Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Saling Memikirkan Satu Sama Lain


__ADS_3

Mira habis keluar sebentar dari kantornya karena ada suatu urusan. Saat melewati depan warung Pak Ahmad, Ia memberhentikan langkah -teringat dengan permintaan laki-laki yang mengantar dirinya kemarin kalau laki-laki itu meminta untuk diganti dengan kopi.


Mira mengedarkan pandangan untuk mencari laki-laki itu diantara Bapak-Bapak yang tengah duduk di bangku panjang. Ada yang sedang makan, ada yang lagi makan gorengan, ada pula yang sedang menghisap rokok. Beberapa dari mereka berbincang- bincang satu sama lainya.


Mira menghela napas, tak menemukan laki-laki tersebut. Pak Ahmad yang melihat Mira seperti bingung langsung memanggil. Mira tersentak, lalu berjalan menghampiri Pak Ahmad.


‘’ Ada apa Bu Mira? ‘’ tanya Pak Ahmad.


‘’ Pak Ahmad kenal dengan laki-laki yang kemarin mengantar saya pulang? ‘’ Mira malah balik bertanya.


‘’ Tak hanya mengenal Bu, mereka itu langgangan saya, mereka biasa makan di sini, ‘’ jawab Pak Ahmad, sambil terkekeh.


Mira menggumam, baru tau kalau selama ini laki-laki itu adalah langganan Pak Ahmad yang biasa makan di warung ini. Tapi kenapa Ia tak pernah mengenalinya, tak pernah melihatnya?


‘’ Kenapa, Bu? ‘’ tanya Pak Ahmad mengagetkan lamunan Mira.


‘’ Eh, kemarin saya mau bayar dia, Pak, tapi dia tidak mau, katanya mau diganti dengan kopi saja, ‘’


‘’ Saya mau minta tolong sama Pak Ahmad saja, kalau dia datang kesini, buatkan kopi untuknya, ya, Pak, kalau seandainya dia makan, tidak usah membayar. Bilang saja, sudah dibayar sama saya. ‘’ Lanjut Mira, sambil hendak pergi.


‘’ Beres, Bu, ‘’ balas Pak Ahmad sambil mengangkat jempol.


Mira pun kembali berjalan ke arah kantor dan menapaki tangga menuju lantai dua tempat kantornya berada.


‘’ Selamat, Pagi Mira, ‘’ sapa seorang laki- laki muda dengan rambut klimis disisir rapi ke belakang, memakai kemeja berwarna merah maroon dan sepatu fantofel mengkilat.


‘’ Selamat pagi juga Pak Efendi, ‘’ sapa balik Mira, sambil menyungging senyum.


Laki- laki bernama Efendi itu adalah pemilik kantor penerbitan buku ini.


Efendi pula adalah salah satu laki-laki yang sedang berusaha mengambil hati Mira. Perlakuanya pada Mira sangat berbeda terhadap pegawai-pegawai yang lain. Efendi selalu mengajak Mira makan siang di luar atau mengajaknya pulang bersama.

__ADS_1


Mira sendiri menanggapi hal tersebut dengan biasa saja -menganggapnya Efendi adalah atasanya dan tentu saja hanya sebatas kerabat kerja. Desas desus orang kantor bahwa Efendi suka dengan Mira pun sudah menyebar luas.


Terkadang Mira sudah tak kuat dengan godaan teman-teman kerjanya karena menyudutkan untuk segera menerima Efendi. Namun, yang membuat Mira bingung adalah karena Efendi sendiri belum menyatakan hal itu kepada Mira secara langsung.


\*\*\*


Jam sudah menunjukan pukul 12.00, Mira segera menyudahi pekerjaanya. Dari arah pintu, Wanda sedang berjalan ke arahnya.


“ Hari ini makan di luar, yuk, ” ajak Wanda sambil menyentuhkan bahu Mira.


Mira berfikir sejenak, lalu berkata. “ Baiklah, aku sungguh ingin keluar dari ruangan ini, ” seraya bangkit dari tempat duduknya.


Mira dan Wanda pun melangkah menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Sebelum masuk mobil, Mira kembali menghampiri Pak Ahmad untuk memastikan apakah Laki-laki kemarin itu sudah kesini apa belum.


“ Pak Ahmad, apakah Laki-laki itu sudah kesini? ” tanya Mira.


“ Belum, Bu, Nak Ilham belum kesini! mungkin sedang sibuk atau mungkin sedang kuliah, ” jawab Pak Ahmad sambil menuliskan sesuatu di kertas.


Oh, namanya Ilham. Gumam Mira dalam hati.


\*\*\*


Sekitar sepuluh menit, Wanda menepikan mobilnya di depan sebuah Kafe. Keduanya turun dari mobil dan segera masuk ke dalam Kafe tersebut.


Mereka segera memilih tempat yang kosong, setelah dapat -mereka langsung menjatuhkan tubuh dan pelayan Kafe menghampiri mereka untuk memberikan buku menu. Setelah mereka yakin dengan pesananya, pelayan Kafe pergi untuk segera membawakan pesanan Mira dan Wanda.


“ Bagimana hubunganmu dengan Pak Efendi? ” kata Wanda memulai obrolan, meledek Mira.


Mira yang sedang terpaku pada layar ponsel langsung mendongak. “ Wanda! aku sama Pak Efendi itu tidak ada hubungan apa-apa! ”


“ Jangan berbohong padaku, aku sudah tau semuanya, aku itu sahabatmu, aku tau apa yang sedang kamu pikirkan! ” balas Wanda kembali meledek sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Tebakan Wanda salah, Mira bukan sedang memikirkan Efendi namun Ia sedang memikirkan Ilham. Laki-laki yang mengantar dirinya kemarin. Mira sendiri pun bingung, kenapa sampai bisa memikirkan Laki-laki itu!


“ Come on, kamu mau sampai kapan seperti ini terus? Kasihan Rafa, dia butuh seorang Papa di kehidupanya. ” Tambah Wanda kali ini dengan nada serius.


Mira menghela napas dan berkata. “ Aku sudah memutuskan untuk memulai membuka hatiku kembali, Wan. Hanya saja, aku belum yakin kalau dengan Pak Efendi. ”


Makanan seketika dibawa oleh pelayanan Kafe membuat mereka menghentikan perbincangan sejenak. Pelayan itu pergi setelah sebelumnya mempersilahkan keduanya dan mereka mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut.


“ Pikirkan baik-baik, Mir, Pak Efendi sering bertanya banyak hal tentangmu! ” kata Wanda sambil senyum-senyum sendiri, lalu bersiap hendak makan.


“ Kurasa, Pak Efendi sudah cukup dewasa untuk menjadi suami kamu! Katanya kamu ingin laki-laki yang dewasa! ” Tambah Wanda sembari mengambil nasi dan menyuapkan ke mulut.


Bahkan, Wanda sahabatnya selalu saja menyinggung Efendi dalam setiap waktu. Tak memberikan kesempatan pada dirinya untuk berfikir, Mira mengerti kalau Wanda ingin dirinya cepat-cepat membuka lembar kehidupan yang baru.


Namun, Mira belum bisa membuka hati untuk Efendi. Semua orang sudah tau kalau Efendi suka denganya. Namun kenapa Efendi belum menyatakanya sendiri! Itulah yang membuat Mira gusar.


\*\*\*


Pandangan Ilham tertuju pada gitar yang tergeletak di atas sofa. Ia segera mengambilnya dan memetik senar gitar itu. Alunan yang berasal dari senar-senar gitar dan suara nyanyian dari mulut Ilham menambah atmosfer ruang tamu itu menjadi lebih indah.


Angga sudah berangkat kuliah pagi tadi. Sedangkan Ilham tak ada kelas hari ini. Sehingga Ia tak tau harus kemana dan sangat bosan seorang diri di kontrakan Angga.


Tiba-tiba Ia berhenti memainkan senar-senar gitar dan meletakan gitar di sampingnya.


Sebuah bayangan senyum tiba-tiba hadir di pelupuk matanya. Kelebatan seorang wanita cantik tiba-tiba hadir dalam pelupuk matanya. Bukan Natasha yang hadir dalam kelebatanya saat ini -melainkan seorang wanita yang kemarin Ia antar.


Kenapa aku memikirkan wanita itu!


Buru-buru Ilham mengusir kelebatan yang baru saja memenuhi pikiranya. Tak seharusnya Ia menghadirkan sosok itu. Bersamaan dengan itu, Ilham teringat dengan dirinya yang meminta diganti dengan kopi hari ini.


Ah! Mira tidak mungkin memesankan kopi untuku. Lagi pula, aku hanya iseng saja, aku benar-bener sudah ikhlas ingin mengantarnya pulang.

__ADS_1


Tapi, kalau Mira benar-benar menungguku bagimana? Memesankan kopi untuku? Pikir Ilham.


Ilham hendak beranjak dari duduknya untuk segera meluncur ke warung Pak Ahmad. Namun Ia mengurungkan niatnya.


__ADS_2