Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Mendadak Peduli


__ADS_3

Natasha tak habis pikir, kenapa ponselnya bisa terbawa oleh Angga. Kenapa bisa dirinya sebodoh ini. Sampai kelupaan kalau ponselnya tidak dia minta waktu itu.


Natasha sempat panik saat tidak mendapatkan ponselnya tidak ada di dalam tas. Biasanya dia sering kali menaruhnya di tas, atau di atas meja, terkadang juga di sembarang tempat. Hingga dia sudah mencarinya ke mana-mana, di dalam tas, di dalam almari, di bawah kolong tempat tidur, di atas meja, di sudut-sudut yang memungkinkan dirinya lupa menaruh ponsel di sana. Tapi tidak ditemukan di salah satu tempat itu.


Hingga akhirnya, Natasha berfikir kalau ponselnya telah hilang! Namun setelah diingat-ingat kembali, ternyata ponselnya masih ada di Angga, belum dikembalikan waktu cowok itu mengantar dirinya selepas dari hotel. Dia langsung menutup pintu dengan keras karena lagi dongkol, bisa-bisanya kepergok Angga pada saat dirinya sedang bersama Om-Om. Sedang menerima pria hidung belang!


Natasha benar-benar di posisi yang amat sulit sekarang. Mau menghubungi seseorang jelas tidak bisa. Mau menghubungi Angga untuk menyuruh mengembalikan ponselnya, sedangkan dirinya tidak memegang ponsel. Jelas tidak bisa! Mau mendatangi rumahnya juga dia tidak tahu di mana rumahnya Angga. Menyebalkan sekali!


Ada sebuah ide yang terbesit, Natasha meminjam ponsel milik adiknya untuk menghubungi Angga, namun ternyata sama saja tidak bisa membantu. Dia tidak hafal nomor ponselnya Angga, boro-boro hafal, sekarang nomornya cowok itu saja sudah dihapus dan diblock, gara-gara kesal setengah mati dengan cowok itu.


Hingga malam harinya, Angga kembali ke rumah Natasha, berencana untuk mengembalikan ponsel. Angga ternyata juga lupa, kalau dia menyita ponsel milik Natasha, soalnya kepikiran terus dengan apa yang dilakukan oleh Natasha.


Betapa leganya Natasha, akhirnya cowok itu datang sendiri untuk mengembalikan ponselnya. Entah apa yang terjadi jika Angga tidak secepat itu datang kembali. Tetapi cowok itu memberikan syarat, kalau ponselnya mau kembali, syaratnya Natasha harus mau ikut denganya, ngobrol di kafe.


Jelas saja Natasha langsung menolak mentah-mentah, sikap aneh Angga benar-benar membingungkan, terkadang ngeselin, terkadang membuat jengkel, lalu bisa saja berubah menjadi baik dan perhatian seperti ini. Tapi kalau dirinya tidak mau, ponselnya tidak akan bisa kembali. Menyusahkan saja!


.......


Milkshake di depan cewek itu hanya diaduk-aduk saja, sembari meminumnya dengan penuh hati-hati. Takutnya dikasih racun oleh Angga. Kan bahaya!


“Ya ampun, takut aku kasih racun di dalam minumanmu ya?!” Ucap Angga membuat Natasha tersendak.


Natasha buru-buru mengelap ujung bibir menggunakan tissue. Angga hanya menahan senyum meluhat. Seketika Natasha membulatkan mata dengan sempurna. Bagimana Angga bisa tahu isi pikiranya? Jangan-jangan cowok itu memiliki kemampuan bisa membaca pikiran orang. Ah tidak mungkin!


“Kau kan benci sekali padaku, jadi, aku harus berhati-hati dong.” Jawab Natasha ketus.

__ADS_1


“Aku tidak setega itu lah!” Angga menekankan di setiap katanya, lalu menggeleng kepala setelahnya.


“Mana HP-ku, cepetan berikan padaku! Aku mau pulang!” ucap Natasha tidak sabar. Sudah menyodorkan telapak tangan di depan cowok itu. Ujung jari-jari itu tergerak mengarah ke dirinya, memerintahkan Angga untuk segera memberikan ponselnya.


Ada seringai tipis di bibir Angga, entah ide apalagi, supaya bisa berlama lama dengan Natasha. Supaya Natasha mau bercerita. “Aku tidak akan memberikan HP-mu, sebelum kau cerita kenapa kau sampai menjual tubuhmu?!” Suara Angga semakin melemah, sebelum sempat clingak clinguk ke berbagai arah.


“Kenapa sih memangnya? Kau ingin tahu banget ya sama masalahku? Sudah kubilang ini bukan urusanmu, mana cepatan HP-ku!” Balas Natasha judes, menyilangkan tangan di depan dada.


Sebenarnya dia butuh teman curhat untuk mendengarkan keluh kesahnya. Tetapi siapa yang mau curhat dengan cowok nyebelin seperti Angga sih?


“Kan aku udah bilang tadi, aku tidak akan memberikan HP-mu, sebelum kau cerita apa alasanmu!” Ulang Angga.


Natasaha menurunkan bahu, mulutnya hendak akan terbuka namun terkatup lagi. Tampak sedang memikirkan kata-kata yang sekiranya tepat untuk menjelaskan kepada cowok di depanya itu, sembari pandanganya menerawang jauh.


“Aku butuh uang, ekonomi keluargaku sedang susah, adek-adeku harus sekolah dan ...” Natasha menghentikan kalimatnya. Risih sekali kalau harus bercerita kepada Angga. Pasti cowok ini akan meledeknya habis-habisan. Tapi, dia sudah terlanjur menjelaskan prolog.


“Intinya aku butuh uang, aku tidak ada pilihan lagi, selain terjun ke dunia itu.” Tandas Natasha sudah tak tahan, karena keseriusan wajah Angga yang malah jadi semakin mengerikan. Lalu menghempaskan tubuh di sandaran kursi, membuang muka.


“Kenapa harus ke jalan itu sih? Gilaaa kau!” Angga menarik napas panjang.


“Tidak ada pilihan lain! Lagi pula, itu cara yang paling cepat untuk aku bisa mendapatkan uang!” Tandas Natasha lagi, dengan suara tertahan. Mengecilkan volume suaranya, agar tidak terdengar oleh orang-orang di sekelilingnya. Lalu kembali menegakan badan.


“Mending kau berhenti saja deh Nath! jangan lanjutin ini.” Ucap Angga, ada helaan napas yang berhembus dari mulutnya.


Nah, sekarang berubah jadi baik lagi kan? Memang aneh cowok ini!

__ADS_1


“Terus? Aku harus gimana kalau aku berhenti dari dunia itu? Bagimana nasib Ibu dan adik-adiku?” Entah kenapa, kali pertama ini suara Natasha jadi tercekat. Bahkan di depan Angga sekali pun.


Natasha merasakan kedua matanya memanas. Teringat dengan realitas kehidupan dirinya yang sebenarnya, pahit!


Angga dapat merasakan keputusasaan yang terpancar jelas dari kedua bola mata cewek itu yang sepertinya nyaris mau berkaca-kaca. Hal itu seperti menjadi jalan terakhir bagi seorang Natasha.


Mendadak ada rasa bersalah menyeruak dalam dada dan rasa menyesal karena telah menyinggung masalah ini. Padahal niatnya tadi hanya ingin mengembalikan ponsel saja.


Natasha yang dia kenal sekarang berbeda dengan Natasha yang dikenal dulu saat masih menjadi pacarnya Ilham. Bahkan di mata semua orang mungkin saja, Natasha tidak ada apa-apanya lagi sekarang.


Terlalu membingungkan untuk masuk ke dalam kehidupan Natasha!


Namun Angga mendapati satu hal, mungkin dirinya hanya satu-satunya orang yang tahu siapa Natasha sebenarnya.


Angga menggaruk tengkuknya, dirinya menyuruh Natasha untuk berhenti. Tetapi dia sendiri tidak tahu harus memberikan saran apa. Hanya bisa menyuruh berhenti, itu saja. Keduanya lalu saling terdiam untuk beberapa saat.


“Yaudah aku mau pulang,” ucap Natasha bangkit berdiri.


“Yaudah silakan!”


Rahang Natasha mengeras, jangan sampai kelupaan ponselnya lagi, ditatapnya Angga dengan tajam. Angga hanya mengangkat sebelah alisnya.


“Ya mana HP-ku!”


Angga tergelak. Lalu buru-buru menjulurkan tangan ke dalam saku celana, mengeluarkan ponsel dari dalam sana, lalu menyerahkanya pada Natasha.

__ADS_1


Natasha berlalu pergi dari itu setelah sebelumnya menerima ponselnya. Angga memandanginya sampai punggung cewek itu benar-benar lenyap dari pandangan. Bahkan, Angga sampai memikirkan cerita Natasha sepanjang berjalan keluar dari kafe.


__ADS_2