Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Teringat Kembali


__ADS_3

Ilham merasa sangat ngantuk sekali, padahal jam masih menunjukan pukul 10.00. Angin dari luar berhembus masuk ke dalam kantornya dan membuat kantuknya semakin menjadi-jadi.


Ilham pun segera membereskan meja kerjanya lalu bangkit berdiri dan beranjak dari sana begitu selesai.


Ilham keluar dari ruanganya, berjalan dengan langkah santai hendak menuju ke pantry.


“Siang Pak Ilham, ada yang bisa saya bantu?” Tanya pria muda yang kebetulan berpapasan denganya. Mendundukan kepala sedikit.


“Saya mau ke pantry,” jawab Ilham.


“Bapak tidak usah repot-repot pergi ke pantry, biar saya bilang sama OB untuk membuatkan kopi untuk anda.” Ucap pria itu.


“Tidak masalah, saya sekalian ingin menghirup udara segar.”


Pria muda itu pun mengangguk dan mempersilakan. Ilham segera berlalu dari sana menuju pantry kantor.


“Pak Ilham, kenapa-kenapa ada di sini?” Bu Hanum tersentak kaget, Ibu-Ibu paruh baya yang bekerja di bagian pantry.


Detik berikutnya wajah Ibu paruh baya mendadak pucat pasi. Tentu saja beliau menjadi paranoid sendiri. Kalau kedatangan orang nomor satu di kantor itu –sampai datang ke pantry -pasti akan berhubungan dengan pemecatan. Atau dirinya melakukan kesalahan, sehingga orang nomor satu itu sampai turun tangan sendiri. Sepertinya praduganya terlalu berlebihan.


“Bu Hanum kenapa tegang begitu?” Tanya Ilham dengan kening berkerut. ” Santai saja Bu, saya ke sini hanya mau membuat kopi saja kok.” Lanjut Ilham dengan nada santai.


“Jadi-jadi Pak Ilham tidak mau memecat saya?” Bu Hanum melongo.


Ilham malah terkikik setelahnya mendengar ucapan Ibu paruh baya itu. Kantuknya benar-benar langsung terhempas jauh. Bu Hanum berhasil membuat ketawa gelinya pecah menyeruak ruangan pantry yang tadi begitu sunyi dan terasa canggung.


Wajah Bu Hanum yang tadinya pucat pasi juga sudah kembali normal. Ketegangan di wajahnya juga sudah mulai mengendur dengan perlahan. Ternyata nasib hidupnya masih aman.


“Kalau begitu akan segera saya buatkan!” Bu Hanum jadi gelagapan sendiri.


“Tidak usah buru-buru, Bu. Santai saja, saya juga sedang bersantai, mencari udara segar. Jadi Bu hanum buat kopinya juga harus santai ya.” Ada senyum tipis di bibirnya.


“Baik, Pak.” Jawab Bu Hanum menoleh sebentar ke belakang.

__ADS_1


Tak lama kopi permintaan Ilham pun sudah jadi. Bu Hanum meletakan kopi itu di depan Ilham lalu mempersilakan.


“Bu Hanum mau ke mana?” tanya Ilham begitu mendapatkan Bu Hanum hendak buru-buru akan pergi.


“Saya mau melanjutkan pekerjaan saya Pak.”


“Duduk di sini terlebih dahulu, temani saya.”


Bu Hanum agak tersentak kaget. Lalu buru-buru menjawab. “Baik-baik, Pak.”


Bu Hanum lalu menjatuhkan diri dengan pelan di bangku depan Ilham duduk.


“Pak Ilham ternyata tidak seperti yang saya kira ya. Bapak mau ke ke sini, mau mengobrol dengan orang seperti saya. Tidak banyak pegawai-pegawai yang mau seperti itu loh Pak. Pak Ilham memang CEO yang hebat!” Bu Hanum berdecak kagum dengan sikap CEO-nya itu.


“Bu Hanum bisa saja, saya ini hanya orang biasa Bu. Yang kebetulan harus menggantikan posisi Papa saya. Saya juga harus belajar banyak. Saya ini biasa pula berkumpul dengan orang kaya Ibu.” Ilham mengaduk-ngaduk secangkir kopinya.


“Maksudnya Pak Ilham biasa berkumpul dengan orang seperti saya?” Tanya Bu Hanum dengan kening berkerut.


“Iya Bu, kadang ikut arisan pula.” Tawa Ilham langsung meledak.


......


“Rafa, Papa Fahmi sangat sayang sama Rafa sama Mama juga. Bahkan sebenarnya Papa sangat merindukan Rafa. Suatu saat, Rafa akan tau semuanya. Tapi tidak sekarang ya.” Mira mengelus puncak kepala Rafa. Ada helaan napas berat setelahnya.


“Lagi pula, Rafa kan sekarang udah punya Papa Ilham yang sangat sayang pada Rafa.” Lanjutnya. Wajahnya agak menegang.


Rafa teringat kembali dengan Papanya yang dulu. Hal ini membuat Mira kembali cemas. Bagimana kalau Rafa akan terus seperti ini?


Tak lama terdengar suara pintu berderit. Ilham sudah pulang dari kantor -berjalan ke arah ruang tamu sambil mengedarkan pandangan. Mencari keberadaan sang istri dan anaknya. Lalu menemukan mereka tengah duduk di sofa ruang tengah. Senyum tipis langsung tercetak di bibir pria itu.


“Papa cari-cari, ternyata kalian ada di sini. Sedang apa istri dan anaku.” Ujar Ilham sambil menjatuhkan diri di samping Mira. Langsung menjatuhkan kepala di atas sofa. Tidak menyadari kalau situasi sedang tidak baik.


Detik berikutnya Ilham terheran karena mendapatkan istri dan anaknya tampak tidak bahagia dengan kedatanganya. Muka Rafa juga terlihat cemberut.

__ADS_1


“Ada apa ini? Kok kalian tidak suka dengan kedatangan Papa?” tanya Ilham menarik kepala dari atas sofa. Menatap sang istri dan Rafa secara bergantian.


Dengan anggukan dagu, Mira mengajak Ilham untuk mengikutinya. Ilham pun bangkit dari duduk setelahnya dengan kening berkerut.


Mira melepas jas yang melekat di tubuh suaminya begitu sudah berada di kamar.


“Rafa teringat dengan Papanya yang dulu, sayang.” Ucap Mira nyaris dengan suara lirih, ada helaan napas berat setelahnya.


“Kenapa bisa begitu?”


“Dia melihat foto Papanya dulu yang tersimpan di almari, aku-aku tidak bermaksud menyimpanya. Aku juga tidak tau kenapa foto itu masih ada di sana.” Terang Mira.


Ilham tampak mangguk-mangguk, “Kamu tenang saja sayang, biar aku yang hibur Rafa ya.”


“Tapi kamu habis pulang dari kerja? Apa tidak capek?”


“Secapek-capeknya aku, kalo melihat kalian berdua, capeknya akan langsung hilang!” jawab Ilham dengan kedua alis terangkat tinggi.


Ilham sudah berlalu dari kamar untuk menemui Rafa kembali. Sedangkan Mira menghembuskan napas dengan kasar, ikut keluar kamar setelahnya.


“Rafa sayang, udah mandi apa belum nih?” tanya Ilham sambil meraih tubuh mungil anak itu.


“Belum Papa Ilham, Rafa enggak mau mandi ah!” Jawab Rafa dengan muka cemberut. Saat ini tengah berada di pangkuan Papanya.


“Nanti malam, Papa mau ke rumah Nenek, Rafa mau ikut enggak? Kak Raihan katanya mau ketemu sama Rafa tuh. Apa Rafa tidur saja di rumah Kak Raihan?!” ujar Ilham sembari mencium pipi mungil itu.


“Apa boleh Pa?” Rafa menoleh, menatap Ilham.


“Boleh dongg!”


“Tapi Rafa mandi dulu, habis itu kita ke rumah Nenek ya sama Mama.” Lanjutnya.


“Okee Pa!” Rafa langsung turun dari pangkuan. Air mukanya kini berubah total. Bocah itu sudah berlari mencari Sri.

__ADS_1


Mira yang sedari tadi berdiri di belakang hanya bisa tersenyum mendapatkan mereka berdua begitu manis. Tidak menyangka kalau suaminya sangat amat ahli membuat Rafa kembali ceria.


Mira lalu berjalan mendekat dan menaruh kedua tangan di bahu sang suami. Tak ayal, Ilham langsung meraih kedua tangan lembut itu dan menciumnya.


__ADS_2