
“Tidak usah, aku tidak menginginkan teh untuk malam ini, aku hanya ingin merasakan cinta di atas ranjang, aku ingin kamu melakukan tugasmu sebagai seorang istri malam ini dan aku akan melakukan tugasku sebagai seorang suami malam ini pula.” Kata Ilham sambil memegangi lengan Mira, menatap lekat wajah merah padam Mira.
“Ah sebentar, kamu harum sekali!” Ilham kembali menghirup parfum yang seperti menguar dari tubuh Mira dan berhasil menggetarkan jiwanya.
“Kulitmu juga sangat lembut,” Ilham berusaha menelusuri tiap jengkal kulit Mira dengan jemarinya yang kasar.
“Apakah kamu mempersiapkan semuanya untuku malam ini, istriku?” Jari jemari Ilham beralih menyentuh dagu Mira, Mira tidak berani mendongak, Ia tetap menunduk ke bawah.
“Sekarang, kamu adalah miliku!”
“Apakah kamu siap untuk malam ini, sayang?” Lanjut Ilham suaranya sudah mendesah, jemarinya pindah menelusuri paha Mira yang terasa lembut sekali.
Deg. Seketika Mira menelan ludahnya dengan susah payah.
“Mama!” panggil Rafa dari luar dengan keras sekali.
Bagimana ini, kenapa Rafa pulang? Ah, syukurlah kalau Rafa pulang. Aku merasa lega sekali. Gumam Mira.
Rafa sayang, kenapa kamu datang disaat yang tidak tepat? Kenapa kamu mengganggu malam pertama Papa dengan Mamamu yang sudah membuat Papa tergoda, sih! Gumam Ilham agak sedikit kesal.
Ilham langsung menurunkan tanganya dan mencoba menormalkan deru napasnya.
Ah sial! Mengapa dedeku masih berdiri menegang begini! Kumohon melemas lah dulu. Ada anakmu di luar sana?! Runtuk Ilham.
“Aku akan menemui Rafa,” Kata Mira setelah diam beberapa saat, setelah sebelumnya salah tingkah sendiri.
“Baik, kamu temui Rafa dulu, aku akan mandi.” Suruh Ilham.
Mira terlebih dahulu membenarkan baju tidur yang sedikit berantakan karena sentuhan tangan nakal Ilham tadi. Setelah siap, Ia melangkah keluar kamar untuk menemui Rafa.
“Rafa kenapa pulang?” Tanya Mira sambil berjongkok.
“Rafa ingin tidur bersama Mama dan Papa Ilham malam ini!” Jawab Rafa dengan nada polosnya.
Biasanya Rafa tidur sendiri. Tapi mengapa sekarang mendadak ingin tidur bersamanya? Apa karena ada Ilham?
Aku lega sekali Rafa ada di sini, setidaknya aku bisa menunda hal ini, aku bisa memikirkanya lagi.
Mira lalu membelai kepala Rafa sembari tersenyum.
“Iya sayang, mama tidak akan meninggalkanmu kok, kamu tidur dengan Mama dan Papa Ilham, ya.”
Sedangkan Ilham masih berada di kamar seketika melorotkan bahu. Ia menyibak rambut ke belakang dengan kasar, lalu berkacak pinggang. Ia berusaha menormalkan bagian yang sedang menegang saat ini.
__ADS_1
Setelah itu, Ia meraih kaos yang ada di dalam tas lalu mengenakanya. Setelah dedeknya melemas, Ilham keluar kamar untuk menemui Rafa.
Sabar dulu dedek, mungkin kau bisa masuk ke dalam lubang kenikmatan nanti malam ketika anaku sudah terlelap ya! Batin Ilham sambil keluar dari kamar.
“Rafa kenapa pulang? Katanya mau tidur di rumah nenek? Kak Raihanya sedih dong, kalau ditinggal Rafa.” Ucap Ilham sambil mengelus puncak kepala Rafa.
“Rafa tidak bisa tidur, Papa Ilham, Rafa ingin tidur bersama Mama dan Papa Ilham.”
Ilham mangguk-mangguk lalu bertanya kembali. “Rafa pulang sama siapa?”
“Diantar sama Pak Hatani, Papa Ilham.”
Sungguh kasihan sekali sopir itu sudah bolak balik mengantar mereka.
.....
Ketika Mira hendak membuatkan susu untuk Rafa, Ilham melarangnya dengan menawarkan kalau dirinya saja yang akan membuatkan susu untuk Rafa. Ilham pun langsung menggendong Rafa -menuju dapur untuk membuatkan susu.
“Rafa habis ini tidur, ya.” Kata Ilham sembari mencium Pipi Rafa.
“Rafa kan seharian ini belum tidur, apa tidak capek?” Tanya Ilham kembali.
“Tapi Rafa mau tidur sama Mama dan Papa Ilham, ya!” Seru Rafa dari gendongan Ilham, setelah meneguk segelas penuh susunya.
Aduh, bau-bau akan gagal malam pertama, nih! Keluh Ilham dalam hati.
Di Kamar.
“Kok Rafa belum tidur?” tanya Mira. Rafa saat ini sedang bermain di atas dada Ilham yang bidang.
“Tidak mau, Rafa mau bermain dengan Papa Ilham dulu. ” Jawab Rafa sambil naik turun di atas dada Papa Ilham.
Pikiran Ilham saat ini langsung berkelana ngawur sekali. Ia membayangkan kalau seandainya Mira yang saat ini sedang bermain di atas dadanya.
“Papa Ilham, kenapa bengong?” Lanjut Rafa mengagetkan lamunan mesum Ilham.
“Eh,‘’
“Oh iya, kudanya sudah capek sayang, belum dikasih makan, lanjutin besok saja, ya, sekarang ayo kita tidurr!”
Ilham mencium perut Rafa dengan gemas. Rafa terasa geli dan akhirnya menurut setelah sebelumnya sempat tertawa lepas.
Mira yang melihatnya langsung mengelus puncak kepala Rafa, lalu mencium pipinya. Entah Ia sungguh bahagia sedang bersama Rafa dan Ilham di kamar ini.
__ADS_1
“Aku tidak dicium?” bisik Ilham. Iri dengan Rafa.
“Mama tidak boleh mencium Papa Ilham!” Sambar Rafa agak memekik.
“Kok tidak boleh? Memangnya kenapa?”
“Pokoknya tidak boleh!” Jawab Rafa sambil menggeleng kepala.
Iya, iya sayang, asal kamu tahu saja, ya, Papa akan mencium Mamamu kalau tidak ada kamu, loh. Bahkan Papa akan melakukan sesuatu yang lebih daripada sekadar mencium.
“Rafa ayo tidur, mama akan temani Rafa ke kamar!” Ajak Mira kemudian.
“Rafa tidak mau tidur sendirian, Rafa mau tidur bersama Mama dan Papa Ilham.”
Ilham padahal sedang berdoa supaya Rafa mau tidur sendiri namun tidak sesuai harapanya. Sedangkan Mira agak merasa lega.
Sepertinya malam pertama akan tertunda karena ada Rafa bersama mereka malam ini. Rafa sepertinya mau mengacukan malam romantis Mama dan Papa Ilham.
.....
Rafa kini sudah terlelap. Ilham langsung bangun karena dia sedari tadi Ia hanya pura-pura tidur.
Ilham menepuk pahanya, menyuruh Mira untuk duduk di atas pahanya. Mira yang sedang duduk membereskan beberapa barang-barang pun seketika memberhentikan pekerjaanya lalu mendekat ke arah Ilham dan duduk dalam pangkuan Ilham. Ilham langsung melingkarkan tangan pada tubuh Mira.
Sedangkan tangan Mira langsung mendarat di bahu Ilham.
“Maafkan Rafa ya, Ilham,”
lirih Mira.
“Hei... apa yang kamu katakan? Rafa tidak salah sama sekali, aku malah senang Rafa bisa menyukaiku.”
“Terima kasih sudah mau menerima Rafa,” lirih Mira kembali, sambil tersenyum.
Mira menurunkan tangan dari bahu Ilham dan bangkit dari pangkuanya. Namun Ilham dengan sigap menarik tanganya kembali.
“Bisakah kita melakukanya sekarang?”
“Ada Rafa!”
“Sekarang kamu tidur, kamu pasti capek sekali, masih ada malam-malam indah selanjutnya!” Lanjut Mira buru-buru menarik selimut dan membentangkan pada tubuh Ilham.
Mira lalu berkata kalau dirinya hendak ke dapur sebentar. Ilham pun mengerti dan memejamkan mata. Malam ini telah gagal!
__ADS_1
Mira membuat teh di dapur lalu duduk di kursi di meja makan. Senyum langsung tercetak di bibirnya. Ia sungguh bahagia sekali sudah menjadi istri Ilham. Ia sudah menikah dengan Ilham. Melihat Rafa dan Ilham sungguh manis sekali. Ilham mencintai dirinya dan juga Rafa.
Ilham, aku mencintaimu, aku bahagia bisa menjadi istrimu.