
Setelah puas memukul dada Ilham, mata Mira kembali memanas, lalu sembab, dia sendiri tidak tau kenapa dia bisa sembab seperti itu. Memalukan saja.
Tanpa menjawab kebingungan Mira, Ilham langsung melajukan mobilnya menuju tempat yang hanya dia yang tau. Dia tidak memberitahu Mira tentang hal itu.
Ilham ternyata membawa Mira ke sebuah pedagang kaki lima. Sepertinya Ilham hobby sekali membawa Mira ke tempat ini. Mau makan di mana saja, Ilham tidak masalah yang terpenting ada Mira di sisinya.
Mira pun merasakan bahagia namun tentu saja dia masih malu untuk menunjukan kepada Ilham. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah, suasana menjadi sejuk karena rindangnya pohon-pohon yang berjejer-jejer di sepanjang alun-alun kota.
Ilham tidak peduli lagi sekarang, kalau Ia adalah seorang CEO. Ia tidak mempedulikanya lagi dengan ketampananya yang mungkin akan tersapu oleh debu-debu yang berterbangan mengenai wajahnya. Yang terpenting, dia bisa makan bersama Mira. Hanya itu yang Ilham inginkan.
Keduanya melanjutkan berbincang-bincang, Mira sudah tidak marah lagi dengan Ilham karena Ilham selalu saja membuat canda dan tawa menyeruak di sana. Ilham bercerita panjang lebar tentang dirinya selama ini, Mira mendengarkan dengan mangguk-mangguk sesekali menimpali. Mira tidak menyangka kalau selama ini Ilham sedang berusaha membuktikan diri kalau memang dia ingin serius denganya.
Pada saat itulah, jantungnya berdetak lebih cepat lagi dan hatinya berdebar hebat saat Ilham benar-benar serius ingin menikah denganya. Tentu saja, Mira berusaha mengalihkan topik.
Setelah puas di tempat itu, Kini, Ilham mengajak Mira ke mall. Ilham dan Mira mondar mandir dari lantai satu ke lantai empat di sebuah mall. Entah apa yang keduanya lakukan. Hanya melihat-lihat saja tanpa membeli apapun.
“ Kalau kamu ingin berbelanja, kamu harus menjadi istriku dulu. ” bisik Ilham tepat di telinga Mira.
…..
Malam sudah menyelimuti atmosfer. Lampu berubah berkelap-kelip di sepanjang jalan, kendaraan berlalu lalang dengan tujuan masing- masing.
“ Apakah dadamu terasa sakit tadi, karena aku memukulmu dengan keras tadi. ” tanya Mira agak cemas. Keduanya sedang berada di dalam mobil, mobil berhenti di tepi jalan.
“ Tidak sama sekali, sayang, pukulanmu itu hanya membuat jantungku saja berdebar-debar saja. ” Balas Ilham, terkikik. “ Apakah kamu mau mencobanya lagi. ” Ilham meneruskan sambil hendak membusungkan dada. Namun buru-buru Mira menolaknya.
“ Apa kamu bilang barusan? Sayang? ” Mira baru menyadari akan hal itu.
“ Suatu hari nanti pasti kamu akan memanggilku dengan sebutan itu juga. ”
__ADS_1
“ Tidak akan! ”
Keduanya keluar dari dalam mobil dan berjalan beriringan menuju ke suatu tempat. Mira yang dilanda penasaran hanya mengikuti langkah Ilham di belakang.
Seketika itu, Mira berdecak kagum saat mendapati sebuah meja yang di atasnya sudah tersedia menu makan malam di ruang terbuka. Sedangkan tanaman di belakangnya dengan lampu-lampu berkelap-kelip, bintang di atas langit juga sama berkelap-kelip menambah suasana malam menjadi indah.
“ Aku itu lebih cocok makan di tempat pedagang kaki lima, Pak CEO. ” kata Mira di sela-sela makan, sambil meledek jabatan Ilham di belakangnya.
“ Kamu makan di mana saja, pantas, kok, ” jawabnya sambil tersenyum. Ilham sedikit merasa bangga tentunya. “ Ah! Aku tidak masalah mau makan di mana saja, yang terpenting ada kamunya. ”
Mira menggeleng kepala sambil senyam-senyum sendiri. Keduanya melanjutkan makan malamnya, namun Ilham hanya menatap Mira, hanya itu yang ingin dia lakukan.
“ Ilham, kita sebaiknya harus segera pulang, bagimana dengan Rafa! ” Mira panik karena tiba-tiba teringat dengan Rafa. Saat itu, Ia baru saja menghabiskan makan.
Sedangkan Ilham tampak tenang, seperti tidak terjadi apa-apa.
“ Kamu tidak usah khawatir dengan Rafa, Rafa saat ini sedang di rumahku, kamu tenang saja, dia sedang bermain dengan Raihan dan calon mertuamu. ”
“ Sepulang sekolah aku membawanya, sehabis aku mengantar Rafa, aku menjemputmu, aku ingin bersama dengan Mamanya seharian ini. ”
Mira hanya tersenyum tipis. Tidak menyangka selama ini Rafa sudah diajak ke rumahnya berkali-kali, bahkan dirinya pun belum.
Apa aku menginginkan hal itu? Ah! Tidak, apa yang kau pikirkan, Mira.
Mira dapat merasakan keseriusan Ilham kali ini. Termasuk dengan Rafa, bahkan Ia sudah sayang sekali dengan Rafa. Termasuk Mira sempat tertawa saat mengetahui Rafa memanggil Ilham dengan sebutan ‘’ Papa Ilham ‘’ dan setelah mengetahui kalau Ilham sendiri yang memintanya, ingin sekali rasanya memukulnya kembali.
Kini, Mira sudah tenang kembali. Ia sudah tidak memikirkan Rafa lagi. Karena Rafa sudah aman di rumah calon mertua.
Terserah kau saja lah, Ham! Aku sudah capek meladenimu.
__ADS_1
Ilham menutup mata Mira menggunakan kain penutup. Sampai Mira panik dengan apa yang dilakukan oleh Ilham. Ilham menyuruh Mira untuk diam saja. Mira merasakan kalau Ilham sudah berjongkok dan menyentuh tanganya.
“ Kali ini, aku tidak mau mendengar alasanmu lagi, aku tidak mau kalau kamu sampai menolaku, aku sungguh memaksamu untuk menajdi istriku. ”
“ Kamu harus mau menikah denganmu dan kamu harus mau menjadi istriku. Kamu tidak perlu untuk menjawab, karena aku sudah menganggap kalau kamu mau menikah denganku! ”
Ini sungguh kejam sekali, pemaksaan! Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang, selain menerimanya.
“ Aku terpaksa menutup matamu karena aku tidak mau melihatmu melirik ke mana-mana, aku hanya ingin kamu mendengar suaraku. ”
“PAHAM CALON ISTRIKU! ”
“ Sekarang buka mata kamu, ” Ilham meneruskan sambil mencoba membantu melepaskan ikatan kain yang menutupi mata Mira.
“ Mira, sekarang aku sudah memiliki pekerjaan tetap, kamu sudah tidak usah khawatir lagi, aku akan membahagiakanmu dan Rafa. ”
“ Lihat sekarang, aku sudah cukup tampan, kan bagimu? Aku sudah mengenakan jas seperti ini. ”
Mira menarik napas dalam dan panjang, “ Ilham, kamu tidak harus melakukan ini, menurutku kebahagiaan Rafa tidak sekadar hanya tentang materi. Tapi dia membutuhkan kasih sayang yang tulus dari seorang Papa seperti kamu. ”
“ Aku hanya belum percaya saja waktu itu, kalau kamu memang benar-benar mau serius denganku. Kamu tau, kan? Betapa takutnya aku memulai sebuah hubungan kembali? ”
“ Kalau laki-laki yang akan menikah denganku itu adalah kamu, tentu saja aku mau menerimanya, aku tidak peduli kamu mau bekerja sebagai apa. ” Mira telah lega mengungkapkan sebenarnya.
Seketika itu, Ilham menepuk dahinya, jadi selama ini usahanya sia-sia saja? Karena Mira sudah mencintai dirinya apa adanya?
Namun, Ilham merasa lega sekali mendengar pengakuan Mira kali ini. Ilham buru-buru mendekatkan wajahnya ke wajah Mira. Hingga Mira kaget bukan main dengan apa yang dilakukan Ilham saat ini.
“ Apa yang akan kamu lakukan? Jangan-jang…, ”
__ADS_1
“ Aku hanya mau mencium parfum-mu saja, karena wangi sekali. ”
“ Aku tidak mungkin melakukan ini padamu, seperti yang dilakukan berandal itu, kalau aku tau siapa berandal itu, akan aku babak belurin! ”