terindah yang baru saja disebutkan oleh suaminya itu.


“Aku terserah kamu saja lah,” jawab Mira sembari menatap suaminya.


“Kok terserah sih? Jangan begitu dong, kamu inginya ke mana! Aku pasti akan setuju dengan pilihanmu.”


“Nanti aku pikirkan lagi deh, kalau sudah aku putuskan. Aku akan memberitahukanmu, secepatnya!”


“Baiklah, setelah meeting selesai, aku akan segera mengambil cuti dan kita akan segera mempunyai anak!”


“Heh?!” Mira menoleh ke belakang dengan cepat. Pipinya mendadak memanas mendengar ucapan Ilham barusan.


“Tidak-tidak, aku hanya bercanda sayang. Aku serahkan saja semuanya padamu. Lagi pula, kamu kan yang mengandung, bukan aku!” Balas Ilham terkikik setelahnya.


Mira menggeleng kepala, “Kamu saja lah yang mengandung!” Mira mencubit hidung Ilham dengan keras.


“Kalo aku yang mengandung, nanti yang mencari uang untuk Rafa, siapa?”


“Kamu juga dongg!”


Keduanya pun terkikik bersama. Ilham tak tahan untuk tidak mendengus, menelusuri leher sang istri, lalu menciumnya dengan perasaan bahagia.

__ADS_1


…….


Seseorang yang juga sangat merindukan Den Ilham adalah Bi Minah. Bi Minah sangat menyayangi Ilham, sudah menganggap seperti cucunya sendiri.


Bi Minah dan Ilham tengah berpelukan. Karena tadi tidak sempat bertemu pada saat makan malam.


“Bibi rindu saya atau tidak?” tanya Ilham begitu pelukan terlepas.


Kedua matanya sudah tampak berkaca-kaca, “Bibi sangat merindukan Den Ilham, Bibi tidak menyangka Den Ilham akan secepat ini berumah tangga. Semoga Den Ilham selalu bahagia ya.” Balas Bi Minah dengan suara serak.


“Ah, Bi Minah paling merasa kesepian ya, karena tidak ada yang menggoda Bibi lagi? Tidak bisa bertengkar dengan saya lagi?”


“Den Ilham mah, masih saja begitu,” dengus Bi Minah, satu tanganya terangkat untuk menyeka air mata yang jatuh.


“Den Ilham, tidak tidur di sini saja?” tanya Bi Minah kemudian.


“Tidak, Bi. Lagi pula, Ilham dan Mira hanya ingin mengantar Rafa untuk tidur di sini saja.”


“Soalnya akan ditinggal berdua saja,” lanjut Ilham dengan kedua alis terangkat sebelah.


Bi Minah geleng-geleng kepala. Ya, sudah pengalaman makan asam garam. Sudah paham dengan seseorang yang baru menikah.


“Bi Minah, Mira pulang dulu ya.” Mira merengkuh tubuh Bi Minah.


“Tolong titip Den Ilham ya. Jaga dia, bimbing dia.” Kata Bi Ijah.


“Pasti Bi Minah, saya sangat senang sekali bisa menikah dengan Ilham. Akan saya lakukan, seperti apa yang Bibi sampaikan.” Jawab Mira begitu pelukan terlepas.


Bi Minah lalu ikut mengantar keduanya sampai depan, beserta Kirana, Raihan dan Rafa.


“Dadaah sayang! Jangan ngompol di rumah Nenek!” Seru Ilham.


“Tidak Papa! Rafa udah enggak ngompol!” pekik Rafa tidak mau kalah, membela diri.


Sontak, semua yang ada di situ jadi ketawa terbahak sambil menggeleng kepala. Mira lalu melambaikan tangan untuk kesekian kali kepada Rafa sebelum naik ke motor.

__ADS_1


Ilham segera mengenakan helm dan Mira naik ke atas boncengan setelahnya. Motor hitam itu sudah melaju keluar dari halaman rumah tersebut.


__ADS_2