Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Apakah Hadi Merestui?


__ADS_3

Hadi sudah melewati masa kritisnya. Tubuhnya sudah bisa digerakan lagi. Beliau juga sudah mulai bisa berbicara. Walaupun masih terdengar susah dan terbata.


Kirana sangat bahagia sekali suaminya sudah agak membaik dari hari ke hari.


“Ilham ada di mana, Kirana?” tanya Hadi bicara agak susah. Menatap lekat wajah istrinya. Saat ini Kirana masih menunggui Hadi yang masih belum sepenuhnya sehat.


“Ilham ada di rumah, Pa, tadi pagi dia sudah menjenguk Papa, bergantian dengan Mama.”


Kirana terpaksa berbohong kepada Hadi. Sebenarnya anak itu tidak mau berkunjung menemui Papanya. Ilham belum siap berbicara dengan Papanya. Hanya cukup mengetahui kabar Papa dari Mamanya. Itu sudah lebih dari cukup bagi Ilham.


“Aku ingin bertemu dengan, Ilham.”


Kirana terdiam sebentar lalu berkata. “Apa ada hal yang ingin Papa sampaikan kepada Ilham?”


“Apa Ilham sudah menikah dengan Janda itu?” tanya Hadi kemudian.


Kirana terdiam. Hadi masih saja kepikiran itu. Ia takut kalau kesehatan suaminya malah akan bertambah buruk.


“Papa jangan memikirkan itu dulu, yang terpenting untuk sekarang adalah kesehatan Papa jauh lebih penting!”


Hadi terdiam. Apa yang dikatakan oleh istrinya memang ada benarnya.


Tidak menyangka tubuhnya akan terbaring seperti ini di rumah sakit. Di saat-saat seperti ini, Ia masih kepikiran dengan Ilham anak yang keras kepala itu. Memikirkan nasib perusahaanya apakah baik-baik saja dalam penanganan Ilham? Namun, Ia sungguh khawatir sekali karena hubungan yang tidak baik sebelum tubuhnya tergeletak tak berdaya di sini.


.....


“Ilham, kamu harus pergi ke kantor sekarang, karyawanmu mencemaskanmu, Papamu sangat mengandalkanmu. Hanya kamu saat ini yang mereka butuhkan!” Kata Mira memberi saran kepada Ilham. Saat ini, keduanya sedang duduk di sofa ruang tamu. Karena Ilham tidak mau berangkat ke kantor. Awalnya sih, dia hendak ke kantor. Tetapi, entah mengapa mobilnya mendadak menuju rumahnya Mira.


“Tapi, aku masih marah dengan Papa, karena tidak merestui hubungan kita.” Jawab Ilham melorotkan tubuh di sofa.


Aku juga sedih dengan itu, Ilham, pasti pernikahan kita akan batal, entahlah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


“Untuk masalah itu, sebaiknya kita tidak usah membahasnya dulu. Kamu harus berangkat bekerja sekarang!”


“Tapi aku masih ingin bersamamu!” Ilham menatap wajah Mira, seperti biasa, memperlihatkan wajah memelas dan manja.


“Percayalah denganku, Mira, aku akan segera menikahimu, kita akan segera menikah! Apa kau percaya kepadaku?” Lanjut Ilham, sepertinya sudah mulai mau menurut dengan Mira.


Mira menarik napas panjang-panjang. “Baiklah, aku akan mempercayaimu. Tetapi, kau tidak boleh gegabah mengambil keputusan!”


Ilham mengangguk, lalu beringsut mendekatkan muka di hadapan muka Mira. Mira langsung menghalangi dengan telapak tanganya.


“APA YANG HENDAK KAU LAKUKAN?”


“Mencium keningmu,”


“Tidak boleh! Kita belum menikah, ingat itu!”


“Baiklah,” jawab Ilham sambil melorotkan bahunya, mendesah berat.


“Tidak boleh! Sudah sana kau berangkat sekarang! Kau harus memberi contoh kepada karyawanmu!”


Mira pun mengantar Ilham ke depan. Ilham segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya setelah sebelumnya menekan klakson dengan keras. Mira pun melambai ke arah Ilham.


Tiba-tiba Mira ingin sekali mencium punggung tangan Ilham. Kan, jadi menyesal!


Mira menghela napas berat, Ia masuk ke dalam rumah kembali. Bersiap-siap akan mengantar Rafa berangkat sekolah. Karena Ia sudah tidak bekerja lagi. Ini semua gara-gara calon suami yang bertindak sembarangan itu. Semuanya sudah terjadi tidak ada yang harus disesali. Kini, Mira tidak mau menaruh harap tinggi kepada Ilham takut nanti akan sakit hati.


Untuk mengisi kegiatan di rumah, Mira masih berkutat dengan buku-buku. Pengalaman yang berharga sekali selama menjadi editor di B-Media. Sesekali Ia masih membaca beberapa cerpen, novel di file yang ada di laptop. Menulis di blog, dengan begitu penghasilan akan tetap masuk.


Ia tidak mungkin berpangku tangan begitu saja, walaupun mertua dari mendiang suaminya dulu selalu mentransfer uang jajan untuk Rafa, kedua orang tuanya yang terkadang memberinya uang pula. Lalu, rumah dan mobil peninggalan mendiang suaminya cukup menunjang untuk Mira dapat bertahan hidup.


.....

__ADS_1


Setelah dari kantor, Ilham mendapat telepon dari Mamanya disuruh menemui Papanya di rumah sakit karena Papanya ingin berbicara denganya. Kirana pesan kepada Ilham untuk jangan emosi kepada Papanya karena keadaan Papanya belum sepenuhnya membaik.


Ilham berjalan menuju ruang di mana Papanya berada dengan perasaan tak karuan. Sesampainya di depan ruangan itu, Ilham mendorong pintu dengan pelan. Mengetahui kedatangan anaknya, senyum langsung mengembang di bibirnya. Ilham membalas tersenyum tipis ke arah Papanya.


Kedua anak dan Ayah itu saling menanyakan kabar, berbincang yang hangat-hangat tidak seperti beberapa hari yang lalu sebelum keduanya bertengkar.


“Ilham, bagimana kabar perusahaan, apakah baik-baik saja?”


“Semua aman terkendali, Pa.”


“Ilham, kau fokus saja mengurus perusahaan, membersihkan nama perusahaan dan kamu jangan menikah dengan Janda itu.”


Mulai lagi Papa seperti ini. Apa tidak capek, Papa bertengkar denganku? Gumam Ilham.


Namun, Ilham langsung teringat dengan wejangan Mamanya. Kalau dirinya tidak boleh marah-marah karena kondisi Papanya yang belum membaik.


Ah, aku benar-benar mendengarkan mama sekarang, mengapa aku bisa menahan emosi yang biasanya melunjak? Apa karena Mira, aku jadi seperti ini? Mira memang benar-benar sudah membuatku buta.


“Pa, Ilham tidak mau ribut dengan Papa, Papa sayang dengan kesehatan Papa, dong, Ilham juga sudah capek kalau harus berdebat terus dengan Papa. ”


“Menikah bukan main-main, Pa, kalau Ilham menikah dengan perempuan yang tidak Ilham cintai, pasti Ilham tidak bisa bahagia.”


“Coba bayangkan saja, Ilham tidak bahagia berumah tangga, pasti ada banyak masalah di dalamnya. Tapi, kalau Ilham menikah dengan orang yang Ilham cintai, pasti Ilham akan bahagia sekali.”


“Tenang saja, Ilham akan bisa mengatasi nama baik perusahaan, jangan pikirkan omongan orang-orang, Pa, tidak ada gunanya sama sekali, mereka hanya ingin membuat mental Papa down saja, apalagi rival Papa.”


“Ilham mau Papa merestui hubunganku dengan Mira, Ilham sudah capek kalau harus bertengkar dengan Papa terus, Ilham sungguh mencintai Mira, Pa. Sekarang! Papa sudah mendapatkan semuanya, tetapi Papa tidak mempedulikan kebahagiaan anaknya?” Ilham berkata panjang lebar tanpa Ia sadari.


Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Ilham seakan berhasil masuk dan dicerna di kepala Hadi. Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Ilham berhasil menelusup ke hatinya. Seakan membangunkan naluri seorang Ayah yang sudah lama sekali hilang dari ulu hatinya.


Sebulir air mata langsung jatuh melalui pipi Hadi. Menandakan kata-kata Ilham seperti berhasil membuatnya tersadar. Kebahagiaan Ilham? Saat ini memang dirinya sudah mendapatkan semuanya. Namun beliau belum melihat Ilham benar-benar bahagia. Apakah Ia harus memberi restu pernikahan mereka berdua?

__ADS_1


Sedangkan Ilham menelan ludahnya susah payah, Ia tidak menyangka dirinya akan berkata sebijak itu. Mimpi apa semalam dirinya sampai bisa berkata sedewasa itu. Ilham pun menepuk pipinya sendiri dengan keras dan rasanya memang menyakitkan. Jadi memang benar Ia baru saja berkata seperti itu.


__ADS_2